NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Boleh Denganku

Begitu sudah sampai di kelas Rayi dan Yuni langsung duduk di kursi mereka.

Hem mumpung dosen belum datang kujabani dulu nih laki yang kepedean.

Lalu terngiang lagi suara sinis Rio.

"Hey cewek nggak usah ngebohong sama kakek aku ya, udah gitu fitnah aku lagi yang memberi kamu nginep di rumahmu. Kecil-kecil kang tipu ..."

(Hai laki yang ngakunya dewasa, percuma kaya, sia-sia jabatan CEO, apalagi pewaris, huh masih mending aku biar bocah tapi tahu diri. Jangan kepedean aku terlalu sibuk untuk menghasut orang.)

Pesan terkirim.

Ada senyum terukir di bibir Rayi. Senyum senang sekaligus kesal. "Rasain lo sok kepedean, sih ..." sungutnya.

Yuni mendengar sungutan Rayi, "Tapi bukan Didit, kan?" Godanya.

"Ini lain lagi," jawab Rayi memajukan bibirnya pertanda dia kesal.

"Wah ada pengagum lain, nih," pancing Yuni merasa lucu melihat Rayi yang masih mengerucutkan kedua bibirnya.

"Ada laki ngakunya dewasa kaya CEO Tampan calon sarjana tapi kepedeannya minta ampun ...!" Rayi masih terbawa emosi pada Rio jadi ngomong nyerocos tanpa titik dan koma. Rasanya apa yang dialami Rayi atas perlakuan Rio pada dirinya wajar jika kini dia kesal, "Kok didiemin makin ngelunjak ajah emangnya dengan modal yang nyaris sempurna itu dia bisa seenaknya ngatain aku apa?!" lanjutnya tersulut sudah otaknya, jadi panas dan tanpa sadar hampir saja membongkar pernikahannya, "Dikiranya aku udah jatuh cinta apa sama ketampanan dan kekayaannya, kalau bukan menghargai perjanjian kakek, nggak bakalannya juga aku nurut ..."

"Perjanjian?"

Rayi langsung tersenyum, "Ah aku lagi kesel, udah tuh dosen kita uda datang ..." ujar Rayi menepuk tangan Yuni sambil memandang si dosen wanita tengah memasuki kelas.

Di Tokyo

Rio sedang bersiap-siap untuk keluar dari kamar hotel saat pesan dari Rayi masuk ke handphonenya, karena sudah janjian sama Aruna ketemuan di Bandara. Rencananya mereka akan ke Sapporo untuk melihat festival patung es.

Dahi Rio mengernyit dengan sorot mata menunjukkan rasa terkejut.

Lalu diulang membaca pesan dari Rayi yang merupakan balasan dari pesannya.

(Hai laki yang ngakunya dewasa, percuma kaya, sia-sia jabatan CEO, apalagi pewaris, huh masih mending aku biar bocah tapi tahu diri. Jangan kepedean aku terlalu sibuk untuk menghasut orang.)

"Bocah itu berani juga dia ..." gumam Rio, taoi dia tak bermaksud untuk membalas, hem kirain penurut, tapi nyatanya dia gadis pemberani juga, batinnya sambil memasukkan handphone ke saku di balik jaket yang dikenakan.

Tapi dia mengeluarkan handphonenya lagi dari saku di balik jaketnya. Lalu membuka kembali pesan dari kakeknya.

(Rio kenapa pagi ini kamu nggak ngasih kabar istrimu. Ayo dong dibina perasaan kalian dan kamu sebagai suami jangan kendor terus berpacu meraih hati istrimu ...)

Rio terdiam sesaat. Hem berpacu meraih hati istrimu. Duh kakek ini ada-ada saja. Batinnya.

Lalu dibuka kembali pesan dari Rayi. Kembali dibaca.

(Hai laki yang ngakunya dewasa, percuma kaya, sia-sia jabatan CEO, apalagi pewaris, huh masih mending aku biar bocah tapi tahu diri. Jangan kepedean aku terlalu sibuk untuk menghasut orang.)

Kalau tadi Rio marah karena menganggap Rayi yang disebutnya bocil itu telah berani melawannya, tapi kini dia tak marah lagi tapi dirinya merasa telah berhasil membangun kemarahan gadis yang sudah berulangkali sengaja dibuat tersinggung dengan perkataannya saat hari pertama pernikahan mereka, dan juga pada pesan yang dikirim pada istri siri yang bukan pilihannya itu.

Rio mematikan handphonenya dan kembali memasukkan ke saku di balik jaketnya.

Hem kalau dia udah benci aku akan gampang menuju perpisahan, pikirnya.

Lalu dengan langkah pasti dan ringan berjalan menuju lift.

Di Jakarta.

Didit melangkah kearah gedung kelas yang berada di seberang bangunan ruang kuliahnya. Kemana lagi langkahnya jika bukan mau ke ruang kuliah Rayi, gadis cantik jago berkuda yang akhir-akhir ini mengusik hatinya.

"Dit ..."

Ada yang memanggil namanya.

Didit menoleh.

Tampak seorang gadis cantik berlari-lari kearah Didit.

