NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / Hamil di luar nikah
Popularitas:25.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Waktu sudah lewat tengah malam. Sagara terbangun bukan karena mimpi, tapi suara pelan dari kamar sebelah. Ia duduk tegak, mendengarkan. Suara itu terdengar lagi lebih jelas, disertai langkah kaki yang ragu.

Suara ketukan pintu terdengar disusul sebuah panggilan. “Om…”

Sagara sudah berdiri bahkan sebelum panggilan itu selesai diucapkan. Ia membuka pintu kamarnya. ketika menoleh pandangannya seketika menangkap Senja berdiri di depan ambang pintu, satu tangan menekan perut, wajahnya pucat.

“Kenapa?”

“Kayaknya… mualnya balik. Pusing.”

Tidak ada jarak yang terpasang kali ini. Keraguan pun tak berniat mengganggu. Sagara refleks mendekat dan untuk pertama kalinya setelah malam terlarang itu tangannya menyentuh Senja.

Bukan memeluk. Bukan menarik. Belum sampai ke sana. Hanya menopang lengan Senja agar ia tidak oleng.

Namun, sentuhan kecil itu cukup membuatnya merasakan hangat tubuh Senja. Aroma lembut sabun menyapu pemciumannya. Rambut panjang itu jatuh di pergelangan tangannya.

Sagara menelan ludah. “Ayo duduk,” katanya cepat.

Ia membimbing Senja ke kursi di kamarnya. Tangannya masih di lengan Senja. Persekian detik kemudian ia sadar dan menariknya kembali.

Senja menatapnya dengan napas belum sepenuhnya teratur. “Maaf,” kata Senja pelan. “Aku ganggu ya.”

“Kamu nggak ganggu,” jawab Sagara cepat. Terlalu cepat.

Sagara mengambil air, menyerahkannya tanpa menyentuh lagi. Senja minum pelan. Tangannya sedikit gemetar.

“Aneh ya,” katanya mencoba tersenyum. “Padahal ini anak Om juga. Tapi aku yang ribet sendiri.”

Kalimat polos Senja jatuh begitu saja dan menghantam tepat di dada Sagara. Pria itu berlutut satu kaki di depan Senja, bukan untuk mendekat, tapi agar sejajar. Matanya menatap lantai, bukan wajah Senja.

“Kamu nggak ribet,” katanya rendah. “Tubuhmu sedang kerja keras.”

Senja terdiam. Tangannya refleks mencari sesuatu dan tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh punggung tangan Sagara yang bertumpu di lutut.

Sentuhan singkat yang tak disengaja, tapi sukses membuat jantung Sagara berdetak keras.

Senja menarik tangannya pelan. “Maaf…”

Sagara menggeleng. “Nggak apa-apa.”

Hening mendekap erat, tapi hangat.

“Om,” Senja tiba-tiba berkata lirih. “Semenjak hamil aku lebih sensitif."

Sagara mengangkat wajahnya. Kali ini menatap Senja. “Itu normal.”

“Kalau aku jadi gampang nempel?”

Jawaban itu membuat rahang Sagara mengeras. “Kamu manusia,” katanya. “Dan kamu lagi bawa kehidupan lain.”

Senja tersenyum kecil. “Lagi-lagi jawaban dosen.”

“Jawaban ayah,” balas Sagara tanpa berpikir. Kalimat itu keluar begitu saja.

Membuat mereka sama-sama terdiam beberapa saat.

Sagara berdiri cepat. “Tidur lagi. Aku antar sampai pintu.”

Ia mengantar Senja ke kamarnya. Di depan pintu, Senja berhenti.

“Om…”

“Hm?”

“Makasih… sudah nggak menjauh waktu aku butuh.”

Sagara menatapnya lama. Terlalu lama. “Aku jaga jarak,” katanya pelan. “Tapi aku nggak akan ninggalin.”

Senja mengangguk. Lalu masuk ke kamar.

Pintu tertutup.

Sagara berdiri sendirian di lorong. Dadanya naik turun tidak stabil. Sentuhan tadi hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuatnya sadar kalau ia lengah sedikit saja, jarak yang diambil tidak akan tersisa. Dan ia belum siap, bukan karena tidak ingin, tapi karena justru terlalu ingin, itu bahaya.

