NovelToon NovelToon
Istri Balas Dendam CEO Winter

Istri Balas Dendam CEO Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Winter Alzona, CEO termuda dan tercantik Asia Tenggara, berdiri di puncak kejayaannya.
Namun di balik glamor itu, dia menyimpan satu tujuan: menghancurkan pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya—Darren Reigar, pengusaha muda ambisius yang dulu menginjak harga dirinya.

Saat perusahaan Darren terancam bangkrut akibat skandal internal, Winter menawarkan “bantuan”…
Dengan satu syarat: Darren harus menikah dengannya.

Pernikahan dingin itu seharusnya hanya alat balas dendam Winter. Dia ingin menunjukkan bahwa dialah yang sekarang memegang kuasa—bahwa Darren pernah meremehkan orang yang salah.

Tapi ada satu hal yang tidak dia prediksi:

Darren tidak lagi sama.
Pria itu misterius, lebih gelap, lebih menggoda… dan tampak menyimpan rahasia yang membuat Winter justru terjebak dalam permainan berbeda—permainan ketertarikan, obsesi, dan keintiman yang makin hari makin membakar batas mereka.

Apakah ini perang balas dendam…
Atau cinta yang dipaksakan takdir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — “Malam yang Terlalu Sunyi”

​Malam itu, Jakarta tampak muram di balik tirai hujan yang tak kunjung reda. Di dalam penthouse mewah Alzona, keheningan biasanya adalah sesuatu yang mahal, namun kali ini keheningan itu terasa mencekik. Setelah perdebatan tentang konferensi pers tadi sore, Winter dan Darren menarik diri ke sudut masing-masing, seperti dua petarung yang sedang menjilat luka di sudut ring.

​Winter sedang berada di ruang kerjanya, menatap tumpukan laporan keuangan yang angka-angkanya tampak kabur di matanya. Pikirannya terus berputar pada kata-kata Darren: “Aku memilih untuk berbohong demi kebenaran yang lebih besar.”

​Tiba-tiba, terdengar suara dentuman rendah dari arah panel listrik di luar, diikuti dengan suara tarikan napas pendek dari sistem pendingin ruangan yang mendadak mati. Dalam hitungan detik, seluruh lampu di penthouse padam. Kegelapan total menyergap.

​"Sial," umpat Winter pelan. Ia meraba-raba meja kerjanya, mencari ponselnya, namun ia justru menjatuhkan tumpukan kertas ke lantai.

​"Winter? Kau di mana?" suara bariton Darren terdengar dari arah ruang tengah. Suaranya tenang, namun ada nada kewaspadaan di sana.

​"Aku di ruang kerja," sahut Winter, berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Sepertinya ada gangguan pada trafo gedung karena petir tadi."

​Cahaya kecil mulai muncul dari kejauhan—senter dari ponsel Darren. Cahaya itu bergerak mendekat, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding koridor. Darren muncul di pintu ruang kerja, wajahnya diterangi dari bawah oleh cahaya ponsel, memberikan kesan misterius sekaligus melindungi.

​"Sistem cadangan gedung biasanya butuh waktu sepuluh menit untuk menyala jika terjadi lonjakan besar," ujar Darren. Ia berjalan mendekati Winter, mengarahkan cahaya ke arah kaki Winter agar ia tidak tersandung kertas yang berserakan.

​"Aku bisa sendiri, Darren," ujar Winter ketus, meski ia tetap diam di tempatnya.

​"Jangan keras kepala di tengah kegelapan, Winter. Kau bisa jatuh," balas Darren. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi lampu menghadap ke langit-langit, menciptakan pendaran cahaya redup yang memenuhi ruangan.

​Winter duduk kembali di kursinya, sementara Darren bersandar pada pinggiran meja, hanya beberapa jengkal dari tempat Winter duduk. Tanpa AC, udara di ruangan itu mulai terasa hangat dan lembap. Suara rintik hujan yang menghantam jendela kaca menjadi satu-satunya latar musik di antara mereka.

​"Kau tahu," Darren memulai pembicaraan, suaranya kini lebih lembut, "dulu di Tokyo, saat kita terjebak badai salju di apartemen kecilmu dan listrik mati, kau tidak pernah protes saat aku memegang tanganmu."

​Winter memalingkan wajah ke arah jendela. "Itu dulu, Darren. Kita masih remaja yang naif. Kita tidak tahu bahwa dunia bisa sekejam ini."

​"Atau mungkin kita yang membuat dunia ini terasa kejam karena kita terlalu lelah untuk jujur," sahut Darren. Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat letih. "Aku lelah, Winter. Sangat lelah."

​Winter tertegun. Ini pertama kalinya ia mendengar Darren mengakui kelemahannya. Pria yang selalu tampak sempurna, selalu memiliki rencana cadangan, dan selalu berdiri tegak di depan kamera, kini terdengar sangat rapuh.

​"Lelah karena apa?" tanya Winter pelan.

​"Lelah berpura-pura bahwa aku tidak peduli saat kau menatapku dengan kebencian. Lelah menjadi tameng bagi seseorang yang justru ingin menghancurkanku. Dan lelah mencoba menebus kesalahan yang bahkan tidak sepenuhnya kulakukan."

​Winter menatap bayangan Darren di dinding. "Kau pikir aku tidak lelah? Aku membawa beban nama Alzona sendirian selama bertahun-tahun. Aku harus menjadi monster agar tidak dimakan oleh monster lain. Aku kehilangan kemampuanku untuk percaya pada siapa pun karena orang yang paling aku percayai meninggalkanku tanpa kabar di saat aku paling membutuhkannya."

​"Aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu, Winter," bisik Darren. Ia bergeser sedikit, tangannya kini berada di atas meja, sangat dekat dengan tangan Winter. "Aku hanya sedang mengumpulkan kekuatan untuk kembali padamu. Tapi aku tidak tahu bahwa saat aku kembali, kau sudah membangun tembok yang begitu tinggi."

​Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan itu tidak lagi tajam. Ada rasa trauma yang sama-sama mereka bagi, rasa kesepian yang mereka rasakan meskipun berada di puncak kesuksesan duniawi.

​"Kadang aku berharap kita tidak pernah menjadi orang-orang hebat ini," ujar Winter, suaranya bergetar. "Aku rindu saat kita hanya dua mahasiswa yang berbagi ramen instan dan membicarakan masa depan yang tidak pasti. Di sana, setidaknya, aku tahu siapa kau."

​"Aku masih orang yang sama, Winter," Darren meraih tangan Winter. Kali ini, Winter tidak menariknya. Jari-jari mereka saling bertaut di bawah pendaran cahaya ponsel yang meredup. "Hanya saja, aku memakai baju besi yang lebih tebal sekarang. Sama sepertimu."

​Jarak di antara mereka semakin terkikis. Secara fisik, mereka hanya terpisah beberapa sentimeter, namun secara emosional, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, mereka berada di frekuensi yang sama. Winter merasakan kehangatan tangan Darren menjalar ke lengannya, meruntuhkan sedikit demi sedikit lapisan es yang membeku di hatinya.

​"Aku takut, Darren," aku Winter, suaranya nyaris hilang ditelan kegelapan.

​"Takut akan apa?"

​"Takut bahwa jika aku berhenti membencimu, aku tidak akan punya alasan lagi untuk bertahan di dunia yang kejam ini. Kebencian padamu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap berdiri tegak selama ini."

​Darren menarik tangan Winter, membawa wanita itu berdiri dan menariknya perlahan ke dalam pelukannya. Winter menyandarkan kepalanya di dada Darren, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan konstan.

​"Maka berhentilah berdiri tegak untuk sementara waktu," bisik Darren di telinga Winter. "Sandarkan bebanmu padaku. Biarkan aku yang menjadi alasanmu untuk tetap bertahan, bukan sebagai musuh, tapi sebagai sesuatu yang nyata."

​Malam yang terlalu sunyi itu menjadi saksi di mana dua jiwa yang terluka mencoba menemukan jalan pulang. Di tengah kegelapan penthouse yang megah, mereka tidak lagi melihat kontrak atau perusahaan. Mereka hanya melihat satu sama lain—dua manusia yang sangat lelah dan sangat merindukan kedamaian yang hanya bisa ditemukan dalam pelukan satu sama lain.

​Saat lampu sistem cadangan tiba-tiba menyala kembali, menyinari ruangan dengan cahaya putih yang terang, mereka tidak segera melepaskan pelukan itu. Ada keengganan untuk kembali ke realita yang penuh dengan intrik, karena dalam kegelapan tadi, mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua saham Alzona Group di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!