Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Permulaan
Karena dirasa pasokan udara telah habis, orang misterius itu melepas pag*tannya. Membiarkan Zahra mengambil napas sebanyak-banyaknya, ia pun melakukan hal yang sama.
Tak disangka, gadis yang dibelenggunya malah berteriak menyebut nama Rio dengan terengah-engah. Beberapa kali Zahra meneriakkan nama tersebut. Dengan wajah kesal, ia kembali meraup bibir itu lebih kasar dari sebelumnya.
Zahra terbelalak dengan serangan yang tiba-tiba, tapi seseorang yang muncul dari balik pintu membuatnya lega. Rio berjalan ke arahnya dengan wajah merah padam menahan amarah, pria itu mencengkeram kerah belakang orang yang berani menyentuh adiknya—hingga pag*tan mereka terlepas.
Begitu melihat siapa orang itu, Rio melayangkan bogeman seketika. Orang itu tersungkur karena Rio memukulnya dengan brutal, bahkan pria itu tak memberi kesempatan lawannya untuk melawan ataupun menangkis.
"Masuk! Biar gue yang urus,” titah Rio pada Zahra. Gadis itu berjalan masuk dengan tangan terikat dan bibir yang menahan perih.
“Bangun lo! Baru digituin udah tepar! Jantan ga?” bentak Rio sambil menendang punggung orang itu.
Dia akhirnya berdiri dengan langkah tertatih, tendangan Rio lumayan keras hingga membuat punggungnya sakit. “Lo ...," tangannya terangkat menunjuk wajah Rio, "selalu hancurin rencana gue!” ucapnya dengan raut marah.
Rio terkekeh sinis, pria itu menurunkan tangan yang terangkat menunjuknya. “Rencana lo itu harus dihancurkan. Sadar! Semua itu masa lalu, maafin yang udah lalu dan buka lembaran baru, tanpa dendam! Lo kira nyokap suka sama semua ini? Enggak!
"Meskipun lo menolak kenyataan, tapi kenyataannya itu tetap ada dan selalu ngikutin kemana pun lo pergi.
"Bayangkan jika cewek yang lo siksa tadi adik kandung lo? Apa yang lo rasain jika adik lo diperlakukan kayak tadi? Sakit, kan, sakit! Apa lo ga mikir, ha? Bastard lo jadi cowok!" Rio memandangnya getir.
“Whatever! Mau dia adik gue kek, kakak gue kek atau siapa pun itu gue ga peduli! Pokoknya adik lo harus ngerasain apa yang dirasain nyokap gue atas perbuatan bejat bokap lo!” balasnya sengit.
"Lupain dendam lo yang ga penting itu—kita udah pernah hidup bareng, bahagia bareng. Jadi gue mohon sama lo buat ga termakan hasutan anj*ng sialan itu.
"Maafin yang udah lalu, gue tahu lo kecewa. Tapi sebelum anj*ng itu datang, kita baik-baik aja. Sayangi cewek yang tadi lo siksa, seperti lo menyayangi nyokap dan sayangi dia seperti saat dia masih di dalam kandungan.”
Pria dihadapan Rio berdecih, apa-apaan itu? Melupakan, memaafkan? Lucu jika Rio mengatakan itu dengan mudah, dia tidak pernah merasakan betapa sulit masa kecil dan remaja yang ia jalani. "Tau apa lo sok-sokan ngajarin gue, ha? Gue sama nyokap gue ditelantarin, Nj*ng!”
Rio marah mendengar ucapannya, faktanya tidaklah seperti itu. "Asal lo tahu, papi ga kaya gitu. Dia ga pernah nelantarin kalian."
"Gak tahu apa-apa mending diam. Lo enak, apa-apa ada, lah gue? Mau makan aja kudu ngamen, bantu nyokap cari duit. Lah elo? Tinggal minta aja langsung dikasih," ucapnya dengan menggebu, tersirat sebuah luka di pita suaranya.
"Papi kehilangan jejak kalian, dia pengen bawa kalian balik tapi ga bisa." Suara Rio melunak, menatap lawan bicaranya sendu.
"Emang seharusnya gue ga ada di antara kalian. Waktu dia balik, apa dia ingat gue? Nengok aja kagak," balasnya sengit.
