Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Masih tentang mu
Tak terasa waktu sudah 7 hari aja Agha di Jepang, tepat di pagi ini Agha akan balik ke Indonesia. Semalam sore pulang kantor Agha langsung membeli pesanan umah, ya strawberry Agha membeli banyak sampai koper yang di bawa isinya semua full oleh-oleh yang di beli Agha, kalau kata umah sih kalap, yah Agha selalu seperti itu saat perjalanan bisnis.
Saat tiba di Indonesia pukul 1 siang, Agha mampir sebentar ke Medan. Yah, tempat utama yang Agha datangi setiap habis perjalanan bisnis yaitu makan Alicia, tapi kali ini mungkin penjaga kuburan lagi gabut entah apalah Agha gak mengerti, penjaga kuburan memutar lagu kamu & kenangan _Maudy Ayunda_ sejenak Agha mengenang kenangan dirinya dengan Alicia, walau tidak lama waktunya tapi kenangannya sangat berkesan dan banyak.
"Assalamualaikum Alice, ini abang datang lagi."
Setelah mengucapkan salam, Agha langsung membacakan doa-doa yang bisa memberatkan amalan Alicia dan bisa membantu menerangi jalannya.
"Gak terasa udah 3 tahun aja yah, gak terasa. Sampai saat ini di hati abang masih milik kamu, entah gimana kedepannya abang sendiri gak bisa nebak. Tapi belakangan ini umah sibuk banget untuk jodohin abang sama anak sahabatnya, abang marah dan kesal sama umah, tapi kasihan juga melihat umah yang kadang abang lihat termenung sambil pandangi foto kamu yang sengaja umah simpan di bingkai kecil, tapi jika di terima abang yang kasihan Alice."
"Alice, kamu tau abang bawa bunga Lily kesukaan kamu, abang letak di sini yah."
Agha meletakan lima buah bunga Lily di tanah kuburan Alicia yang udah ditaburi berbagai jenis bunga, mungkin keluarganya yang datang berziarah.
"Abang habis dari Jepang, kali ini disana ada kendala sama sistem kerjanya mereka. abang kesal dan sempat marah sama mereka, bahkan membuang ke tong sampah laporan yang mereka berikan ke abang, tapi setelah itu abang termenung seketika perkataan kamu yang selalu mengingatkan abang untuk tidak emosi. Maafin abang yah, abang udah melanggar janji ke kamu."
"Kamu kenapa gak pernah datang ke mimpi abang lagi sih, udah hampir tiga tahun ini kamu gak pernah muncul. Kamu marah ke abang yah?, Maaf yah kalau abang buat salah sama kamu."
"Alice, abang terus di teror sama umah dan abah tentang pernikahan. Abang udah berapa kali di jodohin sama anaknya sahabat Abah dan umah, tapi abang selalu tolak. Alice jika suatu saat nanti abang gak bisa nolak lagi permintaan umah dan abah, abang minta maaf yah sama kamu. Abang gak tau harus gimana, kamu tenang aja di hati abang, kamu tetap pemilik singgasana nya. Rasanya berat banget untuk membuka hati lagi, abang maunya kamu, tapi Allah subhanallah wa taala menginginkan kita berpisah. Abang harap kamu mendapat jodoh pangeran tampan disana yah."
"Jika kelak kita bertemu di surganya Allah, jangan lupa sama abang yah, mau itu kita ketemu ketika kita udah masing-masing dengan pasangan kita ataupun gak, abang ingin kamu gak lupa sama abang, karena abang gak akan pernah melupakan kamu."
"Yaudah, abang pamit yah, udah mau masuk waktu Zuhur. Assalamualaikum Alicia Anggraini Mahendra, semoga kamu bahagia di surgaNya Allah subhanallah wa taala yah."
Agha masuk kedalam mobil yang udah tau siapa supirnya, yah dia Helmi udah standby di bandara menunggu kepulangan Agha, Helmi memang selalu menemani Agha kemanapun selama di Indonesia senantiasa menjadi sipirnya. Padahal Agha bisa membawa mobil sendiri, tapi jika Agha melakukannya maka jangan harap Agha mengemudi pelan, dirinya bahkan tidak takut mati ketika membawa kendaraan. Itulah alasan Helmi siap direpotkan kesana-kemari daripada dirinya akan kehilangan bos sekaligus sahabatnya, Helmi tidak ingin itu terjadi.
"Langsung pulang nih?."
"Iya, tapi mampir dulu di masjid yah, istirahat sama sholat dulu kita."
"Siap."
Helmi melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, sampai di masjid mereka istirahat sejenak sambil menunggu azan berkumandang, karena saat di jalan sudah terdengar suara mengaji di masjid.
Siap dengan istirahat dan sholat, mereka melanjutkan perjalanan nya, untuk pulang Agha memakai jalur kapal, karena mengingat Helmi membawa mobil pribadinya ke kapal.
"Assalamualaikum Umah, Erlan pulang." Ucap Agha sambil melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu tak jauh dari pintu utama.
"Wa'alaikumsalam nak, Alhamdulillah udah pulang."
Agha mencium punggung tangan umah, diikuti dengan Helmi dan mereka masuk kedalam rumah. Agha dan Helmi di paksa umah makan, padahal saat jalan pulang mereka sempat mampir untuk makan. Tapi melihat wajah semangat umah, mengurungkan niat mereka berdua untuk menolak.
Siap makan siang, Helmi pamit untuk ke kantor tapi malah di suruh pulang ke rumah sama Agha.
"Yang bener aja lu, masih jam tiga ini." Ucap Helmi melihat jam di tangannya.
"Kenapa emang, lu gak capek apa."
"Yah namanya juga kerja, kayak lu gak aja."
"Nurut aja sih, di suruh pulang istirahat gak mau, aneh lu."
"Terus lu?."
"Gua mah terserah gua, kenapa lu yang sibuk."
"Karena lu bos gua kocak."
"Tidur gua, agak pening dikit nih pala. Mungkin habis kena udara dingin waktu di Jepang, kan ini udah masuk musim dingin." Jelas Agha sambil memijat keningnya yang sangat pusing, sementara hidungnya mulai tersumbat.
"Tapi gak bisanya lu kek gini, sebelum itu lu kurang istirahat kan." Ucap Helmi sambil memicingkan matanya curiga dengan kondisi Agha.
"Hmmm, habis ngerjain laporan yang di italia serta ada meeting sama klien yang ada di Inggris."
"Astaghfirullah Erlan, lu emang bener-bener yah. Itu semua diluar jadwal lu. Aargh, lu tau sendiri kan waktu Indonesia sangat jauh dengan waktu di Inggris itu minus 6 jam, sementara Italia minus 5 jam dari jam kita, lu emang cari penyakit yah." Omel Helmi.
Lihatlah, ini yang buat Agha malas menjelaskan kenapa dirinya bisa sampai sakit, Agha malas mendengar cerewet nya Helmi yang melebihi umah. Kalau gini bisa-bisa besok jadwalnya renggang, dan Agha tidak bisa menjalani hari seperti itu. Jangan di tanya umah gimana reaksinya, tentu saja umah senang melihat Helmi lebih cerewet daripada dirinya.
"Ck, udah deh jangan cerewet banget lu. Tambah pusing pala gua, lu jangan lupa jadwalkan meeting sama pak Handoko, kita perlu bicara tentang perpanjangan kontrak kerja sama."
"Udah sakit masih aja mikirin kerjaan, emang bukan manusia lu."
"Enak aja, manusia gua dan kalau bukan gua siapa lagi, ada banyak kepala yang menggantungkan hidupnya sama perusahaan, kalau gua main-main mau lu jadi miskin?."
"Yah gak lah, tapi jangan di paksa dong."
Kalau ada Alice bisa menang gua adu debat sama nih orang, Alice kamu dari sana lihat kan Erlan saat ini, tolong marahin dia yah biar gak gila kerja, yang ada tipes tuh anak. Batin Helmi yang meminta bantuan Alicia, karena sifat Agha yang seperti ini bakalan kalah sama Alicia.
Bahkan umah sekalipun ibunya gak bakal menang, hanya Alicia lah manusia satu-satunya yang mampu menaklukkan sifat gila kerja nya ini. Tapi minusnya yah karena kehilangan Alicia, membuat Agha makin-makin gila kerja, bahkan tidurnya hanya 4 jam setiap harinya. Bahkan di hari libur pun, diri nya tetap membuat janji meeting di luar sama klien.
"Iya gua tau, gak usah lu kasih tau."
"Yaudah makasih yah udah izinkan gua pulang awal, lu langsung istirahat gih jangan malah ngerjain laporan."
"Iya Mak, iya." Ujar Agha dengan nada melas yang malah sengaja manggil Helmi Mak, karena emang melebihi Mak Mak kalau merepet.
"Kalau gak mau orang merepet makanya nurut nak, jadi anak bangkang mulu, mau jadi anak durhaka lu."
"Elah, kocak emang lu, cabut gih." Usir Agha yang gak mau lanjut debat dengan Helmi.
Makin lama kepala Agha semakin sakit, mana dirinya sulit untuk bernafas karena mampet hidungnya.
"Nak, udah minum obatnya?."
"Udah umah, di paksa mak Helmi tadi."
"Hahaha, kalian itu loh, lucu. Udah dewasa tapi tingkah kalau udah berdua kayak anak kecil, sama-sama keras kepala. Tapi bagus juga sih nak Helmi cerewet sama kamu, umah jadi gak khawatir tentang kamu."
"Umah ih, bukannya bela anaknya malah Helmi, dan kalau kepala gak keras ya mudah bocor umah."
"Heh, gak gitu juga lah. Tentu saja umah bela nak Helmi, anak umah juga tuh."
"Iya deh umah, iya. Erlan istirahat yah umah, udah mulai ngantuk efek obat tadi Erlan minum."
"Yaudah, nanti azan ashar umah bangunin."
"Siap Umah."