Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Unik Sendiri
Ngiitt! Suara derit tangga darurat yang terbuat dari besi berkarat menjerit memekakkan telinga saat mereka memanjat dinding luar bangunan kayu hitam di ujung gang. Aruna mengatupkan giginya rapat-rapat, keringat dingin membasahi pelipisnya saat ia mencengkeram erat lengan jirah logam Asher yang terasa dingin dan licin karena d4rah yang mulai merembes.
"Sedikit lagi, Asher! Jangan berani-berani menutup matamu sekarang, atau aku akan benar-benar melemparmu ke tumpukan limbah di bawah sana!" bisik Aruna dengan nada mendesak.
Napas Asher terdengar berat dan pendek di telinga Aruna, setiap embusannya meninggalkan uap tipis di udara malam Oakhaven yang beku. 'S1al, Es Batu ini berat sekali! Apa semua Ksatria terbuat dari batu gunung?' gerutu Aruna dalam hati sambil terus memapah dengan bahu yang mulai mati rasa.
Begitu mereka mencapai puncak atap datar yang luas, pemandangan kota rongsokan terhampar suram di bawah mereka—hutan logam yang dipenuhi asap industri dan kerangka mesin tua yang memfosil. Di belakang mereka, Fenrir dan Ellish baru saja mendarat dengan napas terengah-engah. Ellish tampak sibuk merapikan jubah pinknya yang tercoreng lumpur hitam, sementara mata merah Fenrir terus menyapu kegelapan dengan waspada.
Namun, ketenangan sesaat itu hancur saat insting tajam Fenrir mendeteksi bahaya dari arah cerobong asap raksasa di depan mereka.
Syuuuuut—!
Dua bayangan melesat dari kegelapan atap dengan kelincahan yang mengerikan. Dranco langsung memasang kuda-kuda dan mengayunkan kapak raksasanya, namun salah satu pembunuh bayaran itu melakukan gerakan tipuan yang sangat halus. Alih-alih menyerang dengan senjata tajam, ia melemparkan sebuah objek kecil yang berpendar ungu gelap ke tengah-tengah kelompok mereka.
BRAKK!
Itu adalah artefak Obsidian Shackle-Sphere. Bola hitam yang langsung tertanam kuat di lantai atap yang melapuk. Seketika, gelombang energi berwarna violet pekat meledak ke arah luar, menciptakan kubah gravitasi yang sangat kuat dalam radius tiga puluh meter. Udara di sekitar mereka seolah mendadak berubah menjadi merkuri yang sangat berat dan menyesakkan paru-paru.
"Ugh—!" Dranco adalah yang pertama tumbang. Tubuh kekar sang naga yang biasanya tak tergoyahkan itu terhempas ke lantai hingga kayu di bawahnya hancur. "S1alan... Mana-ku... seperti disedot paksa ke dalam lubang hitam!"
Ellish menjerit kecil saat tubuhnya ikut tertarik ke lantai atap, ekor rubahnya bergetar hebat karena tekanan yang luar biasa. Fenrir menggeram rendah, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol saat mencoba menarik Great Sword di punggungnya. Namun, kakinya seolah tertanam di beton, ia tidak bisa melangkahkan kakinya bahkan satu inci pun.
Di samping Aruna, Asher langsung jatuh tersungkur. Kepalanya tertunduk, dan tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak akibat tekanan gravitasi yang luar biasa membebani luka-lukanya yang masih terbuka. Asher bisa merasakan kesadarannya mulai memudar saat mana di dalam tubuhnya memberontak ditarik keluar oleh artefak itu.
Para pembunuh bayaran Viper's Fang melangkah keluar dari bayang-bayang cerobong asap. Mereka berjalan dengan langkah seringan kapas, seolah-olah gravitasi itu hanyalah sebuah panggung yang menguntungkan mereka.
"Ksatria Agung yang terhormat... ternyata hanya butuh satu artefak kuno peninggalan era kegelapan untuk membuatmu mencium atap rongsokan ini," salah satu pembunuh bayaran mengejek, suaranya serak di balik topeng kain hitam. "Heheheh... Kepalamu akan bernilai sangat mahal di pasar gelap."
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya pengepungan! Efek gravitasi ekstrem terdeteksi di area sekitar!
Peringatan! Tingkat ancaman: Tinggi. Sistem mendeteksi pelemahan total pada seluruh sekutu.
Mengaktifkan skill utama Memory Materialization! Memanggil Item!]
Wush!
Udara di depan Aruna bergetar hebat, dan sedetik kemudian, wajan hitam legam muncul di genggamannya. Aruna memejamkan mata sesaat, bersiap untuk merasakan hantaman gravitasi yang membuat rekan-rekannya merintih kesakitan. Satu detik... dua detik...
