Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Wilayah Kekuasaan Nicholas
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, membiaskan cahaya jingga kemerahan yang memantul pada kaca-kaca gedung pencakar langit. Damian Nicholas memacu mobil sport hitamnya dengan kecepatan yang nyaris melampaui batas kewarasan. Di dalam kepalanya, hanya ada satu tujuan: pulang, dan menyelesaikan urusan yang sempat tertunda.
Begitu mobilnya memasuki gerbang besi raksasa berukir inisial "N", pemandangan kediaman mewah keluarga Nicholas menyambutnya dengan segala keangkuhannya.
Halaman luas yang tertata simetris itu tampak lebih megah dari biasanya. Puluhan patung air mancur marmer yang memancurkan air jernih berjajar rapi, menciptakan suara gemericik yang seharusnya menenangkan, namun bagi Damian, itu hanyalah kebisingan yang mengganggu fokusnya.
Kebun bunga yang luas dengan ribuan mawar putih—bunga favorit ibunya—terbentang sejauh mata memandang. Di sepanjang jalan masuk, barisan pembantu berseragam rapi dengan kerah putih yang kaku berdiri menunduk hormat saat mobil sang tuan muda melintas.
Damian mengerem mobilnya tepat di depan lobi utama yang berpilar raksasa. Seorang pelayan segera berlari membukakan pintu.
"Selamat sore, Tuan Muda Damian," sapa pelayan itu dengan suara yang gemetar, menyadari aura "serigala" yang memancar kuat dari tubuh pria itu.
Damian tidak menjawab. Ia keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat jantan, membetulkan letak jas hitamnya yang sudah sedikit berantakan. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut rumahnya sendiri, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak ada di sana.
"Di mana Ayah?" tanya Damian dingin, suaranya berat dan penuh penekanan.
"Tuan Besar sedang berada di ruang kerja bersama... Nona Clarissa dan keluarganya, Tuan Muda," jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk semakin dalam.
Rahang Damian mengeras seketika. "Clarissa lagi?" desisnya dengan nada yang merayap rendah dan penuh ancaman.
Ia melangkah masuk ke dalam aula utama yang berlantaikan marmer Italia. Suara langkah sepatunya yang tegas bergema di seluruh ruangan tinggi itu. Setiap pelayan yang ia lewati menepi, tak ada yang berani menatap matanya yang tampak seperti predator yang sedang lapar dan jengkel.
Damian melangkah tegap melintasi aula utama, pandangannya lurus ke depan seolah ketiga orang yang duduk di sofa beludru mewah itu hanya pajangan mati. Ia tidak sudi membuang energinya untuk menyapa, apalagi berbasa-basi. Namun, baru saja kakinya hendak menginjak anak tangga pertama, suara melengking ibunya memecah keheningan.
"Damian! Berhenti di situ!" seru Nyonya Nicholas, berdiri dengan anggun namun tatapannya menuntut.
Damian menghentikan langkah. Ia tidak berbalik, hanya menolehkan sedikit kepalanya, memperlihatkan rahangnya yang mengeras dan tatapan mata setajam silet yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
"Kau baru pulang dan langsung ingin mengunci diri?" Nyonya Nicholas melangkah mendekat, menggandeng lengan Clarissa yang tampak tersenyum malu-malu—sebuah akting yang bagi Damian sangat memuakkan. "Kebetulan Clarissa baru saja sampai. Bawalah dia jalan-jalan ke kebun belakang atau ke galeri seni kota. Kalian butuh pendekatan lebih dalam, bukan?"
Clarissa menunduk, memainkan jemarinya yang lentik dengan kuku yang dipulas merah darah. "Tante, jangan memaksa Damian... dia terlihat sangat lelah setelah bekerja," ucapnya dengan nada lembut yang dibuat-buat, namun matanya melirik penuh harap ke arah Damian.
"Lelah itu karena dia terlalu banyak mengurusi hal-hal tidak berguna di luar sana!" sahut sang Ibu sambil menatap Damian penuh penekanan. "Pergilah, Damian. Segarkan pikiranmu dengan menemani calon tunanganmu. Itu perintah, bukan tawaran."
Damian perlahan membalikkan tubuhnya sepenuhnya. Ia berdiri tegak, menjulang tinggi di atas kedua wanita itu. Auranya yang gelap dan "berbahaya" menyelimuti ruangan. Ia menatap ibunya, lalu beralih ke Clarissa dengan pandangan meremehkan seolah gadis itu hanyalah seonggok sampah yang menghalangi jalannya.
"Tidak," jawab Damian singkat. Suaranya rendah, serak, dan tidak menerima bantahan sedikit pun.
Nyonya Nicholas tersentak, wajahnya memerah karena malu di depan tamu agungnya. "Damian! Apa kau tidak dengar? Ibu menyuruhmu untuk—"
"Aku lelah, Ibu," potong Damian, kali ini ia membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap sang ibu dengan mata yang memerah karena kurang tidur dan stres yang menumpuk. "Pekerjaan di kantor sudah cukup menguras otakku, dan aku tidak punya sisa energi untuk bermain sandiwara 'pendekatan' yang konyol ini."
Clarissa tampak terkejut, senyum palsunya luntur seketika. "Damian, aku hanya ingin—"
"Aku tidak peduli apa yang kau inginkan, Clarissa," tukas Damian dengan nada yang sangat dingin, memotong kalimat gadis itu tanpa belas kasihan. "Kepalaku terasa ingin pecah sekarang juga. Jika kau ingin jalan-jalan, halaman rumah ini cukup luas untuk kau kelilingi sendiri sampai kakimu lecet. Jangan ganggu aku."
Suasana di aula mewah itu seketika membeku. Para pelayan yang berdiri di kejauhan langsung menunduk lebih dalam, takut terkena percikan amarah sang tuan muda.