Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Aya-Aya Wae
Setelah cukup lama berada di gudang, Arisa akhirnya kembali ke rumah yang jaraknya memang hanya beberapa langkah dari tempat produksi kerupuk. Perutnya sejak tadi terasa agak mulas, mungkin karena terlalu banyak mencicipi kerupuk yang baru matang.
"Aduh… kenapa jadi sakit perut begini ya…" gumamnya sambil memegangi perut. Ia mempercepat langkah menuju kamar mandi di belakang rumah.
Begitu masuk, Arisa buru-buru duduk. Namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah panik. Dia mencoba membuka keran air.
Tes...
Tidak ada air yang keluar. Arisa membuka keran lebih besar lagi.
Tes… Tes…
Tetap tidak ada air. Hanya ada satu dua tetes air yang keluar.
"Ya ampun… kok nggak keluar sih?!" Arisa mencoba menepuk-nepuk pipa seperti berharap airnya keluar tiba-tiba. Tapi tetap saja kering.
"Aduh gimana ini…"
Perutnya kembali mulas hebat. Arisa langsung berdiri dengan panik lalu keluar dari kamar mandi. "Kang Ogi! Kang Ogi!" teriaknya.
Ogi yang sedang duduk di dapur langsung bangkit. "Ada apa atuh, Neng?"
"Airnya nggak ada! Nggak keluar sama sekali!" kata Arisa panik sambil memegangi perutnya.
Ogi terlihat santai. "Oh… paling airnya lagi mati atuh."
"Mati?!"
"Iya. Di sini kadang suka begitu. Biasanya nanti nyala lagi."
Arisa hampir melompat. "Aduh Kang jangan santai gitu dong! Aku kebelet!"
Ogi langsung mengangguk cepat. "Oh iya iya… punten atuh." Dia segera mengambil dua ember plastik besar. "Aku ambil air ke sumur dulu," lanjutnya.
Arisa mengikuti di belakang sambil berjalan agak membungkuk. "Kang cepetan dong…"
Ogi menoleh sambil tersenyum kecil. "Iya atuh… sabar saeutik."
Mereka sampai di sumur yang terletak di samping rumah. Ogi langsung menurunkan timba.
Byurr!
Suara timba jatuh ke dalam sumur terdengar cukup keras.
Arisa mondar-mandir sambil memegangi perutnya. "Aduh… aduh… lama banget Kang…"
Ogi menarik tali timba. "Tahan saeutik atuh, Neng…"
Arisa berhenti berjalan. Dia berdiri kaku sambil menggigit bibir. "Kang… kayaknya nggak kuat…"
"Hampir penuh ini."
Tiba-tiba... Prrrrooootttt!!
Suara kentut yang nyaring memecah kesunyian halaman. Ogi langsung berhenti menarik timba. Arisa membeku seperti patung. Beberapa detik hening. Lalu aroma mulai tercium.
Ogi mengerjap. Arisa pelan-pelan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya ampun…" Wajah Arisa merah sampai ke telinga. "Hilang sudah martabatku... Maaf Kang… aku nggak sengaja…"
Ogi tiba-tiba malah tertawa. "Hahahaha!"
Arisa makin ingin menghilang dari dunia. "Kang jangan ketawa dong!"
Ogi masih tertawa sambil mengangkat ember. "Ih nggak apa-apa atuh… wajar itu mah. Normal, Neng..."
Arisa menunduk dalam-dalam. "Maluuu banget…"
Ogi meletakkan ember yang sudah penuh air. Lalu dia berkata dengan wajah jahil, "Kentut Neng Arisa mah malah harum atuh."
Arisa langsung mendongak. "Kang Ogi!! Gak lucu!" Wajahnya makin merah. "Itu bohong banget!"
Ogi malah tersenyum lebar. "Bener atuh. Harum pisan."
Arisa memukul lengan Ogi pelan. "Kang Ogi nyebelin!"
Ogi tertawa lagi. "Daripada ditahan terus malah sakit. Nanti jadi penyakit atuh..."
Arisa menutup wajahnya lagi. "Ya ampun… pengen kabur rasanya…"
Ogi lalu menggeser ember ke dekat Arisa. "Nih airnya sudah penuh."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arisa langsung mengambil ember itu dengan cepat. "Kang jangan cerita ke siapa-siapa ya!"
Ogi mengangguk sambil menahan senyum. "Iya atuh… rahasia."
Arisa langsung bergegas menuju kamar mandi sambil setengah berlari kecil. Langkahnya masih agak kaku karena berusaha menahan mulas yang tersisa.
Sementara Ogi berdiri di dekat sumur sambil geleng-geleng kepala. "Neng Arisa mah aya-aya wae…" Dia tertawa kecil sendiri.