Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Mengikuti Kata Hati
Nabila masuk ke toilet. Dia menatap dirinya di depan cermin. Jujur saja, jantungnya masih berdebar tidak karuan karena adegan tadi. Saat itu Nabila sadar kalau dirinya menyukai Nathan.
Ponsel Nabila tiba-tiba berdering. Dia mendapat telepon dari Lukman setelah sekian lama. Nabila segera mengangkat panggilan tersebut.
"Setelah satu minggu lebih, akhirnya kau meneleponku..." ujar Nabila.
"Aku memberimu kesempatan untuk datang dan minta maaf. Tapi kau masih saja diam dan tak tahu malu!"
Dada Nabila terasa sesak. Hatinya terasa remuk karena Lukman selalu menyudutkannya. Menyuruh Nabila meminta maaf, padahal yang salah adalah Lukman. Dulu mungkin Nabila sering mengalah, tapi ini semua terlalu sering terjadi. Seolah-olah sudah menjadi kebiasaan Lukman.
"Kenapa harus aku yang selalu minta maaf, Mas? Pernahkah Mas sekali saja meminta maaf padaku? Kau bahkan tak pernah berterima kasih dan memujiku..." Mata Nabila berkaca-kaca. Berbicara sambil memegangi dadanya yang terasa seperti diganjal batu besar.
"Aku ini suamimu! Sudah seharusnya seorang istri sepertimu menghormati dan berbakti padaku! Apa kau tahu? Gara-gara kau datang ke hotel hari itu, aku kehilangan salah satu klienku!" bukannya sadar, Lukman malah semakin menjadi-jadi. Bahkan mencari-cari kesalahan Nabila.
Air mata Nabila akhirnya tak tertahan lagi. Entah kenapa saat itu sosok Nathan yang penuh perhatian dan kelembutan muncul dalam bayangannya.
"Eh! Kenapa masih diam saja?! Cepat minta maaf! Atau kau ingin aku mengeluarkanmu dari proyek filmmu sekarang, hah?! Kau tahu itu mudah sekali bagiku!" bentak Lukman dari seberang telepon.
Nabila meremas ponselnya. Berusaha menyembunyikan suara tangisannya dari Lukman. Dia lalu berucap lirih, "Maaf, Mas..."
"Nah! Begitu dong. Kau kapan kembali ke Indonesia?" tanya Lukman.
"Mungkin awal bulan depan."
"Oke. Semoga syutingnya lancar. Jangan lupa bulan depan itu hari aniversary kita. Kau tahu kita selalu merayakan pesta besar-besaran untuk itu."
"Ya." Nabila hanya menjawab singkat. Setelah itu Lukman mematikan teleponnya.
Tangisan Nabila perlahan berhenti. Dia merasakan semangat yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Nabila melangkah cepat keluar dari toilet.
Indy yang sejak tadi menunggu di depan, segera mengikuti. "Kau baik-baik saja kan, Mbak?" tanyanya.
"Dimana Nathan?" tanya Nabila.
"Aku rasa dia ada di ruangannya sekarang," jawab Indy.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Nabila berjalan cepat menuju ruangan Nathan. Dia masuk ke ruangan itu begitu saja.
Kebetulan sekali Nathan sedang sendirian di ruangan tersebut. Zidan managernya baru pergi untuk membelikan minuman.
"Kak Nabila?" Nathan langsung berdiri saat melihat Nabila masuk. Ia juga meletakkan naskah yang sedang dibacanya ke meja.
"Nabila! Panggil aku Nabila mulai sekarang," ujar Nabila sembari mendekat ke hadapan Nathan. Tidak ada tangis lagi di matanya, namun justru tekad yang membara, seakan Nabila telah membuang seluruh ketakutan yang selama ini menahan. Semua itu jelas karena percakapan yang baru saja dirinya lakukan bersama Lukman di telepon. Bagi Nabila, hanya sia-sia mengharapkan perubahan pada suaminya.
Senyuman mengembang diwajah Nathan, dan dia menyukai tatapan Nabila padanya sekarang. "Apa ciuman tadi menyadarkanmu?" tukasnya.
"Aku hanya ingin mengatakan, aku akan menuruti kata hatiku mulai sekarang!" Nabila segera menyatukan bibirnya dengan mulut Nathan. Mereka berciuman untuk yang sekian kalinya. Namun kali ini semuanya terasa bebas dan menenangkan untuk Nabila.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti