Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sisi Lain Sang Predator
Suasana yang tadinya berat dan penuh pengakuan emosional mendadak pecah ketika Selene melepaskan tawa kecilnya. Ia menatap Damian yang masih menggenggam tangannya dengan erat, seolah-olah jika pria itu melepaskannya sedetik saja, Selene akan menghilang ditelan badai di luar sana.
Selene menggelengkan kepalanya, matanya berbinar jenaka saat ia memperhatikan wajah Damian yang tampak sangat damai—sangat berbeda dengan ekspresi "siap membunuh" yang ia tunjukkan di ruang rapat tadi siang.
"Tunggu dulu," ucap Selene sambil menarik sedikit tangannya untuk menunjuk wajah Damian. "Aku baru sadar sesuatu. Damian Nicholas, sang CEO bertangan besi yang dingin, arogan, dan ditakuti seluruh pebisnis di negeri ini... bagaimana bisa dia berubah menjadi pria yang haus perhatian dan 'manja' seperti ini di dalam mobil di bawah hujan deras?"
Damian mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan ejekan yang tak terduga itu. "Manja? Aku tidak manja, Selene. Aku hanya... memastikan wilayahku tetap aman."
"Oh, ayolah!" ejek Selene dengan nada menggoda. "Lihat dirimu. Kau memintaku merapikan rambutmu, kau menatapku seolah-olah dunia akan kiamat jika aku tidak bicara. Ke mana perginya pria yang tadi sore menatap semua orang dengan pandangan merendah di ruang rapat?"
Damian mendengus, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya di depan gadis ini. "Dunia luar menuntutku untuk menjadi monster, Selene. Tapi bersamamu... entahlah, aku merasa tidak perlu memakai topeng apa pun."
"Tetap saja," lanjut Selene, kini ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, menatap rintik hujan yang mengalir di kaca jendela. "Dunia pasti akan gempar jika mereka tahu sisi 'lemah' sang Serigala Nicholas ini. Kau benar-benar pandai berakting, Tuan Nicholas. Bisa-bisanya pria sepertimu menjadi begitu lembut hanya karena hujan."
Damian tiba-tiba menarik tubuhnya mendekat, membuat Selene berhenti tertawa. Ia menatap Selene dengan tatapan yang dalam, seolah ingin meresap ke dalam jiwa gadis itu.
Damian menghela napas panjang, seolah seluruh beban dunia yang ia pikul seharian ini menguap begitu saja. Tanpa memedulikan harga dirinya sebagai pemimpin tertinggi Nicholas Corp, ia menggeser tubuhnya lebih dekat dan melingkarkan lengannya di pinggang Selene.
Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, lalu menyandarkan kepalanya di dada Selene, mencari posisi ternyaman di sana.
Selene sempat terkesiap. Ia membeku sesaat merasakan beban kepala Damian yang bersandar pasrah di dadanya. Detak jantungnya berpacu cepat, namun ketika ia merasakan napas Damian yang mulai teratur dan hangat, perlahan tangan Selene terangkat untuk mengelus rambut hitam pria itu.
"Damian?" bisik Selene lembut. "Kau benar-benar seperti anak kecil kalau sedang begini."
"Diamlah sebentar, Selene," gumam Damian dengan suara serak yang teredam di balik kardigan gadis itu. "Hanya lima menit. Biarkan aku seperti ini. Suara hujan di luar dan detak jantungmu di sini... itu jauh lebih baik daripada musik klasik mana pun di rumahku."
Damian memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Selene yang menenangkan. Sikapnya benar-benar manja, seolah ia ingin menyerap seluruh energi positif dari gadis itu. Hilang sudah tatapan tajam yang tadi siang membuat para pemegang saham gemetar.
"Tadi kau bilang aku sombong dan arogan," gumam Damian lagi tanpa mengangkat kepalanya. Tangannya justru semakin erat memeluk pinggang Selene, seolah takut gadis itu akan mendorongnya pergi. "Sekarang kau lihat sendiri. Pria sombong ini tidak berdaya hanya karena kau mengelus rambutnya."
Selene terkekeh pelan, jarinya menyisir helai demi helai rambut Damian yang halus. "Kalau orang-orang kantormu melihat ini, mereka pasti mengira kau sedang sakit parah atau sedang kesurupan."
"Biarkan saja mereka mengira begitu," sahut Damian manja. Ia mendongak sedikit, menatap Selene dari bawah dengan tatapan sayu yang penuh damba. "Hanya kau yang boleh melihat sisi ini. Jika ada orang lain yang melihat, aku akan memastikan mereka tidak bisa melihat lagi esok hari."
"Masih saja suka mengancam," Selene mencubit pelan hidung Damian, membuat pria itu mendengus geli.
Suasana di dalam mobil itu menjadi sangat intim. Selene berusaha tetap tenang dan terus mengelus rambut Damian, namun pengkhianat terbesar dalam dirinya adalah jantungnya sendiri. Di dalam keheningan kabin yang kedap suara, detak jantung Selene yang berdegup kencang seolah bergema, memberikan irama yang tidak sinkron dengan ketenangannya yang pura-pura.
Damian, yang kepalanya masih bersandar nyaman di dada Selene, tentu saja merasakannya. Setiap dentuman keras itu terasa jelas di telinganya.
Sebuah seringai nakal muncul di bibir Damian yang tersembunyi. Ia tidak mengangkat kepalanya, justru ia semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Selene, menghirup aroma vanila yang memabukkan itu lebih dalam lagi.
"Selene," bisik Damian dengan suara rendah yang bergetar tepat di kulit leher gadis itu. "Kenapa jantungmu berisik sekali? Kau seperti baru saja lari maraton."
Wajah Selene seketika memanas. "Itu... itu karena hujannya deras, Damian! Aku sedikit kaget dengan suara petir tadi!"
Damian terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin itu terasa seperti getaran yang merambat ke seluruh tubuh Selene. Ia justru semakin bermanja-manja, menggeser kepalanya dengan gerakan pelan yang sengaja menggoda, membuat rambutnya menggelitik dagu Selene.
"Oh, benarkah? Tapi petirnya sudah lewat sejak sepuluh menit yang lalu," goda Damian lagi. Ia melingkarkan tangannya lebih erat di pinggang Selene, menarik tubuh gadis itu hingga hampir tidak ada jarak lagi di antara mereka. "Kau tidak pandai berbohong, Sayang. Jantungmu bilang kau sangat menyukai posisiku sekarang."
"Damian, berhenti menggodaku! Kau ini CEO atau penggoda, sih?" protes Selene dengan suara yang sedikit gemetar, berusaha menyingkirkan wajah Damian namun tangannya justru tidak bertenaga.
Damian akhirnya mendongak, namun ia tidak melepaskan pelukannya. Ia menatap Selene dengan mata yang berkilat penuh kasih sayang sekaligus keinginan posesif yang kuat. Melihat wajah Selene yang merah padam dengan napas yang memburu pendek-pendek adalah pemandangan paling menggemaskan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.