Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalkan, Darren
Darren mematikan mesin motornya dengan dengusan puas. Touring sendirian selalu memberinya rasa hidup yang utuh. Jalan panjang, panas mesin yang masih merambat ke paha, udara terbuka yang menampar wajah tanpa izin. Kebebasan, versi murah meriah tapi jujur.
Ia melepas helm, mengibaskan rambut, lalu matanya menangkap sesuatu yang membuat senyumnya berhenti setengah jadi.
Sebuah mobil hitam mengilap. Modelnya terlalu familier.
Ah. Nggak mungkin, pikirnya.
Darren melangkah lebih dekat, pura-pura mencari sudut parkir. Platnya tak mungkin salah. Itu benar mobil Ravindra, abang iparnya.
Ia sempat berharap otaknya menipunya, sampai pintu mobil terbuka.
Ravindra turun. Keraguan terjawab.
Kemudian… seorang perempuan ikut keluar, bukan Tafana.
Darren tidak bereaksi. Tidak mengumpat maupun menggeram. Ia hanya berdiri, menonton, seperti penonton setia yang tahu film ini belum masuk adegan klimaks. Itu cirinya. Mengamati dulu. Emosi belakangan, kalau diperlukan.
Jarak tubuh mereka terlalu dekat. Lengan bersenggolan tanpa canggung. Tawa si perempuan terlalu bebas, terlalu nyaman untuk ukuran “pegawainya”.
Darren mendengus kecil. Kalau ini staf, berarti gue Paus Fransiskus.
Ia mengangkat ponsel. Memotret dengan tenang. Bukan foto asal. Wajah jelas. Gestur tak terbantahkan. Bukti yang nanti akan bicara lebih lantang daripada semua pembelaan murahan.
Baru setelah itu ia menelepon. “Halo Kak? Bang Ravindra lagi di mana ya?”
Suaranya dibuat santai, seolah ia sedang menanyakan menu makan siang.
“Lagi dinas ke luar kota," Tafana menjawab.
“Sendiri?”
“Iya sendiri. Eh, nggak tahu deh. Mungkin bareng stafnya.”
Darren menatap Ravindra yang sedang tertawa, kepalanya condong ke arah perempuan itu. Tampak terlalu akrab dan intim. Ia menyeringai kecil, pahit tapi puas.
“Nggak apa-apa. Aku lihat orang mirip Bang Ravindra di sini. Kayaknya aku salah lihat.”
Ia mematikan telepon.
Nggak salah lihat kok, Kak. Aku cuma baru lihat jelas.
Darren tidak mengirim apa pun. Belum. Ia tahu kakaknya—Tafana sedang membangun dirinya, dan kebenaran yang datang terlalu cepat hanya akan terdengar seperti tuduhan.
Jadi foto-foto itu ia simpan rapi. Ia mengikuti mereka, mencatat lokasi, nama hotel, waktu. Seperti arsip dosa kecil.
Bukti ini bukan buat hari ini, pikirnya. Buat hari ketika penyangkalan sudah capek sendiri.
Ia menatap Yunika sekali lagi. Melapor itu gampang. Terlalu lurus. Terlalu membosankan.
Darren menyeringai. Merusak dengan elegan jauh lebih nikmat.
Kalau perempuan itu berani main di rumah tangga orang, ia harus siap diajak main di wilayah orang lain. Yunika pun resmi jadi target.
-oOo-
Riset Darren singkat, tapi presisi.
Nama muncul lebih dulu: Yunika Frandisia.
Jabatan mentereng—Business Development Manager di Luminara Creative Industries.
Jejaknya bersih, terlalu rapi. Kafe langganan, jam-jam rutin. Lalu satu detail kecil muncul di layar: alumni SMP yang sama dengan Ravindra.
Darren tertawa pelan, tanpa suara. Lucu. Lingkarannya sekecil ini.
“Got you,” gumamnya.
Ia bukan pahlawan moral. Tak tertarik ceramah, apalagi drama keluarga ala sinetron. Darren bekerja dengan cara yang ia pahami: usil, rapi, personal. Tanpa menggurui. Tanpa emosi meledak-ledak. Bukan impulsif—hanya sangat menikmati proses.
-oOo-
Senin sore, waktunya pulang bekerja.
Darren sengaja memilih kafe di dekat Luminara, tempat Yunika bekerja. Ia sudah duduk lima belas menit ketika Yunika masuk. Sendirian menyandang tas di bahu kiri. Wanita itu memesan minuman tanpa melihat menu lama-lama.
Rutinitas banget. Orang yang hidupnya kebaca.
Darren berdiri, dan berjalan cepat. Gelas es kopi di tangannya “tak sengaja” menyenggol lengan Yunika.
“Eh—sorry, sorry banget,” kata Darren cepat. Nada paniknya terdengar wajar.
Cairan cokelat itu menyebar di blus terang Yunika.
“Aduh—” Yunika menunduk, refleks. “Ini baju kerja gue.”
“Sumpah gue bego banget,” Darren menepuk-nepuk dengan tisu.
Yunika mendesah. Memikirkan jalan keluarnya, bukan marah.
“Blusnya basah banget lagi,” katanya. “Ini nggak bisa dilap doang.”
“Iya maaf,” Darren mengangguk. “Gini aja, apartemen gue dekat sini. Lima menit doang. Lo bisa ganti baju di sana. Habis itu gue pulangin dengan aman, janji!”
Pria itu menilai apa yang akan jadi jawabannya.
Yunika terdiam setengah detik terlalu lama. Matanya ke blusnya lagi.
“Atau kalau lo mau, gue bayar laundry—”
“Enggak,” potong Yunika cepat. “Apartemen lo… dekat?”
“Dekat. Jalan kaki doang. Gue juga nggak enak ninggalin lo basah gini."
Darren melepas jaket kulitnya, lalu menyampirkan ke bahu Yunika. "Nih, lo pake aja. Khawatir masuk angin."
Yunika tertegun. Hening kecil. Ia mengangguk sambil memakai jaket pinjaman itu. “Ya udah, tapi bentar aja.”
Darren tersenyum tipis.
Dia nggak menolak ke apartemen cowok sendirian. Oke. Catat.
"Nama lo siapa?" Yunika melirik.
"Gue Darren," ucapnya sambil berjalan di sampingnya, tampak menyesuaikan langkah.
"Gue Yunika."
Gue tahu, pikir Darren sambil diam-diam menyeringai.
Satu keputusan kecil, dan lo udah milih jalur yang salah. Cukup buat gue masuk dengan nyaman, pikir Darren.
-oOo-
Apartemennya nyata. Bersih, terlalu rapi untuk ukuran pemuda lajang yang tampaknya petakilan.
Yunika sempat berhenti di ambang pintu, matanya menyapu ruang tamu yang tenang, sofa abu-abu, jendela besar, aroma sabun lantai.
“Lo yakin nggak ada yang keberatan?” tanyanya sungkan.
“Enggak, gue single,” jawab Darren ringan. “Kamar mandi di sana. Handuk bersih ada."
Yunika masuk kamar mandi, lalu suara shower terdengar.
Tanpa menunggu reaksi, Darren menaruh kaus hitam dan celana training bersih di rak depan kamar mandi.
"Gue taro baju ganti lo di rak depan kamar mandi ya. Lo santai aja, gue keluar dulu!" seru Darren sebelum benar-benar mengambil jaket dan keluar unit apartemennya.
Ketika Yunika keluar, Darren tidak ada di sana, seolah sengaja memberinya ruang pribadi. Rambutnya basah, kaus Darren kebesaran di tubuhnya. Tapi terasa aman dan nyaman.
Darren kembali lima menit kemudian dengan dua kotak makanan dan minuman. Ia meletakkannya di meja makan tanpa seremoni.
“Maaf ya,” kata Yunika. “Gue ngerepotin.”
“Nggak ah, emang salah gue,” Darren mengangkat bahu. “Baju gue kegedean ya, sorry.”
Yunika tertawa kecil. "Nggak apa-apa," Ia duduk, mulai santai, bahunya turun.
Orang nyaman itu selalu lengah, pikir Darren.
“Gue nggak tahu lo suka apa,” katanya. “Jadi gue beli ayam geprek aja. Makan dulu yuk.”
Yunika tersentuh.
Mereka berdua makan berhadapan.
“Kantor lo di sekitar sini?” tanya Darren, seolah sambil lalu. "Tadi baru pulang kerja?"
“Iya. Di Luminara. Capek sih kerja di sana,” jawab Yunika. “Tapi ya… worth it sama gajinya.”
Darren mengangguk. Tidak menimpali dengan nasihat murahan. Tidak bertanya kenapa capek. Membiarkan jeda bekerja.
“Lo nggak banyak nanya,” Yunika melirik.
“Kadang orang cuma pengen didengar,” jawab Darren. “Bukan diselametin.”
Yunika terdiam. Mengunyah pelan. Ucapan pemuda itu tepat menembusnya.
Yunika menusuk nasi agak terlalu keras. “Kadang muak,” katanya akhirnya. “Di kantor itu tuh kayak… kalau satu angka aja meleset, semua orang panik.”
Darren mengangguk, masih makan. “Target.”
“Iya. Target. Semua harus kelihatan naik. Presentable. Padahal yang dikerjain ya itu-itu aja.”
“Hm.”
“Atasan gue obsesif. Salah font bisa jadi bahan omongan satu jam.”
Darren mendengus kecil. “Font salah emang dosa besar.”
Yunika tertawa singkat, lalu berhenti. “Lo nggak heran gue ngeluh?”
“Kenapa harus heran?” Darren mengangkat bahu. “Kerjaan emang gitu. Kadang lo bener, kadang sistemnya yang bego.”
Yunika menatapnya sekilas. Bukan mencari jawaban—mengecek apakah aman berbagi dengannya.
“Gue capek harus selalu kelihatan tepat,” lanjutnya pelan. “Salah dikit, rasanya… gagal total.”
Darren menyuap lagi. “Lo hidup buat dinilai?”
Pertanyaan itu ringan, tapi cukup mengganggu.
Yunika diam. Menghela napas. “Nggak tahu.”
“Ya udah,” kata Darren santai. “Kalau hari ini lo capek, ya capek aja. Nggak harus jadi pelajaran hidup.”
Yunika tersenyum tipis. Bahunya turun. “Lo aneh,” katanya. “Tapi enak diajak ngobrol.”
Darren melirik sekilas, lalu kembali ke makanannya.
Bagus, pikirnya. Dia berhenti jelasin diri. Itu tanda pertama orang merasa aman.
Tidak ada sentuhan. Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada tatapan terlalu lama. Justru itu yang membuat Yunika duduk lebih lama dari rencananya.
Perempuan kayak gini bukan cari api, pikir Darren. Dia cari ruang aman. Dan gue jual ilusi itu dengan harga murah.
Saat waktu hampir magrib, Darren berdiri. “Gue anter pulang ya.”
Yunika mengangguk tanpa ragu.
Di parkiran, Yunika melirik motornya. “Motor lo gede juga.”
“Kadang orang butuh pelarian,” jawab Darren santai.
Yunika tertawa kecil. Ia naik motor Darren. Pegangan ragu di awal, lalu memeluk pinggangnya mantap.
Di balik helm, Darren menyeringai kecil.
Belum apa-apa, tapi lo udah masuk permainan gue. Dengan perlahan dan terstruktur, batinnya. Dan lo bahkan nggak sadar kapan bilang iya.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