NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang tidak bisa disebut

Pemandangan di halaman belakang pagi itu seolah menjadi oase di tengahnya gersang hati Elang. Dari balik jendela ruang kerjanya di lantai dua, ia berdiri mematung, menyaksikan sebuah momen yang selama ini ia anggap mustahil untuk kembali.

Di bawah sana, Nura sedang menyiapkan aktivitas sensorik sederhana. Tidak ada alat terapi yang kaku, hanya wadah-wadah berisi air, bisa sabun, dan beberapa bola warna-warni yang mengapung. Nura terlihat sangat lihai mengubah sesi terapi menjadi sebuah permainan yang menyenangkan.

Beberapa kali tawa kecil terdengar samar hingga ke telinga Elang. Itu adalah suara Kanara. Suara yang sudah lama terkubur dalam keheningan.

Melihat wajah putrinya dan senyum hangat Nura yang tidak kunjung pudar, dada Elang terasa hangat sekaligus nyeri pada saat yang sama. Ia memperhatikan bagaimana Kanara menoleh ke arah Nura, menatap gadis itu dengan binar mata yang sangat ia kenali.

Itu adalah tatapan yang dulu Kanara pernah berikan untuk ibunya. Elang memalingkan wajah, tidak sanggup melihat lebih lama. Rasa bersalah datang menghantamnya bertubi-tubi.

Pikirannya melayang pada kenangan lama. Di halaman itu, Kanara dan ibunya sering berbagi tawa. Mereka bermain air hingga basah kuyup. Elang ingat betul bagaimana mereka sering tidak sengaja, atau sengaja, menyemprotkan air padanya.

Dulu, Elang akan menggerutu. Ia merasa terganggu karena harus mengganti pakaian lagi, di tengah tumpukan pekerjaan yang menunggu.

“Kanara hanya mengajakmu bermain,” suara lembut mendiang istrinya kembali terngiang di telinganya. “Bukan mau membuatmu marah.”

Kala itu, Elang hanya mengangguk singkat. Pikirannya sudah terbang ke pekerjaan berikutnya. Ia terlalu sibuk, hingga mengira momen-momen kecil itu bisa menunggu. Kanara bisa menunggu. Namun, ia salah besar.

Elang kembali melihat dua sosok di bawah. Mereka sedang berlari kecil di atas hamparan rumput hijau, melompat riang, menghindari cipratan air.

Ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dari kejauhan. Ada dorongan kuat di dadanya, untuk menjadi bagian dari tawa itu, untuk menebus waktu-waktu yang ia habiskan di balik meja kerja.

Elang melangkah turun, melewati anak tangga dengan debaran jantung yang tidak biasa. Saat pintu kaca menuju halaman belakang digeser, suara tawa Kanara jauh lebih jernih.

Nura adalah orang pertama yang menyadari kehadiran Elang. Ia sedikit tersentak, menghentikan gerakannya yang sedang membuat gelembung sabun. “Eh, Pak Elang?”

Kanara menoleh, langkah kecilnya terhenti, matanya mengerjap melihat sang Ayah. Suasana menjadi sedikit canggung, seakan Elang memasuki dunia rahasia yang bukan miliknya.

“Boleh Ayah ikut?” tanyanya penuh harap pada Kanara.

Kanara diam sejenak, menoleh ke arah Nura seolah minta persetujuan. Nura tersenyum lebar dan mengangguk. “Tentu saja boleh. Sini, ajak Ayah main air juga.”

Dengan ragu, Kanara memberikan bola kecil yang basah pada Elang. Elang menerimanya dengan haru. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Kanara mengizinkannya masuk ke dalam permainannya tanpa rasa takut.

Nura berdiri sedikit menjauh, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu. Ia memperhatikan bagaimana Elang mulai duduk di atas rumput, tidak lagi peduli dengan kemeja kantornya yang mulai basah terkena cipratan air.

“Pak, hati-hati bajunya basah semua,” goda Nura sambil tertawa kecil.

Elang mendongkak, menatap Nura dengan binar mata yang berbeda. “Nggak apa-apa, Nura. Ini hanya baju.”

