Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Malam itu, mendung seolah ikut mengerti suasana hatiku. Aku meringkuk di bawah selimut, mengabaikan ketukan Mama yang memanggilku untuk makan malam. Ponselku bergetar berkali-kali, tapi aku tidak berani melihatnya. Aku takut binar di mata Arkan tadi sore hanyalah fatamorgana yang akan menguap seperti janji-janji Ayah.
Hingga kemudian, suara deru motor yang sangat kukenal berhenti di depan pagar.
Brummm...
Jantungku mencelos. "Jangan sekarang, Arkan," bisikku parau.
Tak lama, terdengar suara gaduh dari ruang tamu. Suara Kak Pandu yang biasanya cempreng terdengar menyambut seseorang dengan antusias.
"Woy, Ar! Tumben banget lo malem-malem ke sini? Nggak biasanya rajin ngerjain tugas kelompok PKN bareng gue," suara Kak Pandu terdengar sampai ke lantai atas.
"Iya nih, Ndu. Gue baru inget besok dikumpul, daripada nilai gue terjun bebas kayak shooting lo yang meleset kemaren," jawab Arkan. Suaranya terdengar santai, tapi aku bisa menangkap nada gelisah yang ia sembunyikan dengan rapi.
Aku tahu itu bohong. Tugas PKN baru dikumpul minggu depan. Arkan sedang melakukan manuver nekat.
Sepuluh menit kemudian, langkah kaki berat mendekat ke arah kamarku. Aku mengeratkan pelukan pada bantal, berpura-pura tidur.
Tok... tok...
"Ra? Ini Kak Pandu. Arkan di bawah nih, katanya ada buku catetan dia yang kebawa lo pas di markas... eh, pas di sekolah tadi," suara Kak Pandu terdengar ragu. Sepertinya dia juga tahu ada yang tidak beres.
Aku diam. Tidak menjawab.
"Nara? Lo nggak mati suri, kan? Arkan mau pamit balik, tapi dia titip ini," lanjut Kak Pandu.
Pintu kamarku sedikit terbuka. Kak Pandu masuk dan meletakkan sebuah kantong plastik kecil di meja belajarku, tepat di samping foto masa kecilku dengan Ayah yang tadi pagi sengaja kupajang. Kak Pandu menatapku sebentar, menghela napas, lalu keluar tanpa suara.
Begitu pintu tertutup, aku bangkit dan mendekati meja. Di dalam plastik itu ada satu kotak susu cokelat dingin dan sebuah kertas kecil yang disobek kasar dari buku tulis.
Pajak kebahagiaannya mahal banget ya hari ini, Ra? Sampai lo mau narik diri lagi.
Gue nggak tahu siapa atau apa yang bikin lo berubah dalam satu jam, tapi asuransi gue nggak bakal bangkrut cuma gara-gara satu pesan dingin dari lo.
Gue ada di bawah, di motor. Gue bakal tunggu lima menit. Kalau lo nggak keluar, gue bakal anggap lo lagi butuh waktu. Tapi kalau lo keluar, gue bakal dengerin apa pun, tanpa nilai lo.
- Editor lo.
Tanganku gemetar. Arkan tidak memaksa masuk, dia tidak memintaku menjelaskan lewat telepon. Dia hanya... ada di sana. Menungguku di tengah udara malam yang mulai menusuk.
Lima Menit yang Menentukan
Aku menatap jendela. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku bisa melihat siluet Arkan yang duduk di atas motornya, menatap ke arah jendela kamarku. Ia terlihat kecil dari sini, namun ketegarannya terasa begitu nyata.
Bayangan Ayah yang pergi tanpa pamit tiba-tiba beradu dengan sosok Arkan yang memilih untuk tetap tinggal dan menunggu.
"Satu menit lagi, Nara," gumamku pada diri sendiri.
Aku menyambar jaket dan berlari turun tangga. Aku melewati Kak Pandu yang sedang asyik main game di ruang tengah—ia hanya melirikku dengan senyum miring yang seolah berkata, "Nah, gitu dong."
Aku membuka pintu depan tepat saat Arkan memakai helmnya, bersiap untuk pergi.
"Arkan!" seruku pelan.
Ia berhenti. Mematikan mesin motornya kembali, lalu turun perlahan. Ia melepas helmnya, memperlihatkan wajahnya yang terlihat lelah namun langsung cerah begitu melihatku.
"Kirain gue harus balik dengan tangan kosong," ucapnya sambil berjalan mendekat ke pagar.
Aku berdiri di depannya, terhalang jeruji besi pagar rumahku. "Kenapa lo ke sini? Gue bilang jangan jemput besok."
Arkan memegang salah satu jeruji pagar, menatapku dalam. "Karena gue tahu, Nara yang kirim pesan itu bukan Nara yang tadi sore meluk pinggang gue di motor. Ada sesuatu yang terjadi, kan?"
Air mataku jatuh lagi. Kali ini di depan laki-laki yang baru saja aku usir. "Ayah telepon, Arkan. Dia mau ketemu. Dia mau pamer keluarga barunya."
Arkan terdiam. Ia tidak langsung bicara atau memberikan kata-kata motivasi yang klise. Ia justru mengulurkan tangannya melewati celah pagar, lalu menggenggam tanganku yang dingin.
"Ra, dengerin gue," suaranya lembut namun tegas. "Ayah lo mungkin adalah orang yang nulis bab luka di hidup lo. Tapi dia bukan pemilik pena buat bab-bab selanjutnya. Lo yang pegang penanya. Dan kalau lo ngerasa tangan lo gemeteran buat nulis, ada gue yang bakal pegangin tangan lo."
Aku menunduk, membiarkan tanganku didekap oleh hangatnya telapak tangan Arkan.
"Jangan tutup pintunya lagi, Nara. Gue capek ngetuk, mending gue jagain di depannya aja," candanya pelan, berusaha mencairkan suasana.
Malam itu, di depan pagar rumah, aku menyadari satu hal yang paling menakutkan sekaligus melegakan: aku tidak bisa lagi lari dari Arkan. Karena ke mana pun aku lari, dia sudah lebih dulu menyiapkan tempat untukku mendarat.