"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15 - Ingatan yang Ingin Dihapus
Setya hampir tidak ingat apa yang baru saja terjadi, yang ia rasakan hanya kepala berat, tengkuk tegang, dan rasa pahit di mulut yang tidak sepenuhnya berasal dari alkohol. Mobil melaju menembus jalanan malam Jakarta yang lengang, lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca jendela.
Arsen menyetir dengan satu tangan, yang lain sibuk membuka botol air mineral dan menyodorkannya pada Setya.
“Minum. Kalau nggak, besok kepala lo bakal kayak dihantam palu,” katanya tanpa menoleh.
Setya menerimanya tanpa komentar. Meneguk dua kali, lalu bersandar lagi. Matanya terpejam, mencoba menenangkan nafasnya sendiri.
“Jadi,” Arsen memecah keheningan, nada suaranya berubah, tapi mengandung rasa ingin tahu dan jahil, “perempuan yang bikin lo tepar itu-”
Setya membuka mata sedikit, “stop.”
Arsen tertawa kecil “santai. Gue cuma mau bilang-”
“Arsen.”
“Oke, oke. Ya tapi gimana gue nggak kaget coba,” Arsen mengangkat bahu.
Setya mendengus pelan.
“Lo sadar nggak,” lanjut Arsen, “tadi itu pemandangan paling aneh yang pernah gue lihat?”
“Apanya?”
“Lo. Duduk diam, mabuk, nurut. Dan di samping lo-” Arsen berhenti sebentar, seolah mencari kata yang paling tepat, “perempuan sekecil itu.”
Rahang Setya mengeras refleks.
“Tidak sekecil itu,” bantahnya datar.
“Oh, come on.” Arsen melirik sahabatnya dengan senyum jahil tersungging. “Dibandingin sama badan lo? Dia tuh kayak-”
“Jangan dilanjut,” potong Setya tajam.
Arsen tertawa, tapi kali ini lebih pelan dan mengangkat kedua tangannya sebentar, menyerah.
“Oke. Gue berhenti.”
Mobil melaju stabil membelah jalanan malam Jakarta. Aspal masih lembap, memantulkan cahaya lampu jalan yang terputus-putus. Di dalam kabin, hanya ada suara mesin dan napas Setya yang tidak sepenuhnya teratur.
Ia memejamkan mata, tapi pikirannya melalang buana pada perempuan yang tidak seharusnya ada di dalam otaknya. Wajah itu muncul, meski alkohol masih cukup menguasai dirinya.
Arsen melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan.
“Lo sadar satu hal nggak?”
Setya tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menyuruh Arsen berhenti dan itu cukup membuat Arsen kembali berucap.
“Sepanjang gue kenal lo,” Arsen melanjutkan, kali ini tanpa nada bercanda, “nggak ada satu pun manusia yang bisa bikin lo nurut tanpa debat.”
Setya menarik napas pelan. Dadanya terasa berat.
“Itu di luar kendali saya.”
Arsen tidak langsung membalas, hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. Lampu merah menyala. Mobil berhenti dan pantulan cahaya membuat wajah Setya terlihat lebih keras dari biasanya dengan rahang menegang dan garis tekanan di garis alisnya.
“Lo kelihatan kacau,” kata Arsen akhirnya.
Setya tersenyum miring, cepat, tanpa niat meyakinkan. “I’am good.”
Arsen tidak memaksa. Tapi keheningan setelahnya berbicara lebih banyak daripada bantahan apa pun.
Mobil kembali melaju. Jalanan makin sepi. Setya menggeser bahunya, memijat tengkuk yang kaku. Rasa pahit di mulutnya kembali muncul dan pria itu sama sekali tidak menyukai after taste alkohol.
“Ini bukan cuma soal mabuk,” kata Arsen pelan.
“Tidak semua hal perlu dibedah,” Setya menelan ludah.
“Kalau sama lo, justru perlu, karena tadi lo nyaris kehilangan kendali,” balas Arsen.
Setya tidak membantah. Pria itu tahu persis kapan itu terjadi. Bukan saat gelas ketiga, pun bukan saat suara musik terlalu keras, tapi saat perempuan itu berdiri di hadapannya dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Setya berhenti mengatur dirinya sendiri.
“Dia tidak seharusnya ada di sana,” ucap Setya akhirnya, suaranya lebih rendah.
Arsen mendesah. “Dan lo nggak seharusnya dalam kondisi itu. Tapi kenyataannya, dua-duanya kejadian.”
Setya menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Matanya terpejam. Ia teringat bagaimana tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.
“Saya tidak terbiasa,” katanya pelan.
“Dengan apa?” tanya Arsen, singkat.
“Dengan reaksi yang tidak bisa saya kontrol.”
Mobil melambat, lalu berhenti di depan lobi apartemen mewah milik sahabatnya itu.
“Lo mau gue naik?” tanya Arsen.
“Tidak.”
Arsen mengangguk. Tidak memaksa. Setya membuka pintu, lalu berhenti sejenak.
“Sen.”
“Ya?”
“Jangan ceritakan ini ke siapa pun.”
Arsen menatapnya beberapa detik sebelum berucap, “lo tahu apa yang paling ironis?”.
“Apa?” Setya menghela napas.
“Bukan soal dia kecil dibanding badan lo. Tapi soal dia yang nggak mengecil di depan lo,” jawab Arsen. “
Setya tidak menjawab, tapi diamnya adalah pukulan yang tepat sasaran. Setya turun, menutup pintu, lalu mobil menjauh, meninggalkannya berdiri sendiri di bawah cahaya lampu jalan. Pria itu menatap gedung tinggi di depannya, menghembuskan napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya, Setya benar-benar mengakui bahwa ketenangannya padaa perempuan itu tidak ada hubungannya dengan alkohol.
Cahaya pagi menembus tirai kamar dengan cara yang tidak ramah. Setya terbangun dengan kepala berdenyut, tenggorokan kering, dan tubuh terasa seperti ditindih beban. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, menekan pelipis dengan dua jari.
Memori datang bersamaan.
Klub, alkohol dan... Maura.
“Maura,” gumam Setya.
Pria itu berdiri mendadak, rasa pusing membuatnya harus berpegangan pada sandaran kursi. Napasnya memburu, bukan karena sakit kepala, melainkan karena satu kesadaran yang membuat dadanya menegang.
Ia bertemu Maura dalam kondisi terburuk.
“Ahh,” keluh Setya sambil memegang kepalanya.
Setya berjalan ke dapur, menuang segelas air, lalu berhenti. Tangannya gemetar sedikit. Ia meneguk perlahan, lalu menambah satu gelas lagi dan kali ini dengan obat. Pria itu bersandar di counter dapur, menatap kosong ke depan.
“Bapak sebaiknya duduk.”
Suara Maura kembali terngiang dan membuat Setya semakin lelah dan menutup mata. Selama ini, ia membangun reputasi dari kontrol, jarak dan ketakutan orang lain untuk terlalu dekat.
Dan Maura dengan tubuh kecil, suara tenang, dan keberanian yang tidak masuk akal sudah melihatnya tanpa semua itu.
“Brengsek,” makinya pada dirinya sendiri.
Ia mengingat bagaimana tangannya sempat melingkar di pinggang perempuan itu. Setya tidak suka kehilangan kontrol. Setya meneguk air lagi, kali ini lebih keras.
Perkataan Arsen semalam terngiang lagi.
‘Dia nggak mengecil di depan lo.’
Setya menghela napas panjang dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang tidak bereaksi sebagaimana mestinya terhadap dirinya. Dan entah mengapa itu tidak membuatnya ingin menjauh.
“Perempuan itu harus tahu batasnya di mana,” ucap Setya sambil meremat gelasnya.
Kalau saja gelas itu plastik, pasti sudah habis remuk. Sayangnya, gelas itu kaca yang tentunya akan sulit diremukkan.
Lando
“Selamat pagi, Pak,” ucap di seberang sana, Pak Arief.
“Kirimkan saya segala bentuk informasi tentang Maura Preswari. Sekarang juga,” perintah Setya.
Arief memang bukan sekretarisnya, tetapi pria itu yang mengetahui dan memegang segala bentuk informasi tentang dosen muda itu. mengingat pertemuan mereka kebanyakan selalu berurusan terlebih dulu dengan Arief.
Setya ingin tahu riwayat kehidupan, pendidikan dan segalanya tentang perempuan yang berhasil membuatnya hilang kendali.
“Siapa kamu, Maura?”