Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik Kecil
Levis tidak masuk ke Desa Sumberjati sebagai pemburu.
Ia masuk sebagai orang biasa.
Pagi itu, matahari baru naik setengah ketika ia memarkir motornya di tepi jalan desa. Helm dilepas, jaket disampirkan. Penampilannya bersih, sederhana kaos polos, celana gelap, sepatu yang sudah tampak usang. Tidak ada senjata terlihat. Tidak ada sikap tergesa.
Ia berjalan menyusuri jalan tanah, memperhatikan ritme desa.
Anak-anak berangkat sekolah. Perempuan menyapu halaman. Lelaki duduk di warung kecil, kopi mengepul, obrolan ringan berputar di sekitar harga pupuk dan cuaca. Semua normal.
Terlalu normal.
Levis menyukainya.
Desa seperti ini tidak menyimpan rahasia dengan baik. Bukan karena penduduknya ceroboh, tapi karena mereka percaya satu sama lain. Dan kepercayaan selalu meninggalkan celah.
Ia berhenti di warung kopi paling ujung. Duduk. Memesan kopi hitam.
Pemilik warung seorang lelaki setengah baya tersenyum ramah. “Bukan orang sini?”
Levis tersenyum balik. “Singgah sebentar. Ada urusan kebun.”
“Kebun siapa?”
“Masih cari-cari,” jawab Levis ringan. “Katanya tanah di sini subur.”
Pemilik warung mengangguk bangga. “Sumberjati memang begitu.”
Levis menyeruput kopi. Panas. Pahit. Pas.
“Belakangan ini sepi?” tanyanya seolah sambil lalu.
“Ah, biasa saja.” Lelaki itu berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Paling… kemarin ramai sedikit. Ada orang asing.”
Levis menahan senyum.
“Orang asing?”
“Iya. Katanya singgah di rumah Pak Raka.”
Levis mengangguk perlahan, seolah mencatat hal kecil. “Pak Raka yang pincang itu?”
“Iya. Anaknya perempuan. Mika.”
Nama itu terdengar lebih jelas dari yang lain.
Levis tidak bertanya lagi. Ia membayar kopi, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan pergi.
Ia tidak perlu mendengar detail. Desa akan memberinya itu sendiri.
Langkahnya membawanya ke balai dusun. Bangunan sederhana, catnya mulai pudar. Kepala dusun sedang duduk di teras, membaca koran lama.
“Permisi,” sapa Levis sopan.
Kepala dusun mengangkat wajah. “Ada perlu?”
“Aku cari informasi soal kebun. Katanya Pak Raka punya lahan cukup luas.”
“Kenal dia?”
“Belum,” jawab Levis jujur. “Makanya bertanya.”
Kepala dusun mengangguk, tak curiga. “Pak Raka orang baik. Anak perempuannya juga. Tapi akhir-akhir ini…,” ia berhenti.
Levis menunggu.
“…ada tamu di rumahnya.”
“Tamu?”
“Orang kota, katanya. Luka. Ditolong.”
Levis tersenyum kecil. “Orang Sumberjati memang suka menolong.”
“Benar,” sahut kepala dusun. “Tapi orang asing tetap orang asing.”
Kalimat itu cukup.
Levis pamit. Saat melangkah pergi, ia sudah memiliki gambaran yang utuh.
Menjelang siang, Levis berdiri di pinggir kebun, cukup jauh untuk tidak terlihat, cukup dekat untuk mengamati. Ia melihat mereka.
Mika berjalan lebih dulu, keranjang di lengan. Jovan beberapa langkah di belakangnya. Geraknya hati-hati, tapi posturnya Levis mengenalnya. Itu bukan postur orang biasa. Itu postur seseorang yang terbiasa bertahan hidup.
“Benar,” gumam Levis. “Kau masih hidup.”
Ia memperhatikan cara Mika menoleh pada Jovan. Cara tubuhnya condong sedikit setiap kali Jovan bergerak terlalu cepat. Cara ia bicara tegas, tapi penuh perhatian.
Levis tidak merasa cemburu.
Ia merasa… puas.
Karena ia tahu, titik lemah Jovan bukan lagi tubuhnya.
Itu berdarah di tempat lain sekarang.
Ketika mereka berjalan pulang, Levis melihat Jovan mengangkat daun pisang. Terlalu cepat. Terlalu ceroboh. Luka itu kembali terbuka. Mika panik, wajahnya berubah.
Levis tersenyum tipis.
Ia peduli, pikirnya. Lebih dari yang seharusnya. Ia tidak mengikuti mereka sampai rumah. Tidak perlu. Informasi hari ini sudah cukup.
.
Sore itu, Levis duduk di dalam mobil, membuka ponsel. Pesan masuk dari anak buahnya di Valenport.
