Masalah yang sili berganti, kejadian buruk yang hadir dalam bahtera rumah tangganya berhasil membuat Clarissa bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Gagal menikah di masa lalu dan rumah tangga yang dipenuhi oleh dendam suaminya membuatnya ingin lari dari kenyataan, namun dia harus tetap bersikap baik-baik saja di hadapan sang Ayah.
Felix, pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Clarissa, datang dalam hidupnya, bukan untuk serius kepadanya melainkan untuk membalas dendam. Kehidupan rumah tangga Clarissa terasa bak di neraka. Karma masa lalu ibundanya, kini datang menimpa dirinya.
"Kenapa mama yang berbuat, tapi aku yang menanggungnya? Kenapa tuhan? Kenapa?"
Jeritan keputusasaan itu selalu menggema saat tidak ada orang di rumah.
Bagaimana kelanjutan kisah kasih Clarissa? Akankah dia bertahan dan mendapatkan manisnya pernikahan atau malah berujung pada perceraian?
Ikutin terus perkembangan ceritanya🤗🤗
Sequel kedua dari "Tuhan, Beri Aku Kekuatan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajeng Rizqita Bukowski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Clara
"Mama ngomong apaan sih? Tante Kaira pasti maafin mama kok. Udah ya ma kita pulang," ucap Clarissa yang langsung menarik mundur Clara agar ucapannya tidak semakin melantur.
Clara hanya menanggapinya dengan senyuman. Wanita itu mengikuti langkah anaknya tercinta. Clarissa masih dengan setianya memapah Clara menuju mobil. Kakinya mulai lemas dan kantuk pun mulai mendatanginya.
Sesampainya di mobil...
"Hoammm... Sa, mama ngantuk berat nih. Mama tidur dulu ya. Jangan bangunin mama,ok?" Ucap Clara seakan pertanda sebelum kepergiannya tiba.
"Ok ma. Mama tidur di pangkuan Sasa aja," jawab Clarissa yang tidak menyadari perkataan aneh dari mamanya.
...*....*...
Wisnutama Cafe...
"KAREN!!! KAREN!!!" Teriak Eren mengejutkan semua orang.
"Geledah semua tempat ini tanpa terkecuali!" Bentak Eren.
"Pa tenang. Ini cafe milik om Wisnu. Jangan membuat keributan," ucap Lauren mencoba menenangkan Eren.
"Tenang? Bagaimana bisa? Papa akan merasa bersalah jika sesuatu terjadi pada adikmu. Apa yang harus papa katakan pada mamamu kelak?" Jawab Eren yang masih nampak panik.
Sudah beberapa kali Eren dan yang lainnya menggeledah seluruh tempat milik Wisnu,kecuali kamar VVIP yang berada di pojokan. Eren tentu saja tidak berani menyinggung tamu itu walau dia pun sanggup menghadapinya sendiri. Namun, Eren bukanlah pria yang gegabah dan menyebabkan kerugian untuk pihak lain akibat dirinya. Kantuk mulai menghinggapi para tamu undangan. Lauren tak terkecuali pastinya.
"Pa, sudah yuk kita cari Karen besok," ucap Lauren yang masih mencoba membujuk sang Ayah.
"Tapi..."
"Papa harus percaya sama Karen,ok? Dia sudah dewasa. Dia pasti bisa menjaga dirinya. Lagipula, kemampuan bela diri Karen melampaui orang biasa." Lauren mengusap lembut pundak Eren.
Eren menghela nafas panjang.
"Baiklah," ucap Eren menyerah.
...*...*...
Sama halnya dengan waktu berangkat, tak butuh waktu lama bagi Wisnu dan keluarganya agar sampai rumah sakit tepat waktu. Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk kembali lagi ke rumah sakit. Apalagi dalam kondisi yang sudah tidak macet.
Jam menunjukkan pukul 00.00, tepat tengah malam. Malam Jum'at, malam yang dikeramatkan oleh banyak orang di tempat tinggal mereka dulu.
"Clara,Sasa, kita sudah sampai sayang-sayangku," ucap Wisnu.
"Ma, sudah sampai ma," ucap Clarissa lirih untuk membangunkan Clara,namun usahanya sia-sia.
"Ma? Mama?" Panggilnya beberapa kali.
"Pa, mama kok ga nyaut?" Tanyanya mulai panik.
"Ma. Jangan nakut-nakutin Sasa deh." Clarissa mulai menggoyang-goyangkan tubuh Clara.
Dia membalikkan tubuh Clara.
"Sa, kamu coba periksa..." ucap Wisnu ragu-ragu.
Clarissa menelan ludahnya dengan susah payah. Dia dengan ragu-ragu mulai mengecek nafas mamanya. Wisnu pun menyaksikan kejadian itu.
Deg!!
Sudah tidak ada nafas yang keluar dari hidung Clara, membuat tangis Clarissa pecah.
"MA!!! PLEASE,DON'T LEAVE ME," Teriaknya.
"Sa, ada apa?" Tanya Wisnu yang melihat ekspresi anaknya.
"Pa, mama... nafas mama sudah menghilang," jawab Clarissa dalam tangisnya.
"Jangan bercanda kamu."
Wisnu mengambil tangan Clara dan mengecek denyut nadinya. Dan nihil. Denyut nadinya telah berhenti, jantungnya pun tak terasa berdetak lagi, nafasnya pun entah sejak kapan telah tidak berhembus lagi. Dia telah tiada.
Wisnu keluar dari mobil dan membawa istrinya menuju ruang IGD untuk segera mendapatkan pertolongan. Tentu saja, besar harapan mereka agar Clara dapat diselamatkan, walau dalam hati kecil mereka mengerti jika itu semua tidak mungkin.
"Dok, saya mohon selamatkan istri saya. Berapapun akan saya bayar," ucap Wisnu dengan air mata yang menggenang di pipinya.
"Bapak tenang. Kami akan melakukan yang terbaik," ucap dokter tersebut.
Alat pacu jantung telah dipasangkan. Jantungnya pun telah dipacu beberapa kali, namun tidak ada respon sedikitpun dari Clara. Dia benar-benar telah meninggalkan anak dan suaminya.
"Sus, catat tanggal kematiannya," ucap dokter.
Dokter itu keluar dari IGD dengan membawakan berita duka untuk keluarga pasien.
"Maaf pak, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Namun, ibu Clara telah tiada sejak beberapa menit yang lalu dengan artian sebenarnya ibu Clara telah meninggal saat perjalanan, sebelum kalian tiba di rumah sakit," ucap dokter yang membuat syok Wisnu dan Clarissa.
"Ga mungkin kan dok? Saya kehilangan orang yang saya cintai untuk kedua kalinya?" Tanya Wisnu syok.
Wisnu mundur beberapa langkah dan menabrakkan dirinya ke dinding rumah sakit. Dia mengepalkan tangannya dan memukul keras dinding rumah sakit hingga tangannya pun memar dan berdarah. Perlahan, dia turun dan akhirnya di terduduk lemas disana. Clarissa pun tak kalah syoknya dengan sang ayah. Namun, dia berusaha menguatkan dirinya, menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat.
"Papa. Papa jangan begini. Kan masih ada Sasa? Sasa bakalan terus nemenin papa,ok? Papa harus kuat demi Sasa," bisik Clarissa sambil memeluk erat tubuh kekar Wisnu dengan tubuh mungilnya.
"Ya, Sasa benar. Papa masih ada satu malaikat kecil yang harus papa jaga." Wisnu memeluk erat Clarissa dan menghangatkannya. Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain.
Jenazah Clara dibawa ke ruang khusus untuk disucikan dan dibersihkan. Wisnu dengan tegarnya menuntun tubuh istrinya yang kini telah berubah kaku seperti patung. Dia menggenggam erat tangan Clarissa dan tersenyum getir padanya.
Apa yang kutakutkan terjadi. Aku kehilanganmu lagi. Aku kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi untuk kedua kalinya. Semoga kalian tenang disana. Aku akan menjaga Clarissa dan membantu Eren menjaga Karen~Batin Wisnu.
Wisnu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Eren ditengah malam.
📱Drttt drttt...
Panggilan masuk ditengah malam telah berhasil mengejutkan Eren yang masih melamun menatap langit. Dia masih memikirkan keberadaan Karen dan rasa rindunya kepada Kaira.
"Wisnu?" Gumam Eren.
"Tumben dia telepon jam segini," lanjutnya.
Eren mengangkat teleponnya.
"Halo,nu. Ada apa?" Tanya Eren.
"Ren. Clara,ren." Wisnu tak kuasa menahan tangisnya. Tangisnya pecah lagi untuk kedua kalinya. Dia pria, namun apakah pria tidak boleh menangis saat kekasihnya pergi meninggalkannya untuk selamanya?
Suara Wisnu mulai lirih terdengar. Dia pun mulai sesenggukan berusaha meredakan kesedihannya.
"Nu? Lu gapapa kan? Kenapa sama Clara? Semua baik-baik saja kan?" Tanya Eren saat mendengar hanya tangis di penghujung telepon.
Wisnu terdiam untuk waktu yang lama membuat Eren semakin kelabakan menerka-nerka.
"Clara, ren. Clara sudah tiada. Dia telah meninggal," jawab Wisnu menguatkan diri.
Dia beberapa kali mencubiti dirinya sendiri, memukul, menampar dan melakukan hal lainnya. Berharap ini semua hanyalah mimpi belaka.
"Apa?!!" Pekik Eren terkejut.
"Jangan bercanda kamu," ucap Eren tak percaya.
"Mana mungkin aku bercanda mengenai kematian? Apalagi ini Clara."
"Baiklah, aku akan kesana sesegera mungkin." Eren menutup teleponnya dan bersiap untuk berangkat. Namun, sebelum itu ia membangunkan Lauren.
"Oren!! Oren!!" Teriak Eren.
"Hoammm. Humm? Papa tenang saja. Karen tidak akan kenapa..."
"Tante Clara meninggal," ucap Eren memotong pembicaraan Lauren.
"APA?!" Lauren membelalakkan netranya.