Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis cantik yang tinggal bersama seorang janda yang tidak di karuniai sang buah hati, namanya ibu Ruminah. Sedangkan gadis cantik yang dimaksudkan yaitu namanya Lunika, gadis berparas cantik dan juga sederhana. Kesehariannya hanya membantu sang ibu menjadi buruh cuci.
Perjalanan tentang hidupnya, cukuplah rumit dengan statusnya sebagai anak jalanan. Lunika diasuh sejak usianya 10 tahun.
Karena berawal dari sebuah kebutuhan yang mendesak, Lunika harus menerima pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Mau tidak mau, Lunika harus menikah dengan seorang laki laki yang tidak disukainya.
Namun, apa daya Lunika yang tidak memiliki pilihan lain. Meski Lunika memiliki seorang kekasih yang berada, namun hubungannya terhalang karena status ibu asuhnya dan statusnya yang tidak jelas sebagai anak jalanan.
Demi kesembuhan ibu asuhnya karena sesuatu penyakitnya, Lunika harus menikah dengan keterpaksaan. Lelaki itu yang tidak lain bagian keluarga Wilyam, Zicko Wilyam namanya. Zicko putra semata wayang tuan Zayen Wilyam dan Afnaya Danuarta.
Penasaran dengan kisahnya? ayo, ikutin terus kelanjutannya. Ingat, hanya di platform Noveltoon ya....
Selamat membaca ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersedih
Lunika diam, hening tanpa bersuara. Tubuhnya mendadak lemas, pikirannya pun kosong. Tiba tiba saja, kedua kalinya tidak lagi mampu menopang badannya. Dan terjatuh lah, dengan sigap Romi langsung menangkap tubuh Lunika saat jatuh.
"Lun, bangun. Bangun, Lun." Panggil Romi berulang ulang sambil menepuk pipi milik Lunika, berharap akan sadarkan diri, salah satu seorang perempuan memberinya minyak angin untuk menyadarkan Lunika. Namun, Romi sadar jika dirinya bukan siapa siapa Lunika.
"Bu, tolong bantu saya untuk mengoleskan minyak anginnya ke tubuh perempuan ini. Saya bukan siapa siapanya." Ucap Roni sambil menahan tubuh Lunika yang lemas terkulai.
"Baik, sini saya bantu." Jawabnya, kemudian membantu Romi untuk mengoleskannya.
Dan benar saja, Lunika membuka kedua matanya pelan pelan. Dilihatnya ada beberapa orang disekelilingnya, Lunika mendadak cemas dan segera bangkit dari posisinya dibantu Romi.
"Ibuku! ibuku dimana, Rom? ibu!!!" teriak Lunika dengan keras, lalu berlari mencari keberadaan ibunya.
"Lun! Lunika, tunggu." Seru Romi memanggilnya, kemudian berlari mengejar Lunika.
Karena bingung, Lunika menjatuhkan tubuhnya kelantai dengan berjongkok dan menunduk disertai tangisnya.
"Lun, bangun lah."
Lunika tercengang, dan kaget saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya yanv tengah memanggil namanya.
Dengan berani, Lunika bangkit dari posisinya. Kemudian lelaki itu membantunya untuk berdiri.
DUAR!!!!!
Seketika, Lunika membelalakan kedua bola matanya menatapnya seperti tidak percaya.
"Lepaskan! jangan sentuh aku, Nal. Aku mohon, pergi sekarang juga. Aku tidak mau melihatmu, pergi." Ucap Lunika sambil menepis tangannya, dan satu telunjukkan mengarahkan untuk pergi.
"Lun, aku tidak bisa membuang rasaku. Aku sangat mencintaimu, aku tidak perduli dengan kedua orang tuaku. Aku hanya memilihmu, Lun." Jawab Arnal berlutut dihadapan Lunika.
Lunika yang sudah merasa tidak kuasa, segera ia pergi menjauh. Berusaha untuk melupakan segalanya tentang rasa yang pernah dimilikinya.
"Nal, aku mengerti perasaan kamu. Tapi aku mohon, biarkan Lunika untuk menenangkan pikirannya. Keadaannya tidak lagi bersahabat dengan kondisi hatinya, ibunya sedang kritis. Aku mohon, pulang lah. Maafkan aku, aku salah menghubungimu. Setelah semuanya sudah membaik, aku akan menghubungimu kembali." Ucap Romi memohon.
"Iya, aku mengerti. Aku titipkan Lunika padamu, hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu." Jawab Arnal, dan menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar.
"Iya, tenang saja. Kalau begitu, aku mau mengejar Lunika." Ucapnya dan pergi meninggalkan Arnal dan mencari keberadaan Lunika.
Sedangkan Arnal, ia memilih untuk pulang. Meski berat, ia terpaksa meninggalkan rumah sakit demi perempuan yang ia cintai.
Setelah berlarian kesana kemari mencari keberadaan ibunya, akhirnya Lunika menemukan ruang rawat ibunya.
Lunika pun menghembuskan nafasnya kasar, ia merasa hancur tatkala dirinya terpuruk tanpa ada seseorang yang menjadi penyemangat hidupnya.
"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Lunika setelah mendapati sang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Mari ikut ke ruangan saya." Ajak sang Dokter.
"Baik, Dok." Jawab Lunika dengan cemas.
"Lun, aku ikut. Boleh 'kan?" panggil Romi penuh harap. Lunika sendiri tidak dapat menolaknya, karena selain teman juga sudah dianggapnya saudara.
"Boleh, aku tidak melarangmu." Jawab Lunika, kemudian mengikuti sang Dokter dari belakang.
Sesampainya di ruangan Dokter, Lunika dan Romi duduk bersebelahan sambil menunggu penuturan dari sang Dokter.
"Begini mbak, sakit pada jantung ibunya mbak sangat serius. Kami hanya bisa menyarankan untuk dilakukan operasi, dikarenakan tumor yang ada pada jantung ibunya mbak sudah sangat mengkhawatirkan kondisi sang ibu."
Seketika, Lunika langsung bangkit dari posisi duduknya serasa tidak percaya mendengarnya.
"Maksud Dokter? ibu saya kena penyakit tumor, Dok?" tanya Lunika shock dan kaget bukan main. Tubuhnya kembali lemas, dan menjatuhkan kembali ditempat duduk.
Romi pun memegangi pundak milik Lunika, berharap untuk kuat dan sabar serta tegar menerima sebuah cobaan.
"Maka dari itu, saya hanya bisa memberi saran. Selebihnya, saya berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk ibunya mbak." Ucap sang Dokter.
"Kira kira, membutuhkan biaya berapa Dok?" tanya Lunika penasaran.
"Sediakan 160 juta, itupun saya belum bisa menjamin cukup dengan uang yang saya sebutkan tadi. Kita tidak tahu kondisi ibunya mbak dihari kedepannya." Jawab sang Dokter.
Tubuh Lunika mendadak lemas, begitu juga dengan Romi. Dirinya sendiri ikut bersedih mendengar jumlah uang yang harus didapatkan.
Tanpa berucap sepatah katapun, Lunika langsung pergi keluar dengan tubuhnya yang sempoyongan.
Lunika terus berjalan menuju ruang rawat ibunya dengan sempoyongan. Lunika merasa dunianya gelap, ia tidak lagi bisa berpikir untuk mencari pertolongan pada ibunya.
"Lun, bersabarlah. Semua pasti akan ada jalan keluarnya, aku yakin itu." Ucap Romi sambil berjalan beriringan, berusaha untuk menguatkan Lunika.
Disaat itu juga, Lunika menoleh kearah samping dan menghentikan langkahnya.
"Kamu bilang apa? bersabar, kamu pikir kita bersabar tanpa usaha akan ada jalan keluarnya begitu. Kamu tahu? 160 juta itu uang dari mana aku? jangankan 160 juta, 5 juta saja untuk biaya hidup." Jawab Lunika dengan panas otaknya yang membara.
Romi pun menyadarinya, jika Lunika bukan dari golongan yang berpunya. Lunika anak gadis yang cukup sulit dalam perekonomian bersama ibu asuhnya. Lunika hanya butuh cuci, dan bekerja yang lainnya. Itupun untuk biaya pengobatan ibunya yang terkadang sering kambuh. Sampai sampai, Lunika dan ibunya sendiri tidak mengetahui jika sang ibu memiliki penyakit jantung yang cukup serius.
"Maafkan aku, Lun. Aku akan berusaha membantumu, bagaimana kalau kamu daftarkan pengobatan secara gratis. Maaf sebelumnya, bukan aku menyinggungmu. Tapi apa salahnya kita mencobanya untuk ke jalur tidak mampu." Ucap Romi memberikan ide jalan keluar.
"Kamu pikir gampang? tidak, Rom. Dari dulu ibuku tidak mendapatkan haknya. Justru yang dapat kebanyakan yang sudah mampu dan memiliki penghasilan yang cukup lumayan." Jawab Lunika dengan emosinya.
"Iya juga sih, Lun. Tapi ... kita mau cari kemana uang sebanyak itu? aku sendiri tidak memiliki tabungan sebanyak itu. Aku pun hanya bisa membantumu seadanya." Ucap Romi dengan lesu, Lunika sendiri hanya menggelengkan kepalanya.
Karena tidak ingin terlalu pusing, Lunika segera melanjutkan langkan kakinya menuju ruang rawat ibunya.
Sesampainya di depan ruang rawat, dengan pelan Lunika membuka pintunya.
Dilihatnya pemandangan yang sangat menyedihkan, seorang ibu yang sudah membesarkannya kini tengah berbaring diatas ranjang dengan keadaan yang mengkhawatirkan.
Tanpa diminta, buliran air matanya tengah membasahi kedua pipinya. Sesenggukan Lunika menangisi keadaan ibunya yang terlihat tidak berdaya.
Lunika semakin mendekati ibunya, kemudian mencium lembut pipinya.
"Bu ... maafkan Lunika yang tidak bisa membalas jasa jasa ibu. Maafkan Lunika yang selalu menyusahkan ibu. Tidak seharusnya ibu mengalami sakit seperti ini, biarkan Lunika saja yang merasakan sakit. Jangan ibu, jangan ibu yang merasakannya. Biarkan Lunika yang menanggung rasa sakitnya, Lunika tidak sanggup melihat ibu berbaring seperti ini." Ucap Lunika disertai tangisnya.