Rumor menyebar. Jovan De Luca dianggap mati oleh sebagian besar pihak.
Levis mengetik singkat. Biarkan.
Ia menatap desa sekali lagi dari kejauhan.
Ia tidak akan menculik siapa pun hari ini. Tidak akan mengirim ancaman. Tidak akan menodongkan senjata.
Ancaman terbaik adalah yang membuat targetnya bertanya-tanya: Sejak kapan aku mulai diawasi?
Levis menyalakan mesin.
“Tenang saja, Jovan,” katanya pelan. “Aku tidak akan merusak desamu… belum.”
Mobil itu melaju meninggalkan Sumberjati. Dan tanpa satu pun warga menyadarinya, hari itu desa kecil itu resmi masuk ke dalam peta perang.
.
Biasanya, sapaan datang lebih dulu. Pagi ini, beberapa orang berhenti berbicara ketika ia lewat. Senyum masih ada, tapi tidak sepenuhnya sampai ke mata.
“Pagi, Bu,” sapa Mika pada tetangga yang sedang menjemur padi.
“Iya… pagi,” jawab perempuan itu, lalu cepat-cepat menoleh ke arah lain.
Mika melanjutkan langkah, menenangkan diri. Mungkin aku terlalu sensitif, pikirnya. Tapi perasaan itu tidak pergi.
Di rumah, Jovan sedang duduk di teras. Ia memerhatikan Mika sejak ia masuk halaman. Cara bahunya menegang sedikit, lalu rileks lagi. Perubahan kecil tapi Jovan menangkapnya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Mika terlalu cepat. “Hanya… desa agak ramai.”
Jovan tidak bertanya lagi. Ia belajar bahwa di desa, kata ramai sering berarti sebaliknya.
Siang hari, konflik itu akhirnya menemukan bentuk.
Pak Raka baru saja selesai memotong batang pisang ketika Kepala Dusun datang, ditemani dua orang lelaki yang Mika kenal sebagai pengurus RT.
Wajah mereka ramah, tapi tubuh mereka kaku seperti orang yang datang membawa kabar yang tidak ingin ia ucapkan sendiri.
“Raka,” sapa Kepala Dusun. “Kami mau ngobrol sebentar.”
Pak Raka mengelap keringat. “Silakan.”
Mereka duduk di bangku panjang di depan rumah. Jovan berdiri sedikit ke samping, cukup jauh untuk tidak tampak ikut campur, cukup dekat untuk mendengar.
“Begini,” Kepala Dusun memulai pelan, “akhir-akhir ini ada laporan… dari warga.”
“Laporan apa?” tanya Pak Raka.
“Soal tamu.”
Hening turun sejenak.
“Dia orang kota,” lanjut Kepala Dusun. “Kami tidak menuduh. Tapi warga bertanya-tanya.”
“Tanya apa?” suara Pak Raka tetap tenang, tapi Mika tahu ayahnya sedang bersiap.
“Kenapa luka tembak.”
“Kenapa tidak ke puskesmas.”
“Kenapa tinggal cukup lama.”
Setiap kalimat seperti batu kecil yang dijatuhkan perlahan.
Pak Raka menegakkan punggung. “Dia hampir mati. Kami menolong.”
“Kami mengerti,” sahut salah satu pengurus RT. “Tapi desa ini kecil. Isu cepat menyebar.”
Jovan menunduk sedikit. Ia tahu ini akan datang. Ia hanya tidak menyangka akan secepat ini.
“Kami tidak minta dia pergi,” kata Kepala Dusun akhirnya. “Belum. Tapi kami perlu tahu… dia siapa.”
Mika melangkah maju tanpa sadar. “Dia tamu kami.”
Kepala Dusun menoleh. “Mika, kami tidak menyalahkanmu.”
“Tapi kalian mencurigainya.”
“Kami mencurigai keadaan,” jawab Kepala Dusun hati-hati. “Bukan orangnya.” Kalimat itu terdengar bijak. Tapi Mika merasakan ketajamannya.
Pak Raka berdiri. “Kalau ada yang salah, tanggung jawab ada padaku.”
Kepala Dusun menghela napas. “Kami hanya minta satu hal. Jangan ada masalah. Desa ini tenang karena semua orang saling percaya.”
Tatapan itu sempat singgah pada Jovan. Sejenak saja. Tapi cukup.
Setelah mereka pergi, halaman rumah terasa lebih sempit.
Mika mengepalkan tangan. “Aku tidak suka cara mereka melihatmu.”
“Wajar,” jawab Jovan pelan. “Aku orang asing.”
“Kau bukan ancaman.”
Jovan tersenyum tipis. “Orang tidak perlu berbahaya untuk ditakuti.”
Mika terdiam.