NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Hanya Segerombolan Pengecut

"Kulo butuh teh pahit, Nyi," ucap Sawitri begitu Nyi Inggit menutup pintu kamar paviliunnya.

"Drama hari ini sungguh menguras toleransiku terhadap hal-hal yang mboten rasional."

Nyi Inggit, yang masih gemetar karena peristiwa kedatangan Cakrawirya yang bak maling itu, hanya mengangguk patah-patah dan bergegas keluar untuk mencari dapur keraton.

Sawitri melepaskan kebaya panjangnya, menyisakan kemben katun putih yang membalut tubuh rampingnya.

Ia berdiri di depan cermin tembaga, menganalisis pantulan dirinya sendiri.

Meski nutrisinya sudah membaik sejak ia mulai menerima bayaran dari praktik medisnya, tubuh Raden Ajeng Sawitri masih terlalu rapuh. Otot-ototnya belum terbentuk sempurna seperti tubuhnya di era modern.

"Jika Dhaniswara benar-benar menyerang secara fisik, kulo hanya punya satu kesempatan untuk melumpuhkannya sebelum tenaga kulo habis," batin Sawitri, matanya memicing tajam.

"Titik karotis. Atau saraf radialis. Kulo butuh jarum yang lebih panjang dan tebal dari jarum biasa."

Pagi harinya, suasana kediaman utama Tumenggung Danurejo sudah sibuk luar biasa.

Para batur berlarian membawa nampan berisi kain-kain sutra, perhiasan emas, dan berbagai seserahan.

Semua itu dipersiapkan untuk menyambut kedatangan keluarga besar Kadipaten Demak yang akan meresmikan pertunangan Sawitri dan Dhaniswara esok harinya.

Sawitri, yang sama sekali tidak tertarik dengan segala keributan itu, memilih mengurung diri di paviliunnya.

Ia sibuk meracik ekstrak akar kecubung dengan dosis sangat presisi.

"Ndara Ayu," panggil Ndari pelan, mengetuk pintu kamar majikannya yang sedikit terbuka.

"Romo Tumenggung memerintahkan Ndara untuk segera ke pendopo agung. Keluarga Demak sudah mengirimkan utusan awal mereka."

Sawitri tak menjawab. Ia memindahkan ekstrak kecubung itu ke dalam sebuah botol kaca seukuran jari kelingking, lalu menyelipkannya ke balik lipatan kembennya dengan sangat rapi.

"Ndari, apakah jahitanku ini terlihat?" tanya Sawitri datar, menunjuk bagian bawah kembennya.

"Mboten, Ndara. Lipatannya sangat rapat," jawab Ndari bingung, tak paham apa yang disembunyikan majikannya.

"Bagus. Mari kita sambut para tamu terhormat itu."

Sawitri mengenakan kebaya sutra merah darah, sebuah pilihan warna yang sangat berani dan menantang untuk ukuran seorang gadis yang sedang dipingit.

Rambutnya digelung sederhana tanpa hiasan emas yang berlebihan, menonjolkan fitur wajahnya yang pucat dan tajam.

Saat ia melangkah memasuki pendopo agung, semua mata langsung tertuju padanya.

Di sana, Tumenggung Danurejo duduk berdampingan dengan seorang pria tua yang memancarkan aura bengis. Itu pasti utusan dari Demak.

Di sudut lain, Nyai Selir Sukmawati dan Wandira duduk dengan senyum yang dipaksakan.

"Inikah Raden Ajeng Sawitri?" tanya pria tua dari Demak itu, suaranya parau dan merendahkan.

Matanya memindai Sawitri dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tak senonoh.

"Leres, Ki Patih," jawab Tumenggung Danurejo dengan nada menjilat.

"Anak kulo ini memang sedikit... pendiam. Tapi kulo jamin, dia sangat penurut."

Sawitri mendengus sangat pelan, nyaris tak terdengar.

Penurut? Kulo lebih suka membakar keraton ini daripada menuruti perintah pria berotak udang, batinnya dingin.

"Mendekatlah, Nduk," perintah Ki Patih dari Demak.

"Kulo ingin melihat wajah calon istri pangeran kami dengan lebih jelas."

Sawitri melangkah maju tanpa ragu, gerakannya begitu luwes dan tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa segan.

Ia berdiri tepat di hadapan Ki Patih, menatap langsung ke sepasang mata keruh pria tua itu.

