"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33
Detak jarum jam di dinding kamar VIP terasa begitu nyaring di tengah kesunyian malam. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari-jam di mana dunia seolah berhenti, namun pikiran Aylin justru berputar kencang.
Bagi Aylin yang terjaga, setiap detik terasa seperti siksaan. Ia melirik perlahan ke arah sofa, di mana ibunya tertidur lelap dengan wajah yang masih menyisakan jejak kelelahan dan kesedihan. Lalu, tatapannya beralih pada sosok pria yang duduk di kursi samping ranjangnya, tertidur dengan posisi yang tidak nyaman sambil tetap menggenggam ujung jarinya.
Aksara. Lelaki yang sempat memberi warna di hari-harinya, namun di saat yang sama juga menjadi alasan luka ini terbuka kembali.
Aylin berusaha memejamkan mata, memohon pada Tuhan agar ia bisa tertidur. Namun, setiap kali matanya tertutup, potongan adegan di gang gelap dan rumah kosong itu kembali memutar memori kelam masa kecilnya. Bayangan-bayangan itu menghantui, mencekik napasnya.
"Kenapa? Kenapa harus aku?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Air mata mengalir tanpa permisi. Dengan gerakan kaku, ia memalingkan wajah menghadap jendela besar kamar rawat. Di luar sana, malam terasa begitu pekat, seolah menelan harapan apa pun yang tersisa.
"Maafkan aku, Mama... aku selalu menyusahkanmu," batinnya perih, mengingat isak tangis Rosalind tadi malam.
*
*
Pagi pun tiba. Sinar matahari Jatinangor yang hangat masuk menembus celah gorden kamar VIP. Aylin berusaha bersikap senormal mungkin demi menenangkan hati ibunya. Ia menerima setiap suapan bubur yang dibeli Aksara dari luar rumah sakit.
"Sudah, Ma. Aku kenyang," ucap Aylin pelan saat bubur itu tinggal separuh.
"Tidak ada kata kenyang, ayo habiskan sedikit lagi," sahut Rosalind kukuh. Ia terus menyuapi putrinya dengan telaten, membuat Aylin hanya bisa pasrah dan sesekali cemberut.
Di sofa tak jauh dari mereka, Aksara sarapan dengan tenang sambil sesekali melirik ke arah ranjang. Ada rasa lega melihat Aylin sudah bisa merespons, meski gurat trauma itu masih jelas terlihat di matanya.
Beberapa menit setelah sarapan, dokter melakukan kunjungan rutin. Namun kali ini, ia tidak datang sendiri. Ia membawa Dokter Celine, seorang psikolog klinis yang dikenal ahli menangani trauma berat.
"Pagi, Nona Aylin. Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Celine lembut. Setelah pemeriksaan fisik selesai, kini giliran Celine yang mengambil alih.
"Ba-baik, Dok," balas Aylin ragu. Ia belum diberi tahu bahwa wanita cantik di depannya ini adalah seorang psikolog.
Aksara dan Rosalind kemudian diminta menunggu di luar agar Aylin bisa lebih leluasa berbicara. Di dalam ruangan yang kini hanya berisi mereka berdua, Celine memulai pendekatannya.
"Ada yang ingin kamu bicarakan, Aylin? Maaf, aku memanggilmu nama saja agar kita terasa lebih akrab," kekeh Celine berusaha mencairkan suasana.
Aylin hanya mengangguk kecil, matanya mulai tidak tenang menatap sekeliling. "Tidak apa-apa, Dok."
"Apa yang kamu takutkan, Aylin? Kamu punya suami dan ibu yang sangat mencintaimu, mereka selalu mendampingimu," pancing Celine.
Aylin mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pagi yang cerah di luar sana tetap tak mampu menerangi kegelapan di hatinya. "Dokter tidak akan mengerti. Semua tak semulus kelihatannya."
Celine meneliti raut wajah pasiennya. Ia tahu trauma itu masih mengunci rapat mulut Aylin, dan ia tidak akan memaksanya. "Baiklah, aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap bercerita. Pertemuan kita cukup sampai di sini untuk hari ini. Saya permisi."
Celine berbalik hendak membuka pintu, namun langkahnya terhenti oleh suara lirih Aylin.
"Dok... aku tidak gila."
Celine berbalik dan memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Aku tahu kamu tidak gila, Aylin. Tapi trauma itu perlu disembuhkan. Bagaimana jika nanti kamu memiliki anak? Kondisi mentalmu yang sekarang akan membuatmu rentan terkena baby blues atau depresi pasca melahirkan."
Deg. Jantung Aylin berdegup kencang. Pikiran tentang anak membawanya pada keinginan Kakek Harsa yang ingin melihat cicit. Juga, sebagai syarat mendapatkan warisan.
"Aku ...aku tidak ingin memiliki anak," potong Aylin cepat. Suaranya dingin, matanya menatap kosong ke arah jendela.
Celine tertegun. Di luar pintu, tangan Aksara yang hendak memutar kenop pintu yang terbuka sedikit langsung membeku.
"Aku tidak mau nasib anakku berakhir sama menyedihkannya dengan nasibku," lanjut Aylin dengan suara yang mulai bergetar hebat.
"Dunia ini terlalu jahat. Aku tidak mau membawa nyawa baru ke sini hanya untuk dia disakiti oleh orang-orang seperti mereka. Lebih baik aku tidak pernah menjadi ibu, daripada harus melihat anakku hancur seperti aku."
"Aylin..." lirih Celine, menatap Aylin dengan tatapan sedih. Trauma itu, membekas sangat dalam.
Celine terdiam sejenak, membiarkan keheningan itu menjadi ruang bagi Aylin untuk mengeluarkan sedikit bebannya. Ia sadar, menyembuhkan luka yang sudah mendarah daging seperti ini tidak akan selesai dalam satu malam.
Aylin memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana sementara bahunya mulai terguncang hebat karena isak tangis yang tertahan.
Aksara di luar ruangan hanya bisa bersandar pada dinding, memejamkan mata rapat-rapat. Kalimat Aylin barusan menghantamnya lebih keras daripada pukulan preman mana pun. Ia sadar, tugasnya bukan cuma menyembuhkan luka fisik Aylin, tapi meyakinkan wanita itu bahwa dunia tidak selamanya sekejam itu.
Rosalind yang melihat Aksara memejamkan mata di depan pintu segera menghampiri dengan panik. Namun, sebelum ia sempat bertanya, pintu terbuka. Dokter Celine melangkah keluar dengan senyum lembut, meski tatapannya menyiratkan keprihatinan yang mendalam.
"Dia belum mau bicara banyak, Tuan Aksara. Trauma itu sudah mengakar terlalu dalam, akan sangat sulit proses penyembuhannya," jelas Celine. Ia menghela napas pendek sebelum melanjutkan, "Dia juga mengungkapkan tidak ingin memiliki anak, karena takut nasib anaknya akan berakhir sama seperti dirinya."
"Kenapa bisa begitu? Aksara tidak akan seperti ayahnya!" potong Rosalind dengan suara bergetar. Ia menatap Aksara, menuntut jawaban kenapa putrinya sampai berpikir sejauh itu.
"Tenang, Ma. Nanti aku akan jelaskan semuanya," sahut Aksara mencoba menenangkan ibu mertuanya. "Lebih baik Mama masuk dulu temani Aylin. Aku perlu bicara sebentar dengan dokter."
Aksara menuntun Rosalind masuk ke kamar, lalu dengan cepat menutup pintu agar percakapan mereka tidak terdengar ke dalam. Kini, hanya ada dia dan Celine di kursi tunggu koridor yang sunyi.
"Sebenarnya ada apa ini, Tuan Aksara? Sepertinya masalah ini jauh lebih rumit dari yang saya bayangkan," tanya Celine menatap Aksara dengan sorot mata menyelidik khas seorang psikolog.
Aksara terdiam cukup lama, menyandarkan punggungnya di kursi besi yang dingin. Pandangannya menerawang jauh.
"Sebenarnya... saya dan Aylin menikah hanya karena keuntungan, Dok," jawab Aksara akhirnya. Rahasia yang selama ini ia simpan rapat, kini ia tumpahkan.
"Saat itu, dia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya, dan saya membutuhkannya agar bisa mendapatkan hak waris Kakek dengan syarat saya harus menikah." Aksara menjeda kalimatnya, Celine menyimak dengan penuh perhatian tanpa menyela.
"Tapi ternyata, Aylin menyimpan terlalu banyak rahasia. Saya sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan saat malam pertama, Aylin mengalami serangan panik yang hebat hanya karena saya sedikit menjahilinya. Saat itu saya tidak tahu kalau dia punya trauma seburuk ini."
Aksara menghela napas panjang, menatap ujung sepatunya dengan perasaan campur aduk. Namun, ada satu hal besar yang tetap ia simpan rapat di dalam kepalanya. Sesuatu yang tidak ia katakan pada Dokter Celine.
Tentang kenyataan bahwa ia masih memiliki hubungan tersembunyi dengan seorang pria—Arvano.
Bersambung ...
ko' bisa masukkkk....
Aksara wwoooiii., selamatkan istri'muuuuuu....
Aay : hhuuuuaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ngaku Kamu bedeb4hhhhh.....
dasar laki² bedeb4hhhhh...
astagaaaaaaaa......
hhuuaaaaaaaaaa.....
Otorrrrrrr tegaaaaa......
terlalu banyak beban berat d'berikan...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayah durjana'mu akan runtuh., Paman psikopet'mu ini akan d'penjara....
Emil : Nona., Jumi !!!! N o n a
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