NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM15

Mia menghela napas panjang. Ada sesuatu yang berubah pada Johan bukan hanya sikapnya, tapi cara ia membaca Mia. Seakan-akan setiap diam memiliki makna tersembunyi. Dan yang paling mengusik, Johan tampak salah tingkah bukan karena ditanya, melainkan karena takut ditanya.

Siang itu, ruang kerja terasa lebih sunyi dari biasanya. Pendingin ruangan berdengung pelan, jari-jari Mia bergerak di atas keyboard, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di layar. Beberapa kali ia berhenti mengetik, menatap baris kalimat yang sama tanpa mengubah apa pun. Ia menarik napas, lalu memaksakan diri melanjutkan pekerjaan, seolah rutinitas bisa menenangkan sesuatu yang tidak beres di kepalanya.

Pesan Mey kembali terlintas. Kalimat singkat itu

“Ok, di tempat kemarin kan?” terlalu spesifik untuk disebut kebetulan. Mia tidak bodoh. Ia tahu pesan itu adalah lanjutan dari percakapan yang sudah dihapus. Dan yang membuat dadanya terasa sesak bukan hanya isi pesannya, melainkan kesadaran bahwa Johan memilih menghilangkannya. Bukan karena pesan itu penting, tapi karena ia ingin Mia tidak melihatnya.

“Mia,” suara Rina memanggil pelan dari seberang meja.

Mia menoleh.

“Iya, Rin?”

“Kamu dari tadi bengong,capek?."ujar Rina sambil tersenyum tipis.

“Sedikit,” jawab Mia singkat. Ia tidak ingin membuka pembicaraan, tidak sekarang. Ada terlalu banyak yang belum ia pahami, terlalu dini untuk menyimpulkan apa pun.

Rina mengangguk, tidak memaksa.

“Kalau butuh teman cerita bilang ya. ”

Mia membalas dengan anggukan kecil. Setelah Rina kembali ke pekerjaannya, Mia menunduk, menatap layar lagi. Ia mencoba menata ulang pikirannya. Pesan, parfum, sikap defensif Johan pagi tadi semuanya berderet rapi, terlalu rapi untuk diabaikan.

Namun Mia memilih menahan diri. Ia tidak ingin bertanya tanpa bukti, tidak ingin menuduh tanpa kepastian.

Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk, bukan dari Johan. Mia menghela napas lega yang terasa aneh lega karena bukan dia. Ia menyimpan ponsel kembali, menegakkan punggung, lalu mengetik dengan lebih fokus. Untuk sementara, ia memilih bekerja. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia perlu waktu.

Pagi keberangkatan itu datang terlalu cepat. Mia membantu Johan menyiapkan koper kecilnya seperti biasa melipat kemeja, memastikan tidak ada yang terlupa, lalu menutup ritsleting dengan gerakan tenang.

Johan berdiri di samping lemari, lebih banyak diam, sesekali menatap ponselnya seolah ada sesuatu yang terus memanggil perhatiannya. Penampilannya rapi, terlalu rapi untuk sekadar perjalanan kerja singkat.

Di depan rumah, Mia ikut mengantar sampai mobil.

“Hati-hati di jalan,” ucapnya lembut sambil merapikan kerah kemeja Johan. Johan tersenyum, singkat dan kaku, lalu membalas, “Aku kabari kalau sudah sampai.” Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan Mia berdiri sendirian di teras. Ia tidak melambai berlebihan, hanya menatap punggung mobil sampai benar-benar menghilang di tikungan.

Hari pertama Johan di Bandung berjalan dengan sunyi. Mia menjalani rutinitasnya seperti biasa bekerja, pulang, menyiapkan makan malam meski hanya untuk satu orang. Johan mengirim kabar, tapi seperlunya saja. Tidak ada cerita, tidak ada keluhan capek, tidak ada candaan kecil yang dulu selalu hadir. Saat malam tiba, telepon Johan tidak terangkat. Pesan Mia baru dibalas hampir satu jam kemudian dengan alasan rapat mendadak.

Mia berbaring memandangi langit-langit kamar. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan. Hanya perasaan asing yang mengendap pelan di dadanya. Nalurinya berkata ada sesuatu yang disembunyikan, tapi logikanya menahan agar ia tidak terburu-buru menyimpulkan. Ia menarik selimut lebih rapat, memejamkan mata, dan memutuskan satu hal ia akan terus diam, tapi kali ini sambil membuka mata lebih lebar.

Sore itu, Mia pulang lebih awal dari biasanya. Rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran rumah yang biasanya diisi suara Johan. Ia mengganti baju, lalu duduk di sofa dengan ponsel di tangan. Tidak ada pesan baru. Tidak dari Johan, tidak juga dari siapa pun. Anehnya, kali ini Mia tidak merasa lega. Justru sunyi itu seperti memberi ruang bagi pikirannya untuk berkelana ke arah yang tidak ia inginkan.

Ia membuka kembali percakapan terakhir Johan sebelum berangkat ke Bandung. Singkat, dingin, seperlunya. Tidak seperti Johan yang ia kenal. Mia menutup layar, meletakkan ponsel di sampingnya, lalu bersandar. Ingatannya kembali pada pesan Mey beberapa waktu lalu, pada parfum yang dipinjam, pada sikap defensif Johan saat sarapan. Semua berdiri sendiri, tapi jika disusun, terasa seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambar yang tidak menyenangkan.

Malam menjelang. Johan belum juga menghubungi. Mia bangkit, menuju dapur, menyiapkan makan malam sederhana bukan karena lapar, tapi karena ia butuh melakukan sesuatu agar pikirannya tidak sepenuhnya dikuasai rasa curiga. Di sela mengaduk sayur, ponselnya akhirnya bergetar. Nama Johan muncul di layar.

“Sudah makan?” pesan itu masuk.

Mia menatapnya lama sebelum membalas. “Sudah.” Satu kata. Sama singkatnya. Ia ingin melihat apakah Johan akan melanjutkan, atau berhenti di situ saja.

Dan di sanalah Mia sadar, permainan diam ini bukan lagi soal siapa yang bertanya lebih dulu. Ini soal siapa yang lebih siap menerima kebenaran, apa pun bentuknya.

Johan menaruh ponselnya di atas meja tanpa minat membuka pesan dari Mia. Satu lirikan singkat tadi sudah cukup baginya. Ia memilih berpaling, tersenyum kecil saat Mey menggelendot manja di lengannya, seolah kehadiran perempuan itu adalah jawaban dari segala kegelisahan yang selama ini ia pendam.

Tidak ada rasa bersalah yang menyusup, tidak juga keraguan. Yang ada hanya kehangatan palsu yang membuatnya merasa diinginkan.

“Yang… yuk?” bisik Mey sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Johan tersenyum, paham betul makna di balik tatapan itu. Udara Bandung yang dingin seakan bersekongkol, meredam logika dan mengaburkan batas.

Dalam detik itu, Johan memilih tenggelam bukan pada cinta, melainkan pada pelarian yang ia tahu salah sejak awal.

Dinding kamar hotel menjadi saksi bisu malam yang tidak seharusnya terjadi. Di sanalah keputusan-keputusan keliru dibuat tanpa kata, tanpa janji, hanya nafsu yang dibungkus pembenaran. Di saat yang sama, tanpa Johan sadari atau pedulikan, kesetiaan seorang istri perlahan ia khianati diam-diam, tapi sepenuhnya.

Usai terlibat dalam permainan terlarang itu, Johan merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga menutup dada. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, namun wajahnya tampak tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengkhianati rumah tangganya sendiri.

Di sampingnya, Mey bersandar malas, senyum nakal terukir jelas di wajahnya.

“Kamu luar biasa, sayang,” ucap Mey lirih, suaranya penuh kepuasan. Johan hanya tersenyum kecil, tanpa kata. Ia meraih Mey, lalu mengecup kening perempuan itu dengan lembut gestur yang ironis, mengingat kelembutan serupa seharusnya hanya ia simpan untuk istrinya.

Di balik kaca jendela, Bandung tetap dingin dan tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang baru saja terjadi di dalam kamar itu. Sementara Johan memejamkan mata, ia tidak tahu atau mungkin memilih tidak peduli bahwa satu langkah yang baru saja ia ambil akan menjadi awal runtuhnya banyak hal yang selama ini ia anggap aman.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!