NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Racun Tersembunyi

Sisa Sihir di Dinding Sel

Udara di dalam ruang isolasi bawah tanah ini terasa semakin berat dan bermuatan statis, seolah-olah atmosfer di sekitarnya sedang dikompresi oleh kekuatan yang tak terlihat. Bau besi berkarat yang tajam bercampur dengan aroma belerang yang samar mulai menusuk lubang hidung, sebuah pertanda sensorik akan adanya anomali sihir yang sedang merayap di balik bayang-bayang. Aurelia—yang kini menghuni raga Elara yang rapuh—masih tergeletak diam di atas lantai yang lembap dan kotor. Napasnya mulai mencapai ritme yang teratur setelah sebelumnya ia harus mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya untuk berpura-pura kehilangan kesadaran di hadapan Valerius. Seluruh persendian tubuhnya terasa kaku, nyeri, dan seolah membeku, namun kognisinya terus beroperasi dengan kecepatan tinggi, mengawasi setiap jengkal kegelapan dengan pandangan yang jauh lebih tajam daripada manusia biasa.

Ia menyadari dengan sepenuhnya bahwa Elena tidak akan membiarkan situasi ini tetap statis atau tenang setelah Valerius secara pribadi menginjakkan kaki di lubang pembuangan ini. Ada sesuatu yang bergerak secara non-fisik, merambat di dinding-dinding sel yang berlumut; sebuah hawa dingin yang tidak berasal dari faktor cuaca atau musim, melainkan manifestasi sihir hitam yang sedang mengintai dan memetakan keberadaannya.

"Kaisar itu..." bisik Aurelia dengan suara parau yang nyaris menghilang di antara tetesan air. "Dia mengenali sisa-sisa aromaku. Dia tahu persis siapa jiwa yang menghuni raga ini, tapi dia terlalu pengecut dan lemah untuk mengakui kenyataan yang menakutkan itu."

Aurelia memosisikan tubuhnya duduk secara bertahap, menahan rasa nyeri yang menusuk tajam di area punggungnya tempat luka-luka lama Elara meradang. Sesuatu yang dikirimkan Elena ke dalam sel ini bukan sekadar alat penyiksaan fisik biasa, melainkan media pengintaian metafisika yang licik. Hawa dingin yang merayap itu seolah-olah memiliki sensor organik yang memantau setiap fluktuasi gerakannya, sekecil apa pun itu.

"Hanya sejauh ini kemampuan manipulasimu, Elena?" batin Aurelia dengan senyum dingin yang menyayat. "Aku sudah pernah melewati radiasi api yang melahap raga dan jiwaku hingga menjadi abu. Hawa dingin pengintai ini tidak lebih dari sekadar hembusan angin malam yang lewat."

Ia memejamkan mata dengan rapat, memaksakan jiwanya untuk masuk kembali ke dalam resonansi Void yang menyakitkan. Rasanya seperti dipaksa menelan ribuan duri es; energi itu mengikis stabilitas batinnya yang sudah rapuh, namun hanya itu satu-satunya peluru dan senjata yang ia miliki saat ini. Ia mulai membedah aliran energi hitam yang menempel di dinding sel, mempelajari secara mikroskopis bagaimana pola energi itu bergerak secara sistematis untuk melaporkan aktivitasnya ke pusat sihir Elena.

"Sihir hitam kotor..." bisik Aurelia, sementara jemarinya mengalami tremor hebat akibat gesekan energi. "Kau menggunakan kekuatan yang hampir menghancurkanku sepenuhnya di masa lalu. Sangat terukur, sangat licik, dan sangat pengecut."

Struktur dinding sel di sekelilingnya seolah-olah menunjukkan denyut yang konstan, mirip dengan detak jantung makhluk hidup yang tersembunyi. Suhu udara di dalam sel merosot drastis hingga setiap helai napas Aurelia memadat menjadi kabut tipis yang putih di udara yang pengap.

"Nona? Nona Elara? Apakah Anda masih terjaga?" suara bisikan halus itu kembali tertangkap oleh indra pendengarannya yang telah dipertajam oleh Void. Rina.

Aurelia segera memutuskan aliran energinya secara mendadak agar tidak meninggalkan jejak yang terdeteksi oleh radar Elena. "Siapa di sana?"

"Ini saya, Rina. Para penjaga sedang berada di ujung lorong utama untuk berganti shift. Ini air untuk Anda, Nona," bisik Rina sambil menyodorkan botol keramik kecil melewati celah bawah pintu besi. Tangannya bergetar begitu hebat hingga botol itu menimbulkan denting logam yang nyaring saat bersentuhan dengan jeruji sel.

Aurelia mendekat dengan cara merangkak perlahan, menekan rasa sakit di lututnya. "Terima kasih banyak, Rina. Bagaimana kondisi di istana atas?"

"Gawat sekali, Nona. Selir Elena dikabarkan mengamuk hebat di paviliunnya. Beliau merusak banyak barang berharga, vas-vas antik, dan berteriak-teriak histeris soal tawanan di bawah tanah ini yang dianggapnya pembawa sial," Rina bicara dengan suara yang nyaris hilang karena tekanan rasa takut yang luar biasa.

"Biarkan saja dia berteriak. Itu artinya ketakutannya sedang menguasai logika dan rencananya," sahut Aurelia dengan nada datar yang tenang.

"Tapi Nona... sebelum saya kemari, saya mendengar dia memberikan perintah kejam pada kepala penjaga untuk memberikan 'pelajaran' yang jauh lebih keras malam ini kepada Anda," Rina memperingatkan dengan nada yang penuh kecemasan.

Aurelia menarik senyum tipis yang sangat dingin—sebuah ekspresi predator yang memancarkan aura mengerikan pada wajah Elara yang pucat dan cekung. "Suruh mereka mencoba jika mereka memang sudah bosan hidup. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil yang tidak akan pernah mereka lupakan."

"Kejutan? Tapi raga Nona saat ini sedang sangat lemas dan tidak berdaya..."

"Badan boleh saja lemas dan hampir mati, Rina. Tapi otak dan strategi ini tetap tajam," potong Aurelia dengan nada tegas yang membungkam keraguan Rina. "Segera tinggalkan tempat ini sebelum patroli malam datang. Cepat pergi."

Rina memberikan anggukan cepat yang kaku dan segera lari menjauh ke arah dapur. Aurelia kembali ke sudut selnya, meminum sedikit air tersebut untuk membasahi tenggorokannya yang kering, lalu kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada dinding sel yang berdenyut. Elena berasumsi bahwa ia hanyalah tawanan sampah yang sudah hampir mati. Elena tidak menyadari bahwa setiap koordinat di tempat gelap ini sudah mulai berada di bawah kendali tak terlihat Aurelia.

"Aku harus menggunakan hawa dingin ini untuk menyamarkan jejak energiku sendiri," rencana strategis Aurelia mulai terbentuk dengan matang. Ia membiarkan energi Void-nya keluar sedikit demi sedikit, lalu membungkusnya secara hati-hati dengan energi hitam milik Elena yang melekat di dinding. Rasanya seperti memegang bongkahan es dengan tangan telanjang—nyeri, menyayat, dan membekukan saraf hingga ke sumsum—namun ini adalah strategi kamuflase terbaik agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh sensor sihir istana.

"Tahan sebentar lagi, raga Elara," bisiknya pada tubuhnya sendiri yang mulai menggigil secara involunter akibat serangan suhu ekstrim.

Ia meraba sakunya yang kotor, mengeluarkan bungkusan kecil berisi kristal garam murni dari Asteria. Ini bukan sekadar bumbu dapur yang dibawa Rina; di negerinya yang dulu makmur, garam ini digunakan untuk ritual pembersihan spiritual, dan sebagai ahli sihir, Aurelia memahami bahwa garam ini memiliki reaksi kimiawi unik terhadap energi Void.

"Garam suci ini yang akan memutus rantai sihir yang kau pasang di leher Valerius, Elena," bisik Aurelia dengan mata yang berkilat dendam.

Ia mencampur beberapa butir garam itu dengan sisa air di tangannya, lalu mengoleskannya secara perlahan ke permukaan dinding yang paling dingin. Jemarinya yang basah dan luka menyentuh langsung inti energi hitam milik Elena.

"Resonansi... sinkronkan frekuensinya sekarang juga," gumamnya dengan penuh penekanan.

Seketika, energi hitam di dinding bergetar hebat. Suhunya meningkat mendadak dari dingin membeku menjadi panas yang menyengat. Kristal garam itu mulai bekerja sebagai konduktor, menyedot hawa dingin Elena melalui perantara Void milik Aurelia. Tubuhnya terasa seperti diaduk-aduk secara kasar dari dalam, jiwanya terasa makin tipis seolah akan menguap, tapi ia menolak menyerah pada rasa sakit yang menghancurkan itu.

"Aku tidak akan pernah kalah lagi dari tanganmu, Elena," geramnya sambil menahan nyeri yang luar biasa di sepanjang tulang belakangnya. "Tidak hari ini, tidak selamanya."

Langkah kaki penjaga yang berat dan kasar terdengar mendekat dari balik tikungan lorong. Aurelia segera menyembunyikan sisa garamnya di balik kain dan memeluk tubuhnya sendiri, pura-pura tertidur pulas karena kedinginan yang amat sangat.

Energi yang Terkikis

Penjaga itu melintas dengan langkah yang sengaja dibuat gaduh, memberikan tatapan curiga yang penuh kebencian ke dalam sel isolasi. Obor yang dibawanya menciptakan bayangan aneh yang memanjang di tembok, seolah-olah bayangan itu adalah monster yang siap menerkam raga Elara yang tak berdaya. Bau belerang masih tertangkap oleh indra penciuman Aurelia yang tajam, namun sekarang aroma itu tersamar oleh bau asin yang tajam dari kristal garam Asteria yang sedang bereaksi. Aurelia menahan napasnya secara manual, memastikan ekspansi dadanya bergerak stabil dan ritmis, seolah-olah ia sedang berada dalam fase tidur yang sangat dalam dan tenang.

"Sampah tidak berguna, kerjanya cuma tidur di tengah kotorannya Sendiri," dengus penjaga itu dengan nada jijik sebelum melanjutkan patrolinya ke arah pos jaga bawah tanah yang lebih hangat.

Begitu suasana kembali sunyi dan hanya menyisakan suara tetesan air, Aurelia membuka matanya perlahan. Raga Elara saat ini berada dalam kondisi lemas yang ekstrem; kepalanya berdenyut kencang seirama dengan detak jantungnya, dan lambungnya mengalami kontraksi mual yang hebat akibat penolakan biologis. Memaksakan energi Void pada tubuh yang tidak memadai secara nutrisi benar-benar menguras stabilitas jiwanya hingga ke ambang batas kewarasan.

"Rasa terbakar di panggung eksekusi masa lalu ternyata belum seberapa dibandingkan sakitnya jiwa yang terkikis secara perlahan begini," batinnya sambil mencoba mengatur kembali ritme napas yang tersengal.

Ia mengamati dinding sel tersebut dengan saksama. Energi hitam milik Elena telah meredup drastis, terserap ke dalam struktur garam yang kini menghitam. Strategi tipu muslihatnya berhasil dengan gemilang. Elena akan mengira sihir pengintainya sedang bekerja maksimal karena umpan energi yang diberikan Aurelia, padahal kekuatan pengintai itu justru sedang disedot habis dan dinetralkan. Aurelia teringat lagi tatapan Valerius di sel ini tadi. Pria itu sudah mulai terjangkit paranoia, dan ketakutan adalah tali kendali yang paling pas untuk menyeretnya menuju kehancuran.

"Valerius... kau mungkin berpikir bahwa kau adalah seekor singa yang berkuasa di kekaisaran ini, padahal kau hanyalah seekor anjing yang lehernya ditali erat oleh ambisi Elena," batin Aurelia dengan dingin.

Ia menatap koridor yang gelap gulita di depannya. Ia menyadari bahwa raga ini butuh tenaga tambahan segera jika ingin bertahan lebih dari satu malam lagi. "Rina..." bisiknya pelan, berharap pelayan itu masih berada di sekitar sana, namun tidak ada jawaban sama sekali. Pelayan muda itu kemungkinan besar sudah bersembunyi di balik dinding dapur karena ketakutan akan patroli tambahan.

Aurelia menyandarkan punggungnya yang luka ke tembok batu yang kasar. Ia meraba area luka bakar di kulitnya yang terasa panas, titik di mana ia memusatkan energi Void sebelumnya. Rasa perih itu kini bukan lagi sekadar trauma yang membuatnya ingin pingsan, melainkan menjadi pengingat biologis yang konstan tentang alasan mengapa ia harus tetap hidup dan menolak untuk mati di tempat ini.

"Aku akan menghancurkan Elena terlebih dahulu, lalu aku akan membuat Valerius memohon kematian di depanku," tekadnya semakin bulat, mengkristal dalam kegelapan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki kembali terdengar memantul di sepanjang lorong batu. Namun, frekuensi langkah ini sangat berbeda—pelan, penuh kepalsuan wibawa, dan memancarkan keangkuhan yang sangat kental. Aurelia segera bersiap, menajamkan seluruh indranya. Ia merasakan aura yang sangat ia kenal melalui memori masa lalunya yang pahit. Ini bukan langkah seorang penjaga atau sipir biasa.

Pintu sel terbuka sedikit dengan bunyi engsel yang tajam dan memuakkan. Elena berdiri di ambang pintu dengan wajah yang memerah padam akibat kemarahan yang tidak terkendali. Ia menatap Elara dari balik jeruji seolah-olah ia sedang melihat seekor kecoa yang harus segera diinjak.

"Tawanan sampah yang tidak tahu diri!" desis Elena dengan suara yang bergetar hebat karena emosi yang meluap. "Kau pikir kau bisa menggunakan tipu muslihat rendahanmu untuk main-main dengan perhatian Kaisar? Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan!"

"Saya... saya benar-benar tidak mengerti apa maksud Selir Utama," jawab Aurelia, suaranya sengaja dibuat gemetar, lemah, dan penuh nada ketakutan yang palsu. "Saya hanyalah tawanan malang yang sedang kelaparan."

Elena tertawa sinis, sebuah tawa merendahkan yang menggema di ruang sempit itu. "Lapar? Bagus sekali. Kalau begitu, makanlah ini sampai kau mampus dan membusuk!"

Elena melempar sebuah bungkusan makanan yang dibungkus kain kasar ke atas lantai yang kotor dan basah. Aromanya sangat aneh—bau pahit yang tajam dan menusuk, jauh berbeda dengan aroma roti berjamur sebelumnya. Jelas sekali bahwa makanan ini telah dicampur dengan racun atau zat kimia yang mematikan secara perlahan.

"Makan semuanya tanpa sisa, dan lihatlah apakah kau masih memiliki nyawa untuk bangun besok pagi!" ancam Elena dengan nada penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah kaki yang angkuh dan terburu-buru.

Aurelia menatap makanan yang berserakan di atas lantai kotor itu dengan tatapan yang kini menjadi sangat dingin. Ia bisa merasakan energi hitam yang pekat dan jahat berdenyut dari dalam makanan tersebut. Ini bukan sekadar racun kimia biasa; ini adalah bagian dari esensi sihir hitam Elena yang sengaja disisipkan untuk merusak jiwa tawanannya.

"Kau baru saja memberikan aku peluru cadangan yang sangat berharga, Elena," batin Aurelia dengan kilatan kemenangan di matanya.

Ini adalah kesempatan emas yang tak terduga. Ia tahu bahwa ia bisa menggunakan racun sihir ini untuk mengisi kembali energi Void-nya yang sudah hampir kering keronta. Ia akan memakan racun tersebut, membedah struktur energinya di dalam perutnya sendiri, dan menggunakan Void untuk mengubahnya menjadi kekuatannya sendiri—sebuah asimilasi paksa yang mematikan bagi orang biasa, namun merupakan sumber tenaga bagi Aurelia.

"Pilihan ketiga," bisik Aurelia pada keheningan sel. "Aku akan memakan racun ini, dan aku akan memastikan racunmu ini menjadi kekuatan yang akan menebas lehermu sendiri nanti."

Dengan tangan yang masih gemetar karena kondisi fisik, Aurelia mulai memakan makanan yang berasa sangat pahit tersebut sedikit demi sedikit. Rasa sakit yang tajam seperti sayatan belati mulai menyerang dinding perutnya, menciptakan sensasi terbakar yang luar biasa, namun ia bertahan dengan tekad baja. Ia membiarkan energi Void di dalam dirinya bekerja secara otomatis, menyerap setiap tetes racun untuk dijadikan bahan bakar tenaga baru yang stabil dan mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!