Sagara kembali ke kamarnya. Lampu dipadamkan. Ia baru saja berbaring ketika suara itu terdengar lagi.

Bukan ketukan kali ini. Lebih seperti langkah yang goyah diikuti helaan napas pendek, tertahan.

“Om…”

Mendengar panggilan lemah itu Sagara menghidupkan kembali lampu, lalu bergegas keluar kamar.

Pintu kamar Senja terbuka setengah. Tubuhnya bersandar di kusen, wajahnya pucat, satu tangan menekan perut, yang lain berusaha menahan dinding.

Sagara mendekat. "Masih mual?"

“Iya... mualnya lebih parah dan kepalaku… pusing banget,” katanya lirih, tapi tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke arah Sagara.

“Senja---”

Sagara refleks mengambil alih segalanya. Ia memeluk Senja, pelukan utuh tanpa sekat jarak. Kedua lengannya melingkar, menopang punggung dan bahu, menahan berat tubuh Senja agar tidak jatuh.

Pelukan itu bukan lagi sepersekian detik, bukan sentuhan yang buru-buru ditarik. Pelukan yang nyata dan lama.

Senja menghela napas panjang begitu tubuhnya tertahan. Dahi menempel di dada Sagara. Tangannya tanpa berpikir mencengkeram piyama Sagara.

“Om…” suaranya bergetar. “Jangan lepas dulu.”

Kalimat itu membuat dada Sagara menegang. Ia tidak menjawab. Hanya mengencangkan pelukannya sedikit, sekadar memastikan Senja tidak oleng.

Jarak mereka terlalu dekat. Sagara bisa merasakan hangat tubuh Senja. Napasnya yang naik turun.

Dan bau itu. Aroma khas Sagara. Sabun, kulit, dan sesuatu yang membuat dada Senja terasa lebih tenang. Tanpa sadar, ia menggeser wajahnya sedikit, menyusupkan hidung ke dada Sagara. Ia menghirup pelan. Dan langsung menegang.

Astaga…

Pipinya memanas. Jantungnya berdegup kencang karena alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mual. Tapi... Dia menyukai aroma tubuh Sagara. Aroma yang bagaikan angin segar.

Sagara juga menyadarinya. Tubuhnya membeku setengah detik. Wajahnya terasa panas. Pelukan itu yang awalnya refleks sekarang terasa terlalu pas.

“Senja,” katanya rendah, suara seraknya nyaris tak ia kenali. “Kamu pusing?” Ia menanyakan sesuatu yang jelas-jelas sudah diketahuinya. Gugup membuat sedikit kesulitan memilah pertanyaan berbobot.

“Iya,” jawab Senja cepat, lalu buru-buru menambahkan, malu sendiri, “dan… baunya Om bikin mualnya berkurang.”

Hening. Satu detik terasa terlalu panjang.

Sagara menelan ludah. “Bau… apa?”

Senja memejamkan mata. “Bau badan Om," ucapnya polos, terlalu jujur.

Namun, efeknya tidak polos sama sekali bagi Sagara. Pelukan itu berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Tidak bergerak, tidak juga dilepaskan.

Sagara bisa merasakan detak jantung Senja. Terasa cepat. Dan ia sadar, detak jantungnya sendiri bahkan lebih cepat. Ini berbahaya.

“Duduk,” katanya akhirnya, berusaha terdengar tenang.

Dengan pelukan yang belum sepenuhnya dilepas, ia membimbing Senja ke tepi ranjang. Baru setelah Senja duduk dengan stabil, lengannya turun perlahan, terasa berat, seolah enggan menyudahi.

Senja menatapnya. Pipinya masih merah. “Maaf… aku jadi manja.”

Sagara memalingkan wajah. “Hormon,” jawabnya singkat.

“Om juga hangat.” Senja berkata jujur, lalu menutup mulutnya sendiri. “Eh---maksudku---”

“Tidur,” potong Sagara cepat. Terlalu cepat. “Kamu butuh istirahat.”

Ia mengambil air, menyerahkannya. Jari mereka bersentuhan lagi. Singkat, tapi cukup membuat Senja kembali gugup dan Sagara menarik tangannya seolah tersengat.

“Om,” Senja bersuara pelan setelah minum. “Kalau aku pengin nempel… itu salah?”

Sagara menatap lantai. Rahangnya mengeras. “Tidak,” katanya jujur. “Tapi aku harus kuat.”

Senja mengangguk. “Berarti kalau aku lemah… Om yang kuat?”

Pertanyaan itu nyaris membuat pertahanan Sagara runtuh. Ia berdiri lebih tegap. “Istirahatlah. Kalau mual lagi,” katanya pelan, “panggil aku.”

Sesaat pandangan Senja menyisiri kamar. Lampu temaram membuat ruangan itu terasa lebih luas dari biasanya, terlalu luas untuk tubuh yang kecil dan sedang lemah.

“Om…” suaranya kecil, nyaris memohon. “Aku nggak enak badan. Kepala pusing. Badanku lemas.”

Sagara sudah hendak melangkah pergi, tapi kalimat Senja menghentikannya. Ia menoleh.

“Aku juga…” Senja menarik napas pendek. “Takut.”

“Kamarnya gede,” lanjut Senja jujur, meski malu sendiri. “Biasanya nggak kerasa. Tapi malam ini… aku ngerasa kecil.”

Keheningan jatuh.

Sagara berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya kaku, tapi matanya lembut, terlalu lembut untuk disembunyikan.

“Kamu mau aku temani?” tanyanya akhirnya, pelan, hati-hati.

Bersambung…

1
Mia Camelia
sagara udah mulai bertindak👍
Mita Paramita
sagara sat set bgt jagain senja dari jauh biar gak ketahuan. lanjut Thor 🔥🔥🔥
Najwa Aini
Udah sampai di akhir bab aja.
terlalu menikmati bacaan dan cara Sagara melindungi, jadi gak kerasa udah akhir bab. padahal belum sempat komen apa²..

sekalian nih mau liat authornya, bakal kasih feedback yg sama gak.kalau aku cuman komen satu, bakal gitu juga gak ke Sagaraku
Ayuwidia
Cara Sagara untuk melindungi Senja ini bisa dibilang unik, tidak tergesa, tidak terbaca, dan mungkin tidak terpikirkan oleh pria lain yang bergelar suami. Menyewa bodyguard, cara yg banyak ditempuh oleh para suami di kebanyakan kisah
Ayuwidia
Apa mungkin... Sagara sudah mengupdate statusnya? Semoga
Ayuwidia
Penjagaan Sagara itu tenang, tapi pasti. Tidak berlebihan, tapi menjamin.
Najwa Aini
Ya harus lahh
Najwa Aini
Wahh hebat..eh aku ralat. tidak hebat.
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
Mia Camelia
kasian senja, udh mulai di bully😂😂😂
Ayuwidia
Astaghfirullah, kejam banget omongannya
Ayuwidia
Sunyi itu malah lebih mengerikan dari pada ucapan kasar
Nofi Kahza
ada banyaakkk
partini
tuan saga apa ga bisa kasih bodyguard bayangan buat istrimu dia hamil loh sesuatu bisa terjadi apa lagi banyak yg ga suka be smart dong pak dosen jangan lemot
partini: ah suka yg kehujanan dulu baru beli payung ok ok
total 2 replies
Ayuwidia
Sagara suami siaga, meski tidak banyak kata, atau aksi yg bisa dilihat oleh mata
Ayuwidia
Betul
Ayuwidia
Aku pingin kuliah di sana, tapi cuma bisa bermimpi tanpa berkeinginan untuk mewujudkan
Ayuwidia: udahhh 🤭
total 2 replies
Ayuwidia
Nggak kebayang gimana sulitnya Sagara menahan gejolak rasa pingin itu
Nofi Kahza: ngilu mbook...😆
total 1 replies
Najwa Aini
ngopi ☕..yak tapi diminum nanti. siang masih puasa
Nofi Kahza: makasih kaka sayangku../Kiss/
total 1 replies
Najwa Aini
Aku kawal. bener..jangan sampai Senja ku kenapa².
Najwa Aini
Top Markotop deh Sagara..👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!