"Jangan sembarangan! Sampai kapan pun ikatan ini bakalan ngalir di jiwa lo. Mengikuti kemana pun setiap langkah lo." Rio ikut tersulut dengan api yang diciptakan pria di depannya, ia menatap pria di depannya dengan geraman.
"Gue ga peduli, Anj*ng!"
Sosok itu, sosok yang dicari Rio selama ini. Rio kehilangan jejak setelah ia menyiduk sosok yang akan melakukan perbuatan c*bul pada adiknya. Hampir lima tahun ia kehilangan jejak, kini sosoknya yang malah menampakkan diri di depan Rio.
Satu pukulan mendarat di rahang Rio, disusul dua pukulan lainnya, pria itu tersenyum mengejek karena ia berhasil membuat rahang kokoh di depannya sedikit membiru.
Rio tersenyum sinis, baginya itu bukan apa-apa—pemanasan yang tertunda. Pria itu mengembalikan serangan ketika lawannya mulai lengah, menghantam dengan satu pukulan mutlak yang mengakibatkan manusia di hadapannya terpukul mundur. Sebelum lawan kelahinya menyerang, Rio mengakhiri adu jotos tersebut dengan pukulan yang tertuju pada titik lemah lawannya.
Orang itu menatap Rio tajam karena memukul lengan atas bagian kanan, ia kira Rio tidak akan melakukan itu. Rio tetaplah Rio, predator tenang yang akan memangsa ketika tikus kecil mengacau.
Rio memandang dua bodyguard yang menonton perkelahiannya. "Bawa dia pergi jauh dari sini dan jangan biarkan dia masuk lagi kemari!”
Dua bodyguard itu mendekat, lalu memegang kedua tangan orang itu. Dia tidak memberontak, lengannya masih sakit akibat pukulan yang Rio berikan.
Rio mendekati rivalnya sebelum dibawa pergi. “Kali ini lo selamat! Tapi, jangan sentuh adik gue jika lo masih gini. Meskipun kita sedarah, gue ga akan segan-segan buat habisin lo! Bawa dia pergi!” Bodyguard itu menunduk lalu membawanya pergi dengan sedikit paksaan.
Setelah dua bodyguard itu menjauh, Rio memanggil bodyguard lain. "Kalian tahu tugas kalian?"
Salah satunya maju, mungkin ketuanya. "Kami tahu, kalau begitu kami permisi." Rio mengangguk, membiarkan mereka pergi.
Rio segera masuk, ia mendapati adiknya tengah terisak dengan posisi tengkurap di atas sofa. Tangannya menangkup wajahnya yang dipenuhi air mata. Ikatan di tangannya telah terbuka, mungkin bibi yang melepasnya.
Dengan perlahan, Rio berjongkok di samping Zahra, mengusap kepalanya pelan. Ketika Zahra telah mengetahui semuanya, apa reaksinya nanti? Rio takut jika Zahra tahu semuanya, apa adiknya akan kembali trauma?
Yang dia tahu selama ini, Deron ialah orang yang menyembuhkan lukanya, orang yang selama ini dia bangga-banggakan. Tapi setelah kenyataan itu terbuka, akankah luka itu masih sama?
Tertutup? Itulah yang diharapkan Rio, bahkan pria itu berharap luka itu tak pernah terbuka.
Tetapi kenyataannya tidak sepahit itu, mereka hanya hidup dalam kesalahanpahaman yang mendalam.
“Udahh, jangan nangis. Gue ga bisa lihat lo nangis kayak gini,” ucap Rio lirih.
Rio menghela napas, membiarkan adiknya menangis, dengan begitu Zahra akan lebih tenang. Sementara ia berjalan ke dapur, mengambilkan minum untuk adiknya.
Rio kembali dengan segelas air putih, pria itu menyodorkan air yang dibawanya pada gadis yang tengah mengusap matanya. Zahra meminum air tersebut hingga tersisa sebagian, lalu meletakkannya di atas meja.
Netra itu menatap sang kakak yang ada di sampingnya. Menarik napas dengan berat, memegangi setiap inci bibirnya. "Bibir gue dower ...."
Pria di sampingnya hampir terbahak, dengan cepat Rio mengganti ekspresinya dengan prihatin. "Mau kakak ambilin salep, itu agak bengkak, lho."
Zahra mengerucutkan bibirnya, gadis itu menggeleng kuat. "Ga mau, takutnya kejilat, salep rasanya aneh."
Rio terkekeh mendengar penuturan adiknya. "Ehm, lo ga marah kalau dia ambil first kiss lo?
Zahra menaikkan alis lalu menggeleng, sudut bibirnya terangkat—mengembang perlahan. "Kakak lupa? First kiss gue kan kakak."
Rio terkejut mendengarnya, ia tidak berani menatap Zahra meski dari samping, melirik pun tidak. Ekspresi Zahra yang polos membuat ia mengutuk mulutnya karena sudah mengingatkan hal itu.
Rio menoleh dengan ragu. "Ngaco, gue ga pernah kiss lo, ya!"
Zahra terkekeh kecil, tangannya meraih tangan Rio, lalu menggenggamnya. Rio menoleh, tak paham dengan yang Zahra lakukan.
"Gue ga akan marah sama kakak, lagian waktu itu gue yang salah, main nyosor aja," Zahra menjeda kalimatnya, matanya menerawang ke sudut ruangan, "gue rutin cek CCTV di akhir Minggu, itu sebabnya gue tahu kejadian malam itu. Lagian, masa kakak lupa kebiasaan gue?"
Rio menghela napas. "Maaf, ya?"
Zahra menggeleng. "Kakak ga salah, lo cuma mau bilang—kalau tindakan gue ga seharusnya dilakukan oleh seorang adik kakak. Kita lupain masalah kiss itu, gue mau nanya hal yang lebih serius. Suara kakak kedengaran sampai sini, tapi gue ga bisa nangkap apa yang kalian bicarakan. Dan ... apa yang dia maksud dengan balas dendam, apa hubungan papi sama ibunya dia?"
Rio diam, ia menduga pertanyaan ini akan keluar dari mulut adiknya. Tapi, kenapa sekarang? Apa yang harus ia katakan. Tangannya mendadak kelu, menarik diri dari genggaman Zahra.
"Kak! Gue sama sekali ga ngerti. Gue ga tau permasalahan di sini, kalian jemput gue waktu usia sembilan tahun, habis itu cuma jelasin hubungan keluarga ini dan Papa Johan. Kalau ada hal penting yang harusnya gue tahu, gue mohon sama kakak—jangan menyembunyikan fakta sekecil apa pun dari gue!"
Rio berbalik, memegang kedua bahu adiknya, menatap manik coklat di depannya. "Gue ga nyembunyiin fakta itu, tapi—belum waktunya lo tahu. Saat lo udah tahu semuanya, lo jangan benci sama keluarga ini, dan—kakak mau, kamu menerima sesuatu yang baru dengan ikhlas. Semoga sesuatu itu, bisa jadi suatu hal yang bikin kamu bahagia setelah kakak."
"Maksud kakak gimana?"
Rio memejamkan mata, melepaskan kedua tangan dari bahu adiknya, posisinya kembali ke semula. "Ayo ke dapur, kakak laper." Pria itu berdiri, meninggalkan Zahra yang termenung akibat perkataannya.
Setibanya di dapur, ia duduk di depan seorang wanita yang menatapnya garang. "Kamu lihat sendiri, kan? Bawa dia kembali, secepatnya! Memangnya kamu ga kasian sama adikmu?"
"Rio tahu, Bi. Dia keras kepala, susah dibilangin, lebih keras dari pada Zahra. Tadi Rio udah suruh bodyguard buat ngikutin dia ke rumah, seandainya dia berbuat lebih—Rio bisa langsung ke sana."
Bibi menggeleng, maniknya menerawang seperti menembus manik Rio yang berada di depannya. "Salah, dia bahkan lebih lunak dari kalian. Beruntung kalian—dia terlahir di keluarga ini, dia yang akan menjadi penengah di antara kalian."
Rio terdiam, sepertinya ia lupa satu fakta itu. Bibi berdiri dan memberitahukan jika persediaan bahan makanan habis, ia kira masih menyimpan sisa di lemari es miliknya, ternyata sama habisnya. Wanita itu meminta Rio mengantarnya ke supermarket, tapi pria itu malah mengajaknya ke mall. Bibi tentu senang dengan usul yang Rio berikan.
Pria itu kembali ke ruang keluarga, meminta Zahra untuk mengganti pakaian.
Di sinilah mereka sekarang, salah satu mall terbesar di Jakarta, RiRa Mall. Tempat khalayak ramai berkumpul, yang menjadi aset kedua terbesar almarhum Deron.
Bibi izin memisahkan diri dari Rio dan Zahra, wanita itu berkeliling supermarket untuk mencari kebutuhan bulanan. Sedangkan Rio berjalan mengikuti Zahra yang masuk ke toko kosmetik.
Pria dengan hoodie hijau itu duduk di salah satu kursi tunggu, sedangkan adiknya menghampiri salah satu karyawan yang bertugas menjaga stand.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya cari warna rambut dark grey, apa ada?”
“Ada nona, sebentar saya ambilkan.”
Sambil menunggu karyawan yang mengambilkan pesanannya, gadis itu melihat sekeliling ruangan. Ah, kali pertama ke sini saat kelas lima SD, ayahnya sering kali mengajak jalan-jalan ke mall sepulang sekolah. Mengagumi mall beserta isinya, dulu ialah kegiatan yang wajib dilakukan, hal yang sama ia lakukan saat mengunjungi aset Deron yang lain.
Berawal dari rasa kagum hingga memunculkan rasa sombong dalam dirinya. Ia yang dulu tak memiliki apa-apa setelah kehilangan papa-maminya, menjadi tinggi hati karena memiliki segalanya. Zahra menggelengkan kepala, dirinya yang itu, benar-benar memalukan.
Karyawan itu meletakkan satu box warna rambut. "Ini cat rambutnya, ada yang mau dipesan lagi?
"Kuteks warna gelap sama bening, sekalian sama pembersihnya!”
“Baik, tunggu sebentar, Nona.”
Karyawan di depannya meminta tolong pada temannya untuk mencari persediaan kuteks di rak, karena yang di etalase hanya bertengger kutek dengan warna cerah. Sementara itu, dia berbincang-bincang dengan Zahra, mengobrolkan rambut bergaya bayalage milik Zahra. Karyawan itu tertarik dengan pewarnaan yang rapi, bahkan pewarnaan itu lebih rapi dari salon yang ada di mall ini.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya cat rambut dan dua kutek berada di genggaman Zahra. Gadis itu melangkah menuju Rio yang duduk sambil memainkan ponselnya.
“Kak, tunggu dulu ya. Gue mau ke kasir dulu,” ucap Zahra saat berdiri di depan Rio.
Rio mendongak, menatap adiknya yang menenteng kutek dan satu box warna rambut. “Jangan lama-lama! Gue udah laper!”
"Sabar, antriannya lumayan panjang lho. Apa kakak langsung ke resto aja, nanti gue biar nyusul?"
"Ya udah, sana! Kakak tungguin," ucap Rio sambil mengibaskan tangan, bermaksud mengusir Zahra agar segera mengantri.
Gadis itu berjalan menuju antrian paling pendek, ia mendapat giliran ke tujuh. Meskipun ini mall keluarga, tetapi saat membaur dengan semua orang, statusnya sama. Sama-sama pembeli—membudidayakan mengantri, selain itu RiRa tidak mengizinkan konsumennya untuk menyerobot antrian orang, karena itu hanya akan menimbulkan kegaduhan.
Zahra antri dengan tenang, tangan sebelahnya yang kosong bergerak menggeser layar ke atas—bawah. Menghibur diri agar tidak jenuh sembari menunggu giliran. Gadis itu menjatuhkan belanjaan yang dibawanya ke kaki, sebelah tangannya ikut mengutak-atik benda pipih tersebut. Saking asiknya, ia tidak sadar apa yang akan terjadi padanya.
“Zahra awas!”
****
TBC!!!
LIKE KOMEN, VOTE VAFO PLISSEU!❤️
SEE YOU ❤️