Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsidian Shadow
Lorong malam di Sekte Awan Jernih sunyi, hanya terdengar langkah kaki Feiyan yang ringan namun berat oleh kelelahan. Udara dingin menyelinap ke dalam jubahnya, membuat bulu kuduk berdiri. Ia merasakan sesuatu—bayangan halus yang mengikuti dari kejauhan, bergerak tanpa suara, menyesuaikan arah langkahnya seakan menunggu kesempatan.
Di sudut lorong, sebuah gerakan cepat muncul—bayangan itu menyerang makhluk percobaan yang sedang berjalan sendiri. Feiyan menatap dengan mata melebar, tubuhnya kaku, jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar, ia melangkah maju untuk menolong, namun aksinya justru membuat situasi terlihat kacau. Makhluk itu tersungkur, dan beberapa murid lain muncul, menatap Feiyan dengan tatapan heran dan bersalah yang tercampur.
Rasa malu membakar pipinya. Ia menunduk, mencoba menjelaskan, tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Tekanan mental menghimpitnya; Feiyan merasa tidak mampu, seolah setiap langkah yang diambil malah membuatnya lebih bersalah. Dari dalam dadanya, Void Crack berdenyut samar—panas dan dingin saling bertarung, memunculkan ketegangan yang hanya ia rasakan.
Feiyan mengulurkan tangan untuk menenangkan makhluk itu, namun rasa tidak berdaya semakin mendalam. Ia menatap ke arah lorong, mencari petunjuk, tetapi yang ada hanyalah bayangan gelap yang bersembunyi di tepi pandangannya. Setiap kali ia berpaling, bayangan itu menghilang, meninggalkan rasa takut yang menempel di kulitnya.
Langkahnya perlahan mundur, namun kakinya terasa berat. Setiap gerakan membuat denyut Void Crack semakin jelas, energi gelap itu menyebar ke dada dan punggungnya, menciptakan sensasi yang aneh—panas, dingin, dan perih sekaligus. Feiyan menunduk, menahan dadanya, menahan napasnya yang tersengal. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa dikendalikan, sesuatu yang muncul tanpa ampun.
Di kejauhan, sosok samar mengamati setiap gerakan Feiyan. Mata dingin itu menembus kegelapan, menilai setiap reaksi, setiap ketakutan yang muncul. Bayangan tetap tersembunyi, namun aura dominannya terasa menekan, membuat Feiyan semakin gelisah. Rasa tidak berdaya bercampur dengan ketakutan, menjadikan tubuhnya lemah dan gemetar.
Feiyan mencoba menenangkan diri, tetapi tekanan itu tak kunjung reda. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa melindungi makhluk yang diserang sepenuhnya, dan rasa bersalah itu menambah denyut Void Crack. Dada Feiyan berdenyut aneh, panas dan dingin bercampur, memaksa setiap serabut Qi dalam tubuhnya bereaksi. Tubuhnya terasa berat, langkahnya goyah, dan bayangan gelap itu selalu ada di tepi pandangannya, seolah menunggu saat yang tepat untuk menyerang lagi.
Bayangan itu bergerak lagi, lebih dekat, namun tetap samar. Feiyan menunduk, napasnya tercekat, mencoba mencari jalan keluar, tetapi lorong tampak tanpa ujung. Setiap langkah menimbulkan getaran di dadanya, Void Crack menyalurkan energi gelap ke seluruh tubuhnya, membuatnya sulit berpikir. Ia menoleh ke belakang, mencari siapa yang mengamati, tetapi hanya ada kegelapan dan lilin-lilin kecil yang bergetar di dinding.
Rasa bersalah dan ketidakberdayaan membanjiri hatinya. Ia menyadari ada sesuatu yang tumbuh dalam dirinya, sesuatu yang bisa muncul kapan saja tanpa kontrol. Feiyan menutup mata sejenak, menarik napas, tetapi ketegangan itu tidak berkurang. Setiap denyut Void Crack seperti jarum yang menusuk jantungnya, setiap gerakan tubuhnya terasa berat, seolah ada kekuatan tak terlihat menahan setiap langkah.
Ia mencoba menggerakkan tangan, mencoba menenangkan makhluk itu lagi, namun tubuhnya menolak. Panas dan dingin bercampur di dada, membuat setiap gerakan terasa menyakitkan. Feiyan menunduk, gemetar, merasakan ketidakberdayaan yang menekan batinnya. Bayangan itu tetap ada, menyelusup di tepi pandangannya, mengawasi, menunggu.
Lorong terasa semakin sempit, gelap semakin pekat. Lilin-lilin kecil bergetar, menciptakan bayangan yang menari di dinding, tapi bayangan yang mengintai Feiyan tetap bergerak diam-diam, tak terlihat. Ia menelan ludah, jantung berdegup kencang, merasakan tekanan yang memaksa setiap ototnya tegang. Void Crack berdenyut lebih kuat, panas dan dingin bertarung di dadanya, menciptakan rasa sakit samar yang memusingkan.
