NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Fitnah yang Membakar

"Lihat matanya! Lihat bagaimana Alicia Valero tidak meneteskan air mata sedikit pun saat pistol itu diarahkan ke kepalanya! Apakah itu reaksi seorang korban, atau seorang sutradara yang sedang mengagumi akting pemainnya?"

Suara Isabel melengking melalui pelantang suara di studio televisi nasional. Ia berdiri di sana, mengenakan pakaian hitam berkabung yang kontras dengan latar belakang studio yang cerah. Di layar besar di belakangnya, potongan video penyanderaan di kantor Solera diputar berulang-ulang dengan gerakan lambat yang sengaja diatur untuk menciptakan keraguan.

"Dan lihat Tuan Montenegro kita yang perkasa," lanjut Isabel dengan nada mengejek yang dibungkus simpati palsu. "Peluru itu mengenai perutnya, tapi polisi masuk tepat saat ia jatuh. Begitu presisi. Begitu sempurna untuk sebuah berita utama di koran pagi. Rakyat Madrid, jangan biarkan air mata palsu mereka membodohi kalian. Ini bukan tragedi. Ini adalah kampanye simpati untuk menutupi kebusukan bisnis mereka!"

Di sebuah kamar VIP rumah sakit yang sunyi, Alicia Valero meremas pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. Cahaya biru dari televisi menyinari wajahnya yang pucat. Setiap kata yang keluar dari mulut Isabel terasa seperti siraman air raksa pada luka yang masih menganga.

"Matikan itu, Alicia."

Suara bariton Rafael terdengar parau dari arah tempat tidur. Ia mencoba duduk, namun ringisan kesakitan lolos dari bibirnya saat jahitan di perutnya tertarik.

"Dia menyebut darahmu sebagai saus tomat, Rafael!" teriak Alicia, suaranya pecah oleh amarah yang bercampur dengan rasa tidak percaya. Ia memutar tubuhnya, menatap Rafael dengan mata yang berkilat-kilat. "Publik mulai memercayainya! Lihat kolom komentar ini! Mereka menyebut kita monster yang rela mengorbankan nyawa demi harga saham!"

Alicia melempar ponselnya ke atas ranjang. "Bagaimana bisa manusia menjadi sekejam itu? Kau hampir mati untukku, dan sekarang dunia berpikir itu hanya sebuah pertunjukan teater!"

Rafael menghela napas panjang, mengabaikan rasa perih di perutnya. Ia meraih ponsel itu dan mematikannya tanpa melihat layar. "Isabel sedang memainkan kartu terakhirnya, Alicia. Dia tidak punya uang, tidak punya kekuasaan, jadi dia menggunakan satu-satunya senjata yang tersisa: opini publik. Jangan beri dia kepuasan dengan melihatmu hancur seperti ini."

"Jangan beri dia kepuasan?" Alicia tertawa sinis, langkah kakinya mondar-mandir di ruangan sempit itu. "Di luar sana, orang-orang berteriak menuntut audit terhadap Solera. Mereka memboikot proyek kita! Dan kau... kau masih bicara seolah-olah ini hanyalah masalah kecil di papan caturmu!"

Rafael menatap Alicia dengan dingin, mencoba mempertahankan topeng dominasinya yang biasa. "Panggil tim humas. Siapkan konferensi pers. Kita akan tuntut stasiun televisi itu atas pencemaran nama baik. Aku akan hancurkan Isabel sebelum matahari terbenam besok. Kau tahu aku bisa melakukannya."

"Itu masalahnya, Rafael!" Alicia tiba-tiba berhenti tepat di samping ranjang Rafael. Ia menunduk, menatap pria itu dengan pandangan yang menuntut. "Kau selalu punya rencana. Kau selalu punya tameng. Kau selalu berdiri di sana seperti patung batu yang tak bisa disentuh!"

"Aku melakukannya untuk melindungimu, Alicia!" bentak Rafael, suaranya menggelegar meski ia sedang terluka.

