Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai Mengusik Singa Tidur
Bu Sasmita, sosok perempuan dari kalangan atas sedikit terganggu dengan keberadaan Fiona. Istri dari putranya itu. Dirasa tidak sebanding, kelas yang berbeda dan status berbeda jauh, wanita paruh baya itu pun melakukan beberapa cara agar Fiona mundur dengan sukarela. Mengingat kalau anaknya kelihatan menyukai wanita muda itu, Bu Sasmita pun melakukan beberapa trik kecil untuk melancarkan tujuannya.
Salah satunya mencari informasi tentang Fiona. Dia galih sedalam mungkin tentang asal usul gadis tersebut. Ia semakin tidak suka ketika mengetahui fakta baru. Kalau sebelumnya Fiona adalah bekas pacar Davin. Namun, ini kesempatan sangat bagus. Dalam pikirannya, Bu Sasmita akan merasa lebih muda mendorong Fiona pergi.
Lewat tangan sang adik, dan sedikit provokasi, ia mampu membuat ibunda Davin berpihak dan membantunya untuk mengusir Fiona jauh-jauh dari kehidupan putra-putra mereka berdua.
Namun, siapa yang mengira. Bahwa tindakan ibunda Davin sangatlah berlebihan. Tidak hanya melukai psikis Fiona, tapi juga main fisik. Dengan mendorong sengaja Fiona sampai jatuh terjerembab dan membuat Fiona kesakitan.
"Bagaimana kalau sampai dia kenapa-kenapa?"
Mama Davin dan Bu Sasmita kelihatan mulai gelisah.
"Seharusnya kamu jangan kuat-kuat mendorongnya!"
"Pelan saja! Dia saja yang berlebihan. Paling pura-pura."
"Kalau benar bagaimana? Sudahlah. Serahkan padaku saja!"
...----------------...
Rumah Sakit Medica Cipta
UGD
"Kalau sampai Arga tahu, kita bisa kena masalah. Kenapa tadi kamu sangat berlebihan? Aku kan cuma ingin kamu buat dia kena mental! Kenapa harus pakai dorong-dorong segala!" omel Bu Sasmita. Kali ini benar-benar menyalahkan orang lain.
Gambaran wajah Arga saat marah sudah langsung muncul di kepalanya. Bu Sasmita mungkin ngeri kalau sampai diamuk sang anak yang kalau marah sangat tempramen tersebut. Seperti gunung yang lama tidur dan tiba-tiba meletus.
(Gawat juga sampai Arga nanti murka!)
Bu Sasmita menggeleng keras, ngeri sendiri.
"Bagaimana ini? Hem ... Harusnya kita tidak berlebihan."
"Dia saja yang lemah! Mbak tahu juga kan? Aku tidak mendorong nya keras! Dia pasti cuma pura-pura agar kita merasa bersalah dan nanti minta maaf," ucap Bu Agatha. Masih membela diri, tidak mau mengakui kalau salah. Padahal jelas-jelas tindakannya sudah terekam di CCTV. Kalau sampai Arga tahu, dua wanita paruh baya itu pasti tidak bisa lari dari amukan Arga.
Keduanya langsung membawa Fiona ke rumah sakit di sekitar restaurant. Mereka sama-sama tidak mau disalahkan setelah apa yang terjadi. Fiona masih ditangani, masih di ruang UGD, sedangkan keduanya menunggu ketar-ketir di luar. Bukan khawatir keadaan Fiona, tapi takut kalau sampai terjadi sesuatu, bahaya dari Arga yang mengancam mereka berdua.
Klik!
Pintu terbuka, dokter keluar. Kedua wanita itu langsung menghampiri.
"Bagaimana, Dok? Tidak apa-apa kan?" tanya Bu Agatha. Dia yang paling panik, karena dia yang menyebabkan Fiona jatuh.
Dokter melepaskan masker, dan langsung bertanya walinya. Kondisi Fiona tak baik-baik saja. Akibat benturan di perutnya, wanita itu mengalami pendarahan.
Mendengar penuturan singkat dokter, kaki Bu Agatha seketika lemas. Begitu juga dengan Bu Sasmita. Dua wanita itu nasibnya sudah di ujung tanduk. Keduanya saling menatap penuh rasa cemas. Bayangan kemarahan Arga sudah ada di depan mata.
