NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan-jalan di Bali

Nana sudah bangun sejak fajar. Dia merasa ini adalah kesempatan emas. Karena tidak ada jadwal rapat, dia ingin belanjanya sebelum kembali ke kenyataan pahit di Jakarta.

Nana sudah rapi mengenakan dress selutut bermotif bunga kecil yang manis, memperlihatkan bahunya yang putih dan kaki jenjangnya.

Dia melangkah ke depan pintu connecting room milik Abian.

TOK! TOK! TOK!

"Pak Abian! Pak Biaaannnn! Bangun, Pak! Matahari sudah di atas kepala ini!" teriak Nana sambil menggedor pintu kayu itu dengan semangat tanpa ampun.

"Pak! Keluar, Pak! Nanti keburu siang!"

Cklek.

Pintu terbuka perlahan. Sosok Abian muncul dengan Rambutnya berantakan ke segala arah, matanya merah dan hanya terbuka separuh, serta wajahnya benar-benar muka bantal. Dia hanya mengenakan kaos oblong hitam yang sedikit kusut.

"Kenapa..." suara Abian terdengar serak, khas orang yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.

"Keluar yuk, Pak! Sekalian sarapan di bawah," ajak Nana dengan nada ceria.

"Mumpung kita terjebak di sini, jangan disia-siakan dong. Saya mau cari oleh-oleh juga nanti."

Abian bersandar pada bingkai pintu, menatap Nana dari atas ke bawah dengan mata sayunya. Dia memperhatikan dress yang dipakai Nana.

"Kamu mau ke pasar atau mau kencan?" gumam Abian pelan, suaranya masih berat.

"Ke pasar lah, Pak! Makanya, Bapak cepat mandi. Saya tunggu sepuluh menit di bawah. Kalau tidak turun, saya tinggal!" ancam Nana sambil berbalik dengan riang.

Abian hanya bisa menatap punggung Nana dengan pasrah. Dia mengusap wajahnya kasar. "Gadis ini... energinya dari mana sih sepagi ini?" bisiknya pelan, namun perlahan dia mulai beranjak menuju kamar mandi karena tidak mau benar-benar ditinggal oleh asistennya yang cerewet itu.

Abian akhirnya turun ke restoran hotel dengan penampilan yang jauh lebih rapi, meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kantuk. Ia mengenakan kemeja santai yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan kesan maskulin yang kuat.

Begitu ia duduk di depan Nana yang sedang asyik mengunyah roti panggang, mata Abian langsung tertuju pada dress bunga-bunga yang dipakai asistennya.

"Lama banget sih, Pak," gerutu Nana sambil meminum jus jeruknya.

Abian tidak langsung menjawab. Ia mengambil kopi hitamnya, menyesapnya sedikit, lalu menatap Nana datar. "Kamu yakin mau pakai baju itu ke pasar?"

Nana menatap pakaiannya sendiri. "Kenapa? Lucu kan? Ini namanya summer dress, Pak. Cocok buat di Bali."

Abian mendengus, matanya menyipit menilai penampilan Nana. "Tipis sekali. Kamu itu sekretaris, bukan mau main film romantis di pantai. Dan lagi..." Abian menjeda kalimatnya, senyum tipis yang mengejek muncul di sudut bibirnya.

"Apa lagi?" tanya Nana curiga.

"Pakai baju begitu, kamu tuh kayak cebol, Haruna. Gaunnya kepanjangan atau kakimu yang kurang tinggi?" ejek Abian tanpa dosa.

Nana langsung tersedak jusnya. "Hah?! Enak saja! Ini memang modelnya selutut, Pak! Tinggi saya ini standar wanita Indonesia ya! Bapaknya saja yang ketinggian kayak tiang listrik!"

"Kalau jalan sama saya, orang-orang bakal mengira saya sedang mengajak anak SMP"

"Ihh! Bapak menyebalkan banget! Sudah ditungguin, malah dikatain cebol!" Nana memanyunkan bibirnya, menusuk-nusuk sosisnya dengan garpu seolah-olah itu adalah wajah Abian.

"Tahu gitu tadi saya pergi sendiri saja sama turis-turis ganteng di pantai!"

"Cepat habiskan sarapanmu, Cebol. Setelah ini kita ke pasar. Saya tidak mau kulit saya terbakar gara-gara menunggumu belanja kelamaan," ucap Abian tegas.

Setelah berputar-putar di pasar, Nana ternyata tidak belanja sebanyak yang Abian bayangkan. Ia hanya membeli beberapa kain pantai, camilan khas Bali. Sementara Abian, ia hanya berjalan di belakang Nana dengan wajah kaku.

"Bapak beneran nggak beli apa-apa? Masa tangan kosong?" tanya Nana heran.

"Saya tidak butuh barang-barang ini, Haruna," jawab Abian datar.

"Nggak bisa! Minimal beli ini buat gantungan kunci mobil Bapak. Biar nggak kaku-kaku amat hidupnya," Nana menyodorkan sebuah gantungan kunci berbentuk kura-kura kecil yang lucu.

"Saya tidak mau pakai barang kekanak-kanakan itu."

"Beli atau saya mogok kerja pas sampai Jakarta?" ancam Nana. Akhirnya, dengan wajah sangat terpaksa, Abian membayar gantungan kunci itu dan langsung memasukkannya ke dalam saku dengan cepat agar tidak ada yang melihat.

