NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Rangga akhirnya tiba di depan rumah Dimas. Tadi, setelah melihat daftar chat dari Dimas yang isinya ternyata mirip daftar belanjaan bulanan plus titipan mertua yang berat-berat, Rangga memutuskan pulang sebentar ke rumah. Ia mengganti Honda CB kesayangannya dengan mobil supaya semua barang titipan itu muat.

Begitu Rangga turun dari mobil sambil menenteng dua plastik besar berisi obat dan kebutuhan bayi, pintu rumah sudah terbuka. Dimas muncul dari balik pintu dengan wajah yang tampak sangat kuyu. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, dan ia sedang menggendong Dafin.

Dafin tampak lemas, kepalanya disandarkan di bahu Dimas sambil sesekali merengek kecil.

"Lama banget lo, Ngga! Gue udah mau pingsan ini dengerin dia rewel terus," seru Dimas dengan suara pelan supaya tidak makin membuat Dafin kaget.

Rangga mendengus sambil meletakkan belanjaan di meja teras.

"Sabar dong, Mas Bro! Gue mesti ganti mobil dulu tadi. Lo lihat tuh di bagasi, titipan mertua lo apaan sih? Beratnya kayak mesin truk!"

Dimas nyengir kuda, meski wajahnya tetap terlihat lelah. "Hehe, itu titipan Mama buat stok di dapur. Sori banget ya, Ngga. Gue beneran nggak bisa keluar. Istri gue lagi tidur, dia juga drop kecapekan jagain Dafin semalaman."

Rangga mendekat, tangannya yang kasar meraba kening Dafin dengan lembut. "Panas banget ini, Dim. Kenapa nggak dibawa ke Rumah Sakit aja sekalian? Bahaya kalau demamnya naik terus."

Dimas menghela napas panjang sambil terus menimang anaknya. "Tadinya mau gitu, Ngga. Tapi kata dokter langganannya lewat telepon, coba kasih obat penurun panas dulu sama kompres. Istri gue juga lagi drop, kalau ke RS sekarang gue ribet jagain keduanya. Makanya gue minta tolong lo beliin obat yang paling manjur ini dulu."

Rangga mengangguk paham, meski raut khawatir belum hilang dari wajahnya. "Ya udah, ini obatnya. Buruan lo kasih ke Dafin. Jangan nunggu lama-lama, kalau satu jam ke depan panasnya nggak turun juga, pokoknya anter ke RS aja"

Dimas tersenyum tipis, merasa sedikit tenang karena ada Rangga yang bisa diandalkan. "Iya, makasih ya, Ngga. Lo beneran penyelamat gue pagi ini. Sori banget udah bikin sarapan lo berantakan."

"Santai aja, urusan anak lebih penting. Lo urusin Dafin dulu sana, barang-barang yang lain biar gue yang angkut ke dapur," jawab Rangga sambil mulai membongkar bagasi mobilnya.

Setelah semuanya selesai, Rangga pamit pulang.

"Dim, gue cabut ya! Dafin kalau ada apa-apa langsung telpon gue"

"Yoi, Ngga! Makasih banget ya, sorry banget gue"

Rangga segera memacu mobilnya membelah kemacetan pagi kota Bandung. Begitu sampai di bengkel, ia langsung mengganti bajunya dengan wearpack kebanggaannya yang sudah penuh noda oli. Suara deru mesin dan dentuman kunci pas yang beradu dengan logam menyambutnya.

"Woi, Bos! Tumben agak telat, habis narik ojek apa gimana?" celetuk salah satu montir juniornya, melihat Rangga yang datang tidak menggunakan motor CB seperti biasanya.

"Banyak tanya lo! Urusin tuh Ninja yang brebet, jangan sampai yang punya balik lagi ke sini," sahut Rangga sambil terkekeh.

Rangga mulai menyibukkan diri. Ia menarik sebuah motor matic yang mesinnya harus dibongkar total. Meskipun tangannya lincah memutar kunci sok dan melepas baut satu per satu, matanya berkali-kali melirik ke arah pintu masuk bengkel. Setiap ada suara motor yang berhenti di depan, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, berharap itu adalah Ayu.

Keringat mulai bercucuran di dahi Rangga saat ia mencoba melepas blok mesin. Sesekali ia mengusap keringatnya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan oli hitam di pipinya tanpa ia sadari.

"Mana ya sih si ayu? Katanya mau anter nasi," gumam Rangga pelan.

Siang itu, bengkel sedang dalam kondisi paling sibuk. Tiba-tiba, suara motor matic yang sangat familiar terdengar berhenti di area parkir depan. Sosok Ayu muncul dengan helm yang masih terpasang dan sebuah plastik berisi kotak makan di tangannya.

Begitu ia melangkah masuk ke area kerja, mata para montir junior Rangga langsung berbinar. Suasana bengkel yang tadinya hanya berisi suara besi beradu, mendadak berubah jadi riuh oleh siulan dan godaan.

"Waduh, ada bidadari nyasar ke bengkel! Salah alamat ya, Mbak?" celetuk si Udin, montir yang paling usil.

"Cari siapa, Mbak? Cari jodoh apa cari bos kita" timpal yang lain sambil tertawa.

Rangga yang sedang jongkok membongkar mesin matic langsung berdiri tegak. Ia melihat Ayu yang tampak agak canggung karena dikerumuni tatapan anak buahnya. Rangga segera mengusap tangannya ke kain majun dengan terburu-buru, lalu berjalan mendekat.

"Woi! Balik kerja! Jangan sampai itu baut sisa satu pas dipasang lagi!" bentak Rangga ke anak buahnya, meski wajahnya sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum sumringah.

Ayu mendekat dan menatap Rangga dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia tak tahan untuk tidak tertawa saat melihat wajah Rangga. "Mas, itu... pipi kamu kenapa?"

"Kenapa? Makin ganteng ya kalau kena oli?" sahut Rangga percaya diri.

Ayu tertawa makin lebar. Ia merogoh tisu dari tasnya lalu tanpa sadar melangkah maju dan mengusap pipi Rangga. "Ganteng apanya? Ini nih, cemong banget kayak kucing kecebur got. Oli semua di mana-mana."

Rangga terpaku. Sentuhan tangan Ayu yang lembut di pipinya membuat detak jantungnya mendadak lebih keras.

Anak-anak buahnya yang melihat adegan itu langsung bersorak makin kencang.

"Eaaa! Bos kita dapet perawatan khusus!"

"Pantesan tadi sibuk dandan di spion, ternyata mau diapelin"

Wajah Ayu seketika memerah menyadari dirinya jadi pusat perhatian. Ia buru-buru menarik tangannya dan menyodorkan kotak makan ke dada Rangga.

"Nih, nasinya! Dimakan sekarang, jangan sampai dingin. Aku mau langsung balik ke kedai, Nenek sendirian," ucap Ayu cepat-cepat.

Rangga menerima kotak itu dengan senyum lebar. "Cie, beneran dianterin. Berarti tawaran jadi calon suami tadi pagi masih berlaku ya, Yu?"

Ayu memutar bola matanya,. "Berisik! Sudah ah, aku balik!"

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!