NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

London, musim gugur.

Gedung kaca berlantai dua puluh lima milik Drexler BioLabs berdiri megah di jantung kota, tidak jauh dari Westminster. Dingin, sunyi, dan berisi orang-orang yang jarang tersenyum. Salah satunya adalah wanita muda bernama Elena Stratford.

Elena mengenakan jas lab putih yang sudah hampir seperti seragam wajibnya. Rambut pirangnya diikat tinggi. Matanya tajam, cekatan membaca hasil lab, menulis laporan, dan bersikap profesional. Ia baru berusia dua puluh enam tahun, tapi sudah dipercaya menjadi asisten kepala laboratorium dalam program fertilisasi kelas atas.

Dan malam itu, hidupnya berubah.

“Dr. Reese ingin kau ke lantai 23. Sekarang.”

Pesan itu datang lewat tablet, dari direktur utama laboratorium, wanita setengah baya yang dikenal dingin dan berkuasa. Tidak ada siapa pun yang bisa menolak perintahnya.

Elena sempat ragu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan dia hampir selesai mencuci sampel. Tapi lantai 23 adalah ruangan paling tertutup. Proyek rahasia. Ruangan itu hanya digunakan jika klien sangat istimewa.

Saat pintu lift terbuka, aroma antiseptik menyambutnya. Ruangan luas dan steril. Di balik kaca, tampak seorang pria berdiri membelakangi jendela, jas hitamnya rapi tanpa satu pun kerut.

“Elena Stratford,” suara Dr. Reese memanggilnya. “Kami butuh partisipasimu untuk program donor genetik."

Elena memicingkan mata. “Donor… genetik? Maaf, saya tidak memahami maksud Anda.”

Reese menyerahkan berkas.

“Ini proyek legal. Klien adalah orang penting. Dia tidak menginginkan pasangan. Tidak tertarik menjalin hubungan. Dia hanya ingin satu hal, keturunan. Tapi dengan kriteria genetika sempurna.”

Elena menelan ludah. Saat membaca berkas itu, ia membeku.

Nama Klien: Alexander Thorne.

Usia: 32.

Status: CEO Thorne International Holdings.

IQ: 152.

Catatan kesehatan: Sempurna.

Permintaan khusus: Tidak ada kontak personal. Identitas donor dijaga rahasia.

Alexander Thorne. Pria termuda yang masuk daftar “Forbes Top 10 Most Powerful Men in Europe.” Ia kaya, jenius, nyaris tak tersentuh. Dan ia ingin anak?

“Elena, kau memenuhi semua parameter, tingkat imun yang tinggi, tidak memiliki riwayat penyakit turunan, dan...”

Dr. Reese tersenyum tipis. “Kau satu dari sepuluh wanita di dunia dengan kecocokan genetik sempurna untuk proyek ini.”

“Dan jika saya menolak?”

“Kami tak akan memaksa,” jawab Reese. “Tapi kau akan kehilangan kesempatan… untuk mengubah takdirmu.”

---

Tiga hari kemudian.

Lampu neon di langit-langit menyinari lantai putih mengilap, menciptakan kesan dingin dan tak bersentuh. Elena duduk di ruangan konferensi kecil, berhadapan dengan Dr. Reese yang tampak lebih tegas dari biasanya. Di atas meja, berkas kontrak setebal tiga sentimeter menunggu untuk dibaca. Jari Elena gemetar saat menyentuh kertas pertama.

“Kita tidak akan memaksamu, Elena,” kata Reese dengan nada yang tak dapat dikatakan ramah, tapi juga tak dingin sepenuhnya. “Tapi mari bicara jujur. Hidupmu selama ini bukan hidup yang mudah.”

Elena diam.

“Sejak orang tuamu meninggal saat kau berusia dua puluh, kau bekerja siang dan malam. Beasiswa penuh untuk S2, magang medis yang tak dibayar, pekerjaan malam di rumah sakit demi membayar kamar kecil di Clapham yang bahkan tidak punya pemanas yang layak.”

Elena menunduk. Tidak suka saat hidupnya diringkas menjadi statistik menyedihkan.

“Kau pintar, Elena,” lanjut Reese. “Dan program ini… bisa memberimu hidup yang layak. Tanpa ikatan. Tanpa tuntutan. Kau hanya perlu...”

Reese melirik layar digital,

“...menjalani satu prosedur dan istirahat selama masa kehamilan. Semua akan diurus.”

Elena mengangkat wajahnya. “Bagaimana dengan anak itu?”

“Apa maksudmu?”

“Apakah dia akan tahu… siapa ibunya?”

Reese diam sejenak sebelum menjawab, “Tidak, kecuali klien memutuskan hal lain. Tapi dari pengalamanku bekerja sama dengan pria itu selama dua tahun… dia tidak akan peduli.”

Elena mencengkeram jemarinya di bawah meja.

“Kenapa dia tak mau punya keluarga? Kalau dia ingin anak, kenapa tidak menikah saja?”

Reese menyeringai. “Dia bukan pria yang percaya pada pernikahan. Dan kau tahu dunia tempat dia berada, terlalu banyak kepalsuan. Terlalu banyak yang menginginkannya karena namanya. Dia tidak percaya siapa pun. Dia hanya percaya data.”

Elena menatap layar tablet di meja. Di sana ada profil pria yang akan mengubah hidupnya. Alexander Thorne. Rambut cokelat gelap, wajah simetris, mata abu-abu tajam. Seorang pria yang terlihat seperti tidak pernah belajar tersenyum.

Satu kalimat pada catatan psikologisnya menarik perhatian Elena.

Subject shows extreme rationalism. Lack of emotional engagement. High-functioning cognition, low affective empathy. Suspected alexithymia.

Tidak bisa mengenali atau mengekspresikan emosi.

“Dan dia akan menjadi ayah dari anakku?” bisik Elena tanpa sadar.

Reese menjawab pelan, “Dia tidak ingin menjadi ‘ayah.’ Dia hanya ingin pewaris. Anak itu akan diasuh oleh tim profesional. Dididik oleh tangan-tangan terbaik. Tidak akan kekurangan apa pun.”

Elena memejamkan mata. Ada sesuatu di dadanya yang terasa berat. Ia selalu rasional, selalu berhitung. Tapi ini… ini bukan soal angka. Ini soal kehidupan yang akan tumbuh dari darah dan dagingnya.

Namun saat ia mengingat tagihan rumah sakit terakhir, kontrak kerja yang akan habis bulan depan, dan email penolakan dari program riset yang ia impikan… dunia terasa sempit.

“Jika saya setuju,” katanya pelan. “Saya ingin satu hal.”

Reese mengangkat alis. “Apa itu?”

“Saya ingin kehamilan ini dijalani di luar London. Saya tidak ingin siapa pun tahu.”

Reese mengangguk tanpa berpikir lama. “Bisa diatur. Kami punya cabang rumah medis di Edinburgh. Tenang, Elena. Setelah ini, hidupmu tidak akan pernah sama.”

Elena tidak menjawab.

Ia tahu itu benar. Tapi ia tidak tahu, perubahan seperti apa yang akan menantinya nanti.

Malam itu, saat keluar dari gedung Drexler BioLabs, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tapi bukan karena angin musim gugur, melainkan karena di dalam dirinya, sesuatu akan mulai tumbuh.

Sesuatu yang bukan hanya tentang uang, atau kontrak, atau kesempatan. Tapi sesuatu yang lebih rumit. Lebih dalam.

Sebuah kehidupan.

***

Dua minggu setelah pertemuan itu, ruangan medis khusus di lantai 23 sudah dipersiapkan. Segalanya bersih, steril, dan profesional. Tidak ada tatapan simpati, tidak ada percakapan personal. Semuanya berjalan seperti program yang disusun dengan ketat, singkat, efisien, terukur.

Elena terbaring di ranjang pemeriksaan, mengenakan gaun medis berwarna biru pucat. Cahaya lampu di atas kepalanya menusuk mata, tapi ia tak mengeluh. Seorang dokter wanita paruh baya, yang bahkan tak memperkenalkan namanya, datang bersama dua perawat.

“Kita akan mulai sebentar lagi,” ucap dokter itu sambil memeriksa dokumen. “Sperma sudah disiapkan di cryotank. Semuanya sesuai prosedur.”

Elena mengangguk. Ia mencoba untuk tidak memikirkan dari mana benih itu berasal. Ia tidak ingin membayangkan sosok Alexander Thorne, pria yang bahkan belum pernah melihat wajahnya, yang telah menyerahkan bagian terdalam dirinya ke dunia sains.

Ia hanya berusaha tenang. Menatap langit-langit. Menahan napas.

Prosedur berlangsung singkat. Tidak menyakitkan secara fisik. Tapi saat suara mesin terakhir berbunyi dan dokter berkata, “Selesai,” Elena merasa seperti ada sebagian dari dirinya yang hilang. Atau mungkin baru saja berubah selamanya.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan. Setiap pagi, ia memeriksa hasil uji laboratorium. Pada hari kesepuluh, dua garis merah muncul di alat uji kehamilan. Positif.

Tangannya gemetar saat menyentuh perutnya, yang masih rata.

Belum terasa apa-apa.

Tapi dia tahu… sesuatu ada di sana.

Makhluk kecil yang belum punya nama. Belum punya wajah.

Dan untuk pertama kalinya, Elena menangis. Bukan karena penyesalan. Bukan pula karena takut. Tapi karena perasaan tak bernama yang menyerbu dadanya seperti badai dan perasaan memiliki.

Malam itu, ia duduk sendirian di apartemennya. Memegang koper kecil berisi pakaian musim dingin, jaket tebal, dan catatan medis yang akan ia simpan rapat-rapat. Tidak ada yang tahu rencananya.

Ia telah berbicara dengan Dr. Reese. Telah mengatakan bahwa ia memilih menjalani kehamilan di cabang rumah medis Drexler di Edinburgh.

Namun kenyataannya, ia tak pernah sampai ke sana.

Esok harinya, saat kereta pagi dari London menuju utara berangkat, Elena tidak naik ke dalamnya.

Ia justru berada di terminal internasional, memegang paspor dan tiket menuju sebuah kota kecil di Belgia, tempat di mana tidak ada yang mengenalnya, dan tidak ada satu pun orang dari Drexler BioLabs yang bisa menjangkau.

Ia ingin melindungi anak itu. Rasa tidak rela itu perlahan muncul. Dia tidak ingin kehilangan darah dagingnya.

***

Langit di atas Bruges, Belgia, kelabu dan penuh kabut saat Elena menapakkan kakinya di kota tua yang tampak seperti potongan dari buku dongeng. Bangunan-bangunan bata merah dengan jendela kecil dan cerobong asap tua menyambutnya dalam diam. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada alarm darurat. Tidak ada siapa pun yang mengenalnya.

Dan itulah yang dia cari.

Ia menyewa kamar kecil di atas sebuah toko buku tua, dimiliki oleh pasangan lansia yang ramah dan tak banyak tanya. Elena memperkenalkan dirinya sebagai “Elli,” guru privat bahasa Inggris yang sedang mengambil cuti panjang dari London.

Malam pertamanya di sana dilalui dengan tenang, tapi dadanya sesak. Tubuhnya masih merasa aneh. Perutnya kosong, namun jiwanya terasa penuh.

Di jendela kamarnya, ia menulis di buku harian kecil yang ia bawa dari London.

Hari ke-13.

Tubuhku masih belum terasa berubah, tapi pikiranku sudah berbeda. Aku memikirkan bayi kecil ini. Wajahnya. Suaranya. Apakah dia akan punya mata abu-abu seperti pria itu, atau akan tertawa seperti aku waktu kecil?

Aku merasa aneh. Tapi aku… bahagia.

---

Hari demi hari berlalu. Elena mulai menjalani rutinitas baru.

Pagi hari ia mengajar bahasa Inggris pada dua anak tetangga pemilik toko buku. Siang hari ia membaca buku tentang kehamilan, dan malam hari ia merekam video kecil dengan ponselnya, semacam catatan harian digital untuk anaknya kelak.

Di minggu keempat, mual-mual mulai datang. Ia tersenyum sambil memuntahkan sarapan ke wastafel.

“Selamat datang di trimester pertama,” gumamnya pada bayangannya di kaca.

Namun yang membuatnya terjaga malam-malam bukan hanya rasa mual, melainkan ketakutan samar. Tentang kemungkinan dikejar. Tentang kontrak yang mungkin tidak akan dibiarkan lepas begitu saja.

Sampai suatu pagi, ketika dia sedang membalik halaman buku di kafe kecil dekat kanal, seorang pria duduk diam-diam di bangku dua meja darinya. Mengenakan jas hitam. Membaca Financial Times.

Seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan di kota sekecil ini.

Tapi Elena tahu. Nalurinya mencium sesuatu.

---

Malamnya, ia kembali mengemas koper kecilnya. Hanya membawa pakaian secukupnya dan hasil scan kehamilan dari klinik lokal.

“Maaf, Mrs. Doven,” katanya lirih pada pemilik toko buku, “Saya harus pergi lebih cepat. Ada urusan keluarga yang mendadak.”

Wanita tua itu tidak bertanya. Hanya memberikan pelukan ringan dan sepiring kecil roti gandum untuk perjalanan.

Elena naik bus malam menuju Ghent. Dari sana, ia akan melanjutkan perjalanan ke perbatasan Jerman.

Dia tahu tidak mungkin terus melarikan diri. Tapi dia juga tahu satu hal yang lebih pasti,

Anak dalam kandungannya bukan milik siapa pun. Bukan milik sistem. Bukan milik laboratorium. Bukan milik Alexander Thorne.

Ia miliknya. Sepenuhnya.

---

Saat bus melaju membelah hutan tipis di perbatasan Belgia, Elena memejamkan mata.

Tangannya perlahan menyentuh perutnya yang mulai membesar sedikit. Masih samar, masih kecil, tapi cukup untuk membuatnya merasa tidak sendiri.

“Aku tidak tahu akan membesarkanmu seperti apa,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Tapi aku janji… aku akan mencintaimu bukan karena data, bukan karena ekspektasi, tapi karena kamu adalah kamu.”

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!