Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 The Frozen Mercy
Untuk beberapa detik yang singkat, tembok pertahanan Leo runtuh. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya sebuah rasa kasihan yang tulus. Ia melihat bagaimana jemari Liora yang kasar karena terlalu banyak bekerja tampak gemetar dalam tidurnya. Leo hampir saja mengangkat tangannya untuk menyentuh rambut Liora yang berantakan, ingin memastikan apakah gadis itu juga sedang demam.
Namun, tepat saat tangannya menggantung di udara, egonya berteriak lebih keras. Jangan lemah, Leo. Dia melakukan ini hanya untuk mengambil hatimu seperti yang dia lakukan pada Ibu.
Leo menarik kembali tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdeham keras, sengaja membuat suara gaduh agar Liora terbangun.
"Bangun! Berapa lama kau berniat malas-malasan di kamarku?" suara Leo menggelegar, kembali dingin dan tajam seperti silet.
Liora tersentak bangun, matanya yang merah terbuka lebar karena terkejut. Ia hampir terjatuh dari kursinya. "Tuan Leo... Anda sudah bangun? Bagaimana perasaan Anda? Apakah pusingnya sudah hilang?" tanya Liora dengan suara parau, mengabaikan rasa sakit di punggungnya sendiri.
Leo turun dari ranjang, berdiri tegak dengan keangkuhan yang sudah kembali sepenuhnya. "Aku sudah sehat. Dan sekarang, keluar dari sini. Aroma obat dan kehadiranmu di kamar ini membuatku mual."
Liora tertegun, ia merapikan pakaiannya yang kusut. "Saya hanya ingin memastikan Anda makan sarapan dan minum obat lanjutan..."
"Cukup!" Leo memotong kalimatnya sambil menunjuk ke arah pintu. "Tugasmu merawatku sudah selesai. Jangan berpikir karena kau menjagaku semalam, statusmu naik menjadi istri sungguhan. Kau tetap pelayan di sini. Sekarang pergi ke dapur, siapkan kopi hitamku dan pastikan seluruh lantai di lorong ini mengkilap sebelum jam sepuluh."
Liora menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rasa perih di hatinya. "Baik, Tuan Leo."
Saat Liora berjalan menuju pintu dengan langkah yang sedikit terseret karena kelelahan, Leo memperhatikannya dari belakang. Ia melihat bekas noda air di baju Liora bekas tumpahan saat merawatnya semalam. Ada secercah rasa bersalah yang menusuk hati Leo, namun ia segera membunuhnya dengan kebencian yang dipaksakan.
"Liora!" panggil Leo lagi sebelum gadis itu keluar.
Liora menoleh dengan secercah harapan kecil di matanya. "Ya, Tuan?"
"Mulai besok, jangan pernah masuk ke kamar ini tanpa izin, bahkan jika aku sekarat sekalipun. Aku lebih baik dirawat oleh perawat bayaran daripada harus berhutang budi pada orang sepertimu," ucap Leo dengan nada yang paling menghina yang bisa ia temukan.
Liora tidak membalas. Ia hanya menutup pintu kamar itu dengan sangat pelan. Di balik pintu, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, memegangi perutnya yang mulai berdenyut nyeri lagi. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan pahitnya kenyataan bahwa bagi Leo, ketulusan tidak pernah memiliki tempat.
Leo di dalam kamar segera membanting dirinya ke kursi kerja. Ia mengumpat dalam hati, marah pada dirinya sendiri karena sempat merasa kasihan pada Liora. Ia berusaha keras meyakinkan diri bahwa Liora adalah musuh, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa satu-satunya alasan ia masih bernapas lega pagi ini adalah karena tangan lembut yang ia usir tadi.
"Leo membunuh rasa kasihannya sebelum sempat tumbuh, karena ia lebih takut pada cinta daripada pada kesepian."
"Bagi Liora, pengabdian adalah jalan sunyi yang ia tempuh tanpa mengharap ucapan terima kasih."
"Satu malam penuh perhatian dibalas dengan satu kalimat penghinaan; begitulah cara Leo menjaga dunianya tetap dingin."
"Gengsi Leo adalah penjara yang ia bangun sendiri, di mana ia menjadi sipir sekaligus tawanan di dalamnya."