Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Cantik yang Mematikan
Rasa bosan adalah musuh terbesar Kenzo setelah Gacha. Untuk membunuh waktu, ia memutuskan berjalan-jalan ke Kota Awan Merah sendirian, meninggalkan Ling Yue yang sibuk mengajari Lin-er menulis dan Xiao Mao yang tertidur di bawah kulkas.
Kenzo menyusuri lorong-lorong kota dengan tangan di saku, tatapannya menyapu sekitar dengan malas. "Dunia ini terlalu bising, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar menarik." gumamnya.
BUGH! DUGH! BRAKK!
Suara benturan fisik dan dentingan senjata tajam terdengar dari sebuah gang luas di dekat pasar pusat. Kenzo menghentikan langkahnya, telinganya menangkap suara makian yang penuh amarah. Dengan langkah santai, ia berjalan menuju sumber suara.
Di sana, dua orang pemuda berpakaian mewah khas murid sekte kaya sedang bertarung hebat. Energi Qi berterbangan, menghancurkan genteng dan tong-tong kayu di sekitar mereka.
"Jangan dekati Feng Xi lagi, keparat! Dia milikku!" teriak pemuda berbaju hijau.
"Justru kau yang harus sadar diri! Feng Xi hanya menyukai pria kuat seperti aku!" balas pemuda berbaju merah sambil mengayunkan pedangnya.
Kenzo tidak melerai. Ia justru mencari tumpukan karpet gulung yang tak terpakai, duduk di atasnya, dan menonton pertunjukan itu seolah-olah sedang di bioskop. Matanya beralih ke seorang wanita yang berdiri di pojok gang, memperhatikan kedua pemuda itu dengan wajah yang dibuat-buat cemas.
"Benar-benar bodoh," bisik Kenzo dingin. "Mereka mempertaruhkan nyawa demi seorang jalang."
Kenzo, dengan insting pembunuhnya, bisa melihat apa yang tidak dilihat kedua pemuda itu. Wanita bernama Feng Xi itu menyeringai tipis setiap kali darah terpercik. Ia menikmati sensasi diperebutkan, merasa kecantikannya adalah senjata yang bisa mengendalikan laki-laki seperti pion catur.
Tiba-tiba, mata Feng Xi beralih dan menangkap sosok Kenzo yang sedang duduk santai. Ia tertegun. Kenzo memiliki aura yang berbeda—dingin, misterius, dan wajahnya memiliki ketampanan yang tajam tanpa cela.
"Wah, siapa pria tampan ini? Dia terlihat jauh lebih menarik daripada dua idiot ini." batin Feng Xi.
Ia mengabaikan dua pemuda yang masih saling serang dan berjalan mendekati Kenzo dengan langkah yang dibuat meliuk-liuk. Wajahnya berubah menjadi sangat imut, matanya berkedip manja.
"Hai, Kakak tampan," sapa Feng Xi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Kenapa sendirian saja di sini menonton keributan? Bagaimana kalau kita berkenalan lebih jauh?"
Kenzo menatap wanita itu datar. Tidak ada kilatan nafsu atau ketertarikan di matanya. Namun, ia justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. "Ya, aku juga menyukaimu, Nona."
Feng Xi merasa menang. Ternyata pria sedingin ini pun takluk pada pesonanya. "Ah, Kakak cukup agresif ya." ucapnya sambil tersipu malu, mendekatkan wajahnya pada Kenzo, mengira pria itu akan menciumnya.
Kenzo berdiri, tangannya bergerak perlahan menuju kepala Feng Xi. "Kau memang cantik. Aku sangat menyukai... struktur tulang lehermu."
Feng Xi baru saja akan tersenyum saat tiba-tiba ia merasakan dunianya berputar 180 derajat secara paksa.
KRAKK!
"Ups. Sepertinya tanganku tergelincir, Nona." ucap Kenzo tanpa ekspresi.
Ia telah memutar kepala Feng Xi hingga menghadap ke belakang dalam satu gerakan sentakan yang presisi. Wanita itu tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara, tubuhnya ambruk ke tanah seperti boneka kain yang rusak.
Pertarungan kedua pemuda tadi langsung terhenti. Mereka mematung melihat wanita pujaan mereka kini tergeletak dengan leher yang terpilin.
"B-BERANI-BERANINYA KAU!" teriak pemuda berbaju merah, suaranya bergetar antara amarah dan horor. "Kau membunuh Feng Xi?! Apa kau tidak tahu dia berasal dari Keluarga Feng yang kaya raya?!"
Kenzo diam selama beberapa detik, seolah-olah sedang berpikir keras, lalu menjawab pendek, "Tidak tahu tuh."
"Apa?! Kau benar-benar gila! Ayo bunuh dia! Balaskan dendam Feng Xi!"
Kedua pemuda itu melupakan permusuhan mereka dan menerjang Kenzo bersamaan. Energi pedang mereka menyambar, membelah udara menuju leher Kenzo. Namun, Kenzo tidak bergerak satu inci pun. Ia hanya menarik pistol Qi-nya dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata.
DOOR! DOOR!
Dua peluru Qi menembus dahi mereka tepat di tengah, menghentikan momentum serangan mereka seketika. Keduanya jatuh berdebam tepat di samping mayat Feng Xi.
"Kalian tidak mungkin bisa mengalahkan kecepatan peluru ini hanya dengan amarah." gumam Kenzo. Ia meniup ujung laras pistolnya yang berasap kecil, lalu berjalan pergi meninggalkan gang tersebut seolah-olah baru saja menginjak beberapa ekor serangga.
[Ding!]
[Selamat! Anda membunuh tiga target pengganggu. Mendapatkan 150 Poin dan Buku Bela Diri Tingkat Rendah: 'Langkah Bayangan'.]
[Sistem secara otomatis menjarah harta musuh... Memasukkan 500 Batu Spiritual dan dua pedang perak ke dalam Ruang Dimensi.]
"Langkah Bayangan? Lumayan untuk menambah kelincahan saat aku malas berlari." ucap Kenzo puas. Ia kembali menyusuri pasar, kali ini mencari penjual camilan untuk dibawa pulang sebagai sogokan agar Ling Yue tidak marah karena ia pergi sendirian.
sebentar😅😅