NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Bunyi kunci yang berputar di dalam daun pintu apartemen Lisa terdengar seperti suara terakhir dari sebuah dunia sebelum ia memasuki dunianya sendiri. Suara itu, 𝘬𝘭𝘪𝘬-𝘨𝘳𝘢𝘬, adalah garis pemisah yang rapuh antara Lisa sang Detektif Ahn yang tak kenal lelah, dan Lisa sang manusia yang hanya ingin melepas sepatu dan diam. Lorong koridor apartemennya yang sempit dan berlapis karpet abu-abu tua menyambutnya dengan keheningan yang ia bayar mahal setiap bulannya.

Ia menghela napas panjang yang bergetar, sebuah erangan lelah yang baru berani ia lepaskan ketika pintu terkunci rapat di belakangnya. Bahunya, yang selama dua belas jam terakhir tegang menahan beban otoritas dan kewaspadaan, kini merosot. Ia melepas sepatu bot kulit hitamnya yang berdebu, meletakkannya dengan sembarangan di rak kayu yang sudah lapuk, lalu berjalan masuk ke dalam ruang tengah yang hanya diterangi oleh cahaya kota Seoul yang menyusup dari balik gorden tipis.

Ruangan itu berbau seperti dirinya: kopi, tinta dari berkas-berkas yang dibawa pulang, dan sedikit aroma lemon dari pembersih lantai yang ia gunakan akhir pekan lalu. Bau itu adalah kenyamanan. Ia melemparkan tas kerjanya yang berat ke arah kursi makan, dan tas itu mendarat dengan suara gedebuk yang memuaskan.

"Ah, jadi begini rupa tempat tinggal seorang pemburu keadilan."

Suara itu membuat jantung Lisa berhenti berdetak sesaat sebelum kemudian memompa darah dengan kekuatan yang membuat telinganya berdengung. Ia berbalik begitu cepat hingga kakinya nyaris terpeleset di lantai.

Di sana, di atas sofa abu-abu tuanya yang sudah mulai mengendur di bantalan, duduk Sam. Pria berambut tembaga itu duduk bersandar dengan santai, satu kaki disilangkan di atas yang lain, lengannya terbentang di atas sandaran sofa, seolah-olah ia adalah tuan rumah yang sedang menunggu tamu. Cahaya jalanan yang redup menyinari profilnya, membuat siluetnya tampak hampir nyata, namun masih dengan semburat cahaya temaram di sekeliling pinggirannya.

"Sam!" Lisa mendesis, ia begitu kaget, marah, dan kelelahan yang memuncak. Tangannya menekan pelipisnya yang mulai berdenyut. "Kau… bagaimana kau bisa ada di sini? Aku baru saja mengunci pintu!"

Sam menunjuk ke arah dinding apartemen dengan ibu jarinya, ekspresinya polos dan tanpa beban, seperti anak kecil yang ditanya bagaimana ia bisa mencapai toples kue. "Aku… lewat sini. Masuk begitu saja. Lisa, apa kau lupa bahwa kunci, pintu, dinding… bagi aku itu semua seperti kabut. Aku tidak butuh izin dari manajemen gedung atau sepotong logam yang kau putar." Ia mengedipkan sebelah mata jenaka di tengah situasi yang terasa mengganggu.

Lisa memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam melalui hidung. Bau lemon yang tadi menenangkan kini terasa menusuk. "Ini privasi, Sam. Ini dirumahku. Satu-satunya tempat di Seoul ini di mana aku bisa benar-benar menjadi… tidak menjadi siapa-siapa. Tempat di mana aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada siapa pun. Dan sekarang… sekarang kegilaan dari kantorku malah duduk bersila di sofa pemberian ibuku!"

Sam tidak segera membalas. Tatapannya yang tertuju pada Lisa perlahan bergeser, menjelajahi ruangan kecil yang berantakan namun penuh karakter itu. Perhatiannya tertangkap pada rak buku kayu yang memenuhi hampir seluruh dinding di sebelah kanan. Rak itu agak miring, dipenuhi oleh buku-buku yang disusun rapat, beberapa tertumpuk secara horizontal di atas yang vertikal.

Dengan gerakan yang hampir terpesona, Sam bangkit dari sofa. Ia melayang mendekati rak buku itu, kakinya tidak benar-benar menyentuh lantai. Ia mengulurkan tangan, jemari panjang dan pucatnya bergerak perlahan, hampir-hampir menyentuh punggung buku-buku itu. Ia tidak bisa merasakan tekstur kertas yang kasar atau halus, tidak bisa mencium aroma apek dan tinta yang seharusnya memenuhi udara. Tapi matanya membaca setiap judul dengan lapar.

"Sejarah Hukum Pidana Korea… Psikologi Kriminal… Buku harian penyelidikan abad ke-19…" Sam bergumam dengan suara rendah dan penuh kekaguman yang diselimuti duka. "Banyak sekali jejak, Lisa." Matanya kemudian beralih ke bufet kecil di dekat jendela, di atasnya berjejer foto-foto dalam bingkai sederhana: Lisa kecil dengan orang tuanya di taman, Lisa mengenakan toga wisuda, Lisa dengan sekelompok teman yang tersenyum lebar. "Foto keluarga. Ijazah. Buku-buku yang membentuk pikiranmu… Semua ini seperti peta. Mereka membuktikan bahwa kau pernah ada di setiap titik waktu itu. Kau punya masa lalu yang bisa kau tunjukkan, kisah yang bisa kau ceritakan."

Sam berjalan menuju cermin bulat kecil yang tergantung di samping rak buku. Ia berhenti, menatap pantulan dirinya di dalam kaca. Sosok pria dewasa dengan garis rahang tegas, mata hangat, dan rambut kemerahan yang berantakan. Wajah yang seharusnya memiliki kisah, pengalaman, cinta, dan kehilangan. Namun yang ia lihat hanyalah sebuah cangkang.

"Sedangkan aku..." Bisiknya, dan suaranya tiba-tiba sangat kecil. "Aku terbangun di taman hotel itu dengan rasa dingin di tulang-tulang yang bahkan bukan tulang sungguhan. Tanpa ingatan siapa orang tuaku, apakah mereka pernah memelukku erat. Tanpa tahu di mana aku bersekolah, siapa teman pertamaku, atau… atau apa makanan favoritku saat aku masih bisa merasakan rasa." Ia menatap Lisa melalui pantulan cermin, matanya berkilau oleh air mata namun takkan pernah jatuh. "Aku hanya punya nama 'Sam', yang bahkan aku tidak ingat nama lengkapku. Aku tidak punya masa lalu untuk dikenang, Lisa. Dan masa depan… masa depan adalah sesuatu yang telah lewat dan tidak pernah menjadi milikku."

Lisa terdiam. Kemarahan yang tadi membara di ulu hatinya padam seketika, digantikan oleh sensasi lain yang lebih dalam dan lebih menyakitkan. Ia melihat punggung Sam yang tegap dan lebar itu, namun di mata Lisa sekarang, ia terlihat sangat kecil. Sangat kesepian. Ia teringat pada Sam di taman hotel, bocah kecil yang kebingungan. Sosok di depannya adalah cangkang yang tumbuh dari bocah itu, tanpa pernah mengalami kehidupan yang membuatnya dewasa.

"Maaf..." Ucap Lisa akhirnya, suaranya lirih, nyaris tertelan oleh dengung kulkas kecil di sudut dapur. Ia melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah di belakang Sam, tidak berani terlalu dekat. "Aku… aku tidak bermaksud kasar tadi. Aku hanya lelah. Dan aku belum terbiasa berbagi ruang dengan siapa pun, apalagi dengan…" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Sam menoleh, dan dengan susah payah ia mencoba merangkai senyum di wajahnya. Senyum itu pahit dan tidak mencapai matanya. "Tidak apa-apa. Jujur saja, aku sudah terbiasa sendirian. Tiga puluh tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk belajar menjadi bayangan yang baik. Mungkin… mungkin memang sebaiknya aku pergi. Mencari sudut lain di kota ini untuk ditunggui. Aku tidak ingin menjadi gangguan di satu-satunya tempat perlindunganmu."

Saat tubuh Sam mulai memudar, konturnya menjadi kabur dan warnanya menyatu dengan tembok di belakangnya, sebuah impuls mendadak mendorong Lisa. "Tunggu!"

Tangannya terulur, sebuah gerakan refleks untuk menahannya. Tentu saja, jemarinya hanya menyapu udara yang semakin dingin. Sam berhenti memudar, menatap Lisa dengan mata penuh tanya dan secercah harap yang begitu lembut hingga membuat dada Lisa sesak.

"Kau… kau boleh tinggal disini." Kata Lisa, suaranya lebih lembut dari yang ia rencanakan. Ia menyilangkan tangan, sebuah pose defensif. "Maksudku, daripada kau berkeliaran di hotel tua yang dingin dan menyedihkan itu, atau melayang-layang di gang gelap… lebih baik kau di sini. Setidaknya…" Ia menunjuk ke rak bukunya, "…kau bisa membaca. Meski kau tidak bisa membalik halamannya, kau masih bisa melihatnya, kan? Atau menonton TV. Aku sering meninggalkannya menyala untuk teman."

Mata Sam membelalak. Keheranan dan keajaiban bersinar di dalamnya. "Beneran? Kau… mau mengizinkanku tinggal?"

"Ya..." Lisa mengangguk, lalu dengan cepat ia mengangkat telunjuknya, wajahnya kembali ke mode detektif yang tegas. "Tapi! Ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Aturan nomor satu, dan ini mutlak: kau dilarang keras memasuki area kamar mandi saat aku sedang ada di dalamnya. Apalagi saat aku mandi. Jika aku merasakan setitik saja hawa dingin aneh atau sensasi diawasi di sana, aku bersumpah akan mencari cara untuk mengusirmu. Aku akan membeli garam laut sekarung, atau pesan jasa pembersihan aura online, atau apa pun itu. Apakah kita jelas?"

Sam tertawa hangat dan benar-benar terasa hidup. Itu adalah suara yang mengisi ruangan dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh TV atau radio. "Kesepakatan yang sangat adil, Detektif Ahn. Aku berjanji dengan sungguh-sungguh, sebagai gentayangan yang masih punya harga diri, untuk menghormati batasanmu. Tidak ada intip-intip di balik tirai kamar mandi."

Lisa mendengus, namun ia tidak bisa menahan sudut bibirnya yang sedikit terangkat. "Bagus. Aturan nomor dua: jangan menggerakkan atau 'mengambangkan' barang-barangku saat aku tidur. Aku bangun tidur sudah pelan-pelan, tidak butuh kejutan pagi dari sendok yang melayang atau buku yang terbuka sendiri. Itu sangat tidak menyenangkan."

"Ditanggung, tidak akan ada poltergeist show..." Janji Sam sambil mengangkat tangan seperti sedang bersumpah, senyum lebar masih merekat di wajahnya. Ia kembali ke sofa, dan kali ini caranya duduk terasa lebih… belonging. Seperti ia telah mendapatkan izin, sekecil apa pun.

Malam itu, di apartemen sempit yang diterangi oleh lampu jalan Seoul, sebuah pengaturan baru tercipta. Lisa merebus air untuk teh, sadar bahwa ia kini membuat dua cangkir—satu untuknya, satu lagi untuk ditempatkan di meja kopi sebagai bentuk penerimaan yang kikuk. Sam duduk di sudut sofa, matanya menatap kota melalui jendela, namun jiwanya terasa lebih tenang.

Dan Lisa, sambil menyesap teh chamomile-nya, menyadari sesuatu yang pelan namun pasti. Pencariannya akan keadilan tidak lagi hanya tentang mengumpulkan bukti dan mengejar pelaku. Tanpa ia rencanakan, ia telah membuka pintu di antara dunia dan memberikan sebuah tempat, bagi seorang jiwa yang telah terlalu lama menjadi tamu tak diundang di kehidupan orang lain. Dalam kesunyian yang kini tidak lagi sepi itu, ia menemukan bahwa kadang-kadang, memberikan tempat pulang bisa dimulai dengan sepetak ruang di sofa dan secangkir teh yang takkan pernah diminum.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!