"Mana mungkin, Dok? Dia hanya terjatuh pelan sekali. Dokter periksa lagi. Pasti ada yang salah."
Dokter menggeleng, dua wanita itu saling menatap lagi. Kali ini entah apa yang akan mereka hadapi di luar sana. Bahaya sudah siap mengancam nyawa kedua perempuan paruh baya itu.
"Operasi harus dilakukan segera, kami butuh tanda tangan walinya," kata dokter.
Bu Sasmita mengangguk, ia lalu mengikuti arahan perawat. Sebelum pergi, dia menyentuh bahu adiknya.
"Sekarang kamu pulang. Ambil liburan ke luar negeri sekarang. Jika bisa, terbang hari ini juga. Untuk sementara waktu, jangan muncul dulu. Aku takut Arga akan mencari mu." Bu Sasmita mulai merencanakan kemungkinan terburuk.
"Mbak ... Bagaimana ini? Arga pasti marah besar." Mama Davin tidak bisa menutupi rasa paniknya. Dia tahu, Arga itu orangnya sangat tegas, dan cukup pendendam juga.
"Aku paham. Aku sangat paham karena aku yang membesarkannya. Karena itu, kamu sekarang menghilang dulu." Pesan terakhir Bu Sasmita sebelum pergi bersama perawat.
Ibu Davin kelihatan cemas, tapi benar kata kakaknya itu. Dia juga tahu sifat Arga selama ini. Ia pun bergegas pergi dari rumah sakit. Siap-siap pulang membawa koper dan langsung menghilang untuk sementara waktu.
...****************...
Malam harinya, ponsel Fiona tak bisa dihubungi. Arga pun panik. Ia sampai mencari ke kampus Fiona. Malam itu, dia juga memeriksa CCTV.
Arga terlihat geram saat terlihat Fiona masuk sebuah mobil. Dari platnya dia tahu kalau itu mobil sang mama. Masih di area kampus, dia langsung menelpon sang mama.
Bu Sasmita mencoba tenang saat ponselnya berdering.
"Ya ... Hallo."
"Mama bawa ke mana Fiona? Di mana istri Arga?" Arga sampai menaikkan nada suaranya karena menahan marah.
Bu Sasmita menelan ludah, mau tak mau, cepat atau lambat pasti ketahuan. Sambil memejamkan mata, beliau menjawab pelan.
"Fiona ada di rumah sakit." Bu Sasmita terpaksa jujur, mau bohong pun, pasti lambat laun Arga menemukan kebenarannya. Daripada ketahuan nanti, sekarang juga sama saja. Maju kena mundur juga kena. Serba salah.
"APA?" terdengar suara Arga yang berteriak kencang.
"Dia sudah ditangani dokter, masih belum sadar." Bu Sasmita mencoba menjelaskan secara singkat. Karena ngomong di telepon juga tidak enak.
"MAMA!! APA YANG MAMA LAKUKAN? KENAPA FIONA DI RUMAH SAKIT?" tanya Arga sambil teriak lagi. Bu Sasmita sampai memejamkan mata dan juga menjauhkan ponsel dari telinga.
Jantung Bu Sasmita sudah berdegup kencang, tapi suaranya mencoba tetap tenang.
"Dia tidak sengaja jatuh." Ia tidak bohong, merasa berkata jujur. Karena tadi memang Fiona jatuh. Masalah didorong atau jatuh sendiri, dia tidak mengatakannya.
"APA??"
"Lebih baik kamu ke sini, pasca operasi dia sejak tadi belum sadarkan diri."
"OPERASI? MA!!! APA YANG MAMA LAKUKAN PADANYA????"
Darimana mendengar kemarahan Arga terus menerus di telpon, Bu Sasmita mematikan ponselnya.
...----------------...
langsung enddd kaakk😆😆😆
alkhamdulillah Happy end
yg musuh Tp menikah di lanjut kaaak 😃🙏
Di tunggu buku yng lain nya Thor
Tetap💪🏼💪🏼❤❤
d tunggu novel baru nya kak 🥰
Davin kabarnya gimana dia
jangan sampai me ngusik kebahagiaan ini za
Atau bu Sasmita pura2 sajah untuk menghindari hukum 😠😠😠