Feiyan menunduk, menahan dadanya, tubuh gemetar. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar bayangan atau kesalahan kecil—sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggunya, sesuatu yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Setiap langkah terasa seperti perang melawan dirinya sendiri, dan bayangan itu selalu hadir di tepi pandangannya, menunggu, menilai, mengintai.
Dan di saat itulah, dari kegelapan lorong, sebuah sosok samar muncul lebih jelas. Aura dominannya menekan, namun wajahnya tetap tersembunyi oleh bayangan. Feiyan menatapnya dengan mata melebar, tubuhnya gemetar, Void Crack berdenyut cepat, memancarkan energi gelap yang membuat lorong terasa semakin sempit dan menakutkan. Suasana malam dipenuhi oleh tekanan halus, dan bayangan itu melangkah pelan, dominan, seolah ingin mengingatkan Feiyan: ia selalu diawasi, selalu dijaga… dan selalu dalam bahaya.
Feiyan merunduk di lorong yang sunyi, tubuhnya gemetar dan napasnya tak beraturan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah seluruh energi dalam tubuhnya ditarik oleh tarikan tak terlihat. Void Crack di dadanya berdenyut lebih kuat, panas dan dingin saling bertabrakan, menciptakan sensasi aneh yang menembus hingga ke tulang. Ia menatap sekeliling, namun hanya bayangan gelap yang menari di dinding, bergetar mengikuti cahaya lilin kecil.
Di kejauhan, bayangan halus itu bergerak lagi, lebih dekat. Feiyan menahan napas, merasa setiap gerakan tubuhnya dipantau. Ia ingin melangkah mundur, tapi kaki terasa kaku, seakan dihentikan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Ketidakberdayaan menekan dada, membuat setiap napas terasa seperti perjuangan. Rasa bersalah membanjiri pikirannya—seandainya ia lebih cepat, lebih kuat, bisa saja makhluk itu tak terluka. Tapi sekarang, semua tampak sia-sia.
Void Crack merespons emosinya, berdenyut dengan intensitas yang naik-turun. Panasnya membakar di tengah dada, dingin menyerang tulang belakang, membingungkan seluruh persepsi tubuhnya. Feiyan menunduk, tangan gemetar menempel di dadanya, mencoba menenangkan diri. Namun tekanan internal itu tak berkurang; ia merasa ada bagian dirinya yang mulai melepuh dari dalam, sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.
Sosok di balik bayangan mulai memperlihatkan dirinya lebih jelas, meski masih samar dan misterius. Aura dominan itu menebarkan hawa dingin, menekan mental Feiyan tanpa harus menyentuhnya. Setiap gerakannya lambat, penuh kontrol, mengingatkan Feiyan bahwa ia bukan hanya mengintai—seseorang atau sesuatu sedang memegang kendali dari jauh. Panik dan rasa takut bercampur, membuat tubuh Feiyan semakin lemah. Ia ingin lari, tapi lorong terasa tak berujung, setiap langkah seakan menjeratnya semakin dalam ke kegelapan.
Feiyan menunduk, menutup mata, mencoba menenangkan pikiran, namun Void Crack tidak memberi ampun. Garis hitam di dadanya berdenyut lebih nyata, memancarkan energi yang ia rasakan seperti serabut Qi yang terpecah. Detak jantungnya seirama dengan denyut Void Crack, setiap hembusan napas mengalirkan ketegangan dan kepanikan lebih dalam. Ia sadar sesuatu di dalam dirinya sedang berubah—tidak bisa kembali ke keadaan normal.
Sementara itu, sosok bayangan itu tetap mengamati, bergerak pelan di tepi pandangan Feiyan. Ru Lan. Sosok dominan yang tersembunyi dalam kegelapan, matanya dingin menembus lorong, menilai setiap reaksi, setiap kesalahan, setiap rasa takut yang muncul. Ia menikmati ketidakberdayaan Feiyan, rasa bersalah yang menghimpit, dan denyut Void Crack yang tumbuh di dalam dada muridnya. Ia tahu, setiap detik Feiyan semakin dekat pada ambang kehancuran psikologis, dan itu memberi Ru Lan kendali yang lebih besar dari jauh.
Feiyan mencoba mengangkat kepala, menatap bayangan itu, tapi hanya samar yang ia lihat. Napasnya tersendat, tubuhnya bergetar, dan ia merasakan tekanan di dadanya semakin memuncak. Void Crack berdenyut lebih cepat, dan kali ini, serpihan energi hitamnya sedikit keluar, menempel di udara sekitar seolah bereaksi terhadap rasa bersalah dan ketakutannya. Feiyan menjerit pelan, menahan dada, merasa bahwa dirinya tidak lagi sepenuhnya miliknya—sebuah bagian gelap mulai muncul, tenang namun berbahaya.
