NovelToon NovelToon
Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teman lama bertemu kembali / Orang Disabilitas / Romansa pedesaan / Tamat
Popularitas:64.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.

"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.

"Baiklah, kalian jaga pintu depan."

Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.

Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.

Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.

Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.

"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."

UPDATE SETIAP HARI!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sandiwara

"Bayiku...? Jadi benar jika Dara hamil anakmu? Kalian telah berselingkuh? Bagus... Bagus sekali perbuatan kalian? Melakukan hubungan terlarang di belakangku. Dan kamu Dara!" Dira menunjuk perempuan berperut buncit itu dengan tatapan yang bagaikan mengunci target.

"Aku tidak mendorongmu, tapi kamu berlagak jatuh untuk mencari simpati SUAMIKU dan keluarganya." Ucap Dira.

"Sekarang... semuanya sudah jelas bukan? Mas Agung, belum apa-apa kamu sudah berani menuduhku mencelakainya. Aku tinggal telepon pengacara maka semua yang ingin aku berikan padamu akan aku batalkan. Jadi..."

"Menyingkir dari tubuh Dara, atau tetap ingin menolongnya?" Tanya Dira.

Agung bingung, atmosfer di rumah mendadak menjadi suram dan dingin.

Ibu Arumi melotot, Arimbi pasrah dan Ambar diam tak bersuara. Ancaman Dira tidak main-main, dan semua orang kini berbalik menatap tajam Dara yang masih memerankan peran wanita hamil teraniaya. Kebohongannya dia bongkar sendiri, padahal Ibu Arumi sudah mewanti-wanti untuk tetap diam sampai waktu yang berpihak pada mereka semua.

"Pergi! Kamu pergilah Dara, jangan membuat drama murahan di sini. Kamu hamil? Tapi yang jelas itu bukan anakku." Ucap Agung.

"Lihatlah Dara, bagaimana pria pengecut ini ingin menyelamatkan nasibnya sendiri. Bagaimana rasanya tak dianggap? Sakit? Itulah yang aku rasakan kemarin, saat aku tak dianggap ada. Justru kalian sibuk bersenang-senang."

Dira berbicara dalam hati, senyum samar mengembang menyaksikan sendiri wajah Dara yang sepucat kertas saat pria yang dipujanya kini membuangnya.

"Kenapa... Kenapa Mas Agung jahat? Jelas-jelas aku hamil anakmu. Bahkan sejak pagi tadi, kita seharian bercinta di kamar tamu. Kamu melupakan keintiman kita berdua? Kamu melupakan anak dalam kandunganku?"

PLAK

"Apa yang kamu bicarakan? Jangan fitnah Putraku dengan mulut busukmu itu! Agung pria yang setia, dia hanya mencintai Dira. Kamu... Apa kelebihanmu dibanding Dira? Sudah pergi, aku menyesal membawamu dari Desa kalau ternyata di sini kamu rusak kebahagiaan Putraku." Ibu Arumi pun ikut bersandiwara, Dira hanya tersenyum memperhatikan mereka.

Sedangkan Dara menganga tak percaya, jika kini dia seperti tersangka. Padahal niatnya ingin mencelakai Dira. Pura-pura terjatuh supaya Agung murka lalu mengusir Dira dari rumahnya. Kenapa justru sekarang dia layaknya tokoh Antagonis yang jahat.

"Harusnya aku korban, kenapa begini?" Tubuh Dara tremor, dia syok. Karena yang terjadi tidak sesuai dengan skenario yang dia tulis.

Karena tak kunjung pergi, Agung yang terlihat seperti suami setia segera menyeret tubuh Dara keluar. Tidak peduli jika perempuan itu sedang hamil anaknya, yang Agung pikirkan hanyalah jabatan CEO jangan sampai gagal karena kecerobohan Dara.

"Pergi kamu, pergi sekarang juga! Jangan pernah mencoba memfitnah aku."

Ucap Agung sambil terus menyeret Dara hingga sampai ke teras. Di saat suasana nampak aman, Agung berbisik di telinga selingkuhannya.

"Maaf sayang jika aku memperlakukanmu kasar, kamu sih ceroboh banget. Kenapa harus membongkar hubungan kita di saat status CEO sebentar lagi aku pegang. Please jangan bertingkah impulsif yang merugikan kita."

"Aku... Aku hanya tidak suka selalu diinjak injak oleh Dira. Punya hak apa sampai dia merendahkan aku di hadapan keluargamu. Aku perempuan mahal yang bisa hamil, bukan seperti dia yang mandul tidak ada gunanya kaya. Aku hamil anakmu Mas Agung, kenapa aku harus tinggal terpisah. Bagaimana jika anak ini rindu?"

"Kamu jangan khawatir Sayang, aku pasti akan selalu datang menjenguknya. Setelah aku jadi CEO, semua kekuasaan ada dalam genggaman tanganku. Aku bisa mengatur pertemuan denganmu. Kita akan sewa kamar hotel termahal untuk bercinta setiap hari jika itu yang kamu mau. Tapi untuk sementara bersabarlah, jangan bongkar hubungan kita." Ucap Agung.

"Tapi kamu menamparku." Ucap Dara dengan manja sambil memegang pipinya.

"Maaf, itu hanya bagian sandiwara. Kalau tidak begitu, aku khawatir Dira akan curiga dengan kita..."

"Mas... Kok kamu lama sekali. Kamu sedang tidak merayu Dara kan? Sudah biarkan dia pergi. Kenapa kamu pegang-pegang tangannya?" Ucap Dira sambil berjalan mendekat.

"Cepat pergi." Ucap Agung pada Dara dengan suara berbisik lirih. Seolah dia juga berat melepaskan, apa daya dirinya masih pengangguran. Dan Dira ada pemegang kendali. Jika Agung melawan hari ini, sama artinya dengan bunuh diri.

"Tidak Sayang, aku hanya membantu dia yang hampir roboh karena ternyata dugaanmu benar. Dia hamil!"

"Ya sudah, sekarang ayo masuk. Sepertinya sebentar lagi turun hujan. Lebih baik kita tidur saja." Ucap Dira sambil mengapit lengan Agung lali menoleh mengejek Dara.

Tapi...

Dalam hati rasanya ingin sekali dia memberikan kopi sianida. Supaya Agung terbebas dari dosa.

"Andai membunuh tidak dosa, dan andai aku tak punya hati."

Di dalam rumah, tatapan Ibu Arumi melunak. Lebih tepatnya pura-pura baik di depan Dira.

"Maafkan Ibu yang tidak tahu jika Dara ternyata punya niat buruk terhadap rumah tangga kamu. Dan dia juga pintar menyembunyikan kehamilannya, padahal Ibu kira dia gadis baik-baik." Ucap Ibu Arumi yang membuat Dira mual.

"Sudahlah, yang penting kalian tidak membela Dara aku sudah senang. Dan jangan sampai, ada persekongkolan yang bisa merugikan kalian semua. Tunggu dua minggu lagi, maka berkas itu selesai." Ucap Dira.

"Jadi benar? Aku seorang CEO?" Agung ingin memastikan lagi kebenarannya.

"Hmmm... Asal kamu bisa bersikap baik selama dua minggu kedepan."

Bukan hanya Agung yang sumringah, Ibu Arumi dan Ambar juga. Tapi hanya Arimbi yang diam, karena dia tahu jika semua yang dilakukan Dira adalah jebakan. Lantas kenapa Arimbi tidak bersuara? Dia bisa saja membocorkan rahasia, supaya keluarganya tidak tertipu Dira. Masalahnya penjara menunggu jika Arimbi berani mengucapkan satu kata saja.

