Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolong Tersembunyi
Dua hari telah berlalu sejak pintu jati itu berdentum menutup, mengunci Shabiya dalam kesunyian yang mencekik. Kamar utama yang megah itu kini tak lebih dari sebuah akuarium kaca di mana Shabiya menjadi spesimen yang perlahan layu. Galen benar-benar menjalankan ancamannya. Tidak ada komunikasi, tidak ada lukisan, hanya ada nampan perak berisi makanan yang diantarkan oleh Arsen secara rutin tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Shabiya duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur yang terlalu luas untuk satu orang. Ia menolak menyentuh sup asparagus yang kini mendingin. Matanya yang sembap menatap pecahan cermin yang masih berserakan di sudut ruangan, serpihan identitasnya yang hancur. Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah suara halus terdengar dari balik pintu balkon yang terkunci.
Ketuk. Ketuk. Ketuk.
Ritmenya tidak teratur, bukan seperti ketukan pengawal yang tegas. Shabiya merangkak menuju pintu kaca balkon. Di luar sana, di bawah siraman hujan gerimis yang membuat suasana semakin kelam, berdiri sosok yang tak ia duga.
Rigel Akhtar Saharsa.
Sepupu Galen itu berdiri di balkon —yang entah bagaimana caranya ia capai tanpa memicu alarm— mengenakan jaket hitam yang basah kuyup. Ia memberi isyarat agar Shabiya mundur. Dengan sebuah alat kecil, Rigel mengutak-atik panel pengunci ganda elektronik di pintu kaca tersebut. Detik berikutnya, lampu indikator berubah dari merah menjadi hijau.
Klik.
Pintu terbuka. Rigel masuk dengan napas memburu, segera menutup kembali tirai beludru agar bayangannya tidak terlihat dari bawah.
"Kau gila?" bisik Shabiya, suaranya parau karena jarang digunakan. "Jika Galen tahu kau di sini, dia akan menghancurkanmu, Rigel."
Rigel menyeka air hujan dari wajahnya. Senyum miringnya yang biasa menghiasi wajah tampannya kini menghilang, digantikan oleh gurat kecemasan yang dalam. "Galen sudah menghancurkan banyak hal, Shabiya. Aku tidak ingin melihatnya menghancurkanmu juga. Aku melihatmu di pesta tempo hari... kau tampak seperti orang mati yang berjalan."
Rigel merogoh bagian dalam jaketnya yang kedap air dan mengeluarkan sebuah map plastik kecil yang tersegel rapat. Ia menyerahkannya pada Shabiya seolah itu adalah sebuah granat yang siap meledak.
"Apa ini?" tanya Shabiya, tangannya gemetar.
"Kebenaran yang tidak akan pernah diceritakan oleh Galen atau Arsen padamu," jawab Rigel. "Aku tahu kau mencari tahu tentang Thana. Kau harus tahu siapa wanita yang wajahnya kau 'pinjam' itu."
Shabiya membuka map itu dengan terburu-buru. Di dalamnya terdapat potongan laporan polisi yang tidak pernah dipublikasikan, hasil otopsi, dan foto-foto lama dari lokasi kejadian yang berbeda dengan apa yang ia lihat di ruang kerja Galen.
"Galen bilang dia mati dalam kebakaran karena kecelakaan kargo," Shabiya membaca baris demi baris laporan itu.
"Itu adalah versi yang indah bagi egonya," sela Rigel, suaranya rendah dan tajam. "Thana tidak mati karena kecelakaan, Shabiya. Dia mati karena dia mencoba melarikan diri dari Galen. Malam itu, lima tahun lalu, Thana membakar apartemen persembunyiannya sendiri. Dia lebih memilih menjadi abu daripada kembali ke pelukan Galen yang posesif. Dia tidak terjebak... dia menjebak dirinya sendiri agar bebas."
Shabiya menutup mulutnya, menahan jeritan yang nyaris lolos. Gambar yang selama ini ia bangun tentang cinta tragis Galen hancur berkeping-keping. Ternyata, kebaikan Galen yang sesekali muncul adalah bentuk penebusan dosa atas perannya sebagai penahan kebebasan bagi Thana.
"Lalu kenapa dia mencariku?" tanya Shabiya dengan suara bergetar.
"Karena Galen adalah seorang penguasa yang gagal membangun satu proyek besarnya, yaitu kesetiaan Thana," Rigel menatap langsung ke mata Shabiya. "Dia menemukanmu dan mengira Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk 'memperbaiki' kesalahannya. Dia ingin membuatmu menjadi Thana yang patuh, Thana yang tidak akan pernah menyalakan api untuk kabur. Kau bukan kekasih baginya, Shabiya. Kau adalah proyek renovasi untuk harga dirinya yang terluka."
Shabiya meremas kertas-kertas itu. Rasa iba yang sempat ia rasakan untuk Galen pada malam pria itu mabuk kini berubah menjadi ngeri yang murni. Pria yang tidur di sampingnya adalah seorang monster yang telah menyebabkan kematian wanita yang dicintainya, dan kini monster itu sedang mengulangi pola yang sama padanya.
"Kenapa kau membantuku, Rigel? Bukankah kau keluarganya?"
Rigel terdiam sejenak, menatap ke arah pintu kamar yang terkunci. "Karena aku mencintai Thana, Shabiya. Dulu. Dan aku gagal menyelamatkannya karena aku terlalu takut pada Galen. Aku tidak ingin dihantui oleh rasa bersalah yang sama dua kali. Melihatmu di dalam rumah ini seperti melihat Thana yang disiksa kembali."
Rigel mengeluarkan sebuah ponsel kecil dari dalam saku jaketnya, ponsel model lama yang tidak memiliki pelacak GPS canggih. "Gunakan ini. Di dalamnya hanya ada satu nomor, yaitu nomorku. Jika ada kesempatan, hubungi aku. Kita harus mengeluarkanmu dari sini sebelum Galen memutuskan untuk 'mengunci' memori ini selamanya."
"Bagaimana dengan ayahku?"
"Aku sedang mengurusnya. Aku sudah mulai memindahkan aset-aset rahasia untuk menutupi hutang ayahmu tanpa sepengetahuan Galen. Tapi itu butuh waktu," Rigel berdiri, bersiap untuk kembali ke balkon. "Ingat, Shabiya. Jangan biarkan dia tahu kau sudah tahu. Tetaplah menjadi 'boneka' itu untuk beberapa hari lagi. Mainkan peranmu sampai aku memberikan tanda."
Setelah Rigel menghilang kembali ke dalam kegelapan hujan, Shabiya menyembunyikan map dan ponsel itu di bawah panel kayu lantai yang longgar di bawah tempat tidurnya. Ia duduk kembali di lantai, menatap pintu kamar dengan pandangan yang kini jauh lebih dingin dan tajam.
Rasa takutnya masih ada, namun kini ia memiliki senjata. Pengetahuan.
Ketika Arsen datang setengah jam kemudian untuk mengambil nampan makan malam, ia mendapati Shabiya sedang duduk di kursi rias, perlahan menyisir rambut panjangnya, persis seperti yang diinginkan Galen. Shabiya bahkan menoleh dan memberikan senyum tipis yang kosong.
"Tolong sampaikan pada Tuan Galen," ucap Shabiya, suaranya tenang dan terkendali. "Aku ingin bertemu dengannya. Aku... aku sudah mengerti kesalahanku."
Arsen sedikit terkejut, namun ia membungkuk hormat. "Akan saya sampaikan, Nona."
Begitu Arsen pergi, Shabiya menatap pantulannya di pecahan cermin yang tersisa. Ia tidak lagi melihat Shabiya yang rapuh, tidak pula melihat Thana yang putus asa. Ia melihat seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa di dalam rumah yang penuh kebohongan ini, kejujuran adalah kelemahan, dan akting adalah kunci untuk bertahan hidup.
Galen mengira ia adalah sang penguasa yang memegang kendali atas setiap keputusan di duniaku, pikir Shabiya. Tapi dia lupa bahwa bangunan yang paling megah sekalipun bisa runtuh jika fondasinya mulai dirusak oleh rayap yang tidak terlihat.
Pintu kamar itu mungkin masih terkunci, namun di dalam kepala Shabiya, kunci-kunci rahasia Galen baru saja ia patahkan satu per satu. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Shabiya tidak akan hanya menjadi bayangan. Ia akan menjadi api yang tidak sempat dipadamkan Galen lima tahun yang lalu.
baru mulai... ky'a seru