Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi itu, suasana di SMA Garuda terasa berbeda. Tidak ada lagi tawa renyah yang biasanya pecah di depan loker atau di kantin. Aku berangkat lebih pagi dari biasanya, bahkan sebelum suara motor Arkan terdengar di depan pagar rumah. Aku sengaja meminta Kak Pandu mengantarku secepat kilat dengan alasan ada tugas tambahan yang harus dikumpulkan di Ruang Guru.
"Ra, lo yakin nggak mau nunggu Arkan?" tanya Kak Pandu sambil melirik spion, raut wajahnya penuh kecurigaan.
"Nggak usah, Kak. Kasihan dia kalau harus nunggu gue terus," jawabku datar.
Di sekolah, aku menjadi ahli dalam menghindari rute yang biasa dilalui Arkan. Setiap kali aku melihat siluet jangkung dengan jersey nomor 07 itu di kejauhan, aku segera berbelok ke arah perpustakaan atau pura-pura sibuk berbicara dengan Tasya.
Gantungan kunci Daisy itu? Masih ada di tas, tapi posisinya kuputar ke arah dalam agar tidak terlalu mencolok. Ban kapten yang biasanya melingkar di pergelangan tanganku, kini kusimpan rapat di dalam kotak pensil. Aku mulai membangun kembali tembok itu, bata demi bata, karena ketakutan akan "pajak kebahagiaan" yang ditagih Ayah kemarin jauh lebih besar daripada keberanianku untuk mencintai Arkan .
Ting!
Arkan P: Ra, lo di mana? Gue di depan kelas lo, tapi Tasya bilang lo lagi di lab. Gue bawain susu cokelat, gue taruh di kolong meja lo ya.
Aku membaca pesan itu dari balik rak buku perpustakaan yang sepi. Dadaku sesak. Arkan tetap menjadi Arkan yang hangat, sementara aku kembali menjadi Nara yang dingin. Aku tidak membalasnya. Aku hanya menatap layar ponsel sampai meredup sendiri.
Istirahat kedua, Arkan akhirnya berhasil menyudutkanku di koridor belakang menuju laboratorium Kimia. Ia berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, menatapku dengan sorot mata yang terluka namun tetap berusaha tenang.
"Ra, kenapa?" tanyanya lirih. "Pesan gue nggak dibales, di kelas lo nggak ada, bahkan tadi pagi lo berangkat duluan tanpa bilang."
"Gue sibuk, Arkan. Banyak tugas persiapan ujian," kilahku tanpa berani menatap matanya.
"Bohong," potongnya cepat. Arkan melangkah maju, memperkecil jarak di antara kami. "Lo narik diri lagi. Lo takut karena kejadian Ayah lo kemarin, kan? Lo pikir dengan ngejauh dari gue, luka itu bakal ilang?"
"Gue cuma mau realistis, Arkan!" suaraku meninggi, getaran di tanganku tak bisa lagi kusembunyikan. "Bahagia itu cuma jeda sebelum sakit yang lebih parah. Gue nggak mau pas gue udah bener-bener gantungin hidup gue ke lo, lo tiba-tiba pergi kayak Ayah. Lebih baik gue biasa aja dari sekarang."
Arkan terdiam. Ia menunduk, menatap lantai semen koridor seolah sedang mencari kata-kata di sana. Saat ia kembali menatapku, ada kesedihan mendalam yang membuatku ingin sekali memeluknya, namun logikaku berteriak untuk tetap diam.
"Jadi... asuransi gue udah nggak berlaku lagi buat lo?" tanyanya dengan suara yang nyaris hilang.
Aku tidak menjawab. Aku hanya melewatinya begitu saja, meninggalkan Arkan sendirian di koridor yang mulai sepi. Air mataku jatuh saat punggungku sudah cukup jauh darinya. Aku tahu aku menyakitinya, tapi bagiku, menyakiti diri sendiri dan dia sekarang jauh lebih baik daripada hancur total di masa depan
Kata-kata Kak Pandu terngiang-ngiang: Lo lagi ngehukum Arkan atas dosa yang dilakuin bokap lo.
Aku meraih ponselku. Tanganku ragu di atas layar. Ada satu pesan yang masuk sepuluh menit yang lalu dari Arkan.
Arkan P: Gue nggak akan maksa lo lagi hari ini. Tapi asuransi gue tetep aktif, Ra. Kalau lo butuh tempat buat nggak jadi 'realistis' sebentar aja, gue ada di atap sekolah besok pagi jam enam. Gue tunggu sampai bel masuk.
Aku memejamkan mata, membiarkan pertarungan antara logika dan rasa di kepalaku berkecamuk. Es di hatiku mungkin membeku kembali, tapi api yang dinyalakan Arkan selama ini ternyata jauh lebih sulit dipadamkan dari yang kukira.