"Apa yang ingin Ki Patih lihat?" tanya Sawitri datar, suaranya mengalun dingin membelah udara pendopo.

"Kulo mboten punya cacat fisik yang akan membuat pangeran Anda merasa jijik, jika itu yang Anda khawatirkan."

Tumenggung Danurejo tersentak kaget mendengar kelancangan putrinya. "Sawitri! Jaga bicaramu di depan utusan Demak!"

Namun, Ki Patih justru tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sangat tidak nyaman di telinga.

"Kanjeng Tumenggung, ternyata anakmu ini punya lidah yang sangat tajam," kekeh Ki Patih, matanya berkilat penuh minat.

"Raden Mas Dhaniswara pasti akan sangat menyukai mainan barunya ini."

Kata 'mainan' memicu reaksi seketika di otak Sawitri.

Jemarinya refleks meraba lipatan kembennya, merasakan tekstur botol kaca berisi racun kecubung yang dingin.

"Kulo bukan mainan siapa pun, Ki Patih," desis Sawitri, memajukan tubuhnya setengah inci, aura mengintimidasinya menguar pekat.

"Sampaikan pada pangeran Anda, jika ia ingin bermain-main dengan kulo, ia harus bersiap mempertaruhkan nyawanya."

Keheningan mutlak langsung menyergap pendopo agung.

Tumenggung Danurejo membelalak tak percaya.

Nyai Selir Sukmawati menutupi mulutnya dengan kipas, matanya memancarkan kepanikan sekaligus kepuasan.

"K-Kowe mengancam Pangeran Demak?!" Ki Patih tergagap, tawanya lenyap seketika, tergantikan oleh amarah yang menggelegak.

"Kanjeng Tumenggung! Apa begini caramu mendidik putrimu?!"

Tumenggung Danurejo bangkit dari kursinya dengan murka, tangannya terangkat bersiap menampar Sawitri.

Namun, sebelum tangan besar ayahnya itu mendarat di wajahnya, Sawitri menangkap pergelangan tangan Tumenggung dengan kecepatan kilat.

Cengkeramannya begitu kuat, sangat tidak masuk akal untuk ukuran lengan sekecil itu.

Teknik kuncian Tarung Derajat kembali menyelamatkannya.

"Kulo sudah bilang, Romo. Kulo mboten sudi disentuh oleh siapa pun," ucap Sawitri, suaranya sarat akan ancaman yang sangat nyata.

Ia melepaskan tangan ayahnya dengan dorongan kasar, membuat pria besar itu terhuyung mundur.

"Jika pertemuan ini hanya untuk menghina kulo, kulo pamit," Sawitri membalikkan badan, melangkah pergi tanpa menunduk sedikit pun.

"Tunggu, Mbakyu!"

Langkah Sawitri terhenti oleh suara lembut Wandira.

Gadis cantik itu melangkah maju, senyum manisnya terukir sempurna, namun matanya memancarkan bisa yang mematikan.

"Mbakyu Sawitri, tolong jangan membuat Romo murka," ujar Wandira dengan nada membujuk yang menjijikkan.

"Kita ini keluarga bangsawan. Pernikahanmu dengan Raden Mas Dhaniswara adalah demi kejayaan keluarga kita. Bukankah Mbakyu seharusnya merasa terhormat dipilih menjadi jembatan aliansi ini?"

Sawitri memutar kepalanya perlahan, menatap saudari tirinya itu dengan tatapan menilai.

"Jika kowe merasa itu adalah sebuah kehormatan, kenapa mboten kowe saja yang menggantikan posisiku, Wandira?" tembak Sawitri telak.

Wajah Wandira seketika memerah menahan amarah yang meledak. Topeng keanggunannya nyaris retak.

"K-kulo... kulo mboten berani melangkahi hak Mbakyu sebagai putri sulung," jawab Wandira terbata, mencoba mempertahankan narasi gadis suci yang selama ini ia bangun.

"Berhentilah bersandiwara," Sawitri mendengus sinis, tak berniat memperpanjang percakapan tidak rasional ini.

"Kalian semua hanya segerombolan pengecut yang bersembunyi di balik gelar kebangsawanan."

Sawitri kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan pendopo agung, membiarkan kemarahan dan kebingungan mendidih di belakang punggungnya.

Malam harinya, Sawitri duduk bersila di kamarnya, merapikan deretan pisau bedah kuno yang baru saja ia asah.

Besok adalah hari pertunangannya. Raden Mas Dhaniswara akan datang secara resmi.

Ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai.

"Menyiapkan senjata untuk membunuh calon suamimu sendiri, Ndara Tabib? Itu sangat... mboten romantis."

Suara bariton Cakrawirya kembali terdengar dari balik jendela.

Pemuda itu melompat masuk, kali ini mengenakan surjan hitam legam yang membuatnya menyatu sempurna dengan bayang-bayang malam.

Sawitri tak menoleh, ia sibuk memeriksa ketajaman pisau bedahnya dengan ujung ibu jarinya.

"Romantisme adalah ilusi yang diciptakan oleh orang-orang bodoh untuk membenarkan kelemahan biologis mereka," jawab Sawitri datar. "Kulo lebih suka bersikap rasional."

Cakrawirya tertawa pelan, melangkah mendekati meja rias Sawitri.

Ia mengambil salah satu pisau bedah yang telah diasah itu, memainkannya dengan gerakan memutar yang sangat lihai.

"Dhaniswara adalah petarung yang buas. Pisau kecil ini mboten akan cukup untuk menembus otot lehernya sebelum ia mematahkan tulang rusukmu," analisis Cakrawirya dengan nada serius.

"Maka kulo mboten akan menyerang otot lehernya," Sawitri mengambil kembali pisau itu dari tangan Cakrawirya, memasukkannya ke dalam sarung kulit kecil.

"Kulo akan menyerang titik kelemahannya yang lain."

"Apa itu?" tanya Cakrawirya penasaran, menatap Sawitri dengan binar mata yang menyala.

"Rahasia," jawab Sawitri singkat.

Ia berdiri, menatap lurus ke mata pemuda misterius di depannya.

"Kenapa jenengan selalu muncul di sekitarku, Raden? Apa tujuan jenengan sebenarnya?"

Cakrawirya terdiam sejenak. Senyum miringnya memudar, tergantikan oleh ekspresi yang sangat sulit ditebak.

"Kulo hanya mboten ingin melihat pisau bedah paling tajam di Mataram ini patah sebelum kulo sempat menggunakannya," bisik Cakrawirya, suaranya sangat pelan, namun menggetarkan udara di antara mereka.

"Menggunakannya untuk apa?" Sawitri menaikkan sebelah alisnya, insting forensiknya mencoba membedah motif pemuda itu.

"Untuk membedah kebusukan yang tersembunyi di balik tembok keraton ini," jawab Cakrawirya.

Ia melangkah mundur, kembali mendekati jendela.

"Berhati-hatilah besok, Sawitri. Dhaniswara mungkin terlihat seperti anjing gila, tapi dia jauh lebih cerdik dari yang kau kira."

Cakrawirya melompat keluar, menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Sawitri dengan segudang pertanyaan baru yang memenuhi otak rasionalnya.

Keesokan paginya.

Kediaman utama Tumenggung Danurejo dihias dengan sangat mewah.

Kain-kain sutra berwarna cerah dibentangkan di setiap sudut, wangi dupa dan bunga melati memenuhi udara.

Rombongan Kadipaten Demak akhirnya tiba.

Raden Mas Dhaniswara turun dari tandu emasnya dengan langkah angkuh.

Ia mengenakan surjan beludru merah darah yang dihiasi sulaman benang emas, wajahnya memancarkan arogansi yang mengerikan.

Sawitri, yang telah dipaksa mengenakan kebaya pengantin berwarna putih gading, duduk menunduk di atas tikar pandan di tengah pendopo, dikelilingi oleh Nyai Selir Sukmawati dan Wandira yang tersenyum penuh kemenangan.

"Di mana calon istriku?" suara berat Dhaniswara menggema, matanya yang liar menyapu seluruh isi pendopo.

Tumenggung Danurejo dengan tergesa-gesa menyambutnya, wajahnya dipenuhi senyum menjilat.

"Sugeng rawuh, Raden Mas. Ini putri sulung kulo, Raden Ajeng Sawitri."

Dhaniswara melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Sawitri. Ia menunduk, matanya menatap tajam ke arah gadis yang duduk bersila itu.

"Angkat kepalamu," perintah Dhaniswara, suaranya tak lebih dari desisan mematikan.

Sawitri mendongak perlahan. Matanya bertemu dengan mata Dhaniswara, dan di detik itu juga, ia tahu.

Pria ini datang bukan untuk menikahinya.

Pria ini datang untuk membunuhnya.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!