Tapi Didit yang semula tampak senyum-senyum senang mendadak menunjukkan raut muka kesal.

"Didit tunggu ...!" Gadis itu melebarkan langkahnya sekaligus mempercepat larinya untuk menggapai Didit yang tak menghiraukan panggilannya.

Benar saja usaha tak sia-sia jika dilakukan dengan sepenuh hati dan sekuat jiwa dan raga. Dan kini dia sudah bisa mencegat langkah seribu Didit yang bermaksud menghindarinya.

"Dit ..." tangannya langsung mencekal pergelangan tangan Didit.

"Apa-apaan sih kamu, La," ujar Didit menariknya tangannya, menatap gadis teman satu kuliahnya yang bernama Lala, bahkan bukan hanya teman satu kuliah, juga mantan kekasih, karena pengkhianatan gadis inilah hidupnya hampir porak poranda. Kuliah malas malasan, melakukan apa saja juga enggan.

"Dit kamu masih nggak mau memaafkan aku, ya ...?" Lala memelas menatap Didit, bila perlu dia akan menangis demi mendapat maaf dari Didit dan kembali menjadi pacar cowok tampan nan setia dan tajir ini. Aku nggak rela ngelepas cowokku ini, batin Lala sungguh tak tahu diri.

"Kisah kita udah selesai, La, nggak ada lagi yang harus kita omongi ..." ujar Didit bersiap untuk beranjak dari hadapan Lala.

Bukan Lala namanya kalau tak menghalangi Didit. Maka sebelum ancang-ancang cowok terkasihnya itu pergi, kedua lengannya sudah terentang.

Didit terpaksa menahan langkahnya menatap dengan mata membara karena kesal pada Lala yang tampaknya pura-pura tak tahu dan memang gak mau tahu.

"Dit aku kan sudah bilang waktu itu aku terpaksa patuh ma papa dan mamaku karena mereka sedang mengadakan kerjasama dengan orang tua Hendi, nah begitu mereka tahu kalau Hendi itu playboy dan aku hampir dilukai cewek yang mengaku simpenannya Hendi, terus aku juga hampir dilecehkan barulah mereka sadar dan membebaskanku untuk lepas dari cowok bajingan itu ..."

"Oh soal itu bukan urusanku. Yang jelas sejak kamu berkhianat sejak itu pula aku putuskan menghapus namamu di hatiku ..."

"Aku nggak mau, Dit ... Aku masih cinta sama kamu, percayalah aku masih perawan sampai saat ini ..." Dengan wajah memelas Lala mengangkat tangan kanannya, huh kenapa juga aku kok susah keluar air mata biar semakin meyakinkan Didit, gerutunya kesal karena berusaha supaya bisa menangis tapi kok susah amat.

"Aku sudah tak perduli tentang kamu, La, mau perawan atau apa itu urusanmu. Punya raaa malu dikit aku sudah tak cinta padamu!" Didit bersuara tegas.

Lalu terkesiap mendengar pernyataan Didit yang sebenarnya sangat menyakitkan perasaannya. Tapi demi cinta dan takut kehilangan Didit masalah perasaan dikesampingkan dulu.

Makanya dia berusaha untuk mengambil hati Didit kembali. Apa pun tanggapan Didit urusan belakangan. Yang penting saat ini adalah urusan meraih simpati cowok baik yang setahun memberinya perhatian

"Dit aku nggak bisa pindah ke lain hati, pokoknya hanya dengan kamu maunya. Aku tak mau putus, please kasih kesempatan padaku sekali lagi ajah, Dit. Percayalah aku akan setia padamu aku akan menurut apa katamu ..." rengek Lalu sambil berusaha meraih tangan Didit.

Tapi Didit langsung menghindar, "Sudah empat bulan, bahkan hampir lima bulan kita putus, La, aku tak bisa kembali padamu. Sudah selesai kisah kita, mari kita jangan saling mengganggu ..." ujarnya memberi pengertian pada gadis yang sudah dua minggu ini berpikir bagaimana caranya untuk meraih hati Didit kembali.

"Tapi aku tak bisa, Dit, aku sangat tersiksa dua minggu ini kamu selalu menghindari aku, hatiku sakit, Di dan aku tak rela jika kamu dimiliki gadis lain." Suara Lala terkesan mengintimidasi.

Didit menatap Lala geram.

Lalu tak perduli. Cinta memang memerlukan pengorbanan. Baik, hati dan perasaan. Biar saja hatinya menahan rasa sakit karena menerima tatapan Didit yang sinis. Aku harus memperjuangkan perasaanku, batinnya.

"Terserah apa katamu. Yang jelas kita sudah selesai dan aku sudah move on darimu ..." setelah itu Didit bergegas.meninggalkan Lala.

Lala terdiam beku di tempatnya. Hatinya terasa sedih. Tapi ada amarah tersimpan di dadanya.

"Aku tak akan menyerah begitu saja, kamu akan tahu jika aku serius, Dit sama kamu ..." ujar Lalu dengan wajah sedih, tapi sedetik kemudian kedua matanya menunjukkan.jika dia akan mempertanggung jawabkan kata-katanya. Didit hanya boleh dengan dirinya!

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!