TERPAKSA MENIKAH DENGAN MANTAN—BALIK LAGI! SKUY BACA!
~•••~
Bagi Risa, Juna adalah pria yang tidak seharusnya ada di bumi ini. Selama sisa hidupnya, Risa berharap tidak pernah bertemu dengan Juna lagi.
Tapi, apalah daya Risa ketika takdir berkata lain. Ternyata ayah Risa dan ayah Juna adalah teman dekat, kedua pria paruh baya itu membuat sebuah perjanjian yang teramat kuno di jaman modern ini.
Sebuah perjanjian yang menjadikan Risa sebagai korban perjodohan.
Perjodohan, dimana Risa harus menikah dengan mantan pacar yang sangat di bencinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Balas Dendam Risa (bagian satu)
“Sini kamu.” ucap Juna sembari menggerakkan jari telunjuknya, menyuruh Risa untuk mendekat ke arahnya.
Tapi Risa terlihat enggan untuk datang menghampiri Juna. Gadis itu masih tampak diam ditempatnya.
“Tuli ya?! Aku suruh kamu kesini, cepetan kesini.” kata Juna.
Diam, Risa masih diam, ia sebenarnya ingin menurut, tapi kakinya terasa berat dan ragu untuk datang ke arah Juna.
Dia beneran anggap aku ini pembantunya kan? Sialnya, kenapa laki-laki harus selalu menang kalau udah pakai anceman kayak gitu. Ck. — batin Risa.
“Risa, kalau kamu enggak mau nurut, aku beneran buka tali handuk ini di depan kamu sekarang.” kata Juna dengan nada memperingatkan.
Ya ampun, mau mandi pun enggak bisa ngerasa tenang. Sialan, Juna sialan, keparat! Enyah saja dari muka bumi ini.
“Iya, iya.” sahut Risa yang langsung berjalan menghampiri Juna. “Sekarang, apa mau kamu?!” tanya Risa ketika dirinya sudah berdiri di hadapan sang suami.
Awalnya Juna tampak diam, menatapnya datar. Tapi kemudian pria itu terlihat menampilkan senyum puasnya.
Lalu, detik berikutnya, handuk kecil yang Juna pegang, ia lemparkan ke arah Risa, tepat mengenai wajah gadis itu.
Risa yang mendapatkan lemparan kain untuk yang ketiga kalinya. Gadis itu terdengar menggeram, menahan amarahnya.
Brengsek! Bener-bener sialan!
“Kamu! Kamu anggep aku ini pembantu, pelayan, atau babu kamu hah?! Dari semalam sampai pagi ini pun kamu masih main lempar-lempar kain ke aku. Beneran bikin orang kesel! Kamu mau aku balas lempar pakek batu hah?!” kata Risa yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
“Enyah sana! Pergi transmigrasi ke bulan sana atau planet Merkurius sekalian!” sambungnya lagi.
Juna tersenyum miring, ia menatap Risa yang terlihat sangat kesal. Bahkan tangan gadis itu— entah sadar atau tidak, ia terlihat meremas kuat handuk kecil yang tadi Juna lemparkan padanya.
“Sudah marahnya? Capek kan marah-marah terus? Tarik nafas kamu terus hembuskan perlahan. Kalau udah tenang, cepetan ambil hair dryer kamu terus keringin rambut aku.” kata Juna sembari melangkah ke arah tempat tidur.
Sialan!
“Juna!” panggil Risa, gadis itu memanggil nama suaminya dengan suara lantangnya.
Juna pun menoleh, berbalik, lalu menatap Risa dengan santainya, tatapan tanpa dosa itu semakin membuat Risa ingin meledak.
“Beraninya kamu menatapku dengan ekspresi seperti itu. Ayo cepat ubah ekspresi wajah menyebalkanmu itu.” ujar Risa.
“Berisik.” ucap Juna yang kemudian kembali membalikkan badannya, memunggungi Risa.
Udah enggak tahan lagi! Beneran enggak bisa nahan marah lagi! Persetan dengan sopan santun pada suami, dia bener-bener udah kelewatan!
“Juna! Keparat sialan kamu!” kata Risa sembari mengambil posisi kuda-kuda, dan kemudian terlihat berlari ke arah Juna yang tidak terlalu jauh darinya.
Lalu, kejadian selanjutnya adalah— Risa seperti seekor kuda yang sedang marah, gadis itu melakukan tendangan sepak terjang yang cukup kuat ke arah punggung Juna.
Tendangan sepak terjang dari Risa itu otomatis membuat Juna jatuh tersungkur ke depan, bahkan wajah pria itu terlihat seperti kain pengepel lantai. Wajah Juna benar-benar mencium lantai dengan sempurna.
Melihat situasi yang sangat memalukan bagi Juna itu, Risa tampak menahan tawanya.
“Tendangan yang bagus Risa.” ucap Risa pada dirinya sendiri.
Kemudian, Risa melemparkan handuk kecil yang ia pegang ke arah Juna yang masih jatuh tengkurap di atas lantai. Setelah itu, Risa pergi berlalu dari hadapan Juna, gadis itu melangkah dengan dagu terangkat keatas seperti seorang yang bangga dengan prestasi yang telah ia capai.
Mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Juna terlihat langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
Pria itu tampak menatap pintu kamar mandi dengan raut wajah yang sulit untuk di jelaskan. Dia terlihat ingin marah, tapi juga terlihat ingin menangis. Matanya itu memerah dan berkaca-kaca.
“Aish! Sialan.” umpat Juna sembari membuang handuk yang Risa lemparkan padanya tadi.
Juna merasa sangat malu. Karena jatuhnya tadi benar-benar tidak terlihat keren sama sekali.
Ia merasa harga dirinya telah anjlok drastis di hadapan Risa.
Pria itu pun kemudian tampak mengusap wajahnya kasar. Namun ketika ia mengusap wajahnya, Juna merasa tangannya seperti menyentuh sesuatu yang kental dari hidungnya.
“Darah?” gumam Juna sembari melihat tangannya yang tidak sengaja menyentuh darah yang keluar dari hidungnya.
Melihat darah itu, Juna langsung mengusap hidungnya lagi, dan benar saja dugaannya, kalau ia sedang mimisan.
“Risa, kamu— ” ucap Juna, ia tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi. Kepalanya sungguh sudah menguap karena menahan emosi terhadap sikap dan tindakan gadis itu padanya.
Lalu kemudian, suara tawa terdengar dari diri Juna. Pria itu sedang menertawakan dirinya sendiri.
Selama ini, sangat banyak wanita yang benci dan marah padanya karena sudah ia campakkan. Tapi kemarahan mereka hanya sebatas tamparan wajah atau siraman air minum saja. Tidak seperti Risa yang dengan brutal menendangnya sampai jatuh tersungkur ke lantai. Wajahnya yang berharga pun sampai seperti kain pel yang terseret. Memalukan.
•••
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi tampak terbuka, menampilkan sosok Risa yang keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap melekat ditubuhnya.
Gadis itu terlihat mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu kemudian ia melangkah menuju ke arah kopernya untuk mengambil hair dryer.
Risa melakukan aktivitasnya itu tanpa mempedulikan Juna yang sejak ia keluar dari kamar mandi tadi terus menatapnya dengan tatapan datar. Tatapan yang membuat kamar hotel itu terasa mengeluarkan hawa dingin yang mencekam.
Risa memang menyadari tatapan itu, tapi ia berpura-pura tidak mengetahuinya, dan membuat dirinya sendiri disibukkan dengan kegiatan mengeringkan rambutnya.
“Keringkan rambutku juga.” ucap Juna yang terlihat sedang duduk di pinggir ranjang.
Risa pun menoleh ke arah pria itu, hal pertama yang menjadi tumpuan dari pandangan Risa adalah sebuah tisu yang digulung kecil lalu tersumpal di salah satu lubang hidung Juna.
“Oh? Hidungmu— ” ucap Risa yang langsung mematikan hair dryer-nya dan kemudian mendekati Juna.
“Apa kamu mimisan?" Tanya Risa, tepat dihadapan Juna yang masih duduk di pinggir tempat tidur.
Melihat Risa yang telah berdiri dihadapannya dan menatap wajahnya, Juna pun langsung menolehkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Risa.
“Juna, jangan menoleh, sini biar aku lihat.” ucap Risa sembari menyentuh wajah Juna dengan kedua tangannya, memaksa pria itu untuk menatap ke arahnya.
“Pergi dari hadapanku.” kata Juna, tanpa berani beradu pandang dengan Risa karena malu.
“Cih.” decih Risa.
“Cih?! Kamu barusan mengeluarkan ‘cih’ mu itu di depan suamimu yang sedang mimisan ini?!”
“Kamu beneran mimisan?” tanya Risa, tangannya itu terlihat mulai bergerak ingin melepaskan tisu yang menyumpal lubang hidung Juna. Tapi dengan cepat, Juna menepisnya.
Risa meringis kesakitan, merasa kalau tepisan Juna pada tangannya itu sedikit keras.
“Kenapa kamu bisa mimisan? Siapa orang yang berani membuat suamiku ini mimisan? Juna, kamu jangan takut, bilang saja padaku, siapa orang itu? Biar aku menggigit kepalanya karena udah buat kamu mimisan kayak gini.” ujar Risa.
Mendengar perkataan Risa itu, Juna pun terdiam untuk beberapa saat, merasa otakknya kosong seketika. Lalu kemudian, Juna terlihat tertawa hambar.
Dia itu pura-pura enggak tau atau emang beneran enggak tau? Jelas-jelas dia yang buat aku mimisan kayak gini. Rubah kecil sialan.
“Juna? Kenapa malah ketawa? Apa otak kamu juga mimisan?” tanya Risa yang merasa heran dengan tawa pria dihadapannya itu.
Juna pun seketika langsung menghentikan tawa hambarnya, lalu setelah itu, ia menampilkan ekspresi wajah datarnya kembali.
“Menjauhlah dariku.” ucap Juna yang kemudian beranjak dari duduknya dan pergi keluar dari dalam kamar hotel.
Risa yang tidak mengerti dengan sikap Juna, ia pun hanya menghela nafasnya pelan.
💥 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
dr awal crita ny bgus bnget smpe part ini pun ttp bgus...yah apa emag crita ny dibikin gntung gni kli ya