Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Semua Mengajak Bicara
Masih di dalam kamar.
Pada akhirnya Mona merasa bosan. Mona berdiri, jika terlalu lama termenung, yang ada, bayang-bayang tentang cincin yang melingkar di jarinya akan terus terngiang di kepalanya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Mona beranjak keluar dari kamar. Tenggorokannya terasa kering dan haus. Sepertinya makanan di restoran tadi terlalau menyangkut di leher hingga menimbulkan rasa haus yang berlebih.
“Jadi selama ini, nenek menyembunyikan semua ini dariku?” sembur Arga dengan wajah di buat cemberut. Santi yang tak kunjung berhenti tertawa membuat Arga semakin jengkel.
“Bukan merahasiakan, tapi memang belum ada waktu untuk bercerita,” jelas Meri.
Arga langsung ternganga dengan mata membulat. “Belum ada waktu nenek bilang? Lalu tiga tahun itu apa? Keterlaluan sekali!” Arga menggerutu. Karena jengkel, akhirnya Arga beranjak dari dua orang yang masih terkekeh menertawainya.
“Dasar!! tega-teganya kalian menyembunyikan hal ini dariku!”
Brak!!
Arga menutup pintu dengan keras, hingga membuat dua orang di dalam sana mengatupkan bibir. Sementara di luar sini, suara itu mengejutkan seorang gadis yang sedang meneguk minuman. Untung saja dia tidak tersedak.
“Kak Arga?” ucap Mona. Gelas yang ia pegang di letakkan di atas meja.
Melihat gadis itu, Arga justru langsung membuang muka dan berlenggak pergi.
“Kak Arga!” panggil Mona sambil mengejar Arga yang sudah menaiki anak tangga.
“Apa sih?!” Arga berdecak. Kakinya berhenti lalu mencondongkan badan menatap Mona. “Apa??”
“Anu....” Mona memainkan kedua jari telunjuknya. “Aku mau tanya....” Mona mendongak dengan ujung bibir tertarik di tambah mata berkedip-kedip.
“Aish!!” Arga memutar pandangan, menepuk jidatnya sendiri karena tak tahan melihat betapa menggemaskannya wajah Mona.
“Besok saja! Aku mau tidur!” Arga menyingkirkan Mona hingga terpepet ke pembatas tangga, sementara Arga kembali melangkah lagi.
“Kak Argaaa!!” Mona merajuk. Kedua kakinya menghentak-hentakkan kedua kaki. Sementara Arga tetap melengos dan terus menaiki anak tangga.
“Ada apa, Mona?” tanya Meri dan Santi bersamaan.
Sambil mendengus kesal, kedua tangan yang berayun dan bibir cemberut, Mona turun dari anak tangga menghampiri nenek dan ibunya.
“Kau kenapa?” tanya Meri sambil memeluk tubuh Mona yang sudah bergelayutan manja.
“Arga lagi, hemm?” Santi bertanya.
“Iya ibu.” Mona masih manyun. “Lihat!” Mona mengangkat telapak tangan tinggi-tinggi tepat di depan wajah nenek dan ibunya.
Meri dan Santi refleks langsung menyusuri telapak tangan itu, hingga pandangan mereka berhenti pada cincin putih yang melingkar di jari manis Mona.
“Cincin?” Santi dan Meri langsung beralih menatap Mona dengan penuh tanda tanya.
“Iya!” Mona masih menjawab dengan jengkel.
“Cincin apa ini, sayang?” tanya Meri saat meraih telapak tangan Mona.
“Kau dapat dari mana?” Imbuh Santi.
“Dari kak Arga.”
“Apa?!!” kedua orang itu berteriak, hingga membuat Mona melepas pelukannya dan sontak berjinjit kaget.
Mona bergidik, lalu menggosok-gosok daun telinganya. “Kenapa kalian berteriak? Aku kan kaget,” keluh Mona.
Sebelum menjawab, Meri terlebih dulu menggeser tubuh Mona hingga jatuh di pelukan ibunya. Mona yang bingung hanya menurut saja.
“Kau tunggu sini. Nenek mau bicara dengan Arga.” Meri langsung beranjak menaiki anak tangga menuju kamar Arga.
“Ada apa dengan nenek?” tanya Mona heran.
“Bukan apa-apa, kita tanya saja nanti.” Santi tersenyum. “Ini sudah malam, kau mau tidur atau bagaimana?”
Mona menggeleng. “Aku belum mengantuk.”
“Ya sudah, kau nonton TV saja di ruang tengah. Ambil saja cemilan di kulkas. Ibu masuk kamar ya? Kau tak apa sendirian kan?”
