Seorang gadis manis bernama Hazel, berumur 21 tahun, harus menggantikan posisi saudara kembarnya yang bernama Hazely. Untuk menjadi kekasih dari seorang tuan muda bernama Mark Harold Sebenarnya dia tidak mau melakukan itu, tapi di karenakan keadaan Mark yang begitu memprihatinkan ia terpaksa melakukannya.
Bagaimana jika sang tuan muda tau, jika yang menjadi kekasihnya saat ini bukanlah kekasihnya?...
Penasaran? Yuk, ikuti selengkapnya di cerita ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNGNANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT BELAS
Hari ini seperti biasa Abila kembali menemani Jovin pergi ke kantor nya. Abila lumayan mengenal semua pegawai di kantor itu karena mereka sering bertemu. Tak terkecuali dengan Sekretaris Jovin, yang bernama Sasa. Seiring berjalannya waktu Abila menjalin persahabatan dengan gadis itu.
Seperti saat ini, Abila sedang merasa bosan berada di ruangan Jovin, jadi ia meminta ijin untuk ke ruangan Sasa.
"sayang....aku ingin pergi ke ruangan Sasa boleh?." tanya nya.
"untuk apa hm?." jawab Jovin, sambil menatap fokus pada layar laptop di hadapannya.
"aku hanya bosan, aku berjanji akan segera kembali ke sini." ujar nya.
Jovin hanya mengangguk tanda mengijinkan.
Abila memasuki ruang kerja Sasa, menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"hai Sa... kau sibuk tidak?."
"tidak juga, kebiasaan tidak mengetuk pintu." cerca nya.
Abila hanya terkekeh tak berdosa.
"he..he.. aku lupa , maaf."
"tumben sekali kau ke ruangan ku, kau tidak takut kalau pawang mu marah?." goda Sasa.
"aku sudah meminta ijin kepada nya tadi." ujar Abila, pandangan nya menelisik ke bawah meja.
"Sa...boleh aku pinjam majalah mu itu?." ijin Abila kemudian.
"pinjam saja , aku sudah membaca nya... oh ya, di situ ada ramalan bintang nya dan sudah berulang kali aku mencoba keberuntungan dengan ramalan itu." sahut Sasa serius.
"astaga... hari gini kau masih percaya saja dengan yang namanya ramalan bintang." cibir Abila.
"ya boleh percaya boleh tidak sih....tapi aku sedikit mempercayai nya." ucap Sasa.
"terserah mu saja... majalah nya aku bawa ya, seperti nya aku sedikit penasaran dengan yang kau ucapkan." ucap Abila dan kemudian pergi tanpa mengucapkan permisi , Sasa hanya tersenyum seraya menggeleng pelan. Terlalu hafal dengan tabiat kekasih atasannya ini.
Abila dengan riang membawa majalah itu ke ruang kerja Jovin, Ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruangan itu, sambil membuka lembar demi lembar majalah di tangan nya.
Pemandangan itu tak luput dari tatapan Jovin,
Benarkah dia Adira ku? seorang Adira membaca majalah murahan seperti itu? apakah aku tidak salah lihat?. Gumamnya.
Semakin hari Jovin semakin merasakan perbedaan antara Adira yang sekarang dengan Adira yang dulu. Sifat Adira yang sekarang benar-benar berbanding terbalik dengan sifat Adira yang dulu. Jika boleh jujur Jovin lebih menyukai Adira yang sekarang, karena lebih manis, ramah dan lebih suka hidup sederhana. Bolehkah jika Jovin kembali jatuh cinta pada kekasih nya yang sekarang?.
Waktu berlalu begitu saja, Jovin sudah menyelesaikan semua tugas kantor nya begitu juga Abila ia juga sudah menyelesaikan acara membaca majalah nya. Kini mereka memutuskan untuk segera pulang. Hari ini Abila sengaja tak ingin di antarkan Jovin, karena ia ingin pergi ke rumah Mika, Abila begitu merindukan sosok sahabat nya ngomong-ngomong. Dengan beribu alasan akhirnya Abila mendapatkan ijin dari pemuda itu.
Akhir pekan merupakan hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Nichol, pasalnya keluarga itu selalu memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di bandingkan dengan bepergian keluar rumah.
Begitu juga dengan Abila , gadis itu sudah datang ke Mansion Nichol pagi-pagi sekali.
Semua anggota keluarga sibuk dengan aktivitas nya masing-masing. Johan dan Jovin sedang bermain game, Tuan Nichol sedang membaca koran pagi, sedang Abila dan Nyonya Nichol sedang membaca majalah edisi terbaru yang baru saja di belikan oleh Jovin kemarin.
