Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9.
“Itu rumah kamu, kan?” tanyanya sambil pandangan matanya ke arah sebuah rumah tua dengan lampu beranda menyala redup.
Rizky sudah tahu dari cerita karyawan karyawan Bu Wiwid. Di desa, suatu kabar memang cepat menyebar. Kabar Pak Baskoro anak almarhum Mbah Siswo, yang bangkrut usahanya di ibu kota.. Lalu pulang ke desa. Ke rumah tua yang sudah bertahun tahun dibiarkan kosong.
“Iya, Mas,” jawab Aurely lirih. Ada perasaan malu pada rumah jeleknya.
Motor berhenti pelan di depan rumah kayu. Aurely melepaskan pegangannya, ada rasa enggan yang tiba-tiba muncul. Ia turun dari motor dengan hati-hati.
“Terima kasih, Mas,” ucapnya tulus. “Kalau nggak ada Mas, aku mungkin masih nunggu di pasar.”
Rizky menatapnya sejenak.
“Sama-sama.” Ucap Rizky pelan sambil tersenyum, “Mobil Catering kembali ke sini, kadang sore tapi kadang malam, tidak pasti.”
Aurely mengangguk. Namun sesaat pintu rumah terbuka. Muncul sosok Pak Baskoro yang memakai jaket dan celana panjang..
“Rel, syukur.. kamu sudah pulang. Ayah baru mau nyusul ke pasar.” Ucap Pak Baskoro menatap Aurely lalu Rizky yang masih duduk di atas jok motor.
Tidak lama Ibunya Aurely juga keluar dari rumah.. Wajahnya kini terlihat sangat lega.. ”Syukurlah.. kamu sudah pulang Nak.. dan untung Ayah belum berangkat..” ucapnya tersenyum menatap Aurely lalu Rizky.
“Iya Yah, Bun. Kalau Ayah berangkat ke pasar bisa selisih di jalan.”
Rizky tersenyum dan mengangguk sopan pada Pak Baskoro dan istrinya, “Tadi Mbak Aurely mau numpang mobil catering Pak, tapi mobil masih mengantar pesanan yang mendadak.”
Pak Baskoro tersenyum ke arah Rizky, “Syukurlah kalau tidak ada apa apa Mas. Kami sangat cemas, apalagi Aurely tidak bawa ponsel.” Ucap Pak Baskoro melangkah mendekat, “Terima kasih Mas, sudah mengantar anak saya. Dan maaf selalu merepotkan.”
“Sama sama Pak. Tidak repot kok, rumah saya tidak jauh dari sini.” Ucap Rizky. Lalu pamit..
Namun sebelum Rizky kembali menyalakan mesin motornya, terdengar bunyi dering ponselnya.. Rizky cepat cepat meraih ponsel nya..
“Mama.” Gumam Rizky dan cepat cepat menggeser tombol hijau.
“Riz, kamu di mana? Kata orang kios kamu sudah pulang. Cepat ke rumah tante Wiwid, laporan sudah ditunggu.. Dan jemput Mama sekarang!” suara Mamanya Rizky di balik ponsel, tanpa jeda.
“Iya Ma, ini juga sudah mau sampai..” jawab Rizky. Lalu panggilan suara berakhir.
Aurely dan kedua orang tuanya masih berdiri di halaman. Wajah mereka terlihat menyimpan banyak rasa: lega, cemas, sekaligus penasaran. Aurely melirik Rizky yang masih menatap layar ponselnya sesaat sebelum memasukkannya kembali ke saku jaket.
“Mas mau langsung pergi?” tanya Pak Baskoro ramah, meski nada suaranya masih terdengar letih.
“Maaf ya Mas..” ucap Ibunya Aurely, yang mendengar sayup sayup suara Mamanya Rizky di balik ponsel.
“Iya, Pak. Bu.. Ada urusan sebentar,” jawab Rizky sambil tersenyum sopan. Ia kemudian menoleh pada Aurely. “Sudah ya, Mbak.”
Aurely mengangguk. “Iya Mas, hati hati... terima kasih.” Ucap Aurely dengan bibir tersenyum dan sorot mata mulai berbinar.
Rizky menyalakan motor. Suara mesinnya memecah keheningan malam desa yang mulai turun. Lampu motor menjauh perlahan, hingga akhirnya hanya menyisakan jalan tanah yang kembali gelap.
Beberapa detik kemudian, Ibunya Aurely menggenggam tangan putrinya erat-erat.
“Kamu bikin Bunda khawatir, Rel,” ucapnya pelan.
Aurely menunduk. “Aku kira nggak lama, Bun. Ternyata lama... mau naik ojek agak agak takut hari sudah gelap ….”
Pak Baskoro menghela napas panjang. “Sudah, yang penting kamu selamat sampai rumah.”
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah kayu itu. Lampu ruang tamu menyala redup, memperlihatkan perabot lama yang masih setia menempati tempatnya. Rumah itu memang tua, tapi hangat.. setidaknya malam ini.
Langkah Aurely masih sedikit terpincang, tapi wajahnya berbeda. Meskipun wajah itu lelah karena seharian di pasar. Kusut karena belum mandi dan tersapu oleh angin malam.. Tapi tidak lagi sekusam kemarin. Ada sesuatu di matanya, tak sepenuhnya yakin, tapi hidup. Dan berbinar..
Ibunya menatap dirinya, “Mandi sana habis itu kita makan.. Ayah dan Bunda belum makan, menunggu kamu.”
“Bun…” panggilnya pelan.
Ibunya menoleh. “Kenapa, Rel? Kakinya masih sakit?”
Aurely mengangguk. Lalu menelan ludah.
“Aku… mau bilang sesuatu.”
Ayahnya ikut menoleh. Wajahnya serius, seolah bersiap menerima kabar buruk.
Aurely melangkah ke kursi, duduk di bangku kayu. Tangannya saling meremas.
“Itu tadi Mas Rizky orang yang nolongin aku kemarin,” katanya terbata.
Ibunya tersenyum samar. “Yang punya usaha catering itu?” Ayah tadi sudah cerita ke Bunda.”
Aurely mengangguk.
“Tantenya yang punya usaha catering, Bun. Namanya Bu Widowati.”
Hening sebentar.
“Beliau… nawarin aku kerja, Yah… Bun. Mulai besok aku sudah kerja di sana.” Ucap Aurely dengan bibir tersenyum lebar.
Ibunya terdiam. Ayahnya mengangkat wajahnya perlahan. “Kerja?” tanya Ayahnya hati-hati. “Bukannya kamu baru belajar satu hari?”
Aurely mengangguk lagi.
“Iya Yah.. sudah boleh kerja mulai besok. Bantu-bantu. Bungkus makanan, jaga etalase… hal-hal kecil dulu kata Bu Wiwid.”
Ibunya mendekat, menatap lekat wajah Aurely. “Kamu… mau?”
Aurely menghela napas panjang...
“Awalnya aku takut Bun.. Malu. Aku kan belum pernah kerja.. takut juga dikira sok sokan anak kota...”
Ia mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca.
“Tapi… aku capek, terus ngerasa jadi beban. Aku kasihan pada Ayah. Aku mau belajar berdiri sendiri.” Ucap Aurely lirih, air matanya mulai meleleh.. “Dan Bu Wiwid baik banget.. nggak marah waktu tadi aku salah.. Aku sudah mantap kerja di sana mulai besok.”
Ayahnya menunduk, lalu tersenyum kecil. Senyum yang campur aduk antara bangga dan haru.
“Ayah nggak pernah minta kamu sejauh ini, Rel,” ucapnya lirih. “Tapi kalau ini keputusan kamu… Ayah bangga.”
Ibunya memeluk Aurely erat.
“Kerja itu bukan soal tempatnya,” bisiknya. “Tapi keberanianmu melangkah.”
Aurely menangis dalam pelukan itu. Bukan tangis putus asa, melainkan tangis lega. Ibunya menatap wajah Aurely..
“Dan pesan Bunda.. hati hati ya.. jaga sikap kamu, jaga bicara kamu.. “ ucap Ibunya sambil mengusap air mata Aurely.. “Dan jaga hati kamu.. agar tak lagi sakit karena ditinggalkan..” ucap Ibunya pelan namun serius..
Perasaan hati Sang Ibu yang peka.. takut jika anak gadisnya, hatinya akan kembali patah dan terluka untuk kedua kalinya..
Sementara itu motor Rizky, sudah memasuki komplek perumahan sederhana di desa itu. Motor melaju pelan pelan.. lalu berhenti di rumah megah paling pojok di pinggir kali.. Orang orang yang baru melihat tidak pernah menyangka jika rumah itu dulu adalah rumah terjelek.. dikontrakkan dengan harga murah saja tidak laku.
Rizky memarkirkan motor di dekat pintu pagar. Sesaat dari pintu rumah.. Muncul dua bocil berlarian. Menyambut Rizky.. Tidak ada tawa dan tidak ada senyum lebar di bibir mungil mereka. Tidak ada pula teriakan gegap gempita menyambut kedatangan Rizky.. Namun yang ada justru ekspresi panik di wajah wajah imut itu..
“Mas Rizky... ada yang lebih galak loh...” suara lirih Elang, saat Rizky sudah masuk pintu gerbang.. bagai memberi informasi rahasia yang sangat penting.
“Iya Mas, hati hati.. tahan napas...” suara lirih Elin dan ia pun memberi contoh mengambil napas panjang..
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting