Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mungkin
"Ha, nggak mungkin banget Pak. Mana mungkin si Upik Abu itu yang punya semua kontrakan ini."
"Kenapa nggak mungkin sih Mbak? Tidak hanya kontrakan ini saja kok. Kosan yang itu juga punya Mbak Perlita. Makanya kosan sama kontrakan ini satu lokasi Mbak, pagarnya aja masih nyatu Mbak," ucap Pak Amir sambil menunjuk ke arah kosan milik Perlita.
Ariana sudah tidak bisa menopang tubuhnya mendengar fakta yang baru saja dia ketahui. Untung saja Vito dengan sigap menangkap tubuh Ariana yang akan jatuh ke tanah.
"Sayang, ini pasti cuma mimpi kan?" tanya Ariana sambil menatap Vito. Ariana masih berusaha untuk tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dirinya tahu. Vito sebenarnya juga terkejut dengan fakta tersebut, tapi Vito lebih bisa menguasai dirinya.
"Mbak nggak apa-apa?" tanya Pak Amir.
"Nggak apa-apa kok Pak. Bapak bisa kembali bekerja kok. Istri saya biar saya yang urus."
Pak Amir langsung pergi dari sana dengan menggelengkan kepalanya yang tidak habis pikir dengan respon salah satu penyewa kontrakan milik majikannya.
Vito lalu membawa Ariana masuk ke dalam rumahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu sayang,"kata Vito sambil merebahkan tubuh Ariana di dalam kamarnya yang beralasan kasur lantai yang tidak terlalu tebal.
"Sayang, ini nggak mungkin kan? Dari mana coba si Perlita ini dapat uang sebanyak ini? Kontrakan dan kosan seluas ini tidak sedikit loh modalnya." Ujar Ariana yang masih saja tidak percaya dengan fakta yang ada.
"Jangan-jangan kamu udah tahu kalau semua ini adalah milik Perlita? Lalu kamu ingin mendekati Perlita. Pasti begitu kan?" tanya Ariana sambil menatap curiga ke arah suaminya.
"Enggak lah sayang. Aku kan cintanya sama kamu. Lagian aku juga sudah menikah sama kamu, jadi mana mungkin aku memikirkan wanita lain. Aku juga baru tahu kalau ternyata Perlita memiliki kosan dan kontrakan. Malahan aku juga kaget banget setelah mendengar kenyataan ini. Yang aku tahu Perlita hanya punya satu rumah dan satu mobil."
Setelah mengetahui semuanya, Vito tentu merasa sangat menyesal telah menghianati Perlita yang ternyata adalah perempuan yang mapan.
"Apa? Satu mobil sayang? Jadi Perlita juga punya mobil?"
"Iya sayang, dia memang punya mobil. Aku kira kamu juga tahu akan hal ini. Dulu mobilnya itu memang sangat jarang di gunakan."
"Sayang, ini nggak bisa dibiarin. Aku harus bisa merebut semua milik Perlita. Aku akan minta ke Mama dan Papa untuk merebut semua yang dimiliki oleh Perlita. Si Upik Abu itu nggak pantes buat memiliki semua ini. Aku baru pantas memiliki semua ini."
Ariana sangat iri dan merasa sakit hati dengan semua yang dimiliki oleh Perlita.
"Kalau aku sih nggak yakin kalau Mama kamu bakalan mampu meminta semua milik Perlita. Secara ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Rumah milik Perlita saja Mama kamu nggak mampu buat memintanya kan?"
"Arrrrrggggggggghh, kenapa sekarang si Upik Abu itu susah banget di atur sih? Padahal dulu dia selalu nurut apa kata Mama dan Papa. Dulu apapun yang dibeli oleh Perlita aku selalu bisa merebutnya."
Ariana kesel sendiri dengan Perlita yang sekarang sudah berani membangkang.
"Karena Perlita sudah mampu berdiri di kakinya sendiri, makanya dia berani melawan ke orang tua kamu."
"Aku nggak terima sayang, aku nggak terima kalau si Upik Abu itu sekaya dan sesukses ini. Aku harus selalu berada di atas dia sayang."
Ariana tidak terima dengan Perlita yang jauh lebih unggul dari dirinya. Dari kecil Ariana selalu menganggap Perlita saingannya.
"Tapi memang itu lah faktanya, kalau Perlita memang jauh lebih unggul dari kamu. Perlita itu punya otak yang cerdas. Makanya dia dengan mudah sukses di usianya yang masih sangat muda ini."
"Kamu berani memuji si Upik Abu di depan aku sayang?"tanya Ariana yang semakin emosi saja mendengar suaminya yang memuji Perlita.
"Tapi itulah kenyataannya Riana, karena aku sudah bersama dia sejak SMA. Kamu kan juga tahu kalau sejak SD Perlita ini bahkan selalu juara umum sampai dia SMA. Hanya saja nasib baik saat lulus SMA nggak berpihak ke dia. Dulu Perlita ingin sekali masuk ke fakultas kedokteran seperti aku tapi kedua orang tua kamu menolak untuk membiayai kuliahnya sehingga Perlita memilih untuk kuliah sambil usaha."
Vito mengingat saat Perlita sangat kecewa dengan penolakan orang tuanya untuk membiayai kuliahnya.
Sejak Sekolah Dasar Perlita memang selalu juara umum sampai jenjang SMA tapi prestasi tersebut selalu akan menjadi boomerang bagi Perlita. Setiap Perlita juara maka Mama dan Papa nya akan memarahi Perlita karena saat itu Ariana tidak terima dengan pencapaian adiknya itu. Ariana akan menangis dan tantrum sepanjang hari karena hal tersebut. Sehingga kedua orang tua mereka akan memukul Perlita yang membuat Ariana menjadi tenang dan berhenti menangis.
○○○○○○○○○○
"Kamu kenapa sih? Pulang-pulang kok manyun begitu? Dari mana sih Riana? Pergi pake nggak bilang sama Mama dan Papa. Mana ponsel kamu dihubungi nggak aktif lagi." Tanya Diana ketika Ariana masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Ariana menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu dan menatap Mamanya yang bingung melihat tingkah dirinya.
"Hufftt, aku lagi kesal dan marah saat ini Ma."
"Memangnya marah karena apa?" Tanya Diana lagi dan duduk di hadapan Ariana.
"Si Perlita ternyata punya kosan dan kontrakan Ma. Mana kosan dan kontrakannya banyak lagi Ma. Kosannya saja terdiri dari tiga lantai. Yang lantai satu mungkin kamarnya ada dua puluhan gitu deh Ma, soalnya memang bangunannya itu terlihat luas. Begitu juga dengan kontrakannya Ma, entah berapa puluh pintu yang dia punya. Ariana rasanya nggak terima Ma. Berarti selama ini kita udah dibohongin oleh Perlita Ma. Apa Mama dan Papa tahu akan hal ini?"
"Mana Mama tahu Riana, tapi mana mungkin sih Riana. Mana mungkin Perlita yang cuma pedagang pakaian kecil punya kosan dan kontrakan sebanyak itu. Rasanya mustahil lah."
Diana tentu tidak percaya dengan ucapan putri sulungnya itu.
"Awalnya aku juga nggak percaya Ma, ini aku baru dari kontrakan milik Perlita loh Ma."
"Ngapain kamu ke sana?"
"Vito sekarang kan ngontrak di sana Ma."
"Kamu mau hidup susah dengan suami kere kamu itu ha?"
Diana tentu langsung kesal dengan Ariana.
"Kok Mama malah ngomong gitu sih? Vito itu suami aku Ma. Calon ayah dari anak yang aku kandung. Aku yang lagi hamil begini tentu ingin selalu berada di samping suami Ma. Mama kayak nggak pernah hamil saja. Dulu Mama juga pasti seperti aku. Tidak mau jauh-jauh dari suami saat sedang hamil."
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu