Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Mafia Terbangun
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela kecil kamar kos memaksa Galen Alonso membuka matanya. Pandangannya yang tajam langsung menyapu sekeliling ruangan asing itu. Dinding putih kusam, lemari plastik, dan kasur tipis di lantai. Alis tebalnya bertaut dalam kebingungan.
Di mana aku? Dan siapa dia?
Pandangannya terhenti pada sosok mungil yang meringkuk di lantai, tertidur lelap dengan kepala bersandar di pinggiran sofa tempatnya berbaring. Gadis itu... dia yang semalam menolongnya di gang sempit.
Tiba-tiba, Rea menggeliat dan terbangun. Matanya yang bulat langsung bertemu pandang dengan mata Galen yang dingin.
"Pamannnn! Paman sudah bangun?" seru Rea, langsung berdiri tegak dengan gerakan kikuk khasnya.
Galen langsung duduk, meringis sedikit merasakan tarikan di lukanya, namun ekspresinya tetap datar dan mengintimidasi. "Siapa anda?" tanyanya dengan suara serak dan berat, penuh otoritas yang biasa ia gunakan di markasnya.
Rea yang lugu tidak gentar sama sekali oleh aura menakutkan itu. Ia malah tersenyum manis. "Emhhh, perkenalkan Paman, saya Rea Adelia. Tadi malam Paman bersimbah darah, jadi saya bantu Paman."
Rea mendekat satu langkah, rasa ingin tahunya muncul. "Oh ya, kenapa Paman bisa begitu terluka? Paman benar-benar dirampok, ya?"
Galen menatap gadis di depannya tanpa berkedip. Dirampok? Sungguh polos pemikiran gadis ini. Galen, sang pemimpin mafia, dirampok? Ia hampir saja tertawa sinis, jika saja rasa sakit di perutnya tidak mengingatkannya pada situasi genting yang sedang ia hadapi.
"Bukan urusanmu," jawab Galen singkat, dingin, dan penuh penekanan. Tatapannya seolah menyuruh Rea untuk tidak ikut campur.
Galen menatap Rea dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia adalah pemimpin mafia yang sedang diburu oleh puluhan pria bersenjata. Jika dia melangkah keluar sekarang, musuh-musuhnya pasti sudah menyebar mata-mata di setiap sudut kota untuk menghabisinya.
"Ohh... tidak apa-apa kalau Paman tidak mau cerita," sahut Rea dengan nada santai, seolah tidak terganggu dengan sikap dingin Galen. "Tapi, apa Paman masih ingin di sini?"
Galen terdiam sejenak. Otaknya yang tajam langsung berputar mencari alasan. Dia butuh tempat persembunyian sampai luka-lukanya pulih dan anak buah setianya menemukannya.
"Saya... tidak punya rumah," jawab Galen singkat, suaranya terdengar berat dan rendah. Ia sebenarnya hanya ingin memberi alasan agar bisa tetap tinggal, tapi reaksi Rea sungguh di luar dugaan.
Mata Rea membulat sempurna, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut. "Astaga! Jadi Paman orang jalanan ya?"
Rea menatap Galen dengan tatapan yang sangat iba, seolah Galen adalah gelandangan malang yang tidak punya tempat berteduh. "Kasihan sekali... Paman setampan ini tapi tidak punya rumah."
Galen hampir saja tersedak mendengar sebutan "orang jalanan". Dia, pria yang memiliki mansion mewah dan puluhan aset properti, kini disangka tunawisma oleh gadis mungil ini. Namun, Galen memutuskan untuk diam dan membiarkan kesalahpahaman itu terjadi.
"Kalau begitu, Paman tinggal di sini saja dulu sampai sembuh," lanjut Rea dengan semangat, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya berbagi kamar kos sekecil itu. "Aku juga baru sampai di kota ini, Paman. Kita bisa jadi teman!"
"Emm, kalau gitu Rea cari sarapan dulu ya," pamit Rea semangat sambil menyambar dompet kecilnya.
Begitu pintu tertutup, Galen menghela napas panjang. Ia meringis menahan perih saat berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan untuk membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di tubuhnya.
Sementara itu, di sepanjang jalan, Rea tidak berhenti bergumam sendiri, "Ya ampun, padahal tampan tapi kasihan banget nasibnya." Ia akhirnya berhenti di sebuah gerobak dan membeli dua bungkus ketoprak.
Dengan riang, Rea kembali ke kosannya. Namun, begitu ia membuka pintu...
"Paman, Rea bawa makan—" Kalimatnya terputus. Rea ternganga lebar. Galen baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan perut berotot yang penuh bekas luka.
"Ya ampun, Paman!" Rea langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Namun, karena dasarnya ceroboh dan penasaran, ia merenggangkan sedikit jarinya untuk mengintip. "Paman... kenapa tidak pakai baju dulu?"
Galen yang melihat tingkah konyol gadis itu hanya mendengus dingin. "Baju saya kotor terkena darah semalam. Kamu mau saya pakai baju merah itu lagi?"
Rea tersentak, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Ah, benar juga! Tunggu, Rea cari baju dulu di koper... Eh, tapi Rea tidak punya baju laki-laki!" Rea panik sendiri, berputar-putar di tempatnya sambil tetap berusaha tidak menatap tubuh Galen yang terlalu atletis untuk ukuran "orang jalanan".
"Emm... Paman, saya ada baju kaos yang agak longgar, tapi warnanya pink. Pakai itu dulu ya, nanti kalau Rea sudah dapat gaji pertama, Rea belikan yang baru," ucap Rea sambil menyodorkan kaos berwarna pink cerah dengan gambar kucing kecil di pojoknya.
Galen menatap kaos itu dengan tatapan tak percaya. Dia, seorang pemimpin mafia yang ditakuti, harus memakai kaos pink bergambar kucing? Namun, melihat bajunya yang penuh darah sudah tidak layak pakai, ia hanya mengangguk singkat dan mengambil kaos itu dari tangan Rea.
Setelah Galen berganti pakaian (yang terlihat sangat sempit di tubuh kekarnya), Rea mengajaknya duduk untuk sarapan.
"Paman, makan ini ya," Rea menyodorkan sebungkus ketoprak yang masih hangat.
Galen memandangi bungkusan ketoprak itu dengan dahi berkerut. Seumur hidupnya, ia hanya makan di restoran bintang lima atau makanan yang disiapkan koki pribadi. Ia belum pernah melihat makanan yang dibungkus kertas seperti ini.
Melihat keraguan di wajah Galen, Rea merasa sangat iba. "Paman tidak apa-apa, makan saja. Ini enak kok."
Rea lalu menghela napas panjang, menatap Galen dengan pandangan sangat sedih. "Paman pasti belum pernah makan yang begini ya? Selama ini pasti Paman hanya makan dari sisa-sisa di tong sampah ya? Kasihan sekali Paman..."
Galen yang baru saja menyuap sesendok bumbu kacang langsung tersedak. "Tong sampah?" geramnya dengan suara rendah.
"Iya, kan kata Paman tadi Paman tidak punya rumah. Rea janji, selama Paman di sini, Rea tidak akan biarkan Paman kelaparan lagi!" Rea mengepalkan tangannya semangat, sama sekali tidak menyadari kalau wajah Galen sekarang sudah merah padam antara menahan kesal dan malu.