Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di perpustakaan
Siang itu hujan turun tanpa henti. Awalnya hanya bintik-bintik kecil namun semakin lama hujan itu semakin deras. Seorang gadis dengan rambut di kucir kuda dan mengenakan sweater merah itu baru saja tiba di perpustakaan kota. Ia memarkirkan motornya lalu melepas mantel yang ia kenakan.
Untungnya saja perpustakaan hari itu sepi, saat Erina masuk tampak masih banyak kursi yang kosong. Ia bisa leluasa untuk mencari buku dan membaca dengan tenang disini.
Setelah mengisi data pengunjung, gadis itu segera berjalan menyusuri deretan rak buku yang ada di sekitarnya. Jari telunjuknya sesekali menyentuh deretan punggung buku, berharap ada satu judul yang membuatnya ingin berhenti. Dia sempat mengambil satu buku, membolak-balik halamannya sebentar, namun Ia taruh kembali.
Tidak ada yang menarik disini untuk buku fiksi. Pikirnya. Erina pun memutuskan untuk naik ke lantai atas. Di lantai kedua adalah koleksi buku umum, dan biasanya menjadi tempat favorit bagi mahasiswa seperti dirinya untuk mengerjakan tugas.
Suara sepatunya yang beradu dengan lantai kayu terdengar jelas di tengah sunyinya perpustakaan. Begitu sampai di lantai atas, suasana disana jauh lebih sepi. Pengunjung disana bahkan bisa dihitung dengan jari.
Ia kembali melewati deretan rak-rak buku disana, mencari sebuah buku yang menarik perhatiannya.
Gadis itu berhenti, kini ia menatap satu-persatu buku di hadapannya. Deretan ini adalah khusus untuk buku motivasi dan buku tentang pernikahan.
Ia meraih sebuah buku yang cukup tipis dengan sampul putih, berada di sudut rak. Namun di saat yang bersamaan tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang disampingnya yang ingin mengambil buku itu juga.
Erina pun menoleh. Ia mendapati seorang wanita kini berdiri disampingnya, menatap dirinya juga sambil tersenyum.
"Ambil saja," ucap Arini ramah.
Erina menggeleng cepat, "Oh, ngga pa pa kak! Ambil aja buat kakak!"
Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Arini yang mengambil buku itu. Begitu ia meraihnya, deretan tulisan di cover buku itu membuatnya semakin tertarik untuk membaca buku tersebut.
Two Become One
Karya Jonathan A.
Itulah judulnya. Arini tersenyum saat membaca sepintas judul buku itu. Ia sempat membaca buku ini sebelum dirinya akan menikah dengan Adrian, buku yang menginspirasi dirinya. Meski kini pernikahannya mungkin sudah dikatakan tidak lagi baik-baik seperti dulu.
Arini lalu memberikan buku itu kepada Erina. Gadis itu kaget dan menatap dirinya dengan kikuk.
"Saya sudah pernah baca buku ini. Buku ini bagus, cocok untuk kamu baca. Terutama kamu masih muda," ucap Arini sambil tersenyum.
Erina melihat senyuman hangat dari wajah wanita itu. Sungguh menawan, pikirnya. Ia pun menerima buku itu dan membalas senyuman Arini.
"Makasih kak!"
"Sama-sama," jawab Arini lembut. Ia memperhatikan Erina sejenak, gadis itu tampak cantik dan manis. Tidak terlalu menor make-up yang ia pakai dan penampilannya sederhana.
"Kuliah di sekitar sini?"
Erina mengangguk antusias, "Iya, Kak. Aku di UI, semester akhir. Lagi penat banget sama skripsi, jadi pelariannya ke sini. Kakak sendiri... sering ke sini?"
"Dulu sering," Arini mengalihkan pandangannya ke jendela yang buram oleh tempias hujan.
"Sekarang hanya kalau butuh ketenangan saja. Oh ya, buku itu... bab ketiganya sangat menarik. Tentang bagaimana menjaga komitmen saat badai datang. Saya rasa kamu bakal suka,"
Erina memandangi sampul buku di tangannya, lalu tertawa kecil yang terdengar renyah.
"Komitmen ya? Jujur, aku baru mau belajar soal itu, Kak. Hubunganku sekarang agak... rumit. Orangnya sibuk banget, jadi aku sering merasa harus mencari kesibukan sendiri supaya nggak terus-terusan menuntut waktunya."
Arini tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Kalimat Erina barusan terasa sangat familiar di telinganya. Bukankah itu alasan yang selalu diucapkan Adrian setiap kali ia pulang terlambat? Sibuk.
"Laki-laki memang sering menjadikan kesibukan sebagai alasan," ucap Arini tanpa sadar.
Erina sedikit terkejut, namun kemudian mengangguk setuju. "Bener banget! Tapi dia baik kok, Kak. Dewasa banget. Eh, aku sampai lupa kenalan. Aku Erina."
Ia mengulurkan tangan. Arini menyambutnya dengan hangat. "Arini."
"Nama yang cantik, secantik orangnya," puji Erina jujur. Ia merasa nyaman mengobrol dengan wanita di depannya ini. "Kak Arini sudah menikah?"
Arini tertegun sesaat. Ia melirik cincin emas di jari manisnya yang terasa semakin berat setiap harinya. "Sudah. Hampir tujuh tahun."
"Wah, lama juga ya? Pasti suaminya beruntung banget punya istri kayak Kakak," ucap Erina polos.
"Pacarku juga sering bilang kalau dia pengen punya pendamping yang sabar kayak aku. Tapi ya itu, statusnya sekarang masih bikin aku harus banyak ngalah."
Ponsel Erina yang tergeletak di atas meja kayu dekat mereka tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Erina meliriknya, dan seketika wajahnya merona bahagia.
"Eh, Kak, dia telepon! Aku permisi sebentar ya?" Erina berbisik dengan wajah sumringah. Ia segera menjauh ke arah balkon perpustakaan agar suaranya tidak mengganggu pengunjung lain.
Arini hanya mengangguk kecil melihat gadis itu pergi dengan langkah riang. Ia memutuskan untuk duduk di kursi kayu yang tadi ditempati Erina. Namun, pandangannya tidak sengaja tertuju pada sebuah gantungan kunci yang jatuh di bawah meja, mungkin terjatuh dari saku sweater merah Erina tadi.
Arini memungutnya. Itu adalah gantungan kunci kulit berbentuk inisial huruf "A" dengan ukiran kecil di sudutnya, “Forever with you”.
Jantung Arini berdegup kencang. Ia sangat mengenali benda itu. Itu adalah gantungan kunci yang sama dengan yang ia hadiahkan untuk Adrian di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Adrian bilang dia menghilangkannya di kantor setahun yang lalu.
Tepat saat itu, suara Erina yang sedang menelepon di balkon terdengar samar karena pintu yang sedikit terbuka.
"Iya, Adrian... aku lagi di perpus kok. Hujannya deras banget.. "
"Mau ketemu? Sekarang?"
"Harus banget sekarang?"
Erina sebenarnya malas untuk bertemu karena cuaca sedang tidak bersahabat. Ia ingin membaca buku dengan tenang di perpustakaan. Namun pria itu sepertinya ingin sekali bertemu dengan dirinya sekarang.
"Saya jemput," ucap Adrian di seberang sana.
Senyum Erina mengembang sempurna, namun ia berpikir sejenak jika dirinya dijemput bagaimana nasib motornya disini?
"Eh, ngga usah deh mas! Aku kesana aja nyusul yaa," tolak Erina.
Ia pun mematikan sambungan telepon secara sepihak. Erina lalu kembali ke dalam dan menghampiri Arini yang masih terlihat sibuk melihat deretan buku-buku pada rak di hadapannya.
"Kak! Aku duluan yaa, btw makasih buat bukunya!" ucap Erina.
Gadis itu melambaikan tangannya pada Arini sebelum berlalu pergi dari sana. Arini tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Ia melihat punggung gadis itu yang semakin menjauh dan akhirnya ia tak terlihat kembali.
Senyum pada wajahnya memudar perlahan, Ia melirik gantungan kunci yang kini sudah ada dalam genggamannya.
"Apa jangan-jangan gadis itu... selingkuhan Adrian yang selama ini dia sembunyikan dari aku?"