"Aku tidak butuh dilindungi oleh robot!" balas Alicia tak kalah keras. "Aku butuh tahu bahwa pria yang bersamaku adalah manusia! Aku hampir kehilanganmu, Rafael! Saat peluru itu menembus tubuhmu, aku merasa duniaku kiamat. Tapi lihat kau sekarang... kau bangun dan langsung bicara soal strategi, soal humas, soal menghancurkan orang. Apakah kau tidak merasa takut? Apakah kau tidak merasa sakit sedikit pun?"

Ruangan itu mendadak hening. Hanya suara detak jam dinding yang mengisi kekosongan di antara mereka. Rafael terdiam, rahangnya mengeras.

Alicia duduk di kursi di samping ranjang, suaranya merendah, namun penuh dengan beban emosional yang berat. "Kau menuntut kepatuhanku di ranjang. Kau menuntut aku melepaskan kendali sebagai CEO saat kita bersama. Aku memberikannya. Aku menunjukkan kerentananku padamu. Aku menangis di pelukanmu. Tapi kau... kau tetap menjadi Rafael Montenegro yang dominan, yang tak terkalahkan, bahkan dengan lubang peluru di perutmu."

Ia meraih tangan Rafael, namun kali ini bukan untuk mencari perlindungan, melainkan untuk menantang. "Tunjukkan padaku, Rafael. Tunjukkan bahwa kau juga bisa rapuh. Tunjukkan bahwa kau takut kehilanganku sama seperti aku takut kehilanganmu. Jika tidak, maka pertunangan ini benar-benar hanya sebuah transaksi bisnis seperti yang dikatakan Isabel."

Rafael menatap tangan Alicia yang menggenggamnya. Ia bisa merasakan getaran kecil di jemari wanita itu. Seluruh hidupnya, Rafael diajarkan bahwa kerentanan adalah undangan untuk kematian. Ayahnya, dunianya, musuh-musuhnya—semuanya menunggu ia berkedip agar mereka bisa menerjang.

"Kau ingin melihatku lemah, Alicia?" tanya Rafael, suaranya sangat rendah. "Kau ingin aku mengakui bahwa aku gemetar saat Santiago menodongkan pistol itu padamu? Kau ingin aku bilang bahwa aku menangis di dalam hati saat aku tidak bisa bernapas karena darah memenuhi paru-paruku?"

"Aku ingin kau menjadi nyata," bisik Alicia, air mata mulai mengalir di pipinya. "Karena aku tidak bisa mencintai sebuah monumen, Rafael. Aku ingin mencintai seorang pria."

Rafael menarik napas dalam, sebuah tindakan yang memicu rasa sakit luar biasa di perutnya. Kali ini, ia tidak mencoba menyembunyikannya. Ia membiarkan wajahnya meringis, membiarkan keringat dingin mengucur di dahinya. Ia menarik tangan Alicia, menekankannya ke dadanya yang berbalut perban.

"Jantungku berdegup kencang bukan karena marah, Alicia," ujar Rafael, matanya kini tampak sayu, melepaskan kilatan predatornya untuk sejenak. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihatmu jatuh di ruangan itu. Aku bermimpi aku gagal menarik pelatuknya. Aku takut, Alicia. Aku sangat takut sampai-sampai aku merasa lebih baik aku mati daripada harus hidup di dunia di mana kau tidak ada."

Alicia terpaku. Ini adalah pertama kalinya ia melihat retakan pada tembok besi Rafael. Suara pria itu tidak lagi penuh perintah, melainkan penuh dengan luka yang jujur.

"Kenapa kau tidak mengatakannya tadi?" tanya Alicia pelan.

"Karena jika aku mengakui ketakutanku, aku merasa aku memberikan kemenangan pada Santiago dan Isabel," jawab Rafael, suaranya serak. "Tapi jika itu yang kau butuhkan agar kau merasa aku nyata... maka lihatlah aku. Aku hanya seorang pria yang terluka, yang tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan reputasi kita tanpa membuatmu merasa terasing."