Matahari mulai turun, menciptakan semburat warna oranye dan ungu yang cantik di langit Bali. Nana menarik lengan baju Abian dengan semangat menuju bibir pantai.

"Ke Bali kalau nggak ke pantai nggak afdol, Pak! Ayo cepat, sebentar lagi sunset!" seru Nana riang.

Abian, yang kali ini sudah mengganti celananya dengan celana pendek santai, hanya bisa pasrah mengikuti tarikan asistennya. Sesampainya di sana, Nana tampak sangat senang. Ia berlari kecil mengejar ombak, membiarkan ujung dressnya basah terkena air laut.

"Pak Abian! Sini! Fotoin saya yang bagus ya, Pak. Sudutnya dari bawah biar saya nggak kelihatan cebol banget," pinta Nana sambil menyodorkan ponselnya.

Abian mendengus, tapi tetap menerima ponsel itu. "Tadi bilang cebol marah, sekarang minta diakalin biar tinggi."

Meski mulutnya mengomel, Abian ternyata sangat serius mengambil foto Nana. Ia bahkan sampai berjongkok untuk mendapatkan angle terbaik.

"Coba hadap sana, lihat matahari... ya, bagus. Sekarang video, jalan pelan di pinggir air," instruksi Abian bak fotografer profesional.

Nana berputar-putar dengan ceria, tertawa lepas di depan kamera. "Gimana Pak? Bagus nggak?"

"Lumayan. Untuk ukuran amatir seperti kamu, hasilnya terlihat lumayan karena yang foto profesional," sahut Abian angkuh.

"Sekarang gantian. Pegang ponsel saya."

Nana melongo. "Loh? Bapak mau difoto juga?"

"Tentu saja," jawab Abian sambil merapikan rambutnya dan bergaya maskulin dengan latar belakang matahari terbenam.

"Hih, Bapak narsis banget ternyata! Kirain anti kamera," ejek Nana sambil membidikkan kamera ke arah bosnya.

"Kamu nggak tahu saya ini punya Instagram? Pengikut saya ribuan, jadi wajar dong kalau saya butuh konten yang bagus untuk menjaga citra saya," ucap Abian dengan nada sombong.

"Iya deh, iya! Si paling selebgram. Oke, satu, dua, tiga... pose, Pak!"

Awalnya mereka hanya berdiri di tepian, namun suasana pantai yang seru membuat Nana mulai usil. Saat Abian sedang sibuk memeriksa hasil fotonya yang estetik itu, Nana sengaja menendang air dengan kakinya ke arah Abian.

Byurr!

Air laut yang asin sukses membasahi celana pendek dan kemeja linen mahal milik Abian. Abian mematung, menatap noda basah di bajunya dengan ekspresi tidak percaya.

"Haruna... Kamu cari mati?" suara Abian merendah, tanda bahaya.

"Hahaha! Habisnya Bapak serius banget sih, ayo dong main air!" Nana tertawa lepas, lalu berlari menjauh.

"Oh, mau main-main ya?" Abian menyeringai jahil.

Tanpa aba-aba, Abian mengejar Nana dengan langkah lebarnya yang jauh lebih cepat.

"Aaahhh! Pak, jangan! Ampun!" teriak Nana sambil terus berlari menghindari kejaran Abian.

Tapi tenaga Nana bukan tandingan Abian. Dalam sekejap, Abian berhasil meraih lengan Nana. Bukannya marah, Abian justru menggunakan kedua tangannya untuk mencipratkan air dalam jumlah banyak ke arah Nana.

"Ini balasannya karena mengatai saya tiang listrik tadi pagi!" seru Abian sambil terus mencipratkan air.

"Hahaha! Stop Pak! Dress saya basah semua!" Nana mencoba melindungi wajahnya, tapi dia tidak mau kalah dan membalas cipratan air Abian dengan lebih beringas.

Jadilah sore itu mereka saling kejar-kejaran di pinggir pantai seperti anak kecil. Nana tertawa sampai matanya menyipit, sementara Abian tertawa lepas.

Rambut Abian yang biasanya rapi kini basah dan berantakan karena terkena air, sementara dress bunga-bunga Nana sudah basah kuyup menempel di badannya.

Setelah lelah, mereka berdua akhirnya berhenti dan berdiri terengah-engah dengan air setinggi lutut.

"Bapak... Bapak curang, tenaganya gede banget," ucap Nana sambil mengatur napas.

Abian menatap Nana yang basah kuyup. Sinar matahari yang mulai menghilang membuat suasana jadi terasa berbeda. Abian perlahan mendekat, lalu dengan lembut ia menyisipkan helaian rambut basah Nana ke belakang telinga gadis itu.

"Kamu... kalau tidak sedang marah-marah, ternyata lumayan juga," bisik Abian pelan, suaranya tenggelam di antara suara ombak.

Nana terdiam, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang daripada saat lari-larian tadi. "Lumayan... lumayan apa Pak?"

Abian langsung tersadar dan menarik tangannya kembali. Ia berdehem canggung.

"Lumayan tidak memalukan kalau diajak ke pantai. Sudah, ayo kembali ke hotel. Kalau kamu masuk angin dan besok tidak bisa kerja, saya potong gajimu."

"yahhhh...."

1
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
𝐈𝐬𝐭𝐲
bos lucnut EMG bian ya, kasihan itu Nana suruh duduk di paling belakang 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!