"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Larangan Keluar Malam
Larangan keluar malam yang baru saja diumumkan oleh pihak sekolah membuat Maya Anindya merasa dunianya semakin sempit serta menyesakkan. Aturan baru tersebut mengharuskan setiap siswa sudah berada di rumah masing-masing sebelum pukul tujuh malam karena adanya latihan gabungan di sekitar wilayah kota. Bagi Maya, ini adalah petaka ganda karena dia harus berhadapan dengan aturan sekolah sekaligus protokol keamanan super ketat dari Arga Dirgantara.
"Mengapa sekolah mendadak memberikan aturan yang sangat aneh ini tepat saat saya ingin mengerjakan tugas kelompok?" tanya Maya Anindya dengan nada yang penuh dengan kejengkelan.
Arga Dirgantara yang sedang berdiri di dekat pintu mobil dinas hanya menatap istrinya dengan tatapan yang sangat datar tanpa emosi. Dia sudah mengetahui kabar tersebut lebih awal melalui saluran radio komunikasi resmi milik markas komando yang terhubung ke pusat keamanan kota. Baginya, aturan ini justru mempermudah tugasnya untuk mengurung serta memantau pergerakan gadis sekolah menengah atas itu di dalam rumah dinas.
"Patuhi saja aturan itu tanpa banyak bertanya karena ini menyangkut keselamatan seluruh warga sipil di sekitar markas," jawab Arga Dirgantara dengan suara yang sangat berat.
Maya mendengus keras sambil menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah yang berdebu sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap suaminya yang sangat kaku. Dia membayangkan bagaimana membosankannya malam-malam yang akan dia lalui tanpa bisa menghirup udara luar atau sekadar membeli makanan ringan di depan gang. Kebebasan remaja yang seharusnya dia nikmati kini telah dirampas sepenuhnya oleh keadaan darurat militer serta kontrak pernikahan yang sangat mengikat ini.
"Anda pasti merasa sangat senang karena sekarang saya benar-benar menjadi tahanan rumah yang sangat patuh, bukan?" sindir Maya Anindya sambil melirik sinis ke arah sang perwira.
Lelaki itu tidak menyahut melainkan justru melangkah maju dan membukakan pintu mobil untuk istrinya dengan sebuah gerakan yang sangat sigap serta terukur. Dia memastikan bahwa tidak ada satu-pun mata yang memperhatikan interaksi mereka di area yang sangat terbuka ini agar kerahasiaan alibi kakak sepupu tetap terjaga. Maya masuk ke dalam kendaraan dengan perasaan yang sangat mendongkol serta penuh dengan rasa tidak puas yang mulai membuncah di dalam dadanya.
"Jangan pernah mencoba untuk menyelinap keluar jendela kamar jika kamu tidak ingin berhadapan dengan regu penjaga bersenjata lengkap," ancam Arga Dirgantara sebelum menutup pintu mobil.
Gadis itu terdiam seribu bahasa saat mendengar ancaman yang terdengar sangat nyata serta tidak main-main dari mulut suaminya sendiri. Dia menyadari bahwa setiap sudut rumah dinas mereka telah dipasangi alat pengintai yang sangat canggih sehingga pergerakan sekecil-pun tidak akan pernah luput dari pantauan. Rasa frustrasi membuat Maya hanya bisa menatap kosong ke arah jalanan yang mulai sepi seiring dengan matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.
"Apakah Anda sama sekali tidak pernah memiliki rasa kasihan terhadap perasaan saya yang sangat tertekan ini, Tuan Letnan?" tanya Maya Anindya dengan suara yang nyaris hilang.
Arga tetap diam membisu sambil memacu kendaraan dinasnya dengan kecepatan yang sangat stabil serta penuh dengan perhitungan taktis di sepanjang jalan. Namun, di balik sikap dinginnya tersebut, sebenarnya ada sebuah kekhawatiran yang sangat besar mengenai ancaman penyusupan yang sempat terjadi di markas sebelumnya. Dia tidak ingin Maya menjadi sasaran empuk bagi pihak-pihak yang ingin menjatuhkan posisinya sebagai seorang perwira muda yang sedang naik daun.
Setibanya di halaman rumah, Maya segera berlari masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh sedikit-pun ke arah Arga yang masih berdiri di samping mobil. Dia mengunci pintu dengan sangat rapat lalu melempar tas sekolahnya ke sudut ruangan hingga isinya sedikit berhamburan ke atas lantai kayu. Matanya membelalak kaget saat dia melihat melalui jendela kamarnya seorang teman lelaki di gerbang sekolah.