Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARA LAIN
"Aku gak mau!" tolak Salsa dengan tegas. Ia memang menganggap Karin teman dari dunia lain, tapi ia tak akan gegabah dengan mengorbankan dirinya demi kepentingan Karin. Mendadak ucapan Syailendra terngiang dalam benaknya tak perlu bersikap baik untuk kepentingan hidup orang lain.
"Kenapa, Sal? Aku cuma mau ngomong aja," Karin masih berusaha membujuk, namun Salsa menggeleng keras.
"Gak mungkin hanya ngomong saja, kamu masih melihat dosen itu penuh cinta, bisa saja kamu memancing dia untuk tidur bersama. Jiwa memang kamu, tapi tubuh milikku, Karin. Aku yang disetubuhi dan jelas itu akan merugikan aku." Salsa tak kalah teguh pendirian, ia tak mau terjerumus dalam godaan hantu seperti Karin. Bukan karena tak mau bantu, tapi penawaran Karin sudah melewati batas.
"Lalu sampai kapan aku gak bertemu dengan Mas Amar, Sal!"
"Urusan kamu, Karin. Aku gak mau sejauh itu membantu kamu."
"Kamu tega Salsa?" Karin makin memojokkan Salsa.
"Aku tega karena menyelamatkan diriku sendiri, Karin. Aku tak mau bersekutu dengan hantu seperti kamu atau yang lain, karena kepentingan kalian bisa merugikan aku!" Salsa masih tak terpengaruh, biarlah dia dianggap egois, demi menyelamatkan dirinya sendiri.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Syailendra yang langsung duduk di samping Salsa. Terdengar jelas kalau Salsa emosi. Kedatangan pemuda itu membuat Salsa kaget, dan Syailendra hanya mengerutkan dahi. Tak lama ia mengambil earbuds di salah satu telinga Salsa. Ternyata tak ada suara sama sekali.
"Kamu lagi ngomong sama hantu?" tanya Syailendra yang kemarin tak percaya sama sekali dengan cerita Salsa, tapi kali ini ia sedikit tertarik.
"Kenapa dia bisa tahu soal hantu?" tanya Karin dengan nada protes. Salsa tak menggubris pertanyaan Karin, ia justru langsung mengangguk pada Syailendra.
"Kenapa?" tanya Syailendra ingin tahu, karena wajah Salsa tampak marah.
"Gak usah bilang, please diam kamu, Salsa."
Salsa menelan ludahnya kasar, sepertinya ia harus meminta pertolongan Syailendra. "Tolong Kak, si hantu mau masuk ke tubuhku untuk bertemu dengan Pak Amar, aku gak mau!" ucap Salsa sembari memohon pada Syailendra, bahkan ia menangis, mungkin ketakutan juga.
"Hah?" Syailendra pun ikut kaget. Menemui secara langsung saja Salsa tak diizinkan apalagi ini menyangkut hantu, malah lebih bahaya lagi.
"Sal, aku udah percaya sama kamu, tapi kenapa kamu malah ember ke pemuda ini, kamu suka sama dia? Kamu mau semua orang tahu kalau aku korban dari Mas Amar. Nanti nama baik Mas Amar tercoreng, Salsa."
"Aku gak peduli, Karin. Aku gak peduli, kamu ingin dia tanggung jawab, tapi kamu terlihat sanga membelanya, dan aku gak mau terlibat!" Salsa tak kalah keras, Syailendra saja sampai mendelik kaget. Mendadak bulu kuduknya berdiri, berarti si hantu di sekitar ini sedang berdebat dengan Salsa.
Syailendra menoleh ke kanan dan kiri khawatir orang di sekitar gazebo ini melihat pertengkaran dengan si hantu. Syailendra langsung menyentuh tangan Salsa, menggenggamnya, agar tenang.
"Kak?" tanya Salsa.
"Bilang ke hantu aku punya solusinya," ucap Syailendra tiba-tiba. Wajah kesal Karin mendadak berubah.
"Gimana?" tanya Karin.
"Gimana?" tanya Salsa meneruskan pertanyaan Karin.
Syailendra bilang jangan masuk ke tubuh Salsa, karena kasihan kalau Salsa masuk perangkap Pak Amar, sesuai dengan pemikiran Salsa tadi. Syailendra pun menyarankan agar Karin memasuki tubuh Sandrina saja, karena dia masih berhubungan dengan Pak Amar.