Bayangan itu mendekat sedikit, tetap tidak menunjukkan wajahnya sepenuhnya, namun aura dominannya semakin nyata, seakan menancap ke dalam pikiran Feiyan. “Kau tidak akan pernah tahu… aku selalu di sini,” suara itu berbisik, lembut namun menakutkan, seakan menembus langsung ke jiwanya. Feiyan menelan ludah, jantungnya berdegup liar, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa bahwa ia berada di titik kritis—satu langkah salah, dan dirinya bisa hilang dalam gelap.
Void Crack memuncak, denyutannya menjadi keras, memancarkan energi gelap yang membuat bayangan di dinding berputar seperti menari. Panas dan dingin bercampur, menimbulkan sensasi menusuk tulang. Feiyan menunduk, menutup mata, merasakan sebuah kekosongan yang merayap ke dalam dirinya. Setiap serat Qi-nya terombang-ambing, seakan tidak ada titik tumpu. Ia ingin memanggil bantuan, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Rasa takut, bersalah, dan bingung bercampur, membentuk kepanikan halus yang merambat ke seluruh tubuhnya. Feiyan hampir jatuh, namun tubuhnya menahan diri, meski gemetar hebat. Ia menoleh lagi, mencoba mencari sumber bayangan, tapi lorong kosong kecuali cahaya lilin yang bergetar. Tapi ia tahu—seseorang mengintai, dan kehadiran itu terasa jauh lebih kuat daripada yang bisa ia lawan.
Void Crack di dadanya kini berdenyut liar, serpihan energi hitam berputar pelan, menyentuh Qi Feiyan dan menimbulkan sensasi asing: panas di satu sisi, dingin di sisi lain, seperti tarikan dua dunia yang berbeda. Feiyan merasakan ada bagian dirinya yang mulai terpecah, tidak bisa dikendalikan, namun ia tetap mencoba berdiri, mencoba mengatur napas, mencoba merasa kuat. Tapi ketegangan itu terlalu besar, dan setiap usaha membuat Void Crack semakin bereaksi.
Ru Lan bergerak perlahan, tetap tak terlihat sepenuhnya, matanya menatap dengan penuh kontrol dan dominasi. Ia menikmati momen ini, menikmati ketidakberdayaan Feiyan, menikmati pertumbuhan Void Crack yang tak disadari murid itu. Setiap denyut energi gelap memberi Ru Lan rasa kepuasan, karena ia tahu—kekuatan yang mulai muncul itu adalah milik Feiyan, namun juga milik Ru Lan untuk dikendalikan.
Feiyan menunduk, napas tersengal, tangan menekan dada, tubuhnya gemetar hebat. Ia menyadari bahwa sesuatu dalam dirinya sudah tidak sama—ada sesuatu yang lahir dari dalam, gelap, kuat, dan liar. Ia menatap bayangan itu, mencoba memahami siapa atau apa yang mengintai, namun hanya melihat kegelapan dan lilin yang bergetar. Perasaan ketakutan bercampur dengan kepanikan, membuat tubuhnya sulit bergerak.
Di satu titik, Void Crack memancarkan kilatan halus, seperti retakan energi yang menembus jantungnya. Feiyan menjerit pelan, tubuhnya gemetar hebat, dan seluruh lorong seolah dipenuhi oleh energi gelap yang tidak bisa dikendalikan. Panas dan dingin bercampur, menciptakan tekanan yang menekan hingga ke pikiran. Feiyan jatuh berlutut, menahan dada, matanya berair, gemetar hebat.
Sosok bayangan itu berhenti, tetap menjaga jarak namun aura dominannya terasa menekan seluruh ruang. Ru Lan mencondongkan kepala sedikit, matanya berkilat di balik kegelapan, menikmati momen itu dengan tenang. Ia tahu—Feiyan belum menyadari bahwa bagian dirinya yang paling gelap telah muncul, bahwa Void Crack telah aktif, dan bahwa setiap langkah berikutnya akan semakin sulit.
Feiyan menunduk, merasakan ketidakberdayaan yang menelan seluruh tubuh dan jiwa. Ia merasa kecil, rapuh, dan sendirian, meski ada banyak orang di sekitarnya. Dan dari balik bayangan yang tetap diam, Ru Lan tersenyum tipis, dominan, penuh kontrol—tahu bahwa malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang akan terus berkembang dari dalam diri Feiyan.
Lorong tetap sunyi, hanya terdengar detak jantung Feiyan yang berdenyut cepat dan bisikan halus Void Crack yang mulai membentuk suara sendiri. Bayangan itu perlahan menghilang, namun sensasi pengawasan, ketegangan, dan dominasi tetap tertinggal di udara. Feiyan menatap ke ruang kosong, dadanya panas dan dingin bersamaan, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa sesuatu di dalam dirinya telah bangkit—sesuatu yang akan mengubah setiap langkahnya ke depan, tanpa ia bisa menghentikannya.