Aruna membuka matanya. Tubuhnya malah terasa lebih ringan. Jaringan energi ungu itu memang melilit pergelangan kakinya seperti ular yang kelaparan, namun setiap kali energi itu mencoba menembus pori-porinya, ia langsung buyar dan terpental keluar.
'Tunggu... kenapa cuma aku yang tidak apa-apa? Apa artefak ini sedang rusak atau sistem ini akhirnya berbaik hati padaku?' Aruna bertanya-tanya dalam hati. Ia melirik Fenrir dan Dranco yang masih berjuang mati-matian, lalu melirik Asher yang terengah-engah di bawah kakinya.
"Putri... lari..." Asher berbisik pelan. Ia menatap kaki Aruna yang masih berdiri tegak tanpa gemetar sedikit pun di hadapan musuh. 'Bagaimana mungkin? Dia tidak memiliki setetes mana pun, dia seharusnya menjadi yang pertama hancur... Kenapa dia terlihat seperti sedang berdiri di tengah angin sepoi-sepoi?' pikir Asher dalam gejolak kebingungan.
"Lari? Dan membiarkan kalian jadi pajangan barang rongsokan di sini? Tidak akan," Aruna menyeringai, meski telapak tangannya berkeringat di gagang wajannya.
"Cih, cerewet sekali!" Salah satu pembunuh bayaran melesat maju, Swiish! mengayunkan belati beracun ke arah leher Aruna yang terbuka.
Aruna beraksi. Ia tidak pernah belajar bela diri, tapi dorongan emosinya seolah menggerakkan setiap gerakan secara otomatis.
TANGGGG!
Dasar wajannya yang tebal menangkis belati itu dengan suara denting yang memekakkan telinga. Aruna memanfaatkan momentum itu; ia memutar tubuhnya dengan lincah dan menghantamkan pinggiran wajan tepat ke dada musuh.
"Oof!" Pembunuh bayaran itu terbatuk d4rah hitam dan terpental mundur hingga menabrak tangki air tua dengan bunyi Bam!
Musuh kedua menyerang dari sisi buta Aruna dengan pedang panjang yang berpendar cahaya biru redup. Asher yang melihat serangan itu dari bawah, berteriak sekeras mungkin dengan sisa tenaganya, "PUTRI, DI BELAKANGMU!"
Aruna tidak sempat berbalik penuh, jadi ia melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan: ia melempar wajannya ke udara, menunduk serendah mungkin untuk menghindari tebasan pedang yang nyaris memotong rambut peraknya, lalu menangkap kembali gagang wajannya saat jatuh dan menghantamkannya dengan sekuat tenaga ke arah lutut si musuh.
KRAK!
"AAARRGGHH!" Musuh itu jatuh tersungkur dengan tulang kering yang hancur. Aruna tidak memberinya kesempatan. Ia melompat dan menghantamkan dasar wajan ke kepala musuh itu hingga pingsan seketika.
Asher benar-benar tertegun. Matanya yang biru terpaku pada punggung Aruna. Ia melihat seorang gadis yang biasanya terabaikan, kini bergerak dengan kelincahan yang mustahil di tengah badai gravitasi sampai melumpuhkan petarung terkuat. Deg... Deg... Deg... 'Siapa kau sebenarnya, Putri Auristela? Kenapa hatiku... berdebar kencang melihatmu bertarung seperti itu?'
"Huff... Sekarang, untuk bola aneh ini!" Aruna berbalik ke arah kristal Obsidian Shackle-Sphere yang masih berdenyut di tengah atap.
Ia mengangkat wajan hitamnya tinggi-tinggi. Sinar fajar pertama yang mulai menyembul dari arah timur menyentuh permukaan wajan hitam itu, membuatnya tampak berkilau tajam dan mematikan.
"Hiaahh!"
CRAAAASSSHHH!
Hantaman itu begitu kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu-debu logam. Kristal itu pecah berkeping-keping menjadi debu hitam. Seketika, beban berat yang menekan area itu lenyap. Fenrir, Ellish, dan Dranco langsung bangkit kembali, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Auristela..." Fenrir menggelengkan kepala, menatap wajan Aruna dengan tatapan ngeri sekaligus hormat. 'Dia... menghancurkan artefak tingkat S hanya dengan satu serangan? Hah... Dunia ini benar-benar sudah terbalik.'
Asher masih terduduk, menatap Aruna yang kini terengah-engah dengan wajah yang memerah karena kelelahan.
Ding!
[Terdeteksi perubahan emosi pada Asher de Volland. Kedekatan: 61%.
Catatan: Target mengalami guncangan realita yang hebat. Rasa kagumnya mulai mengalahkan egonya secara perlahan.
Kesan ML: "Auristela... kau adalah misteri yang ingin kupecahkan dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu menghilang dari pandanganku."]
Aruna menoleh, memberikan jempol meskipun tangannya sedikit bergetar. "Heh, Asher. Jangan pingsan di sini. Aku tidak mau memapahmu lagi, berat tahu!"