Nyonya Nichol begitu menyukai sifat Abila, walau masih belum lama saling mengenal , namun Nyonya Nichol sudah bisa menilai bahwa Abila adalah sosok gadis baik-baik. Ia tau sifat Abila tidak seperti Adira yang sangat gila harta. Nyonya Nichol sangat berharap agar suatu saat nanti Abila benar-benar menjadi menantu nya bukan sebagai menantu pura-pura lagi.
Johan tersenyum melihat kedekatan Abila dengan kedua orang tua nya.
Kau hebat Abila, bahkan dengan pesona mu kau bisa dengan mudah mengambil hati kedua orang tua ku, yang notabene nya mereka sangat memilih untuk jodoh anak-anak nya.
Johan menyunggingkan sebelah bibir nya, terbesit di otaknya untuk sedikit mengerjai gadis itu.
"untuk apa kau membaca majalah seperti itu? kurang kerjaan saja." cibir Johan.
Abila hanya merotasi bola matanya, lagi-lagi harus berurusan dengan pemuda itu, batinya.
"memang nya kenapa? aku menyukai nya, iya kan Mom?." tanya nya sembari menoleh ke arah Nyonya Nichol.
Nyonya Nichol tersenyum manis, dan berkata.
"benar sekali, tau apa mereka tentang wanita, iya kan menantuku?."
Abila dibuat tersipu oleh kata-kata yang baru di ucapkan Nyonya Nichol. Mereka terlalu asyik bercanda ria , hingga mengabaikan sosok pemuda yang sedari tadi mengamati tingkah mereka. Pemuda itu tak lain adalah Jovin.
Kenapa semua semakin membingungkan, sebenarnya siapa kau Adira? kenapa kau bisa begitu dekat dengan Kakak ku, dan juga Mommi tadi baru saja menyebut Adira sebagai menantu nya? sejak kapan Mommi menyukai Adira? bukan kah dulu Mommi begitu menentang hubungan ku. Sebenarnya apa yang selama ini tidak ku mengerti.
Tuan Nichol mengedip-ngedipkan kan sebelah mata nya, memberikan isyarat ke pada mereka bertiga bahwa Jovin sedang mengamati gerak gerik mereka.
Semua terdiam, hingga Abila segera mengambil tindakan. Ia mendekati Jovin dan memeluknya dari belakang.
"sayang... aku ingin jalan-jalan, kau bisa menemani ku hm?." tanya nya begitu manja.
Jovin tersenyum dan mengecup pipi mulus gadis itu.
"apa pun untuk mu sayang... kau mau kemana hm?."
"nanti akan aku tunjukkan ke suatu tempat yang membuat mu tidak akan bisa melupakan momen itu dalam hidup mu." sahut Abila, boleh kah jika ia menciptakan dunia nya sendiri bersama Jovin, ia ingin punya kenangan bersama pemuda itu.
Jovin mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Abila, hingga mobil nya terhenti tepat di sebuah wahana seperti pasar malam, yang terkesan sederhana tiada kemewahan sedikit pun.
"kau tidak salah tempat kan sayang? ." tanya Jovin memastikan.
"tidak, aku akan menunjukkan pada mu bahwa kebahagiaan tidak harus di beli dengan harga yang mahal." ucapnya sambil memasuki tempat itu.
Jovin sedikit terkejut, melihat ke sekeliling banyak pasangan kekasih yang terlihat begitu bahagia menikmati kebersamaan mereka. Selama ini ia belum pernah merasakan dunia bebas seperti malam ini.
"sayang kau lihat baju copley itu? aku ingin membelinya dan memakai nya bersama mu." pekik Abila, sambil menunjuk ke arah penjual baju di hadapannya.
Jovin mengernyitkan dahi nya.
"sayang itu baju murahan, aku bisa membelikan mu baju bermerk dari butik termahal yang ada di sini . Memang nya kau tidak takut tubuh mu gatal-gatal?." titah Jovin khawatir.
"sudah ku bilang, bahagia itu tidak harus mahal kan?." Abila menarik Jovin menuju ke penjual baju itu, mau tak mau Jovin akhirnya menuruti kemauan kekasih nya.
Mereka pun selesai membeli baju itu dan memakai nya.
Mereka pun memutuskan untuk mengabadikan momen mereka berdua.
Abila ingin tertawa rasanya melihat ekspresi datar pemuda itu.
"astaga... apa kau tidak bisa tersenyum sedikit saja?." tanya nya sambil tertawa terbahak.
"aku hanya tidak terbiasa berpose di depan kamera, sayang..."
"setelah ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat lagi , aku tak mau ada penolakan." pinta Abila. Jovin hanya mengangguk, yang penting kekasihnya nya bahagia. Jujur Jovin baru kali ini merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Adira yang dulu tidak pernah membuat nya tersenyum lepas seperti saat ini.
hilang terus
tapi menarik alurne
semangat thor💪💪
klo hilang kmn coba
cm bisa tau dr komen2 org2
gmna mau baca