"Dicoba saja dulu, aku bisa bantu buat dekat dengan Sandrina," ucap Syailendra tak mau ada korban dari tingkah Pak Amar." Salsa diam, sangat masuk akal, dan Karin pun setuju.
Syailendra pun mengajak Salsa ke jurusan, agar Sandrina melihat dan pasti akan emosi, dari situ nanti Karin bisa masuk ke tubuh Sandrina. Sungguh, Salsa tak mengerti kenapa dia bisa sejauh ini mengenal Karin. Terlebih kalau permintaan si hantu tak dikabulkan, bisa-bisa menyerang ke Salsa juga.
Rencana Syailendra pun berhasil, begitu keduanya masuk dan tampak bercengkrama, padahal hanya akting, Sandrina langsung menghadang langkah Syailendra dan Salsa.
"Ngapain dia ke sini?" sentak Sandrina tak terima.
"Aku ada urusan sama dia," ujar Syailendra berhasil memancing emosi perempuan itu. Apalagi, Syailendra menggandeng Salsa untuk naik tangga makin tak karuan saja Sandrina, jelas tak terima.
Sandrina mengikuti keduanya dengan mengomel, bahkan dia tak malu meski berpapasan dengan mahasiswa lain. Salsa sendiri masih digandeng Syailendra dengan tegang, ini bukan areanya, ia hanya bisa diam dan mengikuti alur saja.
"Ndra, kamu gak bisa giniin aku. Aku mengejar kamu dari lama, tapi tak pernah sekalipun aku kamu gandeng. Sedangkan dia, baru sekali saja bertemu kamu mau gandeng dia. Apa dia sudah setor tubuh kamu," energi Sandrina sedang berada di level negatif, Karin mencoba masuk. Ternyata tak bisa.
"Pancing lagi amarahnya," ucap Karin, Salsa pun berbisik ke Syailendra.
"Pancing lagi," ucap Salsa sembari mendekatkan diri di telinga Syailendra. Tentu saja interaksi itu berhasil memancing emosi Sandrina, dia hampir menarik Salsa dan berniat menampar gadis itu, sontak Salsa mundur, dan kondisi marah itulah dimanfaatkan Karin untuk masuk ke tubuh Sandrina.
Tiba-tiba perempuan itu mundur dan menunduk, Salsa takut, bahkan sampai memegang tangan Syailendra. "Sepertinya Karin sudah bisa masuk," ucap Syailendra.
"Aku mau cari Mas Amar," ucap Karin dengan semangat, Salsa melongo.
"Karin, please panggil Pak Amar, jangan menampakkan kalau kamu Karin di depan umum," ucap Salsa ikut khawatir penilaian orang pada Sandrina.
Karin hanya mengacungkan jempol dan langsung turun, Salsa dan Syailendra melihat moment itu tanpa berkata apapun.
Sedangkan Karin dalam tubuh Sandrina bertanya pada mahasiswa lain, di mana posisi Pak Amar, karena mau bimbingan. Tentu saja mahasiswa lain termasuk teman Sandrina, heran. Tak biasanya Sandrina bersikap begitu, kalau mau bimbingan biasanya dia diam-diam chat Pak Amar sendiri.
"Lah bukannya kamu chat ke Pak Amar ya?" ujar Niken, dan Karin paham sekarang. Ia langsung mengambil ponsel Sandrina, ya berlagak seperti Sandrina begitu, toh kunci ponselnya menggunakan scan wajah. Auto terbuka, dan Karin langsung mengirim pesan ke Pak Amar.
Pak Amar aku mau bertemu. Begitu Karin menulis pesan pada Pak Amar.
Oke. Di rumah kamu kemarin saja. Aku langsung ke sana sekarang. Jawab dosen itu. Karin sampai menggelengkan kepala, secepat itu balasannya. Ternyata Pak Amar sudah tidak ada kelas, mahasiswa bimbingannya pun diundur besok, dengan alasan ada urusan di luar kampus.
Segera saja Sandrina meluncur ke rumahnya, Karin tentu bahagia sekali. Sudah lama ia tak bertemu Mas Amar kecintaan, biarlah dia menikmati sentuhan Mas Amar dulu sebelum membuka diri. Ia segera mandi, dan memilih baju yang memancing gairah Mas Amar pastinya.
"Ternyata perempuan ini niat banget buat Mas Amar," ucap Karin setelah membuka lemari Sandrina.