Setelah huru hara yang disengaja dilakukan untuk mengecoh pikiran lawan. Dira sudah siap untuk pergi. Tidak ada yang menyadari, jika setiap hari berangkat ke Kantor. Dira membawa serta barang-barang penting, termasuk baju yang dia kemas di kardus mie instan. Tujuannya saat Hakim ketok palu, Dira tidak perlu pulang lagi.

Dira sudah merencanakan semua dengan matang, Perusahaan sudah pindah nama meskipun untuk sementara Dira meminta waktu sampai masalah perceraiannya selesai. Beruntung pembeli Perusahaannya mengerti dan untuk rumah pun sudah ada pembelinya yang akan datang di saat Dira sudah pergi jauh.

"Sebentar lagi, kurang dari 14 hari aku bebas dari neraka."

Malam semakin larut, Dira tidur seperti biasa setelah mengunci pintu. Sedangkan Agung, pria itu gelisah karena memikirkan selingkuhannya yang mungkin sedang menangis karena tidur sendirian.

"Sialan Dira, kalau bukan karena jabatan aku tidak sudi terkurung. Dia pikir dia wanita hebat? Jika dibandingkan Dara, Dira tidak ada apa-apanya." Gumam Agung.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Arin
/Heart/
Putrii Marfuah
menjauh Dari yang selalu membuat Luka, bukan kalah tapi agar tetap waras
Lienaa Likethisyow
semoga bahagia selalu ya kalian👍👍dan tetap semangat..makasih thor atas ceritanya🙏🙏
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
akhir yang bahagia walaupun tidak semulus jalan tol
Ita rahmawati
maksudnya selesai ini beneran tamat kah 🤔
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
Ita rahmawati
pilihan yg udh bener minim,,jgn terus lari to coba bertahanlah mungkin kamu akan menemukan kebahagiaan 🤗
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
Ita rahmawati
ayo tuan muda berjuanglah temukan arimbi
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semoga arimbi berjodoh sama tuan muda ya thor
Ita rahmawati
Arimbi 😔
Pawon Ana
yang terpenting adalah menerima diri sendiri tanpa kata" seharusnya atau tapi atau seandainya"
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Pawon Ana
tidak ada seseorangpun yang bisa hidup sendirian,kita hanya mengira kita merasa aman jika sendiri tapi kita terkadang lupa kita butuh seseorang untuk tempat pulang,
Lienaa Likethisyow
mantap...👍👍👍👍..lanjut thor ...💪💪💪
Pawon Ana
aku juga tahu bagaimana rasanya dianggap tidak pernah cukup,terkadang memilih diam bukan karena mereka benar hanya saja terlalu lelah untuk berjalan memenuhi ekspektasi mereka
Pawon Ana
aku juga tahu bagaimana rasanya hidup dibawah tatapan orang lain dinilai disimpulkan tanpa pernah dipahami,dan dituntut menjadi sesuatu tanpa pernah ditanya.✌️ sangat tidak nyaman💪
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Setiap manusia memiliki perjalanan yang panjang dalam hidupnya. Ada awal, ada proses, dan pada akhirnya selalu ada yang disebut pulang. Kata “pulang” bukan hanya sekadar kembali ke rumah secara fisik, tetapi juga memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia dapat dimaknai sebagai perjalanan spiritual, emosional, maupun sosial. Pulang selalu identik dengan kerinduan, kenyamanan, serta pengingat bahwa ada tempat yang menerima kita dengan apa adanya.
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪
Pawon Ana
bagus ceritanya, narasinya tertata, bahasanya halus, ini lebih ke konflik psikologis ya ....
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Lienaa Likethisyow
sesak rasanya/Sob//Sob/
Pawon Ana
terkadang juga kita memilih diam karena sadar tidak mungkin menjelaskan pada semua orang untuk bisa memahami,diam atau bicara itu sebuah pilihan.
Putrii Marfuah
maaf y Thor, gak niat numpuk, tapi lagi repot ama pesanan. JD gak bisa full . pas senggang ,playing bisa 1 bab
Erchapram: Alhamdulilah rejeki memang gak kemana
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!