SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia Kotak Perunggu dan Kota Cahaya Bulan
Angin malam di hutan belantara berhembus dengan suara yang menyerupai rintihan roh-roh yang tersesat. Cahaya bulan perak menyaring di antara celah-celah dedaunan pohon purba, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas tanah yang lembap. Namun, bagi Lin Xiao, suasana mencekam ini justru memberikan rasa aman yang aneh. Sejak energi Nirwana Hitam membangkitkan jiwanya, ia merasa lebih hidup di dalam kegelapan daripada di bawah terangnya matahari yang munafik.
Setelah berjalan beberapa mil jauhnya dari batas Desa Awan Hijau yang penuh kenangan pahit, Lin Xiao memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik tirai air terjun yang menderu. Suara deburan air yang jatuh menghantam bebatuan di bawahnya memberikan kamuflase suara yang sempurna untuk aktivitasnya malam ini.
Ia duduk bersila di atas lantai gua yang dingin, meletakkan kotak perunggu kuno yang baru saja ia rebut dari bibinya di pangkuannya. Di bawah cahaya redup dari sisa-sisa energi spiritualnya, kotak itu tampak lebih misterius. Permukaannya tidak hanya dihiasi dengan ukiran sulur-sulur tanaman, tetapi juga memiliki pola geometris kuno yang tampaknya mampu menyerap cahaya di sekitarnya. Di bagian tengah penutup kotak, terdapat simbol seekor burung yang sedang mengepakkan sayap. Itu bukan Phoenix Kekaisaran yang ia kenal—burung ini tampak lebih liar, lebih garang, seolah-olah ia siap menelan api daripada melahirkannya.
"Ibu... siapa sebenarnya dirimu?" gumam Lin Xiao pelan. Suaranya bergema di dinding gua yang sempit.
Ia mencoba membuka tutupnya dengan tenaga fisik, namun kotak itu tetap bergeming seolah-olah telah menyatu dengan ruang dan waktu. Lin Xiao mengerti; benda-benda dari masa lalu dengan kualitas seperti ini biasanya dilindungi oleh segel darah atau frekuensi energi tertentu. Sebagai mantan Permaisuri yang pernah mempelajari ribuan gulungan rahasia, ia tidak ragu. Ia menggigit ujung jarinya hingga darah segar merembes keluar, lalu menempelkannya tepat di mata sang burung pada simbol tersebut.
Wush!
Seketika, gua yang gelap itu diterangi oleh cahaya ungu pekat yang menyilaukan. Kotak itu bergetar hebat sebelum tutupnya terbuka dengan suara 'klik' yang memuaskan. Aroma harum bunga persik yang segar mendadak memenuhi udara, mengusir bau lumut dan kelembapan di dalam gua.
Di dalam kotak tersebut, tergeletak dua benda yang akan mengubah jalannya takdir. Yang pertama adalah sebuah kalung perak dengan liontin batu hitam berbentuk tetesan air yang tampak mengandung galaksi kecil di dalamnya. Yang kedua adalah sebuah gulungan kulit binatang yang sudah menguning dan terasa sangat rapuh.
Dengan tangan gemetar, Lin Xiao membuka gulungan itu. Tulisan di dalamnya dibuat dengan tinta emas yang masih berkilau meski sudah bertahun-tahun lamanya.
"Untuk putriku yang akan mewarisi kutukan dan berkah ini. Jika kau membaca ini, artinya kau telah membangkitkan garis keturunan yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan. Jangan mencari asal-usulmu di desa kecil ini. Larilah ke Kota Cahaya Bulan, temukan Paviliun Obat Seribu Tahun. Di sana, rahasia tentang cacat di wajahmu dan kekuatan yang membakar nadimu akan terungkap. Tapi ingatlah ini: Jangan pernah percaya pada siapa pun yang membawa simbol Matahari Emas. Mereka adalah pemburu yang tidak akan berhenti sebelum memadamkan api hitammu."
Lin Xiao meremas gulungan itu hingga hancur menjadi debu halus. Simbol Matahari Emas adalah lambang klan Kaisar Long Tian—pria yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu. Ternyata, pengkhianatan itu bukan hanya soal politik tahta, tapi ada sesuatu yang lebih dalam terkait garis keturunannya sendiri yang tidak ia ketahui sebelumnya.
"Jadi, tubuh ini memiliki rahasia yang bahkan bisa membuat klan Kaisar gemetar?" Lin Xiao menyeringai dingin. "Takdir benar-benar memiliki selera humor yang gelap."
Ia kemudian mengambil kalung liontin hitam tersebut dan mengenakannya di leher. Saat batu itu menyentuh kulitnya, sebuah gelombang energi dingin langsung menjalar ke saraf wajahnya.
Sensasi itu sangat menyakitkan, seolah-olah ada ribuan jarum yang sedang menjahit kembali dagingnya yang rusak. Lin Xiao mengerang pelan, menahan rasa panas yang membakar pipi kirinya.
Saat rasa sakit itu mereda, ia mendekatkan wajahnya ke permukaan air yang tenang di dalam gua untuk bercermin. Matanya membelalak. Bekas luka bakar yang tadinya menjijikkan dan kasar kini telah berubah. Meskipun tidak hilang sepenuhnya, bekas luka itu kini membentuk pola tato bunga mawar hitam yang sangat indah dan elegan, melilit dari tulang pipinya hingga ke garis rahang. Penampilannya yang tadinya buruk rupa kini berubah menjadi kecantikan yang misterius dan berbahaya.
