Kecelakaan maut dalam perjalanan ke puncak, mengantar Senja menjadi seorang janda diusia yang masih sangat muda. Suami dan putra satu-satunya dinyatakan meninggal dunia di tempat.
Setelah peristiwa itu, takdir membawa Senja bertemu dengan Deandra dan Aleandro. Pasangan yang sudah lama menikah tetapi belum juga dianugerahi keturunan.
Deandra adalah atasan Senja di tempatnya bekerja. Karena sesuatu hal, Senja diminta untuk menjadi surrogate mother untuk calon anak dari Deandra dan juga Aleandro.
Bersediakah Senja menerima permintaan atasannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita sedih
Sejak kejadian tadi siang, Senja dan Darren tidak lagi saling berbicara. Darren memberikan beberapa pekerjaan pada Senja hanya lewat Kimi. Hingga Senja pulang pun, Darren belum keluar dari ruangannya.
Mobil online yang ditumpangi Senja berhenti tepat di depan lobby utama apartemen Aleandro. Senja segera turun dan dengan santai dia berjalan menuju lift yang akan mengantarnya tepat di depan pintu apartemen.
Senja masih kesal dengan sikap Darren hari ini. Bagi Senja apa yang dilakukan laki-laki itu sangat tidak masuk akal. Di satu sisi Darren terlihat seolah -olah ingin melindunginya, tapi di sisi lain Darren tak jarang terus merendahkannya.
"Kak Andra," sapa Senja dengan senang begitu melihat kehadiran Deandra di depannya.
"Apa kabar Senjaku sayang? Apa anakku rewel di sini?" tanya Andra sembari mengusap - usap perut Senja yang masih rata.
"Dia sangat baik. Sebaik kak Andra tentunya." Senja melempar senyum manisnya.
"Mandilah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan nanti." Deandra mendadak murung, wajahnya tidak seceria tadi.
Senja menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam kamarnya, mengambil baju ganti dan langsung menuju kamar mandi. Kemudian segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang sangat menyegarkan bagi Senja.
Senja tampak fresh dengan dress rumahan di atas lutut bewarna mustard. Setelah menyisir rambutnya yang masih basah, Senja keluar menemui Deandra yang sedang duduk di sofa panjang ruang tengah bersama Aleandro.
Keduanya terlihat agak murung. Wajah mereka menyiratkan adanya kesedihan yang sedang dirasakan.
"Ada apa kak?" tanya Senja hati-hati sambil duduk di sebelah Deandra.
Deandra menggeser duduknya lebih dekat dengan Senja.
"Rahimku benar - benar harus di angkat, Senja. Kanker nya sudah menyebar. Dokter menyarankan untuk melakukannya di sini, segera. Lebih cepat lebih baik," ucap Deandra lirih.
"Tidak kak! Dokter bisa saja salah. Bukankah kapan lalu kak Andra cuman bilang ada benjolan. Bahkan waktu pengambilan sel telur semua baik-baik saja kan? Kak Andra harus cari second opinion. Siapa tau diagnosis Dokter kakak salah." Senja menghibur dirinya sendiri dan Juga Deandra.
"Sudah kakak lakukan, Nja. Hasilnya tetap sama. Doa kan saja yang terbaik ya. Kakak sudah ikhlas dan pasrah," pinta Deandra mencoba setegar mungkin.
Aleandro hanya diam dan tertunduk sedih. Kalau saja fisik Deandra normal, dia tidak akan sekhawatir ini. Deandra seringkali mengalami gangguan sistem pernafasan. Bahkan kejadian dua tahun yang lalu masih teringat jelas di kepalanya. Di mana sistem pernafasan istrinya itu, sempat berhenti bekerja pada waktu operasi pengangkatan kista. Untunglah team Dokter dengan sigap dapat menormalkannya kembali. Meski saat itu, Deandra terpaksa di buat tertidur selama 24 jam dulu.
"Senja ... Jika nanti operasiku tidak berjalan lancar. Tolong jaga anakku baik-baik! Bantu Al membesarkannya. Bahkan aku tidak keberatan kalau kalian mau menikah dan membesarkan anak kami berdua," ucap Deandra, sangat sendu.
"Tidak kak ... kak Andra pasti akan sembuh. Semua akan berjalan lancar. Kak Andra akan melihat perutku membesar dan merasakan tendangan kakinya. Kak Andra dan Kak Al akan membesarkan anak ini berdua. Kak Andra harus optimis." Senja terus memberi semangat pada Deandra.
"Senja benar bee ... semua akan berjalan lancar. Semua akan baik-baik saja." Aleandro juga berusaha menghibur Deandra dan juga dirinya sendiri.
"Kita harus mempersiapkan diri dari segala kemungkinan bee ... Baik atau buruk, sedih atau bahagia nantinya. Setidaknya saat nanti aku berada di atas meja operasi, pikiranku akan tenang. Kalian berdua pasti akan membesarkan anakku dengan baik," lirih Deandra.
Aleandro menggenggam erat tangan Deandra, seolah ingin memberi kekuatan. Deandra mengambil tangan Senja, membawanya dalam genggaman mereka. "Kalian berjanjilah padaku, akan menjaga anak ini dengan baik," pinta Deandra dengan sangat tegar.
"Kita harus sama-sama berjanji. Terutama kak Al dan juga kak Andra. Kita percayakan semua pada kuasa Tuhan. Setiap dari kita akan mati. Ada yang dalam keadaan sehat dan adapula yang dalam keadaan sakit. Kita sama - sama tidak tau siapa yang akan pulang lebih dulu. Mari kita buat ini menjadi fair. Kalau kak Andra punya permohonan. Senja dan kak Al juga harus membuat permohonan juga," ucap Senja panjang lebar mencoba membuat Deandra tersenyum.
"Baiklah ... kalau aku mati lebih dulu dari kalian, aku ingin kalian berdua membesarkan anak kita bersama. Kalian harus saling menjaga dan melindungi," harap Aleandro.
"Kalau Senja mati lebih dulu, Senja ingin kalian memakamkan Senja di dekat makam mas Rafli dan Zain. Semua harta yang Senja punya tolong berikan ke panti asuhan, Karena Senja tidak punya keluarga yang akan menangisi dan mendoakan Senja. Minta mereka mendoakan Senja di setiap sholatnya," Senja sangatbserius saat mengucapkan permohonannya.
"Kalian memang yang terbaik. Besok kita ke rumah sakit. Dokter akan melihat kesiapanku dan memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menjalankan operasi," pinta Deandra mulai kembali bersemangat.
"Tentu saja kak. Senja akan selalu menemani kak Andra." Senja memeluk Deandra cukup erat.
"Besok sekalian kita usg ya. Siapa tau sudah kelihatan kan usia kandungan Senja berapa," tambahnya dengan excited.
Deandra dan Aleandro kompak mengangguk setuju.
******
Club X - Bear
Sepasang mata milik Firly terus menatap Darren dan juga Gea yang sedang menghentakkan badannya mengikuti dentuman musik racikan DJ. Sesekali Firly melihat Gea dan Darren berciuman dengan santainya.
Setelah lelah di lantai dansa, keduanya kembali ke meja mereka dan meneguk segelas wine. Tangan Darren melingkar sempurna di pinggang ramping milik Gea. Perempuan itu terlihat membisikkan sesuatu di telinga ceo Mahendra Corps itu. Sesaat kemudian dia Darren sendirian di mejanya.
Firly menghampiri Darren yang sedang menggoyang-goyangkan gelas dengan memutar pergelangan tangannya.
"Kamu melarang Senja keluar malam, tapi kamu berseneng-seneng dengan wanita lain di luaran. Egois sekali kamu." Firly melempar pandangan sinisnya.
Darren menoleh ke arah Firly. Memberikan senyuman yang tidak kalah sinis untuk ceo RSZ itu.
"Kalau aku tau perempuan yang aku cintai hamil. Aku tidak akan berada di sini, lalu bersenang- senang dengan perempuan lain," tambah Firly lagi.
"Kamu berbicara padaku sebagai Rafli atau sebagai Firly?" tanya Darren dengan santai, tapi tatapan matanya yang tajam jatuh tepat pada mata Firly.
Firly membalas tatapan mata Darren tak kalah tajam.
"Carilah jawaban sendiri dari pertanyaanmu itu," jawab Firly penuh misteri.
"Bukankah kamu juga sudah mempunyai tunangan? buat apa kamu ingin mendekati Senja?" tanya Darren, lalu dia meneguk habis sisa minuman digelasnya.
"Aku akan melepaskan siapapun yang berada di dekatku saat Senja benar-benar menjadi milikku."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Darren berdiri, berniat meninggalkan Firly.
"Mau menyusul Gea? Lalu bercinta? Jika kamu melakukannya jangan harap kamu bisa mendapatkan Senja. Jangan tertipu penampilan luar, cari tau siapa Gea sebelum kamu melakukannya. Berterimakasihlah karena aku masih mau mengingatkanmu," ucap Firly lalu meninggalkan meja Darren dengan langkah kakinya yang lebar.
Darren mencerna kata-kata Firly, lalu memilih keluar meninggalkan club tanpa berpamitan pada Gea.