Nura tertegun. Kalimat itu sederhana namun memiliki arti yang dalam. Di bawah sinar matahari pagi itu, ia melihat sisi lain dari Elang. Bukan seorang direktur yang berwibawa, tapi seorang pria yang sedang berjuang keras untuk kembali menjadi ayah yang utuh.

Dan saat Kanara, tiba-tiba menyiramkan sedikit air ke arah Elang, ia tidak lagi menggerutu tapi tertawa lepas, lalu membalasnya dengan memercikan air dari ujung jarinya.

Diam-diam Nura tersenyum, perlahan-lahan benteng profesional yang dibangunnya terkikis oleh pemandangan indah di hadapannya.

Segera setelah matahari lebih tinggi, ketiganya berhenti bermain.

Nura melangkah ke arah dapur setelah membersihkan diri. Perutnya sejak tadi meronta-ronta minta diisi

Tiba-tiba langkahnya, terhenti di tepat di depan pintu dapur. Ia melihat Kanara sedang duduk di atas bangku kecil, membantu ayahnya mengocok telur di dalam mangkuk.

Kanara melihat kedatangan wanita yang sudah menjadi favoritnya itu. Wajahnya langsung bersinar, ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gi kecilnya.

Elang yang sedang memotong bawang, berhenti sejenak kemudian menoleh ke arah Nura.

Mata mereka bertemu. Di dalam mata Elang banyak kata yang terucap. Nura mengerti. Ia hanya mengangguk perlahan dengan senyum yang penuh makna.

Perut Nura berbunyi lebih kencang dari sebelumnya, memecah keheningan. Malu, ia segera memeluk perutnya dengan kedua tangan.

“Lapar?” tanya Elang dengan nada jenaka.

Nura menunduk dengan pipi memerah.

Elang tertawa lembut. “Duduklah, aku dan Kanara sedang membuatkan sarapan spesial untukmu.”

“Masak apa?” tanya Nura mengangkat kepalanya.

Elang membungkukkan tubuhnya sedikit, berbicara tepat di telinganya. “Nasi goreng… Cin…ta….”

Mata Nura seketika membesar lebar, jantungnya berdetak kencang tak karuan.

Tawa Elang memenuhi ruangan. Semakin hari ia semakin senang menggoda Nura.

***********

Sore harinya di ruang TV, Kanara sedang sedang asyik dengan baloknya, Elang bekerja dengan laptop di sofa, sementara Nura sibuk merapikan mainan yang berserakan.

Tanpa pikir panjang, Nura bertanya santai, “Dulu, sebelum Kak Nura tinggal di sini, kalau Kanara main biasanya ditemenin sama siapa?”

Gerakan Kanara terhenti seketika. Balok jatuh satu per satu. Kanara seolah berhenti bernapas, tidak menangis, tidak juga menutup telinganya, hanya terdiam. Mematung dengan waktu yang cukup lama.

Elang langsung mendongkak dari layar laptopnya. Matanya tajam menatap Nura, memberi isyarat jelas ‘jangan dilanjutkan’

Nura yang menyadari kesalahannya segera meralat dengan lembut. “Eh… tapi kadang-kadang main sendiri juga seru ya?”

Kanara mengangguk kaku, ia mulai kembali menyusun balok, meski tangannya masih gemetar.

Malamnya, Nura menyelinap ke kamar Kanara. Ia memperhatikan wajah polos yang tengah terlelap itu. Napas Kanara teratur, tapi Nura merasakan beban rahasia di balik itu. Nura sadar, ada satu nama yang tidak pernah diucapkan Kanara. Nama yang seharusnya menjadi pusat dunia seorang anak. Dan, itu bukan karena Kanara lupa.

Nura keluar dari kamar, dadanya terasa sesak. Ia ingin mencari udara segar di halaman belakangg

“Nura…,” Elang datang dari belakang. “Syq akan sangat berterima kasih kalau kamu tidak menggali lebih jauh.”

Nura menoleh, mendapati sorot mata Elang yang penuh permohonan. Tidak ada nada memerintah, hanya luka.

“Saya mengerti,” sahut Nura tulus. “Saya tidak akan berbuat sesuatu yang bisa menyakiti Kanara.”

Elang menarik napas panjang, bahunya merosot lemas. “Saya tahu kamu hanya ingin membantu. Hanya saja… ada satu nama yang kalau disebutkan, bisa membuat Kanara seolah… menghilang.”

Untuk kedua kalinya dari sejak di rumah sakit, Nura melihat mata pria itu berkaca-kaca.Elang tampah rapuh jika membicarakan luka putrinya.

“Baiklah,” kata Nura. “Saya akan berhenti di sini.”

Elang memaksakan senyum tipis, sebuah ungkapan yang tulus.

Di balik kelegaan itu, Nura merenung, Kanara selalu menyebut kata ‘Ayah’ dengan jelas, meskipun sesekali terdengar ragu, hampir berbisik. Ia bisa memanggil ‘Kak Nura' dengan nada riang. Namun, ada satu nama yang telah terhapus dari kosa katanya. Sebuah nama yang yang begitu menyakitkan hingga Kanara memilih tidak mengenalnya lagi.

1
Ayank~Oma
Jaga jarak, jaga hatimu Nura, manusia kayak gitu sulit untuk berubah. Jangan harap menjalani hubungan serius dengan Elang akan berjalan mulus tanpa kendala.
Ayank~Oma
Jadi curiga sama bapaknya sendiri. Jangan jangan Darmawan ingin menghancurkan anaknya sendiri 🤔
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
seneng bgt interaksi semakin membaik 🥺
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
pak, apakah ini sebuah kecemburuan? /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
duh bener2 hrs diperhatikan inimah, semoga tepat keputusan nura buat stay dirumah elang
PrettyDuck
elang ini mungkin tipe yang susah ngungkapin rasa sayang ya, makanya kanara susah deket sama dia 🥲
PrettyDuck
yaudah, ajak pacaran dulu minimal /Chuckle/
-Thiea-
Nura itu wanita istimewa mas. percayalah.🤭
-Thiea-
sekarang emang belum jadi siapa-siapa. tapi nanti siapa yang tahu🤭
Ramun🍓😈
siapa iblis itu. kok aku merasa itu ayahnya. Krena keknya mencurigakan cara bicaranya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
memang tugasnya. tapi, setidaknya kamu bisa melihat. hanya Nura yang bisa membuat Kanara nyaman. eh /Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
saking sunyinya. bahkan elang merindukan kekacauan yang di buat oleh anaknya /Whimper/
Alessandro
wahhh..... wah...... babak baru, nih... bs berlanjut
Alessandro
org2 dg panic attack bgini.. bs hidup dg normal gasi?
kasian kl tiba2 histeris
Ramun🍓😈
Kita kan tidak bisa mencegah kemana hati kita akan berlayar Nura😩. positif thinking saja, smoga pak Elang juga menyukaimu
WDY
cie cie mulai tumbuh ni kayaknya benih benih cinta🤭🤭🤭
WDY
keluarga cemara 😄😄😄😄 dah lah jadiin terus Thor mereka
Meee
Hm. Kayaknya mereka emang harus jadi satu keluarga beneran, deh. Soalnya Kanara keknya bakal makin parah traumanya semisal dipisah dari Nura. Sedangkan untuk kerja terus-terusan kan gak mungkin juga. Mumpung sama-sama single, ya... yaudah. Marketing KUA berhasil tandanya 🤣
Meee
Mungkin karena itu aku gabisa jadi kek Nura. Soalnya sarannya Zoya terasa menggiurkan untuk dicoba 🤣
An_ Nas ywa
Hallo Author ... aku baru bergabung d platform ini krn mengikuti Author kesayanganku dr platform F. Yang akhirnya aku menemukan 1 cerita yg membuat aku tertarik utk baca. Tentang Nura, Elang & Kanara. Smp Akhir nya mulai baca Karya Author yg lain ...
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍
Nuri_cha: waaah, terima kasih banyak ya kak 🥺🙏
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!