Alicia menunduk, menyandarkan keningnya di tangan Rafael yang ia pegang. Mereka berdua terisak dalam diam di tengah kemewahan kamar rumah sakit yang kini terasa begitu sempit oleh emosi.

Namun tak lama berselang, keintiman itu segera terganggu. Suara riuh rendah terdengar dari luar jendela rumah sakit. Alicia berdiri dan berjalan menuju balkon. Di bawah sana, di jalanan depan rumah sakit, ratusan orang berkumpul dengan obor dan poster-poster menghujat.

"ALICIA VALERO: SUTRADARA DARAH!"

"KEADILAN UNTUK SANTIAGO!"

"BERHENTI MEMBOHONGI MASYARAKAT!"

Isabel telah berhasil. Ia telah mengubah seorang pelaku kriminal seperti Santiago menjadi "korban konspirasi" dan mengubah Alicia serta Rafael menjadi "penjahat korporat yang haus perhatian".

"Mereka ada di sini," bisik Alicia, tubuhnya gemetar melihat massa yang semakin beringas. Beberapa orang mulai mencoba menerobos barikade keamanan rumah sakit. "Rafael, mereka mencoba masuk!"

Ponsel Alicia berdering. Itu dari Don Mateo.

"Alicia! Jangan keluar dari kamar! Massa sedang mengepung kantor Solera dan rumah sakit. Isabel baru saja mengunggah 'bukti' baru di internet—sebuah kuitansi palsu yang menunjukkan kau membayar aktor untuk menjadi polisi di hari kejadian!"

"Kuitansi palsu?" Alicia berteriak ke ponselnya. "Ayah, itu gila! Siapa yang akan percaya?!"

"Orang-orang yang marah tidak butuh logika, Alicia! Mereka butuh pelampiasan! Investor kita mulai panik. Dewan direksi menuntut kau mundur untuk sementara waktu agar situasi mendingin!"

Alicia menutup teleponnya, kakinya lemas. Ia menatap Rafael yang kini mencoba turun dari tempat tidur dengan susah payah.

"Jangan bergerak, Rafael! Luka itu belum pulih!"

"Persetan dengan luka ini!" geram Rafael. Ia berhasil berdiri, memegang tiang infus sebagai penyangga. "Mereka berani mengancammu di depan mataku? Isabel sudah melewati batas. Dia tidak hanya menyerang bisnis kita, dia menyerang keselamatanmu."

Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari lantai bawah, diikuti oleh teriakan keamanan yang kewalahan. Suasana di rumah sakit menjadi kacau. Suster dan dokter berlarian di lorong, mencoba mengunci pintu-pintu bangsal.

Rafael meraih jaketnya yang tersampir di kursi, mencoba menutupi noda darah yang mulai merembes di perban perutnya. "Alicia, dengarkan aku. Kita tidak bisa tetap di sini. Mobil keamananku sudah dalam perjalanan, tapi kita harus mencapai basemen."

"Tapi kau tidak bisa berjalan jauh!" Alicia memegang lengan Rafael, matanya penuh kekhawatiran.

"Aku bisa, jika itu untuk membawamu keluar dari sini," tegas Rafael. Ia menangkup wajah Alicia dengan kedua tangannya, menatapnya dengan perpaduan antara dominasi yang kembali dan kerentanan yang baru saja ia tunjukkan. "Kau bilang kau ingin melihatku sebagai pria, bukan monumen? Maka lihatlah pria ini bertarung untukmu."

Mereka keluar ke lorong yang gelap karena lampu darurat mulai menyala. Bau asap mulai tercium—seseorang di bawah sana mungkin telah menyulut api. Alicia merasa seolah-olah ia kembali ke malam kebakaran penthouse, namun kali ini, musuhnya bukan hanya api, melainkan ribuan manusia yang telah teracuni oleh fitnah Isabel.

Saat mereka mencapai lift darurat, pintu lift terbuka dan muncullah dua orang pengawal Rafael yang tampak berantakan. "Tuan, kita harus lewat tangga darurat belakang. Massa sudah menguasai lobi utama."

"Bawa Alicia dulu," perintah Rafael.

"Tidak! Kita pergi bersama!" Alicia menggenggam tangan Rafael dengan sangat erat, menolak untuk dilepaskan.

Mereka mulai menuruni tangga darurat dalam keheningan yang mencekam. Setiap langkah Rafael adalah perjuangan melawan rasa sakit yang luar biasa. Alicia bisa mendengar napas Rafael yang berat dan tersengal, namun pria itu terus melangkah, matanya tetap fokus ke depan.

Di salah satu bordes tangga, Rafael jatuh berlutut. Darah kini benar-benar membasahi kemeja rumah sakitnya.

"Rafael!" Alicia berlutut di sampingnya, mencoba menahan tubuh besar pria itu.

"Pergilah, Alicia... bawa pengawal ini... aku akan menyusul..." bisik Rafael, wajahnya seputih kertas.

"TIDAK!" Alicia berteriak, suaranya bergema di lorong tangga yang dingin. "Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku! Kau bilang kau akan menjagaku! Bangun, Rafael! Jangan berani-berani kau menjadi pahlawan yang mati di sini!"

Alicia meraih wajah Rafael, menciumnya dengan penuh keputusasaan. "Tunjukkan padaku kerentananmu, tapi jangan berikan aku kematianmu! Aku mencintaimu, Rafael! Kau dengar? Aku mencintaimu!"

Mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam diri Rafael seolah bangkit kembali. Ia menatap Alicia, melihat ketakutan dan cinta yang begitu murni di mata wanita itu. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, ia menarik dirinya untuk berdiri kembali.

"Kalau begitu..." bisik Rafael di telinga Alicia, bibirnya menyentuh kulitnya yang basah oleh air mata. "Simpan kata-kata itu untuk malam saat kita benar-benar selamat. Karena sekarang, kita punya neraka yang harus kita lewati."

Mereka berhasil mencapai basemen dan masuk ke dalam mobil lapis baja yang sudah menunggu. Saat mobil itu melaju keluar, massa mencoba menghalangi jalan, melempari kaca mobil dengan batu dan cat merah. Namun, Alicia tidak lagi melihat ke luar. Ia hanya memeluk Rafael yang kini terkulai lemas di sampingnya, memberikan kehangatan yang dibutuhkan pria itu.

Di layar ponsel yang masih menyala di lantai mobil, Isabel masih terus bicara di televisi. Namun kali ini, Alicia tidak lagi merasa takut. Ia melihat musuhnya itu dengan cara yang berbeda. Isabel hanyalah wanita kesepian yang tidak pernah tahu rasanya mencintai dan dicintai sampai mempertaruhkan nyawa.

"Kau menang untuk saat ini, Isabel," gumam Alicia dalam hati. "Tapi kau baru saja membangunkan naga yang salah. Kau memberikan kami alasan untuk tidak hanya menghancurkanmu, tapi melenyapkanmu dari sejarah."

Rafael menggenggam tangan Alicia, tenaganya sangat lemah, namun genggamannya terasa lebih nyata dari sebelumnya.

"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya sopir dengan cemas.

"Ke rumah aman di pinggiran kota," jawab Alicia sebelum Rafael sempat bicara. "Dan panggil dokter pribadi paling terpercaya. Perang ini akan berlangsung lama, dan aku butuh pasanganku dalam keadaan utuh."

Malam itu, di tengah kepungan fitnah dan kemarahan publik, Alicia Valero menyadari satu hal: Dominasi bisa memenangkan bisnis, tapi kerentananlah yang memenangkan hati. Dan dengan hati Rafael yang kini berada di tangannya, ia merasa lebih berkuasa daripada saat ia memiliki seluruh saham Solera.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!