NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Periksa Kandungan

"Argh! Sakit sekali...!"

Baru saja memasuki lobby khusus periksa kandungan, Alissa dan Sean dibuat terkejut dengan teriakan histeris seorang wanita yang terbaring di bangkar yang didorong oleh beberapa perawat.

Entah kebetulan atau memang disengaja, bangkar itu berhenti di dekat sepasang suami istri yang tengah mendaftarkan pemeriksaan itu.

"Sayang, kau adalah wanita yang kuat. Bertahanlah..." seorang laki-laki dengan setelan kerjanya mencoba menenangkan. Ia usap peluh yang membasahi kening wanita yang diduga istrinya itu.

"Kau jangan banyak omong. Ini--- uhhh!"

"Ini gara-gara kamu! Perutku sakit gara-gara kamu!!" nafas wanita itu terlihat memburu dengan wajah mengejan menahan sakit.

"Argh!! sayang. Apa yang kau lakukan!"

Alissa meringis kala wanita yang akan melahirkan itu menjambak laki-laki yang mungkin adalah suaminya dengan sangat kuat.

"Ini sakit sekali...!!"

"Kenapa kau menghamiliku! Ini sakit sekali...!!" wanita itu terus meraung. Sampai salah satu perawat datang dan mereka melanjutkan mendorong bankar itu dengan terburu-buru. Melewati Alissa dan Sean yang terkejut begitu saja.

"Apakah ketika kau melahirkan, kau juga akan menjambakku seperti itu? tanya Sean yang pandangannya masih terfokus pada tempat bekas kejadian tadi berlangsung.

Alissa menatap suaminya sengit. "Jangankan menjambak, aku juga akan menggundulimu!"

"Kau serius? Tega sekali..." balas Sean menatap Alissa tak percaya. Gegas ia menyentuh rambut hitam legamnya takut.

"Hah...sudahlah..." Alissa abaikan suaminya itu. Lebih memilih duduk di kursi tunggu yang telah disediakan.

"Hei, daripada menggunduliku, aku lebih suka jika kau menciumku saat melahirkan nanti. Mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa sakitmu." ujar Sean yang mengikuti Alissa dan ikut duduk di samping wanita itu.

"Diamlah! Kau berbicara seolah-olah kita masih bersama saat dia lahir."

"Tentu saja! Apa yang baru saja kau katakan?" Sean berucap tak terima. "Kau akan selalu berada disisiku, Alissa." sambung laki-laki itu menegaskan.

Alissa menghela nafasnya malas. "Kita lihat saja nanti." ujarnya acuh tak acuh.

"Alissa, jangan main-main denganku." ucap Sean dengan nada menekan. Dia tidak suka dengan perkataan Alissa.

"Sebaiknya kau diam, Sean. Orang-orang memperhatikan kita." tegur Alissa yang mulai merasa tak nyaman kala semua mata tertuju padanya dan suaminya.

"Kau tidak nyaman? Perlu ku usir mereka?" tawar Sean begitu santainya. Ia pendam kekesalannya dan lebih memilih mengusak rambut Alissa.

"Kau pikir rumah sakit ini milikmu?"

"Aku bahkan bisa membeli lima rumah sakit yang serupa."

Dasar sombong. Alissa tahu jika Sean sangat kaya. Layaknya uang sudah tidak ada artinya bagi laki-laki itu.

"Lain kali aku kau akan periksa kandungan secara privat. Uangku banyak, kenapa harus mengantri untuk memeriksakan anakku?!" sia-sia saja dia selalu bekerja jika anaknya tidak bisa lebih unggul dari lainnya.

"Kau baru menyadarinya jika kau memang pelit pada diriku?" ujar Alissa asal. Sebenarnya tidak juga. Karena uang bulanan yang Sean berikan sangat lebih dari cukup.

"Baiklah, maafkan aku yang tidak menyadarinya. Aku akan memperbaiki segalanya. Kau tenang saja Alissa."

Alissa memilih bungkam. Dia tidak akan menyia-nyiakan tenaganya untuk berdebat dengan orang keras kepala seperti Sean.

Selang beberapa waktu, seorang perawat memanggil Alissa. Sekarang giliran perempuan itu untuk diperiksa. Tanpa menunggu lama, Alissa bangkit dan menuju ruangan yang dimaksud dengan Sean yang mengekorinya bak anak ayam.

"Lihatlah, sesuatu yang mirip buah anggur ini adalah bayi kalian."

Sean dan Alissa kompak menatap layar monitor usg yang menunjukan perkembangan janin di perut Alissa.

"Anakku adalah anggur?" ujar Sean dengan wajah tercengangnya.

Reaksi laki-laki itu sontak membuat sang dokter tertawa kecil. Sedangkan Alissa memutar bola matanya malas.

"Ya, Tuan. Anak anda sekarang masih sebesar buah anggur." ujar dokter wanita itu merespon.

"Namun, dalam usia ini, detak jantung janin sudah mulai terdeteksi. Bentuk wajah mulai terlihat, termasuk kelopak mata, hidung, bibir, dan telinga. Sistem pencernaan mulai berkembang. Serta, plasenta mulai berkembang dan menempel pada dinding rahim." sambungnya menjelaskan secara detail.

"Bayi kami sehat kan dokter?" tanya Alissa. Ada haru tersendiri ketika dia menatap monitor usg. Ternyata di dalam perutnya benar-benar terdapat mahkluk hidup lain.

"Janin menunjukkan perkembangan yang optimal." balas dokter itu dengan senyum formalnya.

"Akan saya resepkan vitamin dan suplemen ibu hamil. Kalian bisa menebusnya di apotek."

Setelah urusan mereka selesai, Alissa dan Sean keluar dari ruangan dokter kandungan itu.

Sean meminta Alissa menunggu di dalam mobil sementara laki-laki itu menebus vitamin di apotek rumah sakit.

Terlalu malas berdebat, Alissa hanya menurut. Namun ketika dia ingin memasuki mobil, ada suara yang tidak asing memanggil namanya.

"Kita bertemu lagi, Alissa..." orang itu menyapa dengan senyum hangat khasnya.

Alissa berdecak malas dalam hati. Hanya saja, demi kesopanan, perempuan itu tetap tersenyum tipis.

"Apa kabar Ellard." tanyanya basa-basi.

"Jauh lebih baik setelah melihat dirimu." balas laki-laki itu seakan menggoda.

Alissa tentu saja tidak tersentuh. Entahlah, sejak pertemuan pertama mereka, dia sudah tidak menyukai si protagonis laki-laki ini. Entah apa sebabnya. Perempuan itu hanya tidak suka. Itu saja.

"Kau sendiri, kenapa ke rumah sakit? Kau baik-baik saja kan?"

"Aku memeriksa kandunganku."

Ellard mengangguk paham. Matanya melirik pada perut Alissa yang tidak terlihat buncitnya. Mungkin karena perempuan itu mengenakan dress yang longgar.

"Apakah calon keponakanku sehat? Bagaimana kabarnya?" tangan Ellard ingin menyentuh perut Alissa. menyadari hal itu, Alissa sedikit mundur untuk menghindar.

"Dia baik."

"Aku harus masuk ke dalam mobil. Senang bertemu denganmu, Ellard." semoga kita tidak bertemu lagi.

"Alissa, tunggu!" laki-laki yang mengaku sebagai teman masa kecil Alissa itu mencegah sang empu masuk ke dalam mobil.

"Apalagi?" ujar perempuan itu dengan nada jengah.

"Maaf. Tapi aku harus menyampaikan ini." Ellard tatap Alissa penuh arti.

"Menyampaikan apa?"

Ellard tolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Seolah ingin memastikan bahwa tidak ada siapapun yang menguping pembicaraan mereka.

"Kemarin aku mendapatkan info, jika...suamimu, Sean. Dia akan menemui adiknya di hotel kota malam ini."

Kening Alissa berkerut mendengarnya. "Adik? Stella maksudmu?"

"Memangnya selain Stella, Sean punya saudara yang lain?"

Alissa menggeleng samar. "Darimana kau tahu?" tanya perempuan itu mengintrogasi.

Ellard sempat terdiam. "Aku...aku tidak sengaja mendengarnya saat di restaurant kemarin."

"Kau ingat saat kau mengusirku waktu itu?"

Bibir Alissa mencebik kala Ellard menekan kata mengusir. Laki-laki seperti tengah menyindirnya.

"Saat aku ingin keluar dari restaurant, aku tidak sengaja mendengar. Mereka membuat janji bertemu di hotel kota."

Alissa dengan sabar mendengarkan. Lebih tepatnya, tidak terlalu peduli. Ia korek telinganya yang tiba-tiba terasa gatal.

"Lalu?" balas perempuan itu cuek. Ellard terdiam dibuatnya.

"Lalu apanya, Alissa. Suamimu ingin bertemu perempuan lain di hotel dan kau hanya mengatakan lalu?" ujar Ellard tak habis pikir.

"Perempuan lain yang kau maksud adalah adiknya." yah, meskipun Alissa tahu kebenarannya. Jika Sean gila dengan mecintai adik kandungnya sendiri.

"Tapi kenapa harus di hotel? Kau tidak ingin memeriksanya? Aku akan menemanimu!"

"Malas." tolak Alissa sembari memainkan kuku-kukunya.

"Lagipula, itu bukan urusanku. Jadi berhenti merecokiku dengan mempermasalahkan hubungan Sean dan Stella. Membuang waktuku saja."

Brak.

Alissa gegas masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan Ellard yang tengah menatapnya rumit dengan rahang menegang samar.

Kenapa jadi seperti ini?!

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!