Mona mengangguk. “Iya ibu. Ibu istirahatlah, besok kan harus mengurus butik yang sedang ramai.” Mona memeluk Santi sebelum Santi beranjak.
“Ibu masuk dulu ya, kasihan ayah juga sudah menunggu.” Santi terkekeh sambil mengusap dagu Mona. Mona hanya tersenyum lalu bergegas pergi ke dapur untuk mengambil cemilan.
“Arga! Buka pintunya,” panggil Meri sambil mengetuk pintu.
Di dalam sana, Arga yang sudah menggelar selimut di atas badannya, sontak mendengus sambil menendang-nendang kakinya di atas kasur, membuat selimut itu tergulung tak karuan.
Bukankah itu terlihat seperti anak kecil?
Dengan malas, Arga merangkak turun dari atas ranjang.
“Apa sih, Nek?” Tanya Arga malas. Belum sempat Meri menjawab, Arga sudah ngoceh lagi. “Kenapa sekarang nenek jadi seperti Mona? Senang sekali jika menggangguku. Haish!!”
Meri hanya melotot, lalu mendorong tubuh Arga supaya masuk kembali ke dalam kamar. “Nenek mau bicara denganmu!”
“Dari kemarin juga begitu. Tidak nenek, tidak ibu, semua ingin mengajakku berbicara.” Arga masih meracau tidak karuan.
“Diamlah!” gertak Meri sambil menunjuk. Memang tidak ada raut marah, itu hanya sebuah gertakan biasa. “Kau juga mirip dengan Mona. Dasar!”
“Aku?” Arga menunjuk dadanya sendiri. “Bagian mana yang mirip dengan bocah itu?” Arga menjulingkan mata, lalu merangkak lagi ke atas kasur. Meri meraih kursi lalu menyeretnya ke dekat tepi ranjang.
“Lihat?!” Meri mengangkat kedua alisnya. “Kau sama ngeyelnya dengan Mona. Watakmu juga masih seperti bocah.”
“Sudahlah!” Arga mengibas tangan di udara. Ia menyenderkan punggung di dinding ranjang. “Nenek mau bicara apa? Soal Mona lagi?” Arga menebak.
“Tentu saja!” Kali ini wajah Meri sudah terlihat serius.
“Apa kau melamar Mona?” Meri langsung masuk pada intinya.
Arga tak menggubris. Ia diam seperti tak peduli dengan pertanyaan nenek. Bukan tak peduli, hanya saja Arga malu untuk mengakuinya. Apalagi mengingat bagaimana proses lamarannya tadi. Huh! Sungguh menggelikan.
“Hei, Arga!” Meri menjentikkan dua jarinya dengan keras. Arga langsung bergidik. “Kenapa malah bengong?”
Kedua pundak Arga terangkat. “Tidak. Tidak ada apa-apa.”
“Kalau begitu, jawab pertanyaan nenek! Kau sudah melamar Mona?”
Arga membuang napas kasar. Mau tak mau, memang Arga harus bercerita dengan nenek. Toh Arga juga butuh pendapat kan?
“Iya... aku melamar Mona. Tadi aku mengajaknya makan malam,” jelas Arga.
“Lalu, kenapa kau cemberut begitu? Apa kau di tolak?” goda nenek sambil mengulum senyum.
Arga justru berdecak. “Bukan begitu!” Satu tangan meraih bantal lalu memangkunya. “Sepertinya Mona tidak paham dengan maksudku. Bahkan dia tidak mengerti kenapa aku memberinya cincin.” Arga membuang napas lagi.
Sepertinya memang Mona tidak paham. Tadi dia kan kebingungan. Meri membatin.
“Aku rasa Mona itu bukan hanya bodoh dalam mata pelajaran, tapi dia juga bodoh dalam segala hal,” cerca Arga di ikuti helaan napas panjang.
“Kau!!” Meri melempar bantal guling tepat di wajah Arga. Arga hanya mendengus lalu menyingkirkan bantal itu. “Dia bukan bodoh. Mona hanya perlu mendapat penjelasan. Kau juga pasti melamarnya bukan dengan cara yang lembut kan?”
Haish!! Arga membuang muka lagi. Memangnya harus seperti apa cara melamar bocah itu, apa harus bersimpuh seperti di siaran TV? Tidak mungkin!
“Jelaskan pada Mona maksudmu. Nenek juga akan membantu. Ingat! Jangan membuat Mona tambah bingung.”
“Iya, iya. Besok aku jelaskan lagi padanya.”
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...