Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Matahari menumpahkan semburat jingga terakhir ke cakrawala, menyelimuti desa dalam cahaya senja yang perlahan memudar. Angin sore berembus lembut, membawa kesunyian yang merayap di antara pepohonan.
Di halaman rumah kepala desa, Arya Jaya mondar-mandir dengan langkah gelisah. Tatapannya kosong, pikirannya terus tertambat pada satu nama.
Jihan.
Sejak ia menugaskan bocah itu mengambil kayu ke hutan, kegelisahan tak pernah lepas dari dadanya. Meski sempat diyakinkan oleh sikap Jihan yang tampak percaya diri, senja yang turun tanpa kehadiran pemuda itu membuat rasa bersalahnya mengeras.
‘Haish… ke mana bocah itu pergi?! Sudah kuperingatkan untuk segera kembali jika ia mendapati bahaya!"
"Jihan... kau benar-benar membuat orang tua ini tampak 10 tahun lebih tua!’
Arya mengepalkan tangan. Ia sudah menganggap Jihan seperti keluarga sendiri. Jika sesuatu terjadi padanya, maka kesalahan itu tak akan pernah lepas dari dirinya.
“Tuan.”
Suara itu menariknya dari lamunan. Arya menoleh dan mendapati Yasmin berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Anda tampak gelisah. Apakah ada sesuatu yang mengkhawatirkan?”
Yasmin adalah orang kepercayaan Arya Jaya. Seorang mantan pelarian yang pernah ia selamatkan, dan sejak itu mengabdi dengan setia. Melihat kegelisahan sang kepala desa, Yasmin tak sanggup berdiam diri.
“Ah, Yasmin.”
Arya menarik napas.
“Bagaimana hasil panen Tirta pagi ini?”
Yasmin memahami pengalihan itu, namun tetap menjawab dengan tenang.
“Untuk itu… anda tidak perlu khawatir, Tuan”
“Hamba telah menghitung semuanya dengan saksama. Jika kemarau panjang ini berlanjut, persediaan di gudang logistik masih cukup untuk menopang kebutuhan desa selama enam bulan ke depan. Selebihnya, sebagian hasil panen bisa kita jual ke kota-kota di perbatasan kerajaan untuk menjaga keseimbangan perputaran bahan pangan.”
Sejenak Yasmin terdiam membiarkan kata-kata itu meresap dibenak kepala desa, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih hati-hati.
“Adapun tentang pertanyaan saya tadi…”
Sebelum melanjutkan, mata Yasmin menelusuri ekspresi wajah Arya Jaya. Ia melihat kerutan halus di dahi dan tatapan kosong yang mengarah ke kejauhan.
Pria itu jelas-jelas berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Yasmin menghela napas. Ia memutuskan untuk menarik kembali pertanyaannya. Mungkin masalah yang dihadapi kepala desa terlalu pribadi, atau di luar jangkauan dirinya sebagai pelayan.
Arya Jaya menyadari tatapan Yasmin, ia memejamkan mata. Senja hampir sepenuhnya tenggelam. Tak ada gunanya lagi menyembunyikan hal ini.
"Ini… tentang Jihan.”
Yasmin terdiam.
“Pagi tadi aku menyuruhnya ke hutan mengambil kayu. Seharusnya bukan dia… tapi hingga sekarang, dia belum kembali.”
Penyesalan terpancar jelas di wajah Arya.
“Seharusnya aku melarangnya. Dia masih terlalu muda.”
Keheningan jatuh di antara mereka, berat dan mencekik.
Lalu, di tengah keheningan yang memekakkan, terdengar langkah kaki dari kejauhan. Suaranya lambat dan berat, menyeret beban tak kasat mata.
Mata Arya Jaya membelalak lebar. Ia melihat dua sosok, salah satunya dirangkul oleh seorang wanita tua yang berjalan dengan tertatih-tatih.
Sosok yang tak berdaya itu kurus, dengan wajah pucat yang menyiratkan penyakit yang telah dideritanya.
"Wu…landari?!"
Sejak terbangun dari tidur siangnya yang gelisah, kecemasan tak kasat mata terus membayangi Wulandari. Perasaan ganjil itu perlahan berubah menjadi ketakutan yang nyata saat senja mulai jatuh, sementara putranya tak kunjung pulang.
Dengan langkah gontai dipapah Nenek Sakmah, ia memaksakan diri mendatangi rumah kepala desa.
Wulandari mencoba bicara, namun napasnya tertahan. Matanya menyapu sekeliling dengan kalut sebelum akhirnya tertuju pada sang kepala desa.
“Paman Arya… apakah kau melihat putraku, Jihan? Ia belum kembali sejak siang tadi, aku sangat khawatir.”
Arya Jaya terdiam sejenak.
“Itu…”
Hanya satu kata yang keluar, lalu keheningan menggantung di antara mereka. Wajah Arya Jaya menegang. Ia menunduk, mencoba menyusun kata-kata yang tepat, tetapi tak ada satu pun yang terasa cukup baik untuk diucapkan.
Arya Jaya tahu, mengatakan yang sebenarnya, bahwa Jihan belum kembali dari hutan akan menjadi pukulan telak bagi Wulandari ditengah kondisinya. Namun, kepala ia sadar tidak bisa berbohong.
Tatapan Wulandari terlalu jujur dan penuh harap untuk dilukai dengan kepalsuan.
Arya tidak punya pilihan. Ini adalah tanggung jawabnya. Bagaimanapun, dialah yang menugaskan Jihan ke hutan, di tengah situasi yang dibayangi ancaman binatang buas.
Napas berat lolos dari bibir Arya Jaya saat ia menatap Wulandari. Akhirnya, dengan suara lirih, ia membuka mulut.
"Wulan… sampai saat ini… Jihan belum kembali."
Kalimat itu menghantam Wulandari seperti badai yang tak memberi ruang untuk bernapas. Tubuhnya gemetar hebat; matanya membelalak, menangkap kenyataan yang enggan ia percaya. Bibirnya bergetar, namun tak ada suara yang sanggup lolos selain napas yang tercekat dan air mata yang mulai meluap.
Jika Sakmah tidak sigap menopangnya, mungkin ia sudah jatuh ke tanah.
“Tidak… Jihan,”
Tangisnya pecah. Arya memalingkan wajah, tak sanggup menatap rasa sakit itu.
"Tenanglah, Wulan,”
“Aku mengenal anak itu, Jihan. Ia kuat, cerdas, dan gigih. Jika di tengah hutan sana masih ada harapan, maka dialah harapan itu. Anak itu akan bertahan. Kita hanya perlu menemukannya."
Suara Sakmah mengalir lembut, tetapi tidak cukup untuk meredam gejolak yang membakar dada Wulandari.
Dalam pelukan perempuan tua itu, Wulandari terisak dengan bahu bergetar dan napas tersengal.
Arya Jaya hanya berdiri kaku di tempatnya, seolah seluruh beban dunia telah terlimpah ke pundaknya.
‘Tidak bisa seperti ini,’ batin Arya.
‘Jika ada harga yang harus dibayar, akulah yang pertama menanggungnya.’
Tanpa berkata-kata, Arya Jaya berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Langkahnya berat, tetapi pasti.
Tak sampai semenit kemudian, ia kembali keluar, memanggul sebuah kentongan besar yang tergantung di balok kayu tua.
Langit telah sepenuhnya ditelan kegelapan.
Udara malam turun dari arah perbukitan.
Di tengah keheningan dan keputusasaan itu, sebuah suara bergema.
TUK. TUK. TUK. TUK. TUK.
Dentuman kayu memecah sunyi seperti petir yang membelah malam.
Lima ketukan itu adalah isyarat darurat.
Ia lalu menoleh pada Yasmin.
"Pergi, sampaikan perintahku untuk mencari Jihan!"
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"