"Dengan wajah ini, aku bukan lagi Lin Xiao si pengecut, dan aku belum menjadi Feng Ruxue sang permaisuri. Aku adalah seseorang yang baru," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Tiga hari kemudian, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan melalui hutan lebat dan jalan setapak pegunungan, Lin Xiao akhirnya berdiri di depan tembok raksasa Kota Cahaya Bulan.
Kota ini adalah pusat perdagangan yang tidak pernah tidur di wilayah perbatasan kekaisaran. Tembok kotanya terbuat dari batu granit putih yang mampu memantulkan cahaya matahari, membuatnya tampak berkilauan dari kejauhan. Di atas gerbang kota, terdapat bendera-bendera dari berbagai klan dan sekte yang berkibar tertiup angin, menandakan betapa dinamisnya kehidupan di dalam sana.
Lin Xiao melangkah masuk dengan tenang, mengenakan jubah abu-abu dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Ia sengaja tidak menonjolkan diri, menyatu dengan kerumunan pedagang, tentara bayaran yang kasar, dan para kultivator muda yang sombong. Namun, meskipun ia mencoba rendah hati, cara berjalannya yang tegak dan auranya yang tajam tetap membuat orang-orang secara tidak sadar memberinya jalan.
Hiruk pikuk kota itu sangat luar biasa. Di setiap sudut jalan, terdengar suara pedagang yang menawarkan pil-pil energi tingkat rendah, senjata-senjata dari perunggu, hingga kulit binatang buas. Lin Xiao terus berjalan menuju distrik pusat, tempat di mana Paviliun Obat Seribu Tahun berada.
Namun, langkahnya terhenti saat ia mencapai alun-alun kota. Kerumunan besar sedang berkumpul di depan sebuah gedung megah berlantai tiga. Suara tangisan seorang anak kecil membelah kebisingan pasar tersebut.
"Tolong! Lepaskan aku! Aku tidak tahu apa-apa!" teriak seorang gadis kecil yang pakaiannya compang-camping.
Seorang pemuda berpakaian sutra biru mewah dengan bordir naga air di dadanya sedang menyeret gadis itu dengan kasar. Namanya adalah Yan Lu, putra kedua dari Klan Yan yang merupakan salah satu penguasa Kota Cahaya Bulan. Wajahnya yang tampan terlihat buruk karena ekspresi penghinaan yang ia tunjukkan.
"Diam, kau tikus jalanan!" bentak Yan Lu. "Ayahmu berhutang banyak koin emas padaku sebelum dia mati di tambang. Karena dia tidak bisa membayar, kau adalah hartanya yang paling berharga sekarang. Seorang gadis dengan bakat 'Tubuh Roh Murni' sepertimu akan laku sangat mahal di rumah lelang sebagai bahan kultivasi!"
Orang-orang di sekitar hanya berbisik-bisik. "Kasihan sekali, tapi itu Klan Yan. Tidak ada yang berani ikut campur jika tidak mau berakhir di penjara bawah tanah."
Lin Xiao mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia mengenal jenis bakat itu. Tubuh Roh Murni adalah bakat langka di mana seseorang bisa menyerap energi alam secara konstan tanpa hambatan.
Namun, di dunia yang kejam ini, gadis seperti itu seringkali hanya dianggap sebagai "obat berjalan" oleh para kultivator jahat untuk meningkatkan kekuatan mereka dengan cara menyerap energi gadis tersebut secara paksa sampai mati.
Melihat ketidakadilan itu, darah panas Feng Ruxue kembali bergejolak. Ia butuh pengikut untuk membangun kembali pengaruhnya, dan gadis kecil ini adalah benih yang sangat sempurna untuk dijadikan tangan kanannya di masa depan.
"Lepaskan dia."
Suara itu tenang, namun mengandung tekanan mental yang sangat kuat, seolah-olah udara di sekitar alun-alun tiba-tiba menjadi berat. Kerumunan itu seketika sunyi. Yan Lu berhenti melangkah dan berbalik dengan wajah penuh kemarahan.
"Siapa yang berani mencampuri urusan Klan Yan?" Yan Lu menatap Lin Xiao yang tertutup tudung.
"Seorang pengemis jubah abu-abu? Apa kau sudah bosan hidup?"
Lin Xiao perlahan membuka tudungnya,
memperlihatkan wajahnya yang kini memiliki tato mawar hitam yang menawan. Keindahannya yang unik dan tatapan matanya yang sedalam samudra ungu membuat banyak orang terkesima, termasuk Yan Lu yang sempat terpana sejenak.
"Aku akan memberimu satu kesempatan," ucap Lin Xiao, suaranya sangat datar namun setiap katanya seolah-olah mengandung niat membunuh yang nyata. "Lepaskan tangan kotor itu dari gadis itu, atau kau akan kehilangan tanganmu selamanya."
Yan Lu tertawa terbahak-bahak setelah tersadar dari keterpakuannya. "Menarik! Sangat menarik! Selain mendapatkan bahan kultivasi, sepertinya aku juga mendapatkan seorang pelayan cantik malam ini. Pengawal! Tangkap dia dan patahkan kakinya!"
Empat pengawal berseragam biru maju dengan pedang terhunus. Mereka semua berada di tahap Pembersihan Sumsum tingkat kedua—lebih tinggi dari penduduk desa, namun di mata Lin Xiao, mereka tidak lebih dari boneka jerami.
Lin Xiao mengambil satu langkah ke depan.
"Satu..."
"Serang!" teriak para pengawal itu sambil menerjang maju.