Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Vano
Ruangan kerja Gio hanya diterangi oleh lampu meja yang menyorot tajam ke arah papan whiteboard besar di dinding. Di sana, tiga foto profil tertempel dengan magnet, dihubungkan oleh benang-benang merah yang saling bersilangan menuju satu foto di tengah: Erina.
Gio berdiri menyandar pada meja, menyilangkan tangan di dada. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke tiga nama yang kini menjadi pusat: Vano, Dion, dan Bram.
Vano adalah salah satu penyanyi papan atas yang merupakan mantan dari Erina, mereka sempat berpacaran saat SMA. Namun Erina memutuskan pria itu setelah dirinya lulus.
Sementara itu Dion adalah kakak tiri dari Erina. Jika dari informasi yang didapatkan oleh Gio, laki-laki ini tidak terlalu dekat dengan Erina meski mereka masih tinggal serumah. Ia suka datang ke bar dan mabuk-mabukan sehingga jarang pulang.
Sementara itu Bram. Dia adalah manager Erina. Orang yang paling dekat dengan gadis itu. Gio awalnya sempat mencurigai pria ini, namun masalahnya tidak ada satupun informasi yang mengarah kepadanya. Itu membuatnya ragu.
Di bawah foto Vano, terdapat salinan log aktivitas digital pada ponsel serta laptopnya. Gio mengetuk-ngetuk bolpoin ke dagunya. "Terlalu rapi," gumamnya pelan.
"Semua jejak digital mengarah padamu, Van. Tapi kenapa rasanya seperti kamu sedang berteriak minta ditangkap?"
Ia beralih ke foto Dion. Di sana tertempel catatan mengenai utang piutang yang sempat terlacak. Namun, alibinya kuat. Dion berada di sebuah acara keluarga saat eksekusi terjadi, meski Gio belum sepenuhnya percaya pada saksi-saksi yang ada.
Pandangannya bergeser ke foto Bram. Pria ini adalah yang paling "bersih" di antara ketiganya. Tidak ada catatan kriminal, performa kerja luar biasa, dan hubungannya dengan Erina pun terlihat profesional.
Gio berpikir keras. Sepertinya ia harus melanjutkan penyelidikan ini ke tahap selanjutnya, mewawancarai ketiganya.
Gio meraih sebuah map kuning di meja, laporan hasil forensik terbaru terhadap Erina. Ia hendak membaca laporan itu, namun suara pintu berderit pelan do belakangnya sontak membuat ia menoleh.
"Malam, Gio. Kamu belum pulang?" tanya Angga, salah satu rekan Gio.
Gio tersenyum, "Ya, saya masih ingin disini."
Angga mengangguk pelan. Ia lalu berjalan me dekat dan mengamati papan tulis putih yang tak jauh dari hadapannya, manik matanya memperhatikan setiap tulisan dan deretan foto tersangka yang sudah ditempel Gio disana.
"Ah, kamu masih bingung dengan tersangkanya ya?" tanya Angga.
Gio menghela napas pelan, lalu meletakan kembali laporan itu di atas mejanya. "Iya, sebenarnya saya sendiri juga bingung. Saya hanya khawatir jika ternyata spekulasi saya tentang para tersangka ini salah.. "
Angga menatap Gio, lalu beralih menatap foto-foto para tersangka yang ditempel disana. Ia menunjuk foto Vano.
"Laki-laki ini, sepertinya banyak bukti yang mengarah padanya,"
"Namun, apa kamu yakin jika dia tersangkanya?" ucap Angga.
"Saya yakin, saya sudah mengecek selama beberapa hari ini. Dan banyak bukti yang lebih mengarah ke dia," sahut Gio sambil melipat kedua tangannya.
"Bagaimana jika kita bertemu saja dengan ketiganya besok? Saya bisa mengatur jadwalnya, siapa tahu kita bisa menemukan informasi baru jika bertemu langsung dengan ketiganya." saran Angga.
"Ya, boleh saja. Atur saja sebisamu, Angga," kata Gio sambil mengangguk.
...****************...
Keesokan harinya
Jakarta Pusat, 09:30 WIB
Mobil Toyota Fortuner VRZ berwarna hitam legam dengan kaca film pekat berhenti tepat di depan lobi gedung agensi mewah di kawasan Jakarta Pusat. Ban mobil itu mencicit halus saat beradu dengan lantai granit teras gedung.
Kehadiran mobil SUV besar itu menarik perhatian beberapa orang yang sedang mengantre di lobi, memberikan kesan otoritas yang kuat.
Gio keluar dari pintu kemudi, merapikan jas abu-abunya yang menutupi lencana investigasi di balik pinggang. Angga menyusul dari pintu sebelah, membawa sebuah koper jinjing berisi dokumen dan alat perekam.
Mereka melangkah masuk. Aroma parfum mahal dan pendingin ruangan yang menusuk menyambut mereka. Di lantai 15, suasana tampak riuh.
Beberapa staf berlarian dengan wajah panik. Kematian Erina jelas mengguncang agensi ini, namun status Vano yang kini terseret membuat situasi makin panas.
Setelah melapor di resepsionis, seorang staf agensi dengan wajah tegang mengantar mereka melewati lorong-lorong kaca yang sunyi. Mereka tidak berhenti di lobi atau ruang tunggu umum, melainkan dibawa ke sebuah Ruang Konferensi VVIP di pojok lantai 12.
Pintu kayu jati tebal itu terbuka, memperlihatkan ruangan kedap suara dengan pencahayaan yang agak redup.
Di dalam sana, Vano sudah menunggu. Tidak ada kamera, tidak ada penggemar, hanya ada dia dan seorang pengacara yang duduk di kursi kulit besar.
Begitu pintu ditutup rapat, suasana seketika berubah mencekam. Suara bising kota Jakarta di bawah sana sama sekali tidak terdengar.
Gio meletakkan map kuningnya di atas meja oval panjang itu. Ia lalu menatap laki-laki dihadapannya itu dengan tatapan tajam.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu secara tertutup, Vano," buka Gio dengan suara rendah.
"Saya tahu jadwal penyanyi papan atas seperti Anda sangat padat. Tapi kurasa, jadwal penjara akan jauh lebih mengikat jika kita tidak meluruskan ini sekarang."
Vano, yang mengenakan hoodie hitam dan kacamata yang diletakkan di meja, tampak gelisah. Jari-jarinya terus mengetuk permukaan meja secara tidak beraturan.
"Saya sudah bilang berkali-kali ke polisi kemarin," suara Vano serak. "Saya di studio saat kejadian. Saya latihan."
"Studio yang mana, Vano?" Angga menyela sambil membuka laptopnya, cahaya layar memantul di kacamatanya.
"Karena menurut digital footprint dari ponsel Anda, GPS menunjukkan Anda bergerak menuju arah apartemen Erina tepat 15 menit sebelum CCTV dimatikan."
Vano terbelalak. "Nggak mungkin! Ponsel itu... ponsel itu sempat tertinggal di mobil karena saya buru-buru masuk studio!"
"Lalu bagaimana dengan ini?" Gio mengeluarkan sebuah foto cetakan dari map.
Itu adalah tangkapan layar pesan singkat dari nomor Vano ke Erina yang dikirim tepat di jam kematian korban. Isinya hanya satu kalimat: 'Semua akan berakhir malam ini.'
Vano menyambar foto itu, tangannya gemetar hebat. "Ini gila... Saya nggak pernah kirim ini! Sumpah, Gio! Saya bahkan sudah lama nggak kontak Erina setelah dia mutusin saya!"
"Tapi bukti digital tidak pernah bohong, Vano. Kecuali..." Gio menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata Vano yang ketakutan.
"...ada seseorang yang jauh lebih pintar dari Anda yang sedang memainkan ponsel dan laptop Anda seperti boneka."
Vano terdiam, napasnya memburu. Di saat keheningan itu melanda, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dua kali.
Seorang pria dengan mata hazel muncul di ambang pintu sambil membawa beberapa berkas. Kedatangannya sontak mendapat tatapan tajam dari orang-orang di dalam ruangan itu.
"Selamat pagi, maaf menganggu waktunya," ucap Bram.
Pria itu mendekat lalu meletakan beberapa berkas di hadapan Vano. "Maaf, tadi managermu meminta saya untuk memberikan berkas ini,"
"Sekarang dia sedang di luar, mengurus beberapa wartawan disana."
Setelah berbicara, pria itu pun berlalu pergi. Gio masih menatap Vano, meski fokusnya diam-diam memperhatikan Bram yang sudah berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ah, pria itu Bram bukan?" tanya Gio, berbisik pelan kepada Angga.
Angga mengangguk, "Benar pak. Dia Bram, manager Erina. Mereka satu agensi di kantor ini,"
Gio beralih menatap Vano. Sorot mata laki-laki itu terlihat sangat cemas. Merasa suasana menjadi tidak baik, ia memutuskan untuk mengakhiri perbincangan itu.
"Sepertinya cukup sampai disini dulu. Kami izin pamit,"
Gio beranjak dari kursinya begitu juga Angga. Setelah ucapan pamit itu, mereka bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Vano dan pengacaranya yang masih berada disana.
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