Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Hujan rintik-rintik turun sejak pagi, namun London tetap padat. Gedung-gedung perkantoran berdiri kokoh seperti raksasa abu-abu yang tak tersentuh waktu. Di lantai delapan gedung Hamilton & Co. Interior Design, suasana kantor berjalan seperti biasa—para karyawan sibuk mengetik, mengangkat telepon, dan menyeret kursi tanpa memperhatikan satu sama lain.
Namun di balik salah satu cubicle yang cukup besar di sisi kanan ruangan, duduk seorang lelaki bernama Pramana Adiyaksa. Mata hitam legamnya tampak seakan kehilangan cahaya. Kantung matanya menghitam karena kurang tidur, dan jemarinya bergetar setiap kali ia menyentuh keyboard.
Sudah satu minggu ia hidup dalam pusaran tobat—memaksa dirinya sholat, memaksa dirinya menjauh dari kehidupan lamanya, memaksa dirinya bertahan menghadapi rasa bersalah yang menancap seperti paku di dadanya.
Dan hal itu membuatnya seperti dua orang dalam satu tubuh:
Pramana yang baru… dan Pramana yang dulu.
Keduanya bertarung siang dan malam, dan tubuhnya menjadi medan perang.
“Bro, kau oke?” tanya temannya, Michael, sambil menepuk pundaknya ringan.
Pramana sedikit tersentak dari kursinya.
“Oh—iya. I’m fine.”
Padahal ia tidak fine sama sekali satu bulan belakangan ini.
Kepalanya penuh suara-suara yang tak henti berputar: wajah gadis itu… tatapan ketakutannya… tubuhnya sendiri yang ia benci karena kehilangan kendali malam itu… dan kini, bayang-bayang kehidupannya yang sedang hancur pelan-pelan.
Teman - temannya tidak tahu kalo dirinya sedang menghadapi masalah besar dalam hidupnya.
Mereka hanya tahu Pramana adalah pria pekerja keras dan perfeksionis.
Tidak ada yang tahu sisi gelapnya.
Tidak ada yang tahu ia mantan gay.
Tidak ada yang tahu bahwa ia pernah menodai seorang wanita—bahkan dirinya sendiri masih sulit menerima kenyataan itu.
“Kamu kayak nggak tidur tiga hari, bro ” ujar Michael dengan tawa kecil sambil memindai penampilan Pramana yang tidak seperti biasanya.
Pramana memaksakan senyum tipis.
“Banyak kerjaan. Makannya begini. "
Michael tahu Pramana orang yang cukup sibuk di banding teman - temanya yang lain. Pramana adalah ketua di devisi nya, yang memiliki pekerjaan yang banyak. Makannya Michael memaklumi kalo wajah Pramana cukup kusut dan telihat kelelahan. Di tambah ini akhir tahun dimana pekerjaan sangat begitu banyak dan menumpuk.
“Ya udah kalau butuh coffee break kabarin.”
Pramana mengangguk, lalu kembali
menunduk menatap monitor yang gambarnya bahkan tidak ia lihat. Semua tampak blur. Ia menelan ludah, membiarkan perutnya yang kosong melilit karena ia lupa sarapan.
Sejak menjalani tobat, Pramana berubah.
Ia bangun subuh, menahan diri untuk tidak kembali ke kebiasaan lamanya, membaca ayat-ayat yang dahulu tak pernah ia sentuh. Tapi proses itu tidak mudah. Justru membuat mentalnya terkuras. Dan setiap kali ia sujud, ia menangis—bukan sekadar air mata, tapi semacam perih yang mencengkeram hatinya.
Sepulang bekerja pun Pramana menyempatkan diri untuk datang ke mesjid Central London untuk mengikuti sholat berjamaah dan belajar mengaji dengan ustadz yang kemarin ia temui pertama kali di mesjid tersebut.
“Apa aku pantas dimaafkan?” gumamnya lirih.
Ia menundukkan kepala, menangkup wajah. Bahunya bergetar.
Selama beberapa hari terakhir, ia terus membatin: aku harus bertanggung jawab. Setiap doa yang ia panjatkan selalu berujung pada satu kesimpulan:
Ia harus menemui gadis itu.
Ia harus meminta maaf.
Ia harus mengakui dosa yang ia buat dan siap menerima balasannya.
Entah itu kemarahan.
Entah itu tamparan.
Entah itu laporan polisi.
Apa pun.
Yang penting ia berhenti bersembunyi.
---
Sore itu, setelah pulang kerja, Pramana berdiri di depan cermin kamar mandi kantor. Ia memandang wajahnya sendiri—pucat, mata merah, rambut sedikit kusut yang tak ia tata. Tidak seperti Pramana yang dulu, wajah yang selalu fresh seperti orang habis mandi dan rambut selalu klimis tertata dengan rapih.
“Pramana,” bisiknya, “kamu harus lakukan ini.”
Ia menutup mata, menarik napas panjang, lalu keluar dari kantor. Langkahnya berat. Dada sesak. Tapi ia terus berjalan, menahan dingin London yang menusuk
tulang.
Ia tahu alamat kediaman Aaliyah dari Sam, sang sahabat yang sudah beberapa hari ini mencari alamat gadis itu untuk dirinya. Dan baru kemarin Sam mendapatkan alamat rumah Aaliyah. Ketika mengetahui komplek tempat tinggal Aaliyah sama dengan dirinya tinggal membuat Pramana sangat begitu terkejut di buatnya. Jadi selama ini wanita yang telah ia nodai tinggal di komplek perumahan yang sama dengan dirinya.
Pramana masuk ke dalam mobilnya.
Tangan sedikit gemetar memegang setir tersebut. Sangking gugup dirinya akan datang menemui Aaliyan berserta orang tua gadis itu malam ini.
“Kamu pasti bisa, Pram. Kamu laki - laki
tidak boleh pengecut. " Gumam Pramana sebelum mobil keluar meninggalakn parkiran kantor.
Mobil melaju pelan meninggal parkiran. Perjalanan pulang yang biasa ia tempung setengah jam, sekarang berasa lebih lama.
Pramana menghentikan mobilnya tepat di rumah yang paling besar di komplek tempatnya tinggal. Ia memastikan kembali alamat yang di berikan Sam padanya. Ia takut salah alamat.
Melihat bangunan rumah berwarna putih dengan halaman bersih dan rapih. Membuat Pramana tertegan di buatnya. Rumah ini mah ia tahu, yang jaraknya hanya tiga rumah dari rumahnya. Rumah yang paling besar dari rumah - rumah yang lainnya.
Rasanya Pramana ingin memukul dirinya saja. Kenapa baru sekarang ia mengetahui kalo rumah ini merupaka, rumah kediaman Aaliyah.
Pramana keluar dari dalam mobil setelah menenangkan dirinya terlebih dahulu tadi. Lalu ia berjalan menuju rumah bernuansa putih dengan halaman rapi dan bersih. Rumah itu tampak hangat, penuh cinta. Tak seperti hatinya yang kini hancur berkeping-keping.
Ia menelan ludah, menekan bel.
Denting halus terdengar dari dalam.
Pramana memejamkan mata, mempersiapkan dirinya untuk bertemu gadis itu.
Untuk melihat mata yang pernah ia lukai…
Untuk merasakan benci yang pantas ia terima…
Pintu terbuka.
Namun bukan gadis itu yang muncul.
Melainkan seorang wanita paruh baya, dengan apron melekat di tubuh tuanya.
" Permisi, apa benar ini kediaman Aaliyah Jhonson? " Tanya Pramana dengan gugup.
" Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu ? "
" Apa Aaliyah nya ada, madam ? "
Belum juga Bibi Elif menjawab suara dari arah dalam rumah membuat Bibi Elif urung menjawab pertanyaan Pramana .
" Siapa yang bertamu, Bik ? " Tanya Mommy Amira dari dalam rumah.
" Ini, nyonya ada seorang pria mencari Nona Aal. " Jawab Bibi Elif sedikit berteriak supaya Mommy Amira mendengar.
Mendengar seorang pria mencari keberadaan putrinya membuat wanita berhijab itu melangkah cepat menuju teras rumah.
Mata beliau langsung membesar ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
Pramana menunduk cepat, tubuhnya otomatis kaku. Melihat wanita yang kemarin mendatangi dirinya dengan kobaran amarah.
" Mau apa kau datang ke rumah ku, B*jingan ! " Seru Mommy Amira melihat tamu yang datang kerumahnya.
" Saya... saya datang kesini ingin bicara dengan Aaliyan," ucapnya dengan suara hampir tak terdengar.
Detik berikutnya, ketegangan itu meledak.
“Keluar dari rumah saya. Aaliyah tidak ada
disini !”
Pramana mengangkat kepala pelan, wajahnya pucat.
“Madam... saya... saya mohon berikan saya waktu lima menit saja untuk bicara dengan Aaliyah”
" Tidak ada ! " Seru Mommy Amira kesal, " Pergi lah dari kediaman ku sekarang juga. "
Bukannya pergi Pramana melangkah mendekati Mommy Amira lalu menjatuhkan dirinya, berlutut di hadapan Mommy Amira.
Bibi Elif yang menyaksikan itu cukup terkejut. Jadi pria ini yang membuat Aaliyah hamil di luar nikah dan mengalami trauma pria ini.
" Saya... Saya ingin meminta maaf padanya atas kejadian waktu itu dan saya juga ingin bertanggung jawab atas perbuatan saya pada Aaliyah. " Ucap Pramana dengan memohon.
“KAMU?! Bertanggung jawab?!” suara Mom Amira pecah dan keras, membantu Bibi Elif yang berdiri di belakangnya terkejut.
" Kenapa baru sekarang kau mau bertanggung jawab perbuatan mu pada putri ku, hah ?! " Seru Mommy Amira penuh emosi, " kemarin - kemarin kau kemana saja ? Setelah putri mengalami trauma yang hebat, kau baru mau bertanggung jawab ? "
" Aku tak butuh tanggung jawab mu itu. Lebih baik kau pergi dari kediaman ku sekarang juga. " Usir Mommy Amira kembali pada Pramana. Baru saja Mommy Amira ingin melangkah masuk. Suara Pramana membuat ia menghentikan langkahnya.
" Madam saya mohon, izinkan saya bertemu dengan Aaliyah. " Ucap Pramana dengan wajah memohon yang sengat memelas.
“Wanita yang kamu cari sudah pergi. Ke Turki. Untuk menjauh dari laki-laki seperti kamu.”
Nada Mommy Amira mengiris seperti pisau dingin.
Tubuh Pramana melemas.
Aaliyah pergi?
Karena dirinya?
“Bohong! Pasti Aaliyah masih ada di dalam. Tolong izinkan saya bertemu dengan Aaliyah. Saya ingin meminta maaf..... "
“Saya tidak berbohong. Aaliyah sudah saya bawa pergi ke Turki, untuk menyembuhkan rasa trauma yang telah kau berikan padanya. " Ucal Mommy Amira memotig perkataan Pramana dengan cepat. Di tambah pria itu dengan kurang ajarnya menuduh dirinya berbohong.
“Kau sudah menghancurkan hidup anak saya! Kau sudah merusak masa depannya! Apa kamu pikir permintaan maaf cukup?”
Pramana menggeleng cepat, air mata jatuh satu per satu.
“Tidak… saya tahu tidak cukup. Saya hanya—saya hanya ingin memperbaiki apa yang saya rusak. Saya siap dihukum.”
Mommy Amira mengepalkan kedua
tanyanya menahan emosi. Tatapannya berubah dari marah menjadi campuran sakit dan kecewa yang dalam.
“Kamu tidak tahu bagaimana anakku menangis, bagaimana ia ketakutan setiap malam, bagaimana ia menahan malu untuk menceritakan apa yang terjadi…”
Suara Mommy Amira goyah.
“Dan kamu datang sekarang? Dengan wajah penuh penyesalanmu?”
Pramana menahan napas.
Dadanya sesak.
Ia ingin berlutut dan memohon ampun.
“Madam… saya tidak mencari pembenaran. Saya salah. Sangat salah. Saya menyesal. Saya tidak bisa hidup dengan rasa bersalah ini… saya ingin memperbaiki apa pun yang saya bisa…”
“Pergi.” Mommy Amira berkata pelan namun tegas. " Dan jangan pernah menampkan wajah mu itu di hadapan saya lagi. "
Brak !!
Pintu menutup kencang.
Suara itu menghantam telinga Pramana seperti tembok runtuh.
Ia berdiri mematung di teras rumah itu.
Tangan gemetar.
Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Hatinya menjerit.
Ini jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan… tapi ia tahu, amarah itu… adalah hak penuh Mommy Amira.
Ia pantas mendapatkannya.
Pramana memegang dada kirinya.
Napanya terputus-putus.
Untuk pertama kalinya sejak tobatnya dimulai… ia merasa dirinya benar-benar hancur.
Bukan karena ditolak.
Bukan karena dimarahi.
Tapi karena kenyataan bahwa gadis itu—wanita yang tidak berdosa—harus pergi jauh untuk menghindari dirinya.
Karena ia telah merusak sebuah hidup dari seorang wanita.
Dan tidak peduli berapa banyak ia sujud, berapa banyak ia menangis, berapa banyak ia berdoa… luka itu tetap ada.
Praman akhirnya berjalan pergi.meninggalkan mobilnya begitu saja di depan rumah Aaliyah.
Langkahnya goyah, seperti seseorang yang baru saja ditampar kenyataan pahit bahwa penebusan tidak semudah meminta maaf.
Di tengah jalan komplek yang sepi, ia menghentikan langkah.
Ia menunduk… lalu menangis lagi.
“Kapan aku bisa menebus semua ini… Ya Allah…”
Bersambung.....