Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pak Adi masuk ke ruangan Silvi, tapi di dalam ruangan Silvi tidak ada siapa-siapa.
"Silvi dimana?" tanya Pak Adi pada Andika yang mengikutinya.
Andika menggelengkan kepalanya karena sedari tadi dia memang belum melihat kondisi Silvi sama sekali. "Suster! Silvi dimana?" teriak Andika pada suster yang berjaga di dekat ruangan vip itu.
Dua suster seketika berlari ke ruangan itu, "Tadi pasien ada di ruangannya."
"Jangan-jangan Silvi kabur." Pak Adi dan Andika segera mencari Silvi menyusuri lorong-lorong rumah sakit.
Sedangkan Pak Reka kini duduk dengan lemas sambil memegangi dadanya yang terasa semakin sakit.
"Pak, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu suster karena melihat Pak Reka yang meringis kesakitan.
Pak Reka hanya menggelengkan kepalanya lalu dia menghubungi istri dan putra keduanya agar menyusul ke rumah sakit.
"Suster, bantu saya menemui Dokter Huda saja. Sepertinya jantung saya kambuh."
"Baik, Pak."
Dengan bantuan suster, Pak Reka menuju ruangan Dokter Huda, Dokter spesialis jantung yang biasa menangani penyakitnya. Saat usia 57 tahun, tiba-tiba penyakit itu datang menyerang tubuhnya. Di tambah, Andika yang semakin berulah. Rasa sakit itu kambuh lagi.
Dulu dia menyuruh Andika kuliah di luar negri dari S1 dan berlanjut ke S2 berharap Andika bisa memimpin perusahaan dengan benar tapi ternyata justru sisi negatif yang diambil Andika. Andika berada diluar pengawasannya dan semakin menjadi saat tinggal di apartemennya sendiri.
...***...
Silvi menuruti bisikan setan itu. Dia naik ke pagar jembatan dengan pandangan mata yang terus melihat aliran sungai yang sangat deras itu.
Hidup aku sudah hancur. Biarkan aku pergi saja dari dunia ini. Ayah maafkan Silvi...
Tepat saat Silvi akan melompat, ada yang menarik tubuhnya hingga membuatnya jatuh di pinggir jalan.
"Silvi, apa yang lo lakuin!"
Silvi kini menatap nanar seseorang yang menolongnya itu. "Dion, biarkan gue mati saja. Hidup gue sudah hancur." Silvi berusaha melepas cekalan Dion yang sangat kuat.
"Nggak! Bukan kayak gini cara menyelesaikan masalah." Dion semakin memeluk tubuh Silvi.
Silvi kini menangis histeris sambil terduduk lemas di pinggir jalan. "Hidup gue udah hancur. Buat apa lagi gue hidup." kata Silvi terbata di sela isak tangisnya.
Dion terus mendekap tubuh Silvi. "Ayo, gue antar pulang."
"Gue gak mau pulang." Silvi masih saja menangis terisak. Tapi dia sudah tidak memberontak lagi ingin lepas dari Dion.
"Ya udah lo ikut gue." Baru juga Dion membantu Silvi berdiri, Silvi kembali tak sadarkan diri. Dion segera menghubungi sopirnya. "Pak, bawa mobil mendekat ke jembatan sekarang juga!"
Setelah mobil Dion mendekat, Dion segera membawa Silvi masuk ke dalam mobilnya. "Pak, panggilkan Dokter Shia ke rumah."
"Baik, Tuan."
Dion terus menatap wajah pucat Silvi. Sebenarnya sedari tadi dia terus mengikuti Silvi. Dia juga tahu Silvi dibawa ke rumah sakit dan mengalami keguguran.
"Andika dari Sanjaya Group!" Dion menghela napas panjang. "Bagaimana bisa dia menyekap Silvi, apa semua ini karena uang." Dia singkirkan anak rambut yang menutupi wajah Silvi.
Gue harus memenangkan pertandingan itu!
Kesempatan hanya ada satu kali, jika gue gagal semua akan berakhir!
Dion mengingat semua perkataan Silvi saat akan mengikuti kompetisi yang berakhir gagal itu karena kaki Silvi yang cidera. Dia semakin memeluk Silvi. Andai saja dia membantu Silvi waktu itu, Silvi pasti tidak akan sehancur ini.
Setelah sampai di depan rumahnya yang besar dan mewah, Dion membawa Silvi masuk ke dalam kamar tamu, dia menurunkan Silvi lalu menyelimuti tubuhnya.
"Silvi, lekas membaik. Lo gadis yang kuat." Dia usap puncak kepala Silvi untuk memberinya kenyamanan.
Beberapa saat kemudian Dokter Shia datang dan memeriksa keadaan Silvi.
"Tensi darahnya sangat rendah, dia juga dehidrasi. Mau dibawa ke rumah sakit atau di infus di rumah saja?" tanya Dokter Shia.
"Infus di rumah saja, Dok."
"Oke. Saya suruh assistant saya mengambil peralatan infus dulu."
"Bagaimana cara perawatan pasca keguguran. Teman saya ini mengalami keguguran dan kekerasan seksual. Dia juga mengalami trauma yang berat." Jelas Dion tentang kondisi Silvi yang sebenarnya.
"Nanti saya resepkan obat antibiotik, penambah darah dan penghilang rasa nyeri. Untuk trauma bisa konsultasi ke psikiater."
Dion terus menatap Silvi yang masih memejamkan matanya.
Silvi semoga kamu lekas membaik.
...***...
Andika sudah mencari memutari seluruh penjuru rumah sakit tapi tidak menemukan Silvi.
"Silvi, kamu dimana?" Dia keluar menuju jalan raya dan bertanya pada satpam serta orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Tapi tidak ada yang melihat Silvi.
Dia tarik napas panjang, lalu melangkahkan kakinya pelan kembali ke dalam rumah sakit.
"Pak Dika, pokoknya Bapak harus menemukan Silvi!" Wajah Pak Adi merah padam. Dia juga sudah mencari Silvi tapi tidak menemukannya.
"Iya, aku pasti akan mencari Silvi." jawab Andika. Dia kini duduk dengan lemas di kursi tunggu. Dia semakin merasa bersalah dengan menghilangnya Silvi. Dengan kondisi Silvi yang lemah, kemana dia akan pergi. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Silvi?
Beberapa saat kemudian terlihat Mama dan adiknya datang dengan tergesa. "Papa mana?"
Andika baru menyadari, dia tidak melihat Papanya. "Papa? Iya, Papa dimana?"
Andika segera menghubungi Papanya. "Papa dimana?... Di ruang Dokter Huda. Ya sudah kita ke sana sekarang."
Mereka semua segera menuju ruangan Dokter Huda yang berada di poli jantung.
"Mas Reka kenapa? Sakitnya kambuh?" tanya Bu Nayla sambil mendekati suaminya yang masih merebahkan diri di atas brangkar setelah diperiksa Dokter.
"Iya," tatapan mata Pak Reka kini menatap tajam Andika. "Andika berbuat ulah lagi. Diam-diam dia menikah siri dengan anaknya Adi dan menjadikannya pelampiasan di apartemen. Sampai dia mengalami keguguran."
"Astaga! Dika, bisa-bisanya kamu melakukan hal keji kayak gitu. Mama kasih kamu kebebasan, harusnya kamu gunakan dengan sebaik-baiknya. Bukan disalahgunakan seperti ini."
"Anaknya Adi sudah ketemu?" tanya Pak Reka.
"Belum, Pa."
"Cari dia sampai ketemu, kalau tidak kamu yang akan Papa penjarakan!"
"Baik, Pa." Andika keluar dari ruangan itu. Dia berpapasan dengan Andre, adik Andika satu-satunya. Mereka hanya saling menatap dingin lalu Andika kembali melangkahkan kakinya.
"Aku harus mencari Silvi kemana?" Dia duduk di kursi tunggu. Tak jauh dari tempatnya ada Pak Adi yang terlihat bingung lalu menghampirinya.
"Kali ini saya tidak akan tinggal diam. Kalau terjadi apa-apa dengan Silvi atau Silvi tidak ditemukan juga, saya akan tuntut Pak Dika!!" Setelah itu Pak Adi berlalu dan keluar dari rumah sakit.
Andika mengacak rambutnya frustasi. "Aaarrgghh, ini semua memang salah aku! Shits!"
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
ditgg karya selanjutnyaaaa