Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 15 — Harga Sebuah Nyawa
Sore itu langit berwarna pucat ketika bel rumahnya berbunyi dua kali, pendek dan ragu. Kael sedang berada di kamar, sibuk dengan buku-buku barunya. Elizabeth yang tengah duduk di ruang tamu menoleh ke arah pintu dengan alis sedikit terangkat. Ia tak pernah mengharapkan kedatangan tamu atau siapapun itu.
Ketika Elizabeth akhirnya membuka pintu, ia melihat Chad berdiri di sana dengan wajah tegang dan napas tak teratur. Di tangannya tergenggam sebuah kantong besar berwarna hitam. Tangannya bergetar begitu melihat Elizabeth menatapnya tanpa ekspresi.
“A-aku perlu bicara,” katanya pelan.
Elizabeth tidak menjawab, tetapi memberi jalan. Chad melangkah masuk dengan canggung, lalu menutup pintu di belakangnya. Beberapa detik berikutnya hanya diisi oleh keheningan yang menekan.
Tanpa banyak kata, Chad meletakkan kantong itu di atas meja dan membukanya. Tumpukan uang tersusun rapi di dalamnya.
Elizabeth mengerutkan kening tipis. “Apa ini?” tanyanya dingin. “Aku tidak ingat pernah memintanya darimu.”
Chad menelan ludah. “Memang tidak, tapi … ini untukmu.”
“Untukku? Wah, kau murah hati sekali, ya?” sindirnya tajam, Ia tahu jelas siapa pria yang berada di depannya itu. Chad ataupun temannya yang lain bukanlah pria dermawan yang akan menghamburkan uang secara cuma-cuma.
“Aku tahu itu bukan permintaanmu.” Suaranya terdengar semakin kecil.
Elizabeth memandangnya dengan tatapan tajam, menunggu penjelasan. “Lalu? Katakan saja dengan terus terang, aku tidak suka membuang-buang waktu.”
“Ini … anggap saja uang ini sebagai tebusan,” lanjut Chad, akhirnya. “Untuk nyawaku.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Chad tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. Kantong uang itu tergeser sedikit di atas meja. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, hampir menyentuh lantai.
“Tolong lepaskan aku,” katanya dengan suara pecah. “Aku tidak mau mati seperti Jean. Aku tidak ikut merencanakan apa pun. Aku hanya … aku hanya mengikuti mereka saja. Aku berani bersumpah.”
Elizabeth terdiam. Ada sesuatu yang menarik dari pemandangan itu, seorang pria dewasa, yang dulu tertawa keras dan merasa kebal, kini gemetar dan bersujud di hadapannya. Ketakutan terpancar jelas di setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Ia tertawa pelan. Ada sensasi yang lama sudah tak ia rasakan menyelinap kembali, perasaan ketika orang-orang memandangnya dengan campuran takut dan hormat. Di kehidupan sebelumnya, tatapan seperti itu biasa ia terima.
Orang-orang membungkuk bukan karena sopan, tetapi karena ingin bertahan hidup. Dan kini, itu terjadi lagi.
“Kau sangat penakut rupanya,” ucap Elizabeth perlahan.
Chad mengangguk cepat tanpa berani mengangkat wajahnya. “Aku akan pergi jauh. Aku tidak akan pernah menyebut namamu. Aku bersumpah. Tapi tolong lepaskan aku, kumohon.”
Elizabeth berjalan mengitari meja dengan langkah ringan, lalu berdiri tepat di depannya. Ia menatap tumpukan uang itu, lalu kembali menatap Chad yang masih berlutut.
“Berapa jumlah uang ini?” tanyanya santai.
“Se-seratus juta,” jawab Chad. “Tapi aku bisa menambahkan nominalnya jika kau mau. Asal kau berjanji melepaskanku.”
Elizabeth mengangkat salah satu ikatan uang itu, menimbangnya di tangan seolah sedang menilai kualitas barang dagangan. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
Harga yang sangat murah dibandingkan dengan semua penderitaan yang telah kau berikan pada tubuh ini, pikir Elizabeth.
Di kehidupan lamanya, ia tak pernah bernegosiasi, entah itu untuk bayarannya ataupun nyawa seseorang. Tetapi ia selalu mendapatkan bayaran yang pantas ia terima. Dan tumpukan uang yang ia lihat sekarang tidak berarti apa-apa baginya. Elizabeth terbiasa menerima bayaran dalam jumlah fantastis untuk harga nyawa seseorang.
“Baik,” kata Elizabeth pada akhirnya. “Aku akan menerimanya.”
Chad mengangkat wajahnya sedikit, harapan muncul di matanya. “Be-benarkah? Apakah itu artinya kau akan mengampuniku?”
“Tapi,” lanjut Elizabeth, nada suaranya berubah lebih tenang dan dalam, “Uang saja tidak cukup untuk menebus semua dosa-dosamu padaku.”
Wajah Chad kembali pucat. “A-apapun yang kau inginkan,” katanya cepat. “Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya.”
Elizabeth menatapnya beberapa detik, menikmati ketegangan yang perlahan menggerogoti pria itu. Ia tidak terburu-buru. Ketakutan yang dibiarkan tumbuh lebih efektif daripada ancaman yang dilontarkan terburu-buru.
“Aku ingin nyawa mereka sebagai gantinya,” ucap Elizabeth pada akhirnya. “Semua orang yang terlibat. Semua orang yang mungkin tahu perbuatan kalian. Aku ingin tahu semuanya, tanpa terkecuali.”
Chad langsung mengangguk. “Ba-baik, aku akan memberitahumu semuanya. Daftar nama, nomor telepon, alamat, semuanya. Aku pasti akan memberikannya padamu,” ucap Chad cepat dan tanpa ragu.
Elizabeth tersenyum puas. Kini ia memiliki satu pengikut yang akan menuruti semua perintahnya. Ia merasa tugasnya akan semakin mudah jika memanfaatkan kelemahan dan ketakutan pria naif itu.
“Apa lagi yang kau tunggu? Bangunlah, lututmu bisa sakit nanti. Anggap saja kau sudah bebas sekarang.”
Kata-kata itu terdengar seperti anugerah. Chad hampir runtuh karena lega. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu dengan langkah terburu-buru, seolah takut keputusan itu bisa berubah sewaktu-waktu.
Elizabeth berdiri sendirian di ruang tamu, menatap kantong uang di atas meja. Jari-jarinya menyentuh permukaan uang itu dengan santai. Ia merasa puas karena kendali itu kembali berada di tangannya.
“Kakak? Siapa yang datang tadi?” tanya Kael yang baru saja keluar dari kamarnya.
Elizabeth terkesiap dan langsung menoleh. “Bukan siapa-siapa, hanya kurir yang mengantarkan barang,” jawabnya berusaha tetap tenang.
Kael menatapnya selama beberapa lama sebelum akhirnya kembali ke kamarnya tanpa bertanya apapun lagi.
Elizabeth menghela napas lega. “Untunglah anak itu tidak banyak bertanya seperti biasanya,” gumamnya seraya meraih kantong hitam itu dan membawanya ke kamar.
Di luar, langkah Chad menjauh dengan cepat, membawa ketakutan yang belum benar-benar hilang. “Semoga saja dia menepati janjinya, aku tidak ingin mati sia-sia,” gumamnya pelan lalu memasuki mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya menjauhi rumah itu.
Sementara itu, sepasang mata mengintai mobil Chad dari balik semak-semak. “Rumah siapa yang dia kunjungi?” gumamnya lalu perlahan keluar dari persembunyiannya dan menatap rumah